
Selesai makan malam, keluarga kami berpindah ke halaman belakang yang sudah disulap menjadi tempat pesta kecil-kecilan.
Aku memperhatikan calon istriku yang sedang asyik berbincang-bincang dengan para sepupu atau tante dan om dari keluarga besarku.
Setiap kali kuperlihatkan foto Bianca beberapa waktu yang lalu, mereka berkomentar kenapa seorang Devano memilih gadis yang biasa-biasa saja, padahal tidak sulit bagiku untuk mendapatkan yang lebih dari seorang Bianca.
Satu hal yang mereka tidak tahu, dengan keadaan fisik Bianca yang biasa-biasa saja, dia sudah membuat para pria yang tidak biasa, justru jatuh cinta padanya. Mulai dari Arya, Justin, Desta, Dimas bahkan Ernest. Dan perasaan mereka pada Bianca tidak main-main, hingga membuat aku cukup ketar ketir. Mereka semua kecuali Justin yang tidak pernah aku temui, adalah para pria idola sejuta wanita.
Namun aku bersyukur sekalipun mereka “pecinta” Bianca, kecuali Desta dan Justin, sisanya malah menjadi pendukung setiaku untuk bersatu dengan Bianca. Belum lagi usaha kedua orang dan adikku plus calon (masih calon nih) adik iparku.
Secara fisik sosok Bianca tidak masuk jajaran wanita cantik penggoda mata pria, tapi entah dia pakaijampi-jampi apa, para pria idola sejuta wanita justru mudah tertarik mendekatinya, dan aku adalah salah satunya. Bianca bagaikan medan magnet yang menarik kutub lain yang berbeda.
Meski pernah mengirimkan surat cinta yang tidak pernah aku balas, Bianca tidak memagari aku dari para fans ku (duh ge-er nya diriku), tidak pernah terlihat marah atau cemburu saat aku dekat dengan wanita lain, bahkan saat aku pulang membawa Emilia ke rumahku. Bianca menunjukan sikap biasa-biasa saja, tidak terlihat kaget, marah atau kecewa. Sebetulnya saat itu aku yang kaget dan ketar ketir juga mendapati sikap Bianca yang biasa-biasa saja. Aku yakin kehadirannya di rumah saat aku pulang karena mama yang menyuruhnya.
Aku sangat berterimakasih pada papa yang sudah bersusah payah memaksimalkan pengaruhnya (sekali-sekali berasa jadi orang penting) untuk membuat dosen Bianca memberikan ijin mahasiswanya magang di tempat yang tidak sesuai. Dan aku merasa jadi korban di sana, karena ternyata papa menggunakan aku sebagai obyek magang Bianca yang membutuhkan psikolog ! Rasanya pengen protes dan marah pada papa yang menghalalkan segala alasan biar si dosen memberikan ijin untuk Bianca.
Untung saja aku baru tahu setelah Bianca keluar dari perusahaan karena masa magangnya sudah berakhir. Kalau aku tahu dari awal, bakal aku kerjain calon istriku (cie cie… rasanya hatiku gimana gitu menyebut Bianca sebagi calon istri). Tapi saat itu adalah waktu yang paling membahagiakan untukku karena setelah bertahun-tahun menahan rindu, aku bisa setiap hari melihat wajahnya.
Bianca adalah wanita yang kuat, tegar dan selalu optimis. Saat keluarganya terpuruk karena papa harus terbaring koma, Bianca tetap terlihat tegar. Jarang aku mendapati matanya bengkak dan sembab habis menangis atau wajahnya pucat pasi karena kelelahan. Aku jarang melihatnya menangis seperti wanita kebanyakan. Bahkan saat Nindi melakukan bully padanya, aku jarang melihat Bianca terpuruk hingga menangis berhari-hari.
Karena itulah melihat air matanya deras mengalir saat aku membawanya ke pantai malam itu, hatiku sangat, amat sangat terluka. Aku yang diam-diam mencintainya justru membuatnya menangis hingga sesunggukan. Bahkan saat dia memohon, aku tetap menegarkan hatiku, berpegang pada janji bodohku itu. Terang-terangan di kantor aku bisa melihat bahwa Bianca dan Arya tidak mempunyai hubungan istimewa, tidak terlihat pancaran gelora cinta di mata keduanya, tapi aku tetap memaksa mereka untuk bersatu meski hati ini tidak rela.
Aku berjanji bahwa malam di pantai itu adalah yang pertama dan terakhir aku membuat Bianca menangis sesunggukkan karena kesakitan hatinya. Bahkan dia sampai menyerah dan benar-benar melepaskanku. Kalau pun di dalam hidup pernikahan kami Bianca akan menangis lagi, aku akan memastikan kalau itu adalah air mata bahagia. Dan jika karena kesedihan hatinya, selama aku hidup, akan aku pastikan bahwa aku akan menjadi tempat sandarannya.
__ADS_1
Aku semakin melebarkan senyumku saat kulihat wajah Nindi kesal dan bibirnya cemberut setelah berdebat dengan Bianca. Arif yang ada di sisi istrinya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Sadar bahwa aku sedang memperhatikannya, Bianca menoleh dengan senyuman manisnya dan melambaikan tangannya padaku. Aku pun membalas lambaiannya. Ungkapan cinta dengan jarinya seolah-olah diterbangkan untukku dan kubalas dengan gerakan menangkap.
Kulirik Dimas yang ada di sebelahku hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Dasar bucin !” umpat Dimas, namun tidak aku tanggapi.
Malam ini aku malas berdebat dengan siapapun. Aku ingin memusatkan tatapanku pada calon istriku yang sedang mengakrabkan diri dengan keluarga besar mama dan papa. Aku ingin bernostalgia bagaimana perasaanku saat menyukai Bianca pertama kalinya, selalu mencuri-curi kesempatan untuk melihat wajahnya, mendengar gelak tawanya bahkan kebahagiaan tersendiri hanya dengan mendengar suaranya.
Kalian tahu pengalaman apa yang membuat aku susah move on darinya ?
Saat Bianca pingsan dan akulah yang menggendongnya. Pengalaman pertamaku begitu dekat dengan mahluk perempuan, dan aku bersyukur bahwa wanita itu adalah Bianca Aprilia.
Aku bisa puas menatap wajahnya dari dekat, hingga tanpa sadar langkahku makin melambat. Bukan karena badan Bianca bertambah berat, tapi aku tidak ingin cepat-cepat melepaskannya.
Aku menatap gadis manis itu berjalan ke arahku dengan senyumnya yang selalu mengembang. Tatapanku fokus padanya dengan senyuman yang tidak kalah lebarnya.
Tapi penantianku sepertinya sia-sia karena asisten kurang ajar itu tiba-tiba menarik lengan Bianca ke lain arah. Kulihat Bianca berusaha melepaskan diri tapi aku yakin Dimas mencengkramnya cukup kuat.
Ternyata Dimas membawanya pada keluarga Arif dan memperkenalkan Bianca pada mereka. Keponakan Arif, anak kakaknya Arif yang berusia sekitar 3-4 tahun langsung beringsut mendekati Bianca. Gadis kecil itu menengadahkan kepala menatap Bianca yang berdiri di depannya. Menyadari ada sosok gadis kecil di dekat kakinya, Bianca langsung berjongkok dan menyapa gadis kecil yang tidsk aku ketahui namanya. Namun dilihat dari jauh, gadis kecil itu langsung akrab dengan Bianca.
Melihat itu, terbayang sudah bagaimana nanti aku akan membangun rumahtangga dengan Bianca. Tidak hanya sepasang, tapi aku ingin memiliki 4-5 anak dengan Bianca. Pasti menyenangkan dengan suasana ramai. Aku terkekeh sendiri, belum juga mengesahkan pernikahan, sudah terbayang memiliki anak yang lucu, ganteng dan cantik. Semoga anak-anak lakinya memiliki badan tinggi seperti aku dan anak perempuannya tidak apa-apa mungil seperti mommy-nya. Haiizzz belum apa-apa terbayang panggilan daddy dan mommy untuk kami berdua.
__ADS_1
Daripada sendirian memikirkan masa depanku dengan Bianca, aku menghampirinya dan akhirnya ikut berkenalan dengan gadis kecil tadi yang berusia 4 tahun dan bernama Delima.
Aku merangkul pinggang Bianca setelah posisi kami kembali berdiri dengan Delima dalam gendongan Bianca. Anak itu mendadak manja dan menempel pada Bianca. Semoga kami segera dikaruniai buah hati setelah menikah tadi.
“I love u Bianca, I love u my future wife,” aku membisikkan kata cinta, ungkapan perasaanku saat ini di telinga Bianca. Karena terlalu gemas aku menggigit daun kupingnya, membuat Bianca bergidik dan menoleh padaku dengan wajah tercengang.
Aku hanya tertawa pelan.
“Jangan pasang wajah begitu, nanti aku cium di sini nih.” Godaku kembali dan membuat wajahnya memerah.
Bianca tiba-tiba menarik kemejaku hingga wajahku mendekat di wajahnya.
“I love u too my Devano. I love u my future husband,” bisik Bianca di telingaku dan tanpa ragu dia juga mencium pipiku.
Senyum lebar semakin merekah di wajahku dan kami saling memandang penuh cinta.
“Om, Tante !” Pekik Delima yang ternyata sudah lepas dari gendongan Bianca dan sekarang berdiri di antara kaki kami berdua. Tangannya sebelah memegang dress Bianca dan sebelah lagi memegang ujung kemejanya.
“Del mau dicium juga, dong. Masa om dan tante ciumannya berdua doang,” seruan Delima yang cukup keras membuat orang-orang yang ada dekat situ langsung menghentikan aktivitas mereka dan memandang kami berdua.
Wajah kami langsung merona karena malu tertangkap basah. Kulihat Bianca tersipu malu. Kuraih dia dalam pelukanku dan dia membenamkan wajahnya di dadaku.
“Nggak boleh nyosor terus ya, Van !” Suara Opa Ruby yang cukup keras memecah keheningan. “Sabar sedikit dong, kan tinggal seminggu lagi,”ledek opa.
__ADS_1
Semua yang hadir jadi tertawa dan terus menggoda kami berdua. Wajah Bianca yang makin tersipu membuat aku tambah gemas jadinya.
Aahhh waktu, cepatlah berlalu. Rasanya sudah nggak sabar menunggu seminggu lagi.