Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 55 Kenapa Kamu Begitu ?


__ADS_3

Devano mulai terbiasa dengan pekerjaan di perusahaan. Namun hingga sebulan berlalu, sikapnya pada Bianca masih belum berubah. Kaku, dingin dan masa bodoh bahkan sering membentak Bianca jika sedikit saja melakukan kesalahan.


Dimas sendiri bingung dengan sikap Devano yang terkadang terkesan terlalu keras pada Bianca. Padahal beberapa kali Dimas menangkap tatapan tidak suka Devano saat melihat Bianca bercanda dengan Dimas atau menghabiskan waktu makan siang dengan Desta yang sepertinya menaruh hati pada Bianca. Namun sikap Devano bukannya berbalik menunjukkan perasaan hatinya, malah semakin keras pada Bianca. Pernah Bianca dibuat menangis karena dimarahi habis-habisan setelah salah memberikan flashdisk yang berisi bahan presentasi meeting dengan klien dari Singapura. Pasalnya Bianca dimarahi bukan saja di depan Dimas dan Eva seperti biasanya, namun juga staf perusahaan yang mengikuti rapat hari itu setelah menyelesaikan meeting dengan klien dari Singapura.


Dimas sampai pada kesimpulan bahwa sikap Devano selain untuk menutupi perasaan sukanya pada Bianca tapi sekaligus berusaha membuat Bianca benci kepadanya.


Seperti hari Sabtu ini, Bianca diminta masuk kerja setelah jam makan siang berakhir. Dimas sudah menjelaskan bahwa revisi bahan presentasi untuk hari Senin bisa diselesaikan oleh Dimas atau kalaupun membutuhkan bantuan Bianca dapat dilalukan via email. Namun Devano berkeras menyuruh Dimas menghubungi Bianca agar masuk kantor. Sempat terintas di pikiran Dimas kalau ini semua bagian keinginan Devano untuk melihat sosok Bianca.


Akhirnya Sabtu jam 1 siang, Bianca sudah sampai di ruangannya. Dia langsung mengetuk ruangan Devano karena tidak mendapati Dimas di sana.


“Selamat siang Pak Devano, Pak Dimas.” Sapa Bianca sambil membungkukkan badan saat suara dari dalam menyuruhnya masuk.


“Baru sampai Bi ?” Dimas yang menjawab.


Keduanya terlihat sedang duduk di sofa dengan beberapa berkas tersebar di atas meja.


Bianca hanya mengangguk menjawab pertanyaan Dimas.


Devano langsung bangun dari sofa dan berjalan menuju meja kerjanya. Bianca menatap Dimas sambil mengangkar kedua alisnya memberi kode ada apa pada Dimas. Belum sempat Dimas menanggapi, suara galak Devano sudah terdengar.


“Dimas, suruh dia bereskan sesuai dengan yang kita bicarakan tadi.”


Devano yang terlihat lebih santai dengan celana jeans dan kaos polonya, mengambil handphone dan kunci mobilnya.


“Baik Pak, saya akan menemani Bianca sebentar sambil memberikan beberapa instruksi.”


Dimaa merapikan berkas di atas meja sofa lalu beranjak bangun.


“Tidak usah !” Tegas Devano dengan nada tinggi.


“Buat apa perusahaan berbaik hati menerimanya untuk sekedar magang dan membayarnya dengan gaji layaknya karyawan biasa, kalau apa-apa masih harus dibantu.”


Perkataan Devano dengan nada sinis dan ketus membuat Bianca dan Dimas sedikit terkejut.


“Lagian percuma seorang sarjana masih perlu bantuan orang lain hanya untuk menyelesaikan tugas segampang itu.” Sambung Devano dengan nada sinis. -


Dimas merasa jadi serba salah. Memang betul yang dikatakan Devano bahwa pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Bianca hanya tugas sederhana merubah beberapa tulisan dan gambar pada powerpoint untuk presentasi. Tapi rasanya tidak tega membiarkan Bianca bekerja sendirian di kantor karena Sabtu adalah jadwal libur perusahaan.


“Kamu antar saya.” Devano melempar kunci mobilnya pada Dimas yang masih terdiam.


Dimas menangkapnya lalu memasukkan ke saku xelananya. Devano sudah melangkah lebih dahulu melewati Bianca yang masih diam terpaku. Dimas memberikan beberapa instruksi singkat pada Bianca mengenai tugasnya.


“Dimas !” Teriak Devano yang sudah menunggunya di depan. “Biar kalau tidak jelas dia bisa tanya kamu lewat telepon kan ?”


Dimas mengangguk kemudian memberikan kode pada Bianca yang diangguki oleh gadis itu.


Dimas dan Devano memasuki lift menuju lobby. Sementara di ruangannya, Bianca beberapa kali menarik nafas panjang dengan perasaan kesal. Dimas sudah memberikan beberapa catatan pada berkas yang terlihat dicoret-coret sebagai perbaikan. Dengan lesu, Bianca ke meja nya, menyalakan komputer dan bersiap-siap bekerja.


Sementara mobil yang dikemudikan oleh Dimas sudah meninggalkan kantor dan membelah jalan raya yang terlihat lebih lenggang karena hari Sabtu.


“Kemana Bro ?” Tanya Dimas memecah kesunyian.


Sejak di mobil, Devano yang duduk di sebelahnya menatap keluar jendela sambil menopang wajahnya dengan sebelah tangan yang bersender di pintu.


“Cari makan aja. Elo juga belum makan siang kan ?” Devano menoleh ke arah Dimas.

__ADS_1


Dimas menawarkan salah satu restoran padang yang menjadi favorit mereka dan setelah Devano setuju, Dimas membawa mobil ke sana.


“Bro,” Dimas membuka percakapan di sela-selan makan. “Gue mau bicara sebagai teman bukan karyawan.”


Devano hanya mengangguk sambil menikmati makanannya.


“Soal Bianca,” ujar Dimas hati-hati. Saat dilihatnya Devano hanya bersikap biasa saja, Dimas meneruskan niatnya.


“Gue lihat elo kayak punya dendam pribadi sama dia.”


“Nggak ada, gue biasa aja.”


“Tapi emosi elo nggak biasa kalau sudah berhadapan dengan Bianca.”


“Maksud elo ?” Devano menautkan kedua alisnya.


“Yaahh gue sering lihat elo lebih mudah bad mood dan jadi manusia paling galak kalo ngadepin Bianca.”


“Loh kan memang karena dia sendiri yang nggak beres kerjaannya.”


“Tapi sorry kalo gue lancang. Gue juga melihat kalo ada perasaan nggak suka dari ekspresi elo kalau ngeliat Bianca lagi deketan sama cowok misalnya kayak Desta.”


Uhhuukkk uhhuukk…


Devano yang sedang meneguk tehnya menjadi tersedak mendengar perkataan Dimas. Niatnya minum untuk menetralkan hati malah membuatnya tersedak.


“Kenapa gue harus nggak suka ? Itukan urusan dia.” Ketus Devano setelah normal kembali.


“Ekspresi elo kayak pacar yang lagi cemburu kalo dalam situasi yang gue bilang.” Dimas terkekeh.


“Kalo memang bukan cemburu, kenapa sekarang malah elo kelihatan kesal sama pertanyaan gue.” Dimas terus bertanya sambil tertawa kecil.


“Gue kagak cemburu, Dimas !” Tegas Devano. “Gue nggak punya perasaan apa-apa sama Bianca.”


Dimas tergelak. Lagi-lagi Devano berbicara dengan ekspresi yang berlawanan dengan perkataannya.


“Ooo ya udah, mungkin gue salah menebak. Gue lega kalo memang dugaan gue salah.”


“Lega kenapa ?” Devano kembali mengernyitkan matanya.


“Lega karena gue akan bersaing bebas sama Desta buat merebut hati Bianca. Secara kesempatan lebih gede gue daripada Desta karena Bianca kerja satu ruangan sama gue. Tapi karena posisi gue masih sepupunya elo, sepertinya Bianca agak menjaga jarak.”


Dimas sengaja memandang ke arah lain seolah sedang merenungkan kalimatnya sambil membayangkan Bianca, padahal ujung matanya menangkap kalau ada keterjutan di wajah Devano.


“Memangnya Desta pernah bilang ke elo kalau dia suka sama Bianca.”


Dimas tergelak. Devano bertanya dengan eskpresi yang dibuar sedatar mungkin, padahal Dimas menangkap ada kegelisahan di matanya.


“Elo sebagai cowok nggak bisa melihat dan membaca gelagat Desta ?”


Devano terdiam dan memandang layar handphonenya. Ada pesan masuk dari Bianca.


Bianca : Selamat siang Pak Devano, saya sudah selesai merevisi file nya sesuai pesan Pak Dimas. Sudah saya email. Tolong Bapak cek. Kalau sudah oke saya mau pulang !


Devano mendengus saat membaca pesan Bianca yang memberi tanda seru pada akhir pesannya.

__ADS_1


“Siapa ?” Tanya Dimas.


Devano hanya diam dan membuka email yang dikirimkan oleh Bianca di handphonenya.


Dimas ikutan membuka handphonenya ternyata Bianca juga mengirimkan pesan yang isinya kurang lebih sama. Dimas pun membuka file yang dikirimkan oleh Bianca.


“Sepertinya sudah beres pekerjaan Bianca, Van.” Ujar Dimas setelah mengecek pekerjaan Bianca.


“Masih ada yang kurang,” Devano menggeleng dan mengetik pesan pada Bianca.


Dimas menautkan kedua alisnya dan bertanya-tanya kekurangan apalagi yang Devano maksud.


Devano meletakkan kembali handphone di meja setelah selesai mengirimkan pesan balasan pada Bianca.


“Van, elo nggak lagi kerjain Bianca, kan ?”


“Ngapain gue kerjain dia. Memang kerjaanya belum sesuai dengan yang gue perlukan.”


“Tapi gue periksa sudah sesuai dengan hasil diskusi kita tadi pagi, Van.”


“Setelah gue lihat kembali masih ada yang perlu diganti dan ditambahkan. Biar aja dia beresin, masih jam 2.30 juga.”


“Tapi Van…”


“Kalau elo kasihan karena dia kerja lembur di akhir pekan, hitung aja berapa perusahaan harus membayar upah lemburnya. Kalau perlu, gue bayar dari kantong pribadi.”


Devano mendadak menjadi kesal setelah mendengar perkataan Dimas soal keinginannya mendekati Bianca dan siap bersaing dengan Desta, ditambah lagi pembelaan Dimas saat Devano memperlanjang waktu kerja Bianca.


“Gue mau balik dulu. Anterin gue pulang dulu, nanti elo bawa mobil gue aja.”


“Nggak usah Van, gue naik taksi aja balik kantor ambil mobil. Sekalian gue mau cek langsung pekerjaan Bianca.”


“Nggak usah !” Bentak Devano sambil melotot. “Berapa kali gue bilang kalau elo nggak perlu bantuin Bianca. Mau sampai kapan elo jadi pahlawan buat dia.”


Dimas memandang Devano yang terlihat sangat emosi saat ini. Fixed Dimas yakin kalau Devano benar-benar menyukai Bianca juga. Sikapnya saat ini benar-benar seperti pacar yang sedang terbakar api cemburu. Tapi alasan apa yang membuat Devano terus menyangkal hatinya dan semakin keras melawan keberadaan Bianca, Dimas bertekad akan mencari tahu.


Sementara di kantor Bianca sedang mengomel sendirian. Setelah merevisi sesuai instruksi Devano, Bianca kembali mengirimkan file lewal email dan pesan di aplikasi wa supaya Devano bisa segera memeriksanya.


Hingga waktu menunjukkan pukul 4 sore, Bianca masih berkutat di depan komputer karena lagi dan lagi Devano minta file presentasi dirubah atau ditambahkan ini itu.


Bianca berkali-kali menarik nafas berat dan menghembuskannya dengan kasar. Dia tahu kalau saat ini Devano sengaja menyusahkamnya dan membuatnya kesal.


Saat jam dinding sudah menunjukkan pukul 5 sore dan Bianca selesai merevisi perbaikan terakhir yang diminta Devano, gadis itu mengirim filenya pada Devano dan mematikan komputernya. Kali ini Bianca tidak lagi mengirimkan pesan pada Devano untuk mengecek pekerjaannya.


Bianca bergegas merapikan meja kerjanya dan setelah komputer sudah mati sempurna, Bianca meninggalkan ruangan dan mematikan seluruh lampu.


Sampai di lobby Bianca meminta bantuan satpam untuk memanggilkan taksi sementara dia mengirimkan pesan pada Kak Juan. Dia meminta maaf karena tidak bisa ikut cek sound dulu sebelum manggung.


Bianca menaiki taksi yang sudah tiba di lobby setelah mengucapkan terima kasih pada satpam yang membantunya.


Bianca menghela nafas. Hatinya kesal atas perlakuan Devano yang sangat menyebalkan dan tidak ada habis-habisnya.


“Tinggal 7 minggu lagi Bi… 7 minggu. Kamu pasti bisa ! “ Bianca bermonolog dalam hatinya.


“Kenapa kamu sangat membenci aku, Van ? Kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini. Nggak bisa kah kamu bersikap biasa aja hanya untuk 11 minggu ?”

__ADS_1


__ADS_2