Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 91 Perseteruan Musuh Lama


__ADS_3

Devano bersiap meninggalkan kantor untuk menjemput Bianca sekitar jam 11.15.


“Van, hari ini ada meeting sama Arif dan nggak mungkin dibatalin. Elo juga udah janji memenuhi permintaan Arif demi istrinya, kan ?”


Devano hanya meilirik Dimas saat mengambil kunci mobil nya di atas meja.


“Elo ulur aja sebentar pertemuan sama Arif, nanti gue nyusul bareng sama Bianca.”


“Janjinya jam 12, Van. Elo tahu sendiri kan kalau istrinya Arif itu lebay, kurang mau mengerti orang lain.”


“Cari cara buat bujuk istrinya Arif,” Devano terkekeh. “Elo kan paling pintar merayu cewek.”


“Terus aja nyindir,” Dimas mencebik. “Kalo gue pintar merayu, udah nggak jomblo lagi sekarang, Van.”


Devano hanya tertawa dan meninggalkan ruangan sambil melambaikan tangan.


Sampai di depan pintu ruangannya, Devano melihat sekilas ke meja yang pernah dirempati Bianca saat magang. Dia tersenyum dan semakin merindukan Bianca. Bagi Devano, masa magang Bianca adalah waktu yang paling membahagiakan karena setiap hari bisa memandang Bianca meski hanya sebentar-bentar.


Kalau kerinduan itu terlalu membuncah, Devano sengaja mencari-cari kesalahan Bianca. Apa saja sengaja Devano cari agar telihat seolah kesalahan Bianca. Kalau sudah ketemu, berarti nasih baik berpihak kepadanya untuk mendapatkan kesempatan berlama-lama dengan Bianca dengan cara memarahinya.


Ternyata jalan menuju kampus Bianca tidak terlalu padat siang ini. Hanya butuh waktu 20 menit, Devano yang senngaja menyetir sendiri, sudah memarkir mobilnya di halaman kampus. Devano mematikan mesin dan membuka kaca, lalu mengirimkan pesan pada kekasihnya itu kalau dia sudah menunggu di parkiran kampus.


Devano sedang asyik membaca beberapa email yang masuk berkaitan dengan pekerjaannya, saat Bianca membuka pintu dari samping kursi penumpang depan.


“Terima kasih sudah menjemputku, Van.” Bianca langsung memberikan senyuman termanisnya sambil memasang seatbelt.


“Gemes ih,” Devano mengacak rambut Bianca lalu menyalakan mobil.


“Kamu ikut aku ketemu klien dulu sambil makan siang ya ?” Devano melirik sekilas pada Bianca sambil menyetir mobil meninggalkan kampus.


“Yakin kamu mau ajak aku ? Pakaian aku kayak begini,” Bianca menunjuk pakaiannya.


“Nggak apa-apa masih sopan dan cakep kok,” Devano mengelus rambut Bianca penuh sayang.


“Nggak malu ?” Dahi Bianca sampai berkerut.


“Nggak,” Devano menggeleng. “Bangga malah bisa macarin anak kuliah,” ujarnya sambil terkekeh.


Bianca tersenyum bahagia mendengarnya dan membiarkan suasana hening di mobil sambil mendengarkan musik.


Tidak lama kemudian, mobil sudah sampai di parkiran sebuah restoran yang terlihat mahal.


“Keren banget kamu mengadakan meeting di tempat seperti ini,” Bianca masih berdiri di samping mobil sambil memandang bangunan restoran yang akan mereka sambangi.


Devano sudah lebih dulu berdiri di bagian depan mobil dan mengulurkan tangannya pada Bianca. Gadis itu pun melangkah mendekati Devano dan menerima uluran tangan kekasihnya.


“Biar aja. Klien aku ini yang bayar. Dia itu bucin aetengah mati sama istrinya, apapun permintaan istrinya pasti akan dipenuhi, termasuk saat ini. Istrinya sedang hamil, manjanya kebangetan, bilangnya ngidam kepingin makan di restoran-restoran mewah.”


Bianca hanya manggut-manggut sambil mengikuti langkah Devano. mereka memasuki restoran setelah dibukakan pintu oleh seorang pelayan. Setelah menanyakan pesanan meja untuk Devano, pelayan lain mengantar keduanya ke meja yang dimaksud.

__ADS_1


“Devano !” Panggil seseorang saat mereka berdua semakin dekat ke tempat yang sudah ditempati 3 orang. Perempuan di bangku itu melambaikan tangannya.


Bianca melongok ke samping tubuh Devano sambil berjalan. Posisinya yang digandeng oleh Devano berada di belakang tubuh pria itu.


Tatapannya sedikit tercengang saat melihat sosok wanita yang memanggil Devano. Belum sempat Bianca berkomentar, Devano menarik tangan Bianca yang berada dalam genggamannya hingga posisi mereka berdampingan.


“Bianca !” Wanita itu terlihat sangat terkejut melihat sosok yang sangat dibencinya saat masih SMA.


Alis perempuan itu bertaut dengn ekspresi wajah yang lamgsung berubah masam dan ditekuk. Masih segar dalam ingatannya kalau kemarin Devano memperlakukan Bianca dengan dingin dan acuh. Melihat tingkah Devano kemarin yang sudah berhasil membuat Bianca kesal, perempuan itu tersenyum kebar bagaikan prajurit yang berhasil merebut bendera musuh. Tetapi siang ini, kenapa Devano malah menggenggamnya seolah tidak ingin sampai terlepas darinya.


“Hai Nindi,” Bianca melambaikan tangannya.


Nindi mendengus dan membuang muka ke arah pria yang duduk di sampingnya. Mukanya terlihat marah sekaligus kesal memandang pria itu.


Bianca menoleh ke samping dan tersenyum untuk menahan rasa ingin tertawa terbahak-bahak. Jadi istri klien yang Devano maksud adalah Nindi dan Bianca yakin kalau laki-laki di sampingnya adalah suami Nindi.


“Sayang,” pria itu meraih jemari Nindi dan mengusapny berusaha menenangkan istrinya.


Sementara itu Devano menarik kursi di sebelah Dimas untuk Bianca dan bangku di sebelah kiri Bianca untuk dirinya sendiri.


“Kenapa kamu nggak bilang kalau Devano akan membawa perempuan itu !” Omel Nindi dengan suara manja pada suaminya.


“Aku juga nggak tau, sayang.” Pria itu mengusap-usap punggung Nindi. “Udah jangan kesal-kesal, ingat harus selalu tenang, ya. Ada sedek bayi yang harus kamu jaga kondisinya di dalam perutmu. “


Lelaki iru terus tersenyum dengan penuh cinta lalu mengelus perut Nindi.


Dimas dan Bianca menoleh dan saling memandang dan tanpa aba-aba keduanya langsung cekikikan.


Arif menatap Devano dan memberi kode supaya meminta Dimas dan Bianca.


“Baby,” Devano meraih jemari Bianca dan meremasnya pelan. “Jangan terlalu banyak tertawa, nanti sakit perut.” Devano berbisik pelan di telinga Bianca yang sudah menoleh menatapnya.


Bianca menutup mulutnya untuk menahan rasa gelinya. Di satu sisi dia merasa aneh dipanggil baby oleh Devano.


“Oh ya Bi, kenalkan ini klien aku namanya Arif. Dan Arif kenalkan ini Bianca, calon istriku.”


“Calon istri ?” Pekik Nindi sambil menggebrak meja.


Arif yang sudah mengulurkan tangannya hendak berjabatan dengan Bianca langsung terlonjak kaget.


“Sayang,” panggil Arif dengan sabar.


Bianca yang tadi juga sudah mengulurkan tangannya pun ikut terkejut. Devano dan Dimas juga tidak kalah kagetnya.


“Iya Nin, Bianca ini calon istriku. Sebentar lagi kami akan menikah.” Devano memberi penjelasan.


“Nggak bisa !” Pekik Nindi kembali dengan wajah sangat garang.


Bianca memajukan badannya sedikit mendekati meja. Dia menatap Nindi sambil memicing.

__ADS_1


“Kenapa nggak bisa ? Memangnya apa hak kamu melarang Devano menjadikan aku istrinya ?” Ujar Bianca dengan nada mengejek.


“Devano itu nggak pernah mencintai kamu sejak masih sekolah. Kamu pasti masih kegatelan nguber-nguber dia.”


Bianca berdecih sambil tersenyum mengejek.


“Nggak berubah dari dulu,” sindir Bianca. “Apa kamu nggak malu di depan suami kamu masih menginginkan pria lain ?” Nada suara Bianca berubah ikutan galak.


“Malu ? Aku nggak main belakang daei suamiku dan dengan sukarela suamiku membiarkan Devano untuk dekat-dekat denganku.” Nindi tidak kalah sinisnya membalas ucapan Bianca sambil tersenyum sinis.


Terlihat rasa puas di wajah Nindi saat melihat Bianca diam dan memandangi Devano sambil menautkan alisnya minta penjelasan.


Devano jadi merasa serba salah. Dimas yang melihat drama pertengkaran itu hanya senyum-senyum dan tidak berani tertawa karena sempat mendapatkan pelototan Devano.


“Maaf Rif,” Devano beranjak bangun dan kembali menggenggam jemari Bianca yang masih terduduk. “Gue nggak bisa melanjutkan meeting siang ini. Elo bahas aja sama Dimas dan nanti akan gue pelajari laporan Dimas.”


Devano mengangguk pelan lalu menoleh menatapnBianca. Sambik tersenyum, Devano menganggukan kepalanya pada Bianca yang masih memandangnya. Tatapan matanya memyiratkan supaya Bianca bangun dan keluar bersamanya.


“Nggak bisa !” Nindi ikut bangun dan menahan tangan Devano yang bebas. “Gue kan udah bilang kalau mau makan siang sekarang dan harus ditemenin sama elo. Ini bukan maunya gue,” Nindi mengusap-usap perutnya. “Ini permintaan dedek bayi.”


Bianca mencebik dan menepiskan tangan Nindi dari lengan Devano.


“Makan siang aja sama suami lo sendiri, jangan ganggu calon suami orang !” Tutur Bianca galak dan langsung menarik lengan Devano untuk menjauh.


“Elo tolong beresin, Dim” Devano sempat memberi pesan pada Dimas yang masih tertawa pelan dan diangguki oleh assistennya itu.


“Sayang,” Nindi menatap suaminya dengan wajah kesal dan merengek dengan tatapan memberi kode suaminya supaya menahan Devano.


Arif pun menarik nafas panjang dan menghelamya dengan kasar.


“Kamu itu sebenarnya hamil atau anak aku atau bukan, sih ?” Wajah Arif yang semula tenang berubah menjadi garang.


“Aku nggak yakin kalau keinginan kamu itu karena kehamilan.” Arif melempar kasar serbet yang ada di dekatnya.


“Kenapa kamu selalu ingin dekat lelaki lain dengan alasan keinginan bayi itu ?” Tatapan mata Arif terlihat galak.


“Bro,” Dimas menyela sambil bangun dari bangkunya dan mengangkat tangannya untuk pamintan pada Arif. Pria itu pun hanya mengangguk.


“Atau memang anak yang ada di kandunganmu itu bukan darah dagingku ?” Arif memicing dengan tatapan curiga.


“Sayang ! Bukan begitu…”. Nindi dengan wajah terkejutnya langsung menatap Arif dalam-dalam. Dia tidak menyangka kalau Arif akan berpikir seperti itu.


Dimas yang sudah sampai di luar resto mengedarkan pandangannya mencari mobil Devano. Wajahnya sedikit berbinar dan melangkah untuk menghampiri bossmya itu. Tetapi Dimas akhirnya mengurungkan niatnya saat meihat wajah Bianca yang duduk di bangku depan samping pengemudi, terlihat sangat kesal semantara Devano mendekat dan berbicara sesuatu pada kekasihnya.


Dimas tertawa pelan lalu memutar badan untuk menuju ke mobil kantor yang mengantarnya ke restoran tadi.


Dimas sengaja berangkat dengan sopir, berjaga-jaga kalau Devano punya rencana lain setelah meeting.


Sepanjang jalan menuju kantor, Dimas hanya senyum-senyum sendiri sambil sesekali menggelengkan kepalanya pelan. Memang aneh dengan permintaan istri Arif yang masih berstatus sepupu Dimas dari pihak keluarga papanya. Nindi meminta supaya seminggu ini bisa melewatkan waktu dengan Devano, entah dengan cara makan siang atau makan malam atau sekedar ke cafe.

__ADS_1


“Untung aja Arif sayang sama elo Nindi. Kalo gue jadi dia, udah gue kasih pilihan ke elo, tetap mau ketemu Devano dengan alasan bawaan bayi atau akan aku buat kamu jadi janda mendadak,” Dimas bermonolog pada dirinya sendiri sambil tertawa dalam hati.


__ADS_2