Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 63 Melepasmu


__ADS_3

Devano memasuki ruang VIP di sebuah cafe atas undangan Ernest di wa grup mereka. Dia langsung terkejut mendapati Arya juga sudah ada di sana.


“Ar, elo nggak jadi anterin Bianca pulang ?” Devano mendekati Arya untuk memastikan permintaannya tadi.


Dilihatnya jam di pergelangan tangannya baru pukul 18.15. Apa mungkin Arya sudah ada di tempat ini setelah mengantar Bianca ?


“Tadi Bianca pulang dijemput temannya.”


“Siapa ?” Devano mengernyit.


Arya mengeluarkan handphonenya. Dibukanya aplikasi wa dan dipencetnya nama Bianca lalu menunjukannya pada Devano.


“Gue suruh foto untuk memastikan kalau dia beneran dijemput sama temannya.”


“Shit !” Devano langsung mengumpat saat mendapati foto Bianca dengan Desta di belakangnya.


Devano bergegas keluar ruangan sambil menghubungi seseorang.


“Kenapa lagi ?” Tanya Ernest yang baru saja memesan makanan dan minuman.


“Biasa soal Bianca.” Sahut Arya.


“Belum ada keputusan final juga ?” Joshua terkekeh mengingat masalah sahabatnya yang berlanjut meski sudah terlewati lebih dari 4 tahun.


Belum sempat perbincangan itu berlanjut, Devano sudah muncul kembali di dalam ruangan.


“Sorry guys, gue nggak jadi ikutan malam ini. Ada keperluan.” Devano mengangkat kedua tangannya.


“Jangan digantung kelamaan Bro,” celetuk Joshua membuat yang lainnya ikut tertawa pelan.


Devano bersikap masa bodoh dan meninggalkan ruangan, bergegas menuju parkiran.


Dengan bantuan Dimas, Devano berhasil melacak keberadaan Bianca. Gadis itu sedang berada di restoran dengan Desta.


Devano dengan tidak sabaran membawa mobilnya di tengah lalu lintas yang cukup padat karena masih jam pulang kantor. Butuh waktu 30 menit untuk sampai di tempat yang dituju.


“Bisa dibanru, Pak ?” Seorang pelayan menyambutnya di pintu masuk.


“Pesanan atas nama Desta.”


Devano langsung menjawab sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Dan hanya hitungan detik matanya menangkap sosok yang dicarinya. Tanpa menunggu bantuan dari pelayan, Devano melangkah cepat menuju meja Bianca dan Desta.


“Devano !” Desis Bianca saat melihat sosok cowok itu mendekat dan berdiri di belakang Desta. Posisi Bianca yang menghadap ke pintu masuk membuatnya langsung melihat kedatangan Devano.


Desta yang sedang memotong steak langsung berhenti dan memutar badannya. Didapatinya Devano yang berdiri dengan wajah tidak bersahabat.


“Malam Pak Devano,” Desta langsung berdiri dan mengulurkan tangannya namun diabaikan oleh Devano.


“Apa kamu tidak mendengarkan pesan saya tadi ?” Dengan wajah datar dan nada tegas Devano menatap Bianca yang langsung menghentikan makannya.


“Maaf Pak, tapi bukannya ini sudah diluar jam kerja ?” Desta mencoba membela Bianca namun lagi-lagi diabaikan oleh Devano.


“Apa kamu tidak bisa bertanggungjawab Bianca ?” Nada datar itu terdengar penuh emosi di telinga Bianca membuat gadis itu hanya menundukkan


“Maaf Pak Devano…” Desta menyela.


“Urusan saya dengan Bianca masih masalah pekerjaan.” Potong Devano cepat sambil menatap Desta dengan tatapan tajam.

__ADS_1


“Oh maaf kalau begitu,” Desta mundur sedikit menjauh.


Bianca masih bingung dengan perkataan Devano. Namun mengingat sifat Devano yang belakangan ini suka nekad membuat Bianca akhirnya mengalah.


“Maaf Pak, tapi materinya saya tinggal di kantor.” Ucap Bianca berbohong. Dia berusaha mengimbangi permainan Devano.


“Kalau begitu kamu selesaikan juga malam ini !” Devano langsung mencengkram lengan Bianca dan menyuruhnya bangun.


“Maaf Pak,” Desta menahan lengan Devano yang lain.


“Setidaknya biarkan Bianca menghabiskan makan malamnya dulu.”


Devano melirik jam tangannya.


“Terlalu malam kalau sampai selesai makan. Jangan khawatir, saya tidak akan membiarkannya kelaparan.” Devano tersenyum sinis pada Desta.


Bianca menghentakkan tangannya hingga cengkraman Devano terlepas. Devano langsung melotot padanya. Bianca menganbil handphonenya yang tergeletak di meja dan memasukkan ke dalam tas lalu beranjak bangun.


“Maaf Kak Desta, aku harus balik ke kantor dulu.” Bianca menatap Desta dengan wajah menyesal karena harus mengikuti Devano.


“Tidak habiskan makanan kamu dulu Bianca ?”


“Seperti kata Pak Devano, takutnya tidak keburu kak. Aku permisi dulu.”


Bianca membungkukan badannya dan beranjak dRi kursinya, meninggalkan Desta tanpa menunggu tanggapan cowok itu. Devano mengikutinya dari belakang.


Bianca langsung menuju mobil Devano tanpa bicara apa-apa dan masuk ke dalamnya dengan wajah datar.


“Kenapa kamu tidak mendengarkan pesan saya membiarkan Pak Arya pulang mengantarmu.”


Devano membawa Bianca ke daerah pantai di utara Jakarta. Setelah mobilnya terparkir, Devano membuka jendela dan mematikan mesin.


Bianca langsung melepas seatbelt -nya dan keluar mobil sambil membanting pintu. Bianca melepaskan sepatu dan menentengnya lalu berjalan mendekati bibir pantai. Ada bangku-bangku dari semen disediakan di sana.


Devano yang semula hanya berdiam di dalam mobil akhirnya memilih menghampiri Bianca setelah menutup kaca mobilnya.


“Tidak bisakah kamu menjawab pertanyaan saya sejak tadi. Kenapa kamu tidak mengikuti perintah saya untuk pulang dengan Pak Arya ?”


Devano berdiri di dekat Bianca dan bertanya kembali dengan nada galak.


Bianca masih terdiam. Dia membuang pandangannya ke arah berlawanan dengan posisi Devano.


“Bianca Aprilia !” Seru Devano sambil mencekal lengan gadis itu.


Bianca bangun dari duduknya dan memposisikan dirinya berhadapan dengan Devano. Pria di depannya berdiri tidak mampu menahan rasa terkejutnya saat dilihat pipi Bianca basah oleh airmata.


“Bapak Devano Putra Wijaya yang terhormat, apa yang harus saya lakukan pada anda untuk membuat anda memperlakukan saya layaknya manusia normal ?” Bianca berkata penuh penekanan. Dia tidak mampu lagi menahan emosinya yang tertumpah lewat air matanya.


“Memangnya kamu merasa diperlakukan sebagai manusia tidak norma ?” Sinis Devano.


“Dasar pengecut !” Bianca memukul dada Devano dengan sekuat tenaga membuat pria itu meringis meski tubuhnya tidak bergeser.


“Kenapa gue harus suka sama laki-laki pengecut seperti elo ! Gue benci ! Gue benci !” Bianca sempat memukul-mukul dada Devano sebelum akhirnya tubuhnya melorot ke bawah.


Devano sempat tersentak dengan sikap Bianca. Bertahun-tahun mengenalnya, Bianca belum pernah bereaksi seperti malam ini. Emosinya meluap-luap dan tangisannya meski tidak bersuara namun menyayat hati. Bahkan saat Nindi menindasnya habis-habisan, Bianca tidak pernah seperti sekarang ini.


“Kalau kamu sudah memahami sifat saya dan mengganggap saya pengecut, kenapa masih mau berusaha mendekati saya ?”

__ADS_1


Devano dengan bahasa formalmya masih berdiri menatap Bianca. Hatinya bergejolak. Ada keinginan untuk mengangkat gadis itu dan merengkuh dalam pelukannya. Namun janjinya pada seseorang membuatnya bertahan dengan sikapnya.


“Kenapa elo sangat membenci gue ?” Cicit Bianca di sela-sela isakannya.


“Saya tidak membencimu, tapi jangan pernah berpikir seperti kebanyakan orang kalau saya menyukai anda.”


Devano hendak berlalu namun Bianca menahan tangannya. Gadis itu bangun kembali dan memegang kedua lengan Devano.


“Devano,” lirih Bianca.


Devano tidak menjawab dan tidak membalas tatapan Bianca.


“Devano.” Panggil Bianca kembali. “Bisakah menatapku sebentar saja.” Bianca merubah perkataannya bukan lagi gue elo seperti tadi.


“Aku janji Devano, tolong tatap aku sekali ini saja. Jadilah Devano yang aku kenal seperti kelas 8 dulu. Sekali ini saja.” Bianca memohon dengan nada memelas.


Devano berusaha keras untuk melawan hati kecilnya. Janjinya empat tahun yang lalu membuatnya bertekad untuk melepaskan Bianca dan menghapus bayangan Bianca dalam ingatannya.


Devano menghentakan tangan Bianca dengan kasar dan berniat meninggalkan Bianca. Namun tangan Bianca kembali menahannya.


“Devano, aku akan berhenti mencintaimu, mengharapkanmu dan menghapus bersih bayanganmu dalam hatiku sampai tidak bersisa. Berikan aku waktu 4 minggu. Hanya tinggal 4 minggu, aku akan menyelesaikan semuanya dengan baik.” Bianca tidak mampu lagi membendung air matanya.


“Bisakah kamu memperlakukan aku lebih baik dalam 4 minggu ini ?”


Devano hanya terdiam dengan posisi masih membelakangi Bianca.


“Aku tidak akan merubah lagi keputusanku dengan sikap baikmu dalam 4 minggu ini. Aku mohon.”


Bianca melepaskan genggamannya di lengan Devano saat tidak ada reaksi apapun dari pria itu. Tanpa bicara apapun, Devano meneruskan langkahnya dan meninggalkan Bianca.


Devano masuk ke dalam mobil dan menigggalkan parkiran. Tidak diperdulikannya Bianca yang masih berada dekat bibir pantai.


“Bisakah kamu melepaskan gadis itu untuk seseorang yang bagai saudara bagimu ? Selama ini dia berkorban untuk kebahagiaanmu, segalanya dia lakukan untuk kebaikanmu bahkan menggantikan posisimu. Gadis itu. Dia mencintai gadis itu. Lepaskanlah dia untuknya.”


Permintaan empat setengah tahun lalu selalu terngiang dalam pikiran Devano. Dan janjinya bahwa dia akan melepaskan Bianca membuatnya mengeraskan hati dan berusaha bersikap kasar untuk membuat Bianca membencinya.


Tapi ketulusan hati Bianca yang terpancar lewat tatapan matanya, membuat gadis itu tetap bertahan meskipun Devano berusaha menyakitinya.


Devano memukul setir beberap kali saat berhenti di lampu merah. Dia menelungkup sejenak ke setir. Saat menoleh ke sisi kursi penumpang di sebelahnya, dihatnya tas Bianca tertinggal di sana. Bahkan handphone Bianca ada di atas kursi.


Devano bimbang. Bagaimana bisa Bianca pulang tanpa uang dan handphonenya untuk memesan taksi atau apapun juga ? Sementara Posisi pantai yang mereka datangi agak di ujung dan jarang dlilewati taksi.


Devano langsung memutar kembali mobilnya di tikungan terdekat. Hati kecilnya tidak mampu berdusta, rasa khawatir menyesakkan dadanya.


Devano bergegas turun saat mobilnya sudah kembali ke posisinya tadi. Matanya langsung menyisir tempat Bianca terakhir berdiri saat dia meninggalkannya. Namun tidak ditemukan sosok yang dicarinya. Hanya beberapa pengunjung lain dan penjaja makanan ada di sana.


Devano menghampiri warung dekat situ namun si penjaga tidak melihat Bianca.


Devano kembali ke mobilnya dan mengemudikan dengan pelan menyusuri arah pintu keluar, berharap menemukan Bianca. Hingga satu jam Devano mulai merasa lelah.


Devano menepi dan mengambil handphone Bianca. Dia berusaha membukanya tapi terpasang password di sana. Devano pun beralih mengambil handphonenya dan menghubungi Dimas, meminta bantuannya kembali untuk mencari keberadaan Bianca.


Dimas yang bisa diandalkan itu memberi kabar hanya dalam waktu 10 menit. Devano menarik nafas lega karena ternyata Bianca sudah tiba di rumah.


Devano membuang pandangan ke samping. Dari kejauhan dapat terlihat pantulan cahaya bulan di atas air laut yang membentang luas.


Devano menelungkupkan wajahnya ke setir. Sulitnya berjuang melawan hati bila orang yang disayangi terus mendekat dan menempel seperti bayangan. Namun Devano sudah berjanji akan melepas Bianca untuk sebuah hati yang lain.

__ADS_1


__ADS_2