Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 42 Bolehkah Aku Menyukaimu ?


__ADS_3

Sudah 3 bulan berlalu sejak pertemuan Bianca dengan Diana di Cafe Pelangi. Para sahabat Bianca sudah kembali ke tempat mereka masing-masing dan disibukkan lagi dengan rutinitas seperti biasa.


Diana sendiri sempat mengirimkan 2 kali pesan pada Bianca hanya untuk menanyakan kabar Bianca.


Jadwal kuliah yang memasuki semester 6 menbuat Bianca mulai mengurangi kerja sambilannya sebagai pelayan di cafe dekat kampus. Dia hanya mengambil pekerjaan sampingan di Cafe Pelangi pada akhir pekan. Itu pun sudah tidak sesering dulu jadwal manggungnya karena tugas-tugas kuliah cukup padat.


“Nanti sore balik ke rumah ?” Revan sudah mengambil tempat duduk di seberang Bianca.


Siang ini Bianca sedang mengisi perut dengan Dewi sahabatnya di kantin kampus, Revan muncul dan langsung duduk di meja yang sama dengan sebotol minuman dingin.


“Besok gue baru balik ke rumah. Nanti sore masih mau beresin tugas kelompok, takutnya kemaleman.” Bianca menjawab sesudah menghabiskan suapan terakhir makanannya.


“Gue juga sama Van.” Dewi menimpali.


“Ya udah kalo gitu gue juga besok aja pulangnya. Jam berapa rencanya, biar gue jemput.”


Bianca mengangkat kedua bahunya sambil menyedot minuman.


“Kalau jam 10 gue jemput di tempat kost gimana ?”


“Boleh deh,” Dewi yang menjawab.


Selesai makan, Bianca dan Dewi kembali ke kelas karena masih ada mata kuliah yang harus diikuti sampai jam 3 sore ini. Revan juga balik ke fakultasnya mengikuti mata kuliah berikutnya.


“Van,” Bianca menghentikan langkahnya sebelum mereka berpisah. Dia memberi kode pada Dewi untuk jalan duluan.


“Van,” panggil Bianca kembali saat Dewi sudah berlalu.


“Iya Bianca sayang… Gue udah nyahut dari tadi.”


Bianca tertawa kecil melihat ekspresi Revan.


“Hari ini kuliah sampai jam berapa ?”


“Jam 4 sore gue baru selesai. Kenapa ?”


“Gue boleh minta waktu elo sebentar habis selesai kuliah ? Gue selesai jam 3, habis itu janjian mau kerja kelompok. Nanri kalo jam 4 elo udah kelar, gue ijin sebentar.”


“Apqa sih yang nggak buat elo.” Revan mengedipkan matanya sebelah sambil menoel dagu Bianca.


Bianca langsung melotot sambil mengerucutkan bibirnya membuat Revan tertawa dan menggodanya kembali.


“Sampai nanti sore ya.” Bianca mendahului Revan dan melambaikan tangannya.


Revan menggangguk sambil mengedipkan matanya kembali saat Bianca menatapnya dan dibalas dengan cebikan Bianca.


Sampai di kelas ternyata Dewi sudah menyiapkan kursi di di barisan tengah. Mengikuti kuliah di jam-jam sesudah makan siang adalah perjuangan. Perjuangan melawan ngantuk.


“Bi, ngomong apaan sama Revan ? Kayaknya serius banget.”


“Biasa lah membahas soal teman-teman SMA.”


“Nanyain kabar Devano ?” Dewi menyenggol bahu Bianca sambil tertawa kecil.


“Iihhh Devano udah berakhir episodenya.”

__ADS_1


“Elo kira drakor atau sinetron kejar tayang yang hampir habis episodenya.”


“Bukan hampir aja, tapi cerita Devano memang berakhir pas lulusan SMA.”


“Yah bikin sekuelnya dong !”


Bianca menoleh dan mencibir melihat Dewi yang masih tertawa menggoda.


“Elo kira film hollywood yang dibikin sekuel-sekuelnya ?”


Obrolan mereka terhenti karena dosen sudah masuk ke kelas.


Jam 3 sore Bianca yang kali ini tidak sekelompok dengan Dewi berkumpul dengan teman-temannya untuk mengerjakan tugas. Mereka memilih tempat di taman belakang fakultas ekonomi yang sangat teduh dan nyaman untuk berkumpul. Materi yang mereka pilih tentang salah satu kasus kriminal yang menjadi trending topik saat ini.


Jam 4.15 suara notifikasi pesan terdengar dari handphone Bianca. Gadis itu segera mengambil dari dalam tas selempangnya dan mendapati pesan dari Revan yang menyampaikan bahwa dia sudah selesai dengan kelasnya.


Bianca membalas pesan Revan dan memintanya menunggu di Cafe seberang kampus. Bianca akan ke sana 15 menit lagi.


Dan di sinilah mereka duduk berhadapan di salah satu meja yang agak pojok agar dapat berbicara lebih leluasa.


“Sorry terlambat.” Bianca mengambil tempat duduk berseberangan dengan Revan.


“Hampir gue tinggal.” Revan menjawab dengan muka yang dibuat terihat kesal.


Bianca hanya tertawa dan memesan makanan serta minuman pada pelayan yang menghampiri meja mereka.


“Tanggung tadi pembahasan hampir selesai. Jadi tuntasin dulu biar yang bagian nyusun laporan bisa beresin.”


“Kalo jam segini kelar kenapa nggak langsung balik ke rumah aja ? Jadi besok pagi bangun udah di rumah.”


“Mau ngomong apa sih kok tumben banget ngajak ketemu begini ?”


“Apa elo masih suka bertukar kabar sama Devano ?”


Revan meletakkan gelas es kopinya saat mendenhar pertanyaan Bianca.


“Kenapa ? Elo kangen ?” Revan menjawab dengan senyum meledek.


“Nggak.” Jawab Bianca cepat.


Bianca mengucapkan terima kasih saat pelayan mengantarkan pesanan makanan dan minumannya.


“Terus ngapain elo tanya-tanya gue masih hubungan sama Devano nggak ?”


“Elo punya pacar ?” Bianca malah menjawab pertanyaan Revan dengan pertanyaan.


“Nggak !” Jawab Revan cepat.


Bianca yang mulai menikmati makanan dan minumannya menangkap kegugupan di raut wajah Revan. Namun cowok di depannya itu masih berusaha bersikap santai.


“Yakin ?” Bianca memajukan sedikit wajahnya sambil menatap Revan penuh selidik.


“Hmmm.” Revan mengangguk. Sekilas dia mengalihkan pandangan saat mendapat tatapan dari Bianca. Tangannya kembali mengambil gelas berisi es kopi.


Bianca kembali diam dan menikmati makanannya. Sudut matanya masih mencuri-curi pandang memperhatikan sikap Revan.

__ADS_1


“Elo aneh banget ya. Pertanyaan elo nggak biasanya.” Revan menautkan alisnya.


Bianca hanya diam saja dan masih menikmati makanannya sampai habis.


“Jangan bilang elo suka gue ?” Revan bertanya dengan nada meledek.


“Memangnya kalo iya kenapa ?” Bianca menjawab dengan santai dan menikmati es jeruk yakultnya.


Revan langsung tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Bukannya elo beberapa kali bilang sama gue bahkan sama Dewi juga kalau Devano adalah masa lalu gue dan elo adalah masa depan gue ?”


Bianca meletakkan gelasnya dan menatap Revan dengan wajah serius.


Revan terdiam sejenak tanpa membalas tatapan Bianca.


“Elo belum amnesia kan, Van ?”


Revan menolehkan wajahnya membalas tatapan Bianca. Bianca menangkap ada kegelisahan di sana tapi dia pura-pura tidak tahu dan terus menatap lekat mata Revan.


“Udah hampir 3 tahun kita cukup dekat. Dan bukan hanya Dewi, tapi Mia dan Della juga pernah bilang ke gue untuk membuka hati buat orang lain terutama elo.”


Bianca menjeda sementara tangannya memainkan embun yang menempel di gelasnya.


“Dan setelah sekian lama, gue pikir-pikir ada benarnya juga. Selama ini bukan karena gue nggak bisa move on dari Devano, tapi karena gue takut untuk memyukai cowok lagi.”


Sesekali Revan membuang pandangan ke arah lain atau menunduk menatap gelas es kopinya.


“Tapi sikap elo membuat gue berani belajar membuka hati lagi. Gue yakin bahwa cowok seperti elo yang tulus dan perhatian pasti nggak akan membuat gue kecewa.”


Revan menarik nafas panjang dan membalas tatapan Bianca dengan perasaan yang justru bukan bahagia atau bersemangat. Padahal seperti Bianca bilang, bukan hanya sekali Revan pernah bilang bahwa dirinyalah masa depan Bianca dan itu juga pernah dikatakan di depan Dewi dan teman-teman SMA-nya.


“Revan,” Bianca menyentuh jemari Revan yang sedang memegang gelas.


“Boleh nggak gue menyukai elo dan menjadikan elo masa depan gue seperti perkataan elo ?” Bianca berkata pelan dan lembut.


Spontan Revan membelalakan matanya dan menarik tangannya yang dipegang Bianca. Cowok yang biasanya bawel dan tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan mendadak jadi bisu. Hatinya masih terkejut mendengar perkataan Bianca, apalagi memandang cewek yang dekat dengannya hampir 3’tahun ini sedang tersenyum manis.


“Bi…”


“Nggak usah elo jawab sekarang.” Bianca langsung memotong perkataan Revan.


“Gue…” Revan terihat bingung memberikan pernyataan atau jawaban.


“Gue harus balik ke kost.” Bianca melirik jam tangannya.


“Traktir gue ya… Lagi penghematan.” Bianca tersenyum sambil mengedipkan matanya sebelah.


Revan hanya mengangguk dan masih belum mengeluarkan satu kalimat. Dilihatnya Bianca bangun dan setelah menyelempangkan tasnya Bianca pamit sambil melambaikan tangannya.


“Thanks ya .” Bianca menepuk bahu Revan sambil berlalu.


Revan masih duduk sebentar sambil memainkan gelas kopinya.


“Boleh nggak gue menyukai elo dan menjadikan elo masa depan gue seperti perkataan elo ?”

__ADS_1


Pertanyaan Bianca bukan menciptakan rasa bahagia dan deg deg kan layaknya seseorang yang diterima cintanya, tapi lebih ke rasa gelisah dan bingung bagaimana menanggapinya.


__ADS_2