
Jam 6.20 sore Devano tiba di Cafe Pelangi. Hari ini dia dan keempat sahabatnya janjian ketemu di tempat ini. Awalnya Devano menolak keras tempat yang dipilih mengingat ada sosok Bianca yang masih aktif menjadi penyayi tetap di sini. Namun keempat temannya tetap bersikeras memilih Cafe Pelangi dengan alasan bernostalgia karena ini adalah tempat mereka terakhir berkumpul sebelum berpisah melanjutkan kuliah.
3 hari sebelum waktu yang disepakati, Devano mengecek nama penyanyi yang akan tampil pada hari Sabtu. Dan sesuai info yang diberikan oleh pihak cafe, ada nama Bianca di sana meski hanya sekedar menjadi penyayi tamu. Itu sebabnya Devano ngotot memintanya masuk pada hari Sabtu dan memberikan pekerjaan yang tidak ada akhirnya. Devano berharap Bianca membatalkan jadwal manggungnya.
Perasaannya sempat gelisah karena Bianca tidak lagi mengirim pesan apapun setelah jam 16.05. Devano sudah meminta Dimas mengecek keberadaan Bianca. Email terakhir masuk ke inbox Devano jam 17.15 tetapi tanpa pemberitahuan apapun dari Bianca seperti sebelumnya. Gengsi bagi Devano untuk menanyakan kenapa Bianca tidak memberitahukan lewat wa kalau email sudah dikirim.
Dimas : Sorry Bro, udah gue coba telp dan wa Bianca beberapa kali tapi no respons. Kayaknya handphonenya mati.
Pesan dari Dimas baru saja masuk ke handphone Devano. Dia menghela nafas dan membuangnya dengan kasar.
“Sia-sia suruh dia datang kerja ke kantor kalau akhirnya ketemu juga di sini. Lagian kayak nggak ada tempat lain aja buat ketemuan.” Devano mengomel sendiri sebelum turun dari mobil pribadinya. Mobil yang biasa dipergunakan untuk urusan kerjaan sedang dibawa Dimas setelah tadi mengantarnya pulang selepas makan siang.
Akhirnya setelah beberapa menit berdiam di mobil, Devano turun juga dan melangkah menuju pintu masuk Cafe Pelangi. Dia sempat melihat sudah ada mobil Ernest.
Devano celingukan mencari teman-temannya yang dia yakini sudah tiba duluan.
Seorang pelayan menghampiri Devano yang masih berdiri dekat pintu.
“Mau untuk berapa orang kak ?” Sapa pelayan itu.
“Oohh tidak, saya lagi cari teman saya.”
“Kalau boleh tahu, siapa nama temannya, kak ?”
“Pesanan atas nama Arya mungkin.”
“Oh iya ada Kak, mari saya antar.” Pelayan itu mendahului Devano mengantarnya menuju meja yang sudah di pesan.
“Silakan.” Pelayan tadi membungkukan badannya.
“Terima kasih.”
Ternyata bukan hanya Ernest yang sudah datang, Leo, Joshua bahkan Arya sudah duduk di sana dengan gelas minuman di depan mereka.
“Wah boss Devano akhirnya datang juga.” Joshua yang pertama kali melihat kedatangan Devano langsung berdiri dan memberikan pelukan sahabat.
“Apa kabar Bro.” Semuanya saling menyapa Devano dengan salam khas laki-laki.
Devano duduk dekat di sebelah Leo berseberangan dengan Arya.
“Langsung pesan aja Bro, kita semua udah pesan duluan.” Leo menyodorkan buku menu.
Joshua memanggil pelayan untuk mencatat pesanan Devano. Selesai memesan, mereka kembali ngobrol diiringi live music yang mulai tampil.
“Bianca nggak ada jadwal hari ini ?” Ernest bertanya sambil menatap Devano.
“Hei kok malah ngeliatin gue,” Devano mengangkat kedua tangannya di depan dada saat melihat tatapan Ernest yang seolah bertanya padanya.
“Bukannya Bianca sekarang jadi sekretaris elo ?” Goda Joshua.
__ADS_1
“What ? Darimana kalian dapat berita ini ? Gosip memang cepat beredar ya.” Devano mengomel membuat keempat temannya tertawa.
“Jodoh kuat itu namanya Van.” Timpal Leo.
“Dia cuma anak magang ya di kantor bokap. Bentaran lagi juga selesai masa magangnya.”
“Elo nggak berniat serius sama dia, Van ?” Arya memajukan wajahnya menatap Devano.
Devano yang kaget melihat tatapan Arya yang lumayan dekat. Reflek Devano memundurkan badannya.
“Kayaknya elo jodoh kuat sama dia deh Van, udah 4 tahun berpisah, eh ketemu lagi malah jadi sekpri lagi.” Timpal Joshua.
“Cckkk… Kalo bukan kerjaan nyokap gue mana mungkin dia jadi sekretaris gue.” Omel Devano.
“Memangnya nyokap elo kenapa, Van ?”
“Panjang ceritanya, males dan nggak penting.” Devano meraih gelas minumannya yang baru diantar pelayan.
“Kalau dapat kesempatan kedua berarti jodoh Van. Apa elo nggak nyesel melepaskan kesempatan kedua ini ?” Leo bertanya dengan wajah serius.
“Udah deh stop ngomongin masalah gue sama Bianca karena memang bener-bener nggak penting. Gue nggak ada hubungan dan nggak akan ada hubungan apapun sama Bianca. Jelas kan ?”
Keempat sahabatnya kembali menertawakan sikap Devano yang memasang wajah jutek. Mereka pun mulai menikmati makanan yang diantar pelayan cafe.
“Gimana kabar kalian ?” Devano balik bertanya.
“Yah seperti beginilah… Gue masih pengangguran lagi nunggu panggilan kerja.” Joshua menjawab duluan.
“Elo gimana Leo ?” Arya yang gantian bertanya.
“Gue udah dapat panggilan buat minggu depan.”
“Elo mau kerja bareng gue di perusahaan bokap Le ?”
Arya yang mengambil jurusan arsitektur untuk meneruskan usaha papa Himawan di bidang jasa konstruksi membutuhkan tenaga teknik sipil sesuai dengan bidang Leo.
“Beneran gue bisa kerja sama elo ?” Leo menatap Arya serius dan dijawab dengan anggukan.
“Senin elo kirim CV dan bawa langsung ketemu gue di kantor. Nanti gue omongin sama bokap.”
“Wah thankyou banget deh…” Wajah Leo terlihat sumringah.
“Kalo buat gue ada nggak Ya ?” Joshua gantian bertanya.
“Elo bidang apa ya Jo ?” Ernest yang malah bertanya.
“Mau jadi asisten pribadi gue nggak ?” Ernest terkekeh menggoda Joshua.
“Mau banget lah… Nggak masalah asal elo kuat sama gue.” Joshua menanggapi dengan serius.
__ADS_1
“Elo yakin kalo si Jo jadi asisten elo ? Siap dengar dia ngomong tanpa rem ?” Arya menimpali sambil tergelak.
“Gue udah berubah ya sekarang,” protes Joshua. “Udah jadi laki-laki matang dan nggak pecicilan.”
Gantian keempat cowok itu menertawakan tingkah Joshua yang kesal.
“Gue serius nih, nggak keberatan seorang sarjana ekonomi jadi asisten gue ?” Ernest memastikan.
“Dan Elo nggak nyesel pilih gue ?” Joshua mencebik membuat Ernest kembali tertawa.
“Senin datang ya ke kantor. Prosedur tetap jalan seperti biasa hanya nanti gue kasih catatan aja.” Tampang Ernest terlihat serius membuat wajah Joshua berbinar.
“Gue pasti kerja dengan serius, Bro.” Joshua memberikan 2 jempolnya.
Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul 9 malam. Panggung yang tadi kosong karena pengisi acara beristirahat sekarang mulai diisi kembali.
“Bianca Bro,” Arya menendang pelan kaki Devano di kolong meja saat melihat sosok Bianca yang naik ke atas panggung. Devano langsung menoleh ke arah panggung yang berada di balik punggungnya.
Posisi meja para alumni SMA Dharma Bangsa itu tidak lagi dekat dengan panggung seperti 4.5 tahun yang lalu, membuat Bianca tidak menyadari kehadiran kelima cowok temannya di Cafe itu.
“Bianca !” Joshua mendadak berdiri dan meneriakkan nama temannya itu sambil melambaikan tangan.
Keempat sahabat Joshua kaget melihat tingkahnya yang spontan itu.
“Duduk, Jo !” Arya menarik tangan Joshua dengan keras membuat cowok itu terduduk kembali.
“Dilihatin orang tuh !” Omel Leo.
“Hahhahaha… elo yakin model begini jadi asisten elo, Nest ?” Tanya Arya sambil mencibir ke arah Joshua.
Joshua hanya nyengir sambil menggaruk kepalanya.
Bianca yang mendengar namanya dipanggil langsung menoleh ke arah meja asal suara. Senyum manis tersungging di bibirnya saat melihat kehadiran kelima cowok temannya. Meski hatinya kesal bukan main saat melihat sosok Devano di sana, namun Bianca berusaha bersikap profesional.
Bianca melambaikan tangannya sebagai balasan panggilan Joshua.
“Van, elo yakin nggak ada perasaan apapun sama Bianca ?” Leo berbisik di sebelahnya.
“Iya nggak ada.” Tegas Devano ketus.
“Gue kok ngeliat Bianca kelihatan sekarang lebih menarik ya. Jadi boleh dong gue deketin dia ?”
Devano sempat terkejut mendengar pernyataan Leo namun rasa gengsinya membuat kepalanya mengangguk.
“Terserah elo aja.”
Arya yang berseberangan dengan Devano manatap kedua sahabatnya sambil menaikan alis kemudianmengernyitkan matanya. Ada sedikit rasa tidak suka saat melihat Devano masih saja menyangkal perasaannya.
Sama seperti mama Angela, Diana dan Dimas, para sahabatnya ini juga menangkap kalau Devano memiliki rasa yang sama dengan Bianca. Entah alasan apa yang membuat sahabatnya itu semakin keras menunjukkan kalau dia tidak menyukai Bianca dan tidak akan pernah menyukainya.
__ADS_1
Arya masih mengernyitkan matanya saat melihat Devano hanya cuek dan sibuk dengan handphonenya meski Bianca sudah mulai menyanyi.
“Gue akan membuat elo mengakui perasaan elo sama Bianca, Van. Kalau memang sampai waktunya elo masih berkeras, akan gue buat elo menyesal dan nggak akan pernah bisa lagi meraih Bianca.” gumam Arya dalam hatinya.