
Tidak ada seorang pun yang berani menanyakan pada Bianca maupun Devano tentang perubahan atmosfir keduanya. Bahkan Dimas, asisten sekaligus sepupu Devano itu menahan diri untuk tidak mengeluarkan perkataan yang bisa membuat suasana semakin tidak bersahabat.
Besoknya pagi-pagi sekali Devano dan Dimas sudah bersiap menunggu jemputan mobil dari kantor cabang Semarang. Arya masih harus menetap 2 hari lagi untuk menuntaskan pekerjaannya.
“Nggak sarapan dulu, Bro ? Sepertinya Bianca sudah menyiapkan untuk kita.” Tanya Dimas saat melihat Devano sudah mengeluarkan tas bajunya di teras.
“Tidak usah. Aku ingin coba masakan khas Semarang. Bosan kalau sarapan di rumah terus sementara kita sedang di kota lain.”
Devano sengaja berkata dengan suara cukup keras.
Dia sudah melihat kalau Bianca berdiri di balik tembok dekat pintu sehingga pasti mendengar perkataan Devano.
Hanya Bianca yang baru bangun pagi itu. Desta, Arya dan Sella masih bergelung di dalam selimut mereka.
Jam 6.10 mobil dari kantor cabang Semarang menjemput mereka. Tanpa berpamitan pada Bianca, Devano dan Dimas meninggalkan villa untuk meneruskan pekerjaan di kantor cabang Semarang.
Bianca hanya bisa memandang dari jauh hingga mobil yang membawa Devano dan Dimas menghilang dari pandangan.
Dia menarik nafas panjang sebelum kembali masuk. Dipandangnya kotak bekal yang sudah disiapkannya untuk diberikan pada Devano. Niat itu diurungkannya karena bahkan menoleh menatapnya saja Devano tidak mau.
Hari selanjutnya Bianca tetap bersikap profesional dan biasa pada Sella. Hanya saja dia tetap membungkam saat Sella mencoba menanyakan kejadian antara Bianca dan Devano.
Desta yang juga merasakan perubahan Bianca yang lebih banyak diam berusaha menahan diri untuk tidak mengusik Bianca. Dalam hati kecilnya, Desta ingin menjadi tempat berbagi beban untuk Bianca. Rasa sakit dan sedih semakin dia rasakan saat Bianca sering menghindar darinya.
Hingga tidak terasa waktu berlalu 2 minggu sejak kepulangan Devano dan Dimas dari villa.
“Lusa kita balik ke Jakarta,” Desta membuka percakapan saat makan malam.
“Loh kok udah pulang, Kak ? Bukannya papa bilang kita akan sebulan sampai dua bulan di sini ?”
“Kamu telepon papa langsung saja kalau mau tanya kenapanya,”jawab Arya singkat.
Sella cemberut. Dia sudah mulai betah di tempat ini. Apalagi dia memiliki Bianca sebagai teman bicara yang selalu ada setiap hari untuknya. Kalau sudah di Jakarta, sudah pasti Bianca akan kembali ke rumahnya dan hanya punya waktu sebentar untuk menemaninya. Apalagi sebentar lagi Bianca akan memulai kuliah S2-nya.
Sella tidak memiliki sahabat selama di SMA. Dulu Gita adalah sahabatnya sejak SMP yang menjadi tempat curahan hatinya termasuk tentang Andre. Tapi sangat mengecewakan karena Gita jugalah yang menjadi rivalnya untuk mendapatkan hati Andre hingga cowok itu memilih Gita sebagai kekasihnya.
Sejak keadian itu, Sella enggan memiliki sahabat lagi. Sulit untuk membangun kepercayaan lagi. Baginya untuk masalah teman, selama kita memiliki uang, teman hanya untuk senang-senang mampu dibeli dengan uang.
Sella tidak pernah menyesali lagi kehamilannya, meski karenanya Sella harus kehilangan momen-momen terakhirnya di bangku SMA, termasuk saat pengumuman kelulusan dan perpisahan sekolah.
Sabtu pagi mereka sudah bersiap-siap. Mobil yang akan membawa mereka kembali ke Jakarta sudah siap dengan sopirnya.
Kali ini Desta memilih jalan darat karena Bi Isa akan sekalian ikut pulang. Berbeda dengan saat keberangkatan, Bi Isa diminta berangkat terlebih dahulu 2 hari sebelumnya.
__ADS_1
Pukul 08.00 keempatnya meninggalkan villa dan kembali ke Jakarta. Perjalanan akan membutuhkan waktu kurang lebih 8-9 jam karena Desta sudah merencanakan akan banyak berhenti untuk sekedar istirahat dan makan siang supaya Sella tidak terlalu lelah di masa kehamilannya.
Pukul 17.30 mobil sudah sampai di depan rumah Bianca. Desta turun sambil membawakan koper samoai depan gerbang.
“Terima kasih Bi, karena sudah bersedia menemani Sella selama hampir sebulan ini.” Suara Desta terdengar kaku dan formal.
“Dengan senang hati, Kak Desta” Bianca tersenyum lebar.
“Bibi, tetap datang ke rumah ya kalau lagi senggang. Aku pasti bosan habis nih kalau sendirian.” Sella dengan suara yang cukup keras bicara dari balik jendela.
“Tenang aja, aku pasti tetap akan sering main ke rumahmu.”
Sella melambaikan tangannya dan membiarkan jendelanya tetap terbuka.
“Sudah sana balik ke mobil. Kasihan Sella, biar cepat sampai rumah dan dia bisa istirahat.”
Bianca sedikit mendorong tubuh Desta untuk kembali ke mobil. Desta hanya tersenyum. Dia tahu kalau hati Bianca sedang kacau, namun gadis yang masih dicintainya itu berusaha tetap terlihat biasa saja dan kuat.
“Boleh peluk nggak, Bi ?” Goda Desta sambil mengerling sebelum masuk ke mobil.
“No !” Seru Bianca dengan tangan terangkat.
“Kasih aja Bi, nanti malam Kak Desta nggak bisa tidur malah repot.” Timpal Sella sambil cekikikan.
“Cie cie yang udah ngaku jadi calon istri, nih.” Goda Sella.
Desta langsung bertingkah layaknya orang lemas ingin jatuh.
“Layu sebelum berkembang hati ini jadinya,” tutur Arya dengan wajah yang dibuat sedih.
Sella dan Bianca tergelak melihat tingkah laku Arya.
“Sudah sana cepetan masuk mobil. Bumil nggak boleh terlalu lama malam-malam ada di luar rumah.” Bianca kembali mendorong Desta untuk masuk ke mobil.
Akhirnya keduanya melambaikan tangan pada Bianca sampai mobil menjauh dari rumahnya.
Bianca bergegas masuk. Koper dan bawaan lainnya sudah dibawa masuk oleh Bi Imah yang tadi membukakan pintu.
Butuh waktu 45 menit Desta dan Sella sampai di rumah. Ternyata kedua orangtua mereka sudah menunggu di ruang keluarga.
Mama Hana yang biasa memasang wajah galak, malam ini menyambut kedatangan anak-anaknya lebih ramah meskipun masih kaku. Terutama pada Sella. Sehari-hari mereka sering berdebat dan beradu mulut sehingga keduanya merasa canggung untuk bersikap baik-baik saja.
“Capek banget, Sel ?” Mama Hana mendekat dan memegang kedua bahu putri bungsunya.
__ADS_1
“Nggg…nggak terlalu kok, Ma. Tadi banyak berhenti di rest area.”
Mendadak Sella menjadi gugup diperlakukan dengan baik oleh mama Hana. Hatinya menjadi cemas. Baginya sikap baik mama Hana adalah awal untuk kemarahan yang akan ditumpahkan selanjutnya.
Namun setelah berdiam beberap menit, tidak ada perkataan keras yang ditujukan pada Sella. Mama Hana yang terlihat sedikit kikuk justru menuntun Sella menuju ruang makan.
Desta dan papa Ardi saling menatap. Desta mengangkat alisnya dan dengan gerakan matanya memberikan kode pada mama Hana dan Sella, papa Ardi hanya mengngkat kedua bahunya sebagai jawaban.
Sella merasa makin aneh dengan situasi makan malam hari ini. Bukan karena mereka tidak pernah duduk satu meja saat makan, tapi perubahan mama Hana yang bergitu perhatian malah menimbulkan tanda tanya dalam pikirannya.
Desta sendiri juga merasa aneh melihat perhatian mamanya pada Sella. Padahal hampir setiap mereka bercengkrama berdua, ujung-ujungnya adalah perdebatan lalu berakhir dengan pertengkaran dan suara keras pintu kamar dibantung. Tapi malam ini ?
“Besok kita akan memeriksakan lagi kehamilanmu. Papa sudah minta dokter Shinta untuk menjadi dokter pendampingmu sampai melahirkan.”
“Kenapa tidak tetap sama dokter Jo saja, Ma ?” Sella mengerutkan dahinya.
“Kamu masih sangat muda, secara pengetahuan pun masih kurang. Mama sudah dikusi dengan papa supaya kamu didampingi dokter perempuan, jadi kamu lebih nyaman kalau mau banyak tanya.”
Sella terdiam. Kebiasaannya berdebat dan beda pendapat dengan mamanya membuat mulutnya ingin langsung menjawab. Tapi setelah dipikirkannya, ada betulnya juga omongan mama.
Selama 2 kali kontrol kehamilannya, Sella memang jarang banyak bertanya karena merasa malu pada dokter Jonathan.
“Jam berapa besok ke dokternya, Ma ?” Pertanyaan itu yang akhirnya keluar dari mulut Sella.
Mama sempat tersenyum tipis, setidaknya kali ini anaknya tidak mendebat ucapannya.
Papa dan Desta kembali saling berpandangan dan tersenyum. Suatu pemandangan yang langka melihat Sella tidak sekeras biasanya.
“Jam 10 pagi. Mama akan menemani kamu ke sana.”
Uhhuukk…uhhuukkk…
Sella langsung tersedak saat mendengar perkataan mamanya. Desta segera memberikan air putih pada Sella sambil menepuk-nepuk pelan punggung adiknya.
Sella menatap mama Hana setelah kembali normal. Rasanya tidak percaya mendengar suara mamanya yang terdengar begitu lembut malam ini. Biasanya nada suara mama Hana terdengar galak dan tegas tanpa ekspresi layaknya seorang ibu. Tapi malam ini membuat Sella beberapa kali mengerutkan dahinya.
Bahkan mama Hana mau mengantarkannya memeriksa kehamilan ? Sebelumya Sella hanya diantar oleh Desta, dan pemeriksaan kedua ditemani oleh Bianca.
Mengingat kunjungan pertsmanya ke dokter kandungan setelah keluar dari rumah sakit, para perawat mengira kalau Desta adalah suaminya. Bahkan mereka sempat berkomentar kalau Sella dan Desta sangat berjodoh karena memiliki wajah yang mirip.
Saat itu, Sella langsung terbahak di mobil yang mulai meninggalkan rumah sakit. Bukan perkataan para perawat yang ditemuinya tapj ekspresi Desta yang langsung memberenggut kesal. Pasti di belakangnya, para perawat berpikir bahwa dia adalah lelaki tidak normal karena membuat gadis umur 18 tahun hamil.
Sella masih sekali-kali melirik ke arah mama Hana yang sambil menikmati makan malam mereka.
__ADS_1
“Kenapa jadi berasa aneh melihat sikap mama seperti ini. Beneran ini mama aku kan ? Bukan titisannya ? Atau jangan-jangan mama kemasukan malaikat pelindungku hingga bersikap manis dan baik padaku “ Batin Sella.