
Arya dan Dimas masih duduk di bangku teras sibuk dengan handphone masing-masing.
Arya sedang senyum-senyum dan berganti-ganti ekspresi karena sedang bertukar pesan dengan Mia. Sementara di bangku yang lain, Dimas dengan wajah seriusnya sedang berbalas pesan dengan papa Harry. Dia memberikan laporan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan hari ini.
“Loh kalian berdua doang ? Bukannya kemarin gue diinfo kalau Devano ikutan juga ?” Desta yang baru saja keluar mengerutkan dahinya karena hanya mendapati Dimas dan Arya duduk di sana.
“Devano ikut kok,” Dimas yang menjawab sambil beranjak bangun. “Itu tas nya sudah diturunkan dari mobil.” Dimas menunjuk pada tunpukan tas di tembok bata yang memagari teras.
Arya pun langsung bangun dan mengedarkan pandangannya.
“Tadi di sini dan sedang lihat-lihat menikmati pemandangan.” Arya melangkah turun ke arah halaman depan lalu menuju mobil.
Diintipnya kondisi dalam mobil dan tidak mendapati Devano di sana.
“Nggak ada.” Tutur Arya menatap ke teras.
“Elo nggak ada ruang rahasia di sekitaran taman kan, Des ?” Pertanyaan Dimas membuat Desta kembali mengerutkan dahinya.
“Yah siapa tahu elo punya ruang tersembunyi di balik-balik pohon atau sejenisnya.”
Arya tergelak mendengar penuturan Dimas sementara Desta menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ngaco lu !” Omel Desta.
“Kemana lagi tuh si boss stress.” Dimas mengoceh.
“Eh memangnya Devano kenapa ?”
“Biasa Bro, lagi demam cinta. Baru jadian udah ditinggal pergi, apalagi Bianca bilangnya nggak tahu sampai kapan,” jawab Arya sambil terkekeh.
“Loh memangnya Devano nggak dikasih tahu kenapa Bianca diajak kemari ?”
“Itu mah urusan Bianca yang jelasin, Bro.” sahut Dimas. “Amanat dari Om Harry cuma jangan kasih tahu Devano kalau dia diajak kemari sebenarnya biar ketemu Bianca.”
Desta hanya menggeleng-geleng. Kadang dia tidak mengerti bagaimana sebenarnya hubungan Devano dan Bianca.
“Ya udah kalian masuk dulu aja. Kalau nggak ketemu juga, nanti gue minta tolong orang sini cari Devano.”
Arya dan Dimas hanya mengangguk dan mengambil tas pakaian mereka juga milik Devano, lalu mengikuti Desta masuk ke dalam rumah.
“Langsung masuk aja, gue anter ke kamar kalian.”
Mereka pun melewati ruang tamu. Sesudahnya terdapat ruangan yang cukup luas hampir tanpa sekat tembok kecuali bagian dapur. Dalam satu sapuan pandangan, terlihat pembagian ruang makan, ruang keluarga lengkap dengan televisi dan dua pintu kamar juga ada di area yang sama.
“Itu ada 2 kamar tamu, kalian atur aja mau bagi tidurnya gimana.”
Desta menunjuk pada 2 pintu kamar yang tertutup.
Saat Dimas dan Arya melanjutkan langkah menuju pintu yang dimaksud Desta, suara seorang perempuan menyapa meeeka.
“Sore Kak Desta, sudah balik ?”
“Iya 30 menit yang lalu.”
“Wah tamu-tamunya sudah datang ?”
Gadis itu melewati Desta dan mendekati kedua tamu mereka yang masih berdiri dekat kamar.
“Hai Sella,” sapa Arya yang memang sudah berkenalan dengan adik Desta ini saat mereka bertemu di bandara kemarin.
__ADS_1
“Hai Kak Arya,” balas Sella sambil tersenyum.
“Ini sahabat kita merangkap asistennya Devano.” Arya mengenalkan Dimas yang posisi berdirinya di belakangnya.
Keduanya lalu berjabat tangan sambil memperkenalkan diri.
Tidak lama muncul sosok yang sedari tadi mereka cari.
“Wah Bro, kita kira elo kemana. Eh nggak tahunya udah nongol aja dari belakang.” omel Dimas.
Devano hanya cengengesan dan mendekati mereka.
Saat semakin dekat, dari balik punggungnya terlihat Bianca yang masih digandeng oleh Devano.
“Hai Kak Dimas. Hai Arya.” Bianca langsung menyapa kedua sahabat Devano.
“Wah pantes aja, ada pawangnya,” ledek Arya. “Makanya dia langsung tahu kemana kaki harus melangkah, Dim.”
Sella dan Dimas hanya tertawa sementara Devano mengerutkan keningnya karena tidak mengerti arah pembiacaraan mereka.
Selesai saling sapa, akhirnya ketiga pria itu diminta istirahat dan bersih-bersih sebelum makan malam.
“Ada pilihan tidur sama Bianca nggak ?” Tanya Devano setelah pembagian kamar tidur untuk mereka bertiga.
“Ngawur kamu !” Bianca langsung memukul lengan Devano dengan wajah merona.
“Ada,” sahut Arya dengan nada meledek. “Kalo udah elo nikahin tuh anak orang.”
“Iya habis ini juga gue langsung nikahin.” Devano menatap Bianca penuh cinta membuat Bianca kembali merasakan panas di seluruh wajahnya.
“Udah sana masuk kamar, mandi dulu terus siap-siap makan malam.” Bianca mendorong pelan badan Devano yang akan tidur bertiga dengan Arya dan Dimas di satu kamar yang ternyata cukup besar dan memiliki 4 tempat tidur.
Desta yang sejak tadi memperhatikan interaksi Devano dan Bianca menarik nafas panjang.
Pancaran cnta di mata keduanya sangat terlihat jelas. Ada rasa sakit yang dirasakan oleh Desta mengingat perasaan cintanya harus dilupakan.
Pukul 5.40 Bianca sudah turun dan menuju dapur membantu Bi Isa yang ikut dibawa ke villa, mempersiapkan makan malam.
Sella yang sering merasa mudah lelah dan mengantuk dalam masa kehamilan mudanya, masih bersiap-siap di kamar karena tadi sempat tertidur.
Jam 6.15 semua sudah berkumpul di meja makan tentu saja dengan posisi Devano di sebelah Bianca. Pria yang biasanya terlihat dingin dan datar itu, malam ini tidak lagi menutupi kemesraannya pada Bianca. Devano mengabaikam ledekan Arya, Dimas dan Sella. Hanya Desta yang lebih banyak diam dsn hanya sekali-sekali menimpali.
Selesai makan malam mereka sempat mengobrol bersama di ruang keiuarga sebelum akhirnya Sella pamit karena merasa sedikit lelah. Selain itu Sella ingin memberikan kesempatan untuk Devano dan Bianca melepas rindu.
Devano pun mengajak Bianca duduk-duduk di gazebo belakang sambil menikmati pemandangan malam.
Ketiga pria lainnya memilih pindah ke teras depan menikmati minuman hangat dengan cemilan.
“Des, gue perhatiin elo lagi melow hari ini,” ujar Dimas sambil menikmati secangkir wedang jahe.
“Kalau soal Bianca, saran gue lebih baik elo relain aja.” Timpal Arya.
Desta hanya tersenyum miris. Pandangannya jauh ke depan.
“Mau gue bagi pengalaman ?” Tanya Arya.
“Pengalaman apaan ?” Desta menautkan alisnya.
“Pas SMA gue itu pernah suka sama Bianca, bahkan udah sampai nembak segala.”
__ADS_1
Desta mengangkat kedua alisnya. “Beneran ?”
Arya tertawa kecil sambil mengangguk.
“Bianca sempat di bully pas kelas 11 gara-gara ketahuan menyatakan cinta sama Devano lewat surat. Pada saat dia terpuruk akibat dibully ditambah lagi rasa kecewa karena Devano tidak memberikan respon apapun atas ungkapan perasaanya , gue masuk dalam hidup Bianca, menjadi tempat bersandar buatnya dan sahabat yang selalu siap membantu. Semua itu gue lakukan karena memang gue menyukai Bianca sejak kelas 10. Akhirnya gue memberanikan diri menyatakan cinta karena gue melihat kalau Devano nggak punya perasaan apa-apa sama Bianca. Tapi bro… gue tetap ditolaknya.” Arya tergelak.
“Dih ditolak cintanya malah bangga.” Ejek Dimas.
“Gue masih usaha sama Bianca meski nggak terang-terangan sampai kelas 12 dan berharap hatinya berpaling dari Devano. Tapi mau di bully kayak apapun dan menghadapi sikap Devano yang jutek dan dingin sama dia, Bianca tetap tidak bisa merubah perasaannya.”
“Usaha elo kurang greget kayaknya Bro.” Dimas kembali yang menanggapi.
“Sampai akhirnya gue sadar kalau sebetulnya Devano juga suka sama Bianca tapi nggak mau mengungkapkannya.”
“Memang dia kegedean gengsi kan ?” Kali ini Desta buka suara dengan nada sinis. “Lihat aja pas Bianca masih magang jadi sekretarisnya.”
“Kalau itu lain lagi alasannya, Des.” Jelas Arya.
“Yang pasti, bukan gue ingin membuat elo patah hati duluan, tapi lupakan perasaan elo sama Bianca. Kalau elo tetap bertahan, bukannya makin baik malah semakin patah hati.” Nasehat Arya.
“Apalagi sekarang tuh anak nggak ada malu-malunya menunjukan kemesraan sama Bianca,” timpal Dimas.
“Semakin elo fokus sama perasaan elo ke Bianca, semakin elo akan sakit dan tertutup buat orang lain masuk dalam hidup elo.”
“Elo tahu kan kalau gue pernah patah hati gara-gara batal setelah tunangan ?” Tanya Desta dengan wajah sendu.
“Dan setelah sekian lama gue males urusan sama yang namanya cinta, gue ketemu sama Bianca pertama kali pas dia mau magang. Nggak tahu kenapa, gue merasakan lagi getaran yang udah lama hilang kalau ketemu cewek.”
“Kadang gue bingung,” Dimas membuka suara. “Bianca kayak punya magnet yang bikin para cowok-cowok yang dekat sama dia pengen lebih dari sekedar berteman. Gue sendiri sempat merasakan daya tariknya tuh bocah.”
“Beneran ?” Arya menoleh ke Dimas sambil membelalak.
“Elo iuga Dim ?” Desta juga ikutan menoleh menatap Dimas.
“Cuma sempat merasa tertarik aja, nggak sampai kayak elo berdua,” Dimas terkekeh.
“Jadi gue harus merelakan Bianca sama Devano ?” Lirih Desta.
“Udah pasti !” Jawab Arya mantap. “Biar elo bisa buka mata elo buat cewek-cewek lain.”
“Apalagi elo kan udah punya modal banyak Des,” timpal Dimas. “Kantong tebel, muka ganteng dan kerjaan mapan. Nggak susah kan bikin cewek klepek-klepek sama elo.”
Arya tertawa mendengar perkataan Dimas yang sering terdengar asal.
Desta sendiri menarik nafas panjang sambil memikirkan nasehat Arya dan Dimas.
“Pasti bisa lah dapetin yang lebih dari Bianca. Secara fisik tuh anak nggak cantik kayak gimana gitu, badan juga mungil, dan nggak terlalu istimewa secara kasat mata,” tutur Dimas panjang lebar.
“Tapi bisa bikin elo bergetar juga.” Ledek Arya.
“Tapi di situ pesonanya, Dim.” Sahut Desta pelan.
“Apa jangan-jangan dia pake susuk ya ?” Tutur Dimas santai.
Arya dan Desta kembali membelalakan matanya dan menatap Dimas berbarengan.
“Ngawur !” Seru keduanya kompak.
Dimas tertawa melihat ekspresi kedua cowok yang duduk bersamanya. Arya akhirnya ikut tertawa juga sambil geleng-geleng sementara Desta hanya tertawa kecil.
__ADS_1
“Mencintai berarti membiarkan orang yang dicintai bahagia. Aku akan melepaskan kamu Bianca. Semoga kamu selalu menemukan kebahagiaan bersama cintamu.” Batin Desta.