Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 82 Curahan Hati Devano (2)


__ADS_3

Devano melepaskan pelukannya dan kembali mengusap pipi Bianca dengan lembut.


“Sepertinya cerita kamu belum tuntas.”


Devano tersenyum dan mengangguk.


“Masih mau dengar ? Belum ngantuk ?”


“Belum, biar pulas tidurnya kalau udah lengkap ceritanya.”


Devano tertawa dan kembali mengacak rambut Bianca. Devano menepuk-nepuk bahunya menyuruh Bianca bersandar di bahunya.


Bianca merangkul kembali lengan Devano dan bersandar pada bahu pria itu.


“Mau pindah ke dalam aja ?” Tanya Devano.


“Nggak mau ! Kalau duduk di kursi teras nggak bisa peluk-peluk begini,” jawab Bianca manja.


Devano tertawa dengan hati yang bahagia. Serasa ada bunga-bunga bermekaran dalam hatinya.


“Memangnya Opa Ruby sebegitu berkuasanya ya sampai bisa menganggu usaha Om Harry ?”


“Masalah itu ternyata tidak seperti dugaanku.”


“Maksud kamu ?”


“Ternyata usaha papa goyang pada saat aku kelas 10 bukan karena perbuatan Opa Ruby. Ada sabotase yang dilakukan sama karyawan papa. Di perkebunan, ada yang sengaja menyebarkan hama hingga panenan gagal, sementara di kantor cabang sendiri ada korupsi. Makanya Dimas, anak sepupunya mama dipanggil dan diminta membantu di cabang Semarang.”


“Jadi Opa Ruby sama sekali nggak mengganggu usaha Om Harry ?”


Devano mengangguk sambil menjawab “Iya. Dan aku baru mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya saat kita sudah hampir lulus di kelas 12.”


“Terus kenapa masih mengabaikan aku ?” Tanya Bianca dengan mulut mengerucut. Devano tertawa melihatnya.


“Coba kamu ingat-ingat deh, sebetulnya aku tuh nggak pernah menolak atau menerima pernyataan cinta kamu. Pikiran kamu aja yang langsung berasumsi kalau aku tuh menolak kamu.”


“Habisnya kamu diam aja, malah sempat mengancam supaya aku tidak dekat-dekat dengan Tante Angela karena kamu berpikir kalau aku berusaha mengambil hatinya.” Bianca langsung cemberut.


“Aku nggak berani bilang aku juga cinta kamu.” Devano menoel hidung Bianca. “Apalagi aku tahu kalau Arya juga suka kamu dan sudah nembak kamu.”


“Memangnya Arya cerita sama kamu ?”


“Iya, Arya cerita kalau dia suka sama kamu sebelum masalah surat cintamu menggemparkan satu sekolah.”


“Kamu nggak ada rasa cemburu gitu ?”


“Bukan cemburu lagi, Bi. Kayak lahar udah mau keluar dari perut gunung berapi.”


“Lebay,” cibir Bianca.


“Beneran Bi. Tapi perasaan itu musti aku hapus kembali saat ketemu Opa Ruby di Singapura. Opa meminta aku melepaskan kamu untuk Arya.”


“Kok bisa-bisanya opa tahu masalah aku ?”


“Opa punya banyak mata-mata. Kamu sendiri kan tadi bilang kalau Nindi adalah salah satunya. Nindi ngadu lagi ke Arini, dan Arini paling pintar mendramatisir keadaan.”


“Apa itu terjadi pas kamu berangkat kuliah ?”


“Iya,” Devano mengangguk. “Aku dan Arya diminta bertemu dengan Opa Ruby sebelum kami berangkat ke negara tujuan. Pas berbicara bertiga, opa hanya membahas masalah perkembangan orangtua masing-masing dan berbagai wejangan, tapi pas berdua sama aku, opa minta supaya aku melepaskanmu untuk Arya.”


“Kamu kenapa sih semuanya ditelan mentah-mentah. Ada usaha melawan atau protes atau berargumen gitu dong !.” Bianca mengomel dengan wajah kesal. Devano tertawa melihatnya.


“Arya itu sudah seperti saudara bagiku. Semua alasan yang opa berikan memang masuk akal dan meyakinkan aku untuk membiarkan Arya memilikimu.”


“Tapi aku nya kan nggak mau, Devano !” Protes Bianca dengan wajah cemberut. Dilepaskannya rangkulan pada lengan Devano.


“Iya… iya sayang. Sekarang kan udah jadi milik aku dan nggak bakal aku biarkan siapa pun juga memilikimu selain aku.” Devano merangkul bahu Bianca dan mendekatkan pada dirinya.


“Lagian jadi cowok lemah banget sih ! Nggak ada usaha memperjuangkan hidupnya sendiri.” Bianca mencebik.

__ADS_1


“Eh aku nggak lemah ya… mau bukti ? Mau sekarang juga ?” Devano mengerling genit sambil tertawa.


“Ya harus dibuktikan dong !” Bianca menatap dengan muka galak.


Devano bangkit dari duduknya dan langsung menggendong Bianca ala bridal style.


Bianca yang terkejut karena digendong Devano langsung mengalungkan tangannya di leher pria itu.


“Mau aku buktikan malam ini juga kalau aku nggak selemah yang kamu kira ?” Bisik Devano di telinga Bianca, membuat bulu kuduknya meremang.


Bianca mengernyit dan menatap Devano yang sedang tersenyum licik padanya. Bianca tidak menangkap maksud perkataan Devano, namun saat Devano semakin mendekatkan wajahnya akhirnya Bianca tersadar arti perkataan Devano.


“Devano turunin nggak !” Bianca berusaha melepaskan diri dari gendongan Devano namun pria itu malah tertawa sambil membawa Bianca ke pangkuannya setelah Devano kembali duduk di gazebo.


“Maksud aku bukan lemah itu.” Gerutu Bianca.


“Lemah apa sayang ?” Devano terkekeh.


Bianca berusaha turun dari pangkuan Devano tapi pria itu semakin mengeratkan pelukan di pinggang Bianca.


“Aku masih belum selesai mau tanya-tanyanya,” sungut Bianca dengan wajah kesal.


Devano tertawa dan akhirnya melepaskan Bianca dan gadis itu pun kembali duduk di sebelah Devano.


“Kamu tahu darimana kalau kemarin aku akan pergi dengan Desta dan Sella ?”


“Kamu lupa Bi, aku datang ke bandara sama siapa ?”


“Arya.”


“Ya maksudku kok bisa tiba-tiba kamu datang ke bandara sama Arya ?”


Devano pun menceritakan mulai dari kedatangan opa ke rumah sambil marah-marah, lalu Devano langsung pergi ke rumah Arya sampai akhirnya Arya membawanya ke bandara.


“Kalau opa nggak marah karena membiarkan Arya melepas aku, kamu nggak bakalan nyusul aku dan menyatakan cinta sama aku kan ?” Lirih Bianca dengan wajah sedih.


“Memangnya aku barang yang bisa diganti-ganti pemiliknya !” Omel Bianca dengan nada suara tinggi.


“Sebel sama kamu !” Bianca berdiri dengan wajah cemberut. Dengan sigap Devano meraih tangannya dan menarik Bianca hingga jatuh ke pangkuannya lagi.


“Jangan marah dong sayang, bikin aku tambah gemes nih pengen cium.” Devano menoel-noel pipi Bianca.


“Aku yakin kalau kedatangan opa, kelakuan Arya bahkan perintah papa yang tiba-tiba suruh aku melakukan kunjungan ke perkebunan, semua itu skenario mereka. Bahkan bisa jadi mama dan Diana ikut mengatur semuanya.”


“Maksud kamu ?” Bianca mengernyit.


“Coba kamu pikir, Opa bisa tiba-tiba khusus datang pagi-pagi pula ke rumah untuk marahi aku masalah Arya. Dengan caranya, opa langsung mengarahkan aku untuk menemui Arya di rumahnya. Mia sendiri juga antar kamu tapi nebeng di mobil Desta, karena dia sudah tahu kalau Arya akan datang membawaku kepadamu. Terus hari ini, aku bisa sampai di sini karena perintah papa. Mendadak kemarin sore, papa suruh aku pergi dengan Dimas mengunjungi perkebunan kopi di Bawen, bareng Arya pula dengan alasan sekalian melihat proyek di sini. Masalah pembelian lahan aja belum tuntas semua, masih diurus Desta kan ? Berarti proyek baru dimulai paling cepat 3 sampai 6 bulan ke depan. Terus nggak ada gunanya aku kemari juga karena papa itu hanya penanam modal pasif.”


“Itu semua karena kamu kurang peka. Sampai opa, orangtua kamu dan sahabat-sahabatmu harus bikin skenario drama supaya kamu sadar.”


Bianca yang masih dalam mode cemberut mengomel panjang lebar namun malah membuat Devano tertawa.


“Iya, aku sadar kok sayang. Dan mulai sekarang aku akan belajar berubah jadi lebih peka. Makanya jangan tinggalin aku lama-lama supaya ada yang selalu membantu mengingatkan dan mengajarkan aku.”


Devano memeluk erat tubuh Bianca yang ada di pangkuannya dan Bianca pun membalas memeluknya erat.


“Terima kasih Bi tetap bersabar dan bertahan dengan perasaanmu padaku. Semoga kamu akan tetap bersabar seperti ini dan menjadi pendamping hidupku seumur hidupku.”


“Terima kasih juga Devan karena kamu tetap memilih aku sebagai tempat hatimu berlabuh.”


Suasana romantis nan syahdu itu tiba-tiba berubah menjadi tegang saat Bianca melepaskan rangkulannya dan menatap mata Devano dengan tajam.


Devano sedikit terkejut dan menjauhkan wajahnya.


“Kalau Emilia, apa hubungan kamu sama dia ?” Wajah Bianca tetap menggemaskan di mata Devano meskipun dalam mode marah.


“Dia itu cuma teman sandiwara demi membuat Arini menyadari kalau perjodohan kami nggak dilanjutkan.”


“Nggak percaya !”

__ADS_1


Devano mengerutkan dahinya dan menatap Bianca. Baru kali ini dilihatnya wajah Bianca dalam mode marah-marah namun tetap lucu. Ingin rasanya Devano tertawa namun dia sadar akan membuat Bianca tambah kesal.


“Terus aku harus bagaimana untuk buat kamu percaya ?”


“Pasti ada hubungan spesial sampai kamu nurut aja disuruh ganti warna rambut segala. Dan lagi aku sempat lihat kalau dia cium-cium kamu.”


Devano tidak lagi bisa menahan tawanya.


“Aku kan hanya akting, Bi. Supaya lebih meyakinkan di depan Arini makanya aku memang sengaja menngecat rambutku. Sesudahnya malah aku dimarahi mama habis-habisan.”


“Terus kamu udah seringkan cium-ciuman sama dia ?”


Devano langsung pura-pura berpikir membuat Bianca mendengus kesal.


“Cium pipi berapa kali ya ?” Devano mengetuk dagunya dengan wajah serius.


“Sebel ! Aku mau masuk aja.” Bianca langsung turun dari pangkuan Devano namun kembali dicegah oleh pria itu.


“Mau kemana ?” Tanya Devano dengan senyuman manis.


“Mau ketemu sama Desta, Dimas dan Arya. Mau minta dicium juga biar impas sama kamu.”


Bianca berusaha melepaskan tangannya. Namun Devano yang sudah beranjak bangun juga langsung menarik Bianca ke dalam pelukannya.


“Nggak boleh !” Ucap Devano tegas. “Kamu cuma milikku dan nggak ada yang boelh sentuh apalagi cium-cium kamu.”


“Curang !” Omel Bianca masih dalam dekapan Devano.


“Aku akan mandi kembang kalau perlu buat menghapus jejak Emilia di pipiku.”


“Yang kelihatan di pipi, yang nggak ketahuan mana tahu dimana aja.”


Devano tertawa dan merenggangkan pelukannya.


“Ternyata seorang Bianca adalah perempuan posesif juga ya ?” Ledeknya.


“Kamu mau denger yang jujur apa yang bohong ?” Devano menangkup wajah Bianca.


Bianca hanya mendengus dan memalingkan wajah ke arah lain.


“Kamu mau denger nggak siapa pemilik ciuman pertama aku ?” Bisik Devano lembut di telinga Bianca yang lagi-lagi membuat bulu kuduknya meremang.


Cup


Devano langsung mencium bibir Bianca membuat gadis itu melotot sementara Devano kembali tertawa.


“Bibir yang sama ini sudah mendapatkan ciuman pertama, kedua dan hari ini ketiga dariku. Kalau di pipi jangan dihitung ciuman spesial dong.”


Bianca hanya menunduk dengan wajah merona. Serasa diterbangkan ke langit ketujuh saat mendengar ucapan Devano.


Bianca pun melepaskan pelukan Devano dan melangkah melewati pria itu.


“Mau kemana ?” Devano menahan tangan Bianca.


“Mau masuk,” jawabnya sambil tertunduk. Wajahnya masih merah merona.


“Ayo bareng.”


Devano terkejut saat Bianca menghempaskan tangannya.


“Nggak mau !” Devano menatap Bianca yang juga sedang menatapnya. “Aku mau minta cium pipi sama Arya dan Dimas juga.” Bianca langsung berlari meninggalkan Devano.


“Bianca !” Teriak Devano.


“Biar seri,” Bianca berhenti dan berbalik lalu menjulurkan lidahnya.


Devano mengepalkan tangannya dan bergegas menyusl Bianca yang sudah berlari masuk.


“Awas kalau kamu berani minta cium pipi sama Arya dan Dimas ! Apalagi sama Desta, bisa ngelunjak itu cowok,” omel Devano dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2