
Mama Angela bercerita banyak soal Devano. Bahkan setelah mereka berpindah duduk ke ruang keluarga, mama Angela mengeluarkan beberapa album foto dengan bantuan pelayan.
Mama Angela memperlihatkan foto-foto Devano mulai dari bayi hingga SMA.
“Kamu lihat sendiri kan, foto masa kecilnya begitu menggemaskan masih ada senyumnya. SMP sudah mulai berkurang dan jeleknya pas SMA mukanya keihatan menyebalkan.”
Bianca terkekeh mendengar gerutuan mama Angela. Tapi yang beliau katakan memang betul, makin bertambah usia, ekspresi Devano saat di foto terlihat kaku dan menyebalkan.
Saat mereka sedang asyik berbincang sambil melihat foto-foto, Diana yang sudah segar dan berdandan cantik terlihat menuruni tangga.
“Tumben bisa bangun sendiri.” Mama Angela mencibir.
“Mama kayak nggak tahu aja sama alarm hidup.” Diana tergelak dan meneruskan langkahnya menuju pintu depan.
Tidak lama kemudian Diana kembali ke ruang keluarga bersama seseorang yang mengikutinya.
“Sore Tante.” Sapa sosok itu dan langsung membuat Bianca menoleh.
“Revan !”
“Bianca !”
Keduanya yang sama-sama terkejut saling memanggil nama. Bianca tidak menduga kalau Revan diundang juga ke acara makan malam ini. Kehadiran Revan membuat Bianca semakin yakin dugaannya.
Revan terlihat canggung bahkan tidak begitu memperhatikan omongan mama Angela. Dia sempat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Suasana yang sedikit canggung antara Revan dan Bianca terpecah karena Papa Harry tiba di rumah tidak lama kemudian.
“Halo sayang,” Papa Harry menyapa mama Angela dan langsung mencium pipinya.
“Kamu jadi diculik sama Diana ya Bianca ?” Papa Harry tersenyum sambil menyapa Bianca.
“Iya Om,” Bianca mengangguk.
“Ih papa mana ada aku culik Bianca. Kan info dari papa juga kalau hari ini ada acara makan malam.” Diana memasang muka cemberut.
Mama Angela dan Papa Harry tergelak sementara Revan hanya tersenyum tipis.
“Tante urusin om dulu ya Bi. Kamu udah kenal kan sama Revan ? Kalian ngobrol dulu.”
Papa Harry dan mama Angela meninggalkan ketiganya di ruang keluarga. Suasana mendadak diam. Bianca kembali duduk dan menyibukkan diri dengan melihat foto-foto yang masih tergeletak di meja.
“Bi, kita berdua…” Diana berkata pelan.
“Kalian berdua pacaran kan ?” Potong Bianca cepat. Wajahnya sengaja terihat galak dan bicaranya datar.
“Bukan maksud gue mau mempermainkan elo Bi. Sebenarnya kita berdua…” Revan yang buka suara.
“Gimana nggak mempermainkan gue, Van ? Elo pura-pura baik dan deketin gue. Elo selalu berusaha ngejauhin semua cowok yang deketin gue. Bahkan bilang ke mereka kalau elo itu masa depan gue. Sekarang pas gue mulai buka hati…”
Bianca yang bicara tanpa emosi tidak menuntaskan kalimatnya.
“Bukan maksud gue…”
Tiba-tiba Bianca tertawa keras. Bahkan dia sampai memegang perutnya karena merasa geli.
“Nggak tahan gue main drama begini,” ujar Bianca di sela-sela tawanya.
Diana dan Revan yang kebingungan melihat sikap Bianca saling melemparkan pandangan.
Bianca mengambil gelas air putih yang tadi disediakan oleh pelayan dan menenggak habis isinya.
“Gue udah punya feeling kalo elo berdua udah pacaran lama.”
“Sejak kapan ?” Diana mengangkat alisnya sebelah.
“Sejak kita ketemuan di lapangan olahraga hari Minggu pagi waktu itu. Cuma elo berdua bersikap seolah-olah nggak saling kenal sebelumnya.”
“Terus kenapa elo malah nembak gue ?” Tatapan Revan berubah kesal. Selama ini dia merasa tidak enak hati setiap kali bertemu Bianca sejak penembakan gadis itu.
__ADS_1
“Habis elo berdua nggak mau jujur.” Bianca terkekeh. “Kalian berdua disuruh siapa ? Om Harry ? Tante Angela ? Atau malah Devano ?”
Keduanya langsung menggeleng.
“Kita sendiri.”
“Arya.”
Bianca mengernyitkan matanya dan memandang keduanya bergantian. Jawaban mereka tidak kompak.
“Bingung gue.”
Revan dan Diana kembali saling menatap dan memberi kode untuk memberikan penjelasan duluan.
“Gini deh… Ceritain dulu aja sejak kapan kalian jadian.”
“Gue sama Diana sudah jadian pas kelas 3 SMA.” Revan yang menjawab.
“Whatt ?” Bianca membelalakan matanya. “Devano tahu kalau elo jadian sama adiknya ?”
“Tahu.” Revan mengangguk.
Bianca hanya diam dan menatap dua sosok di depannya menunggu penjelasan lebih lanjut.
“Gue ketemu Diana saat papa gue ngajak liburan ke Australia. Sebetulnya nggak murni liburan. Papa salah satu tim dokter yang membantu proses pengobatan Diana. Tujuan ke Australia selain liburan, papa juga ketemu dengan tim dokter di Australia.”
“Terus ?”
“Yah ketemuan lah Bi. Cinta pada pandangan pertama. Diana juga yang membuat gue milih jurusan kedokteran biar bisa jadi dokter pribadinya seumur hidup.”
“Cie cie…” Bianca tertawa menggoda apalagi melihat wajah Diana jadi merona bagaikan kepiting rebus baru matang.
“Terus kelakuan elo ke gue itu atas kesepakatan kalian berdua. Tapi kok jawaban kalian tadi beda.”
Diana menatap Revan penuh tanda tanya juga. Revan tersenyum lalu mengacak rambut Diana.
“Ehem ehem…” Bianca berdehem. “Pacaran berduanya nanti aja, sekarang jelasin dulu.”
“Kalau soal Kak Arya aku nggak tahu beneran Bi,” Diana menatap Bianca untuk menyakinkan.
“Aku aja baru denger hari ini kalau ada andil Kak Arya.” Diana kembali menatap Revan.
“Sebetulnya pas kita lulusan, Arya pernah titip gue supaya jagain elo jangan sampai pacaran sama orang lain. Itu pun setelah Arya tahu kalau kita kuliah di universitas yang sama. Saat itu gue pikir karena Arya masih nggak bisa move on dari elo.”
“Memangnya Kak Arya suka juga sama Bianca ?” Diana menatap Revan sedikit terkejut.
“Beneran Bi ?” Diana beralih menatap Bianca.
“Iya.” Bianca mengangguk pelan. “Waktu aku di bully di sekolah karena surat cinta, Arya yang menolong aku. Memberikan aku semangat dan menemani aku sampai akhirnya dia nembak aku. Memintaku memilihnya dan melepaskan Devano.”
“Setelah empat tahun perasaan kamu ke Kak Devano nggak berubah kan ?” Diana menatap Bianca dengan penuh khawatir.
“Berubah lah.” Bianca tertawa kecil
“Jadi sudah nggak mungkin kamu menerima Kak Devano saat dia pulang nanti ?” Tatapan Diana terlihat khawatir.
Suasana hening sejenak karena Bianca tidak memberikan jawaban apapun.
“Kembali ke laptop.” Bianca kembali memasang wajah ceria sambil tertawa.
“Kenapa jawaban kalian beda ?”
“Mama sempat menghubungi aku saat Kak Devano terkena masalah sama kamu sampai mama dipanggil ke sekolah. Mama juga cerita sedikit tentang kamu yang baru ditemuinya.”
Diana-menjeda sejenak untuk menarik nafas.
“Mama berharap kalian bisa jadian beneran. Tapi mama nggak bisa paksa kamu karena sikap Kak Devano yang begitu kaku. Mama hanya pasrah kalau ternyata kalian masing-masing memilih untuk mencari pasangan lain. Untuk Kak Devano, mama yakin kakakku itu nggak akan mungkin secepat itu menemukan tambatan hatinya. Mama lebih khawatir sama kamu Bi, karena perasaan yang ditolak lebih cepat memilih move on ke orang lain.”
“Pas kita lulusan Diana minta tolong ke gue buat mempertahankan elo hanya untuk Devano. Permintaannya bertepatan dengan permintaan Arya juga.” Revan melanjutkan penjelasan.
__ADS_1
Bianca terdiam, menundukkan kepala dan memainkan lembaran foto yang ada di tangannya. Pikirannya melayang pada sosok Arya. Ada rasa tidak nyaman menelisik hatinya saat mendengar nama itu tetap memberikan perhatian padanya.
“Bi, kamu marah ya sama kita berdua ?” Dengan pelan Diana mencoba menyentuh lengan Bianca.
Bianca mendongak dan meletakkan album foto di atas meja. Wajahnya menggeleng sambil tersenyum.
“Ngapain aku marah sama kalian ? Itu hak kalian buat pacaran.” Bianca tertawa pelan.
“Terus sekarang gimana Bi ?” Tanya Revan.
“Kalau saat ini gue belum punya pacar bukan karena belum move on dari Devano, tapi karena memang belum ketemu aja yang pas. Apalagi karena elo !” Bianca melotot menatap Revan.
“Elo nggak memberi gue kesempatan buat coba deket sama cowok lain.”
Revan tergelak dan mencebik pada Bianca.
“Elo juga kagak usaha lebih keras.” Ledek Revan.
“Tapi Bi, kamu mau kan untuk mencoba menjalin hubungan sama Kak Devano ?”
“Memangnya Devano nya mau ?” Bianca menatap Diana sambil mengangkat kedua alisnya.
“Kak Devano masih belum punya pacar dan dekat sama wanita manapun selama sekolah di Amerika, Bi.”
“Kok kamu begitu yakin.”
“Diana gitu loh.” Diana sedikit membusungkan dadanya sambil tersenyum sombong.
“Aku pasang mata-mata juga dong buat Kak Devano. Masa kamu doang yang dijagain hatinya sementara Kak Devano dikasih kebebasan.”
“Duh pinternya pacarku.” Revan kembali mengacak-acak rambut Diana penuh kasih sayang.
Diana membalas dengan mengerlingkan matanya manja lalu meletakkan kepalanya di bahu Revan.
Bianca yang duduk di seberangnya langsung mencibir dan menggelengkan kepala.
“Kalau kamu jadian sama Kak Devano, kamu pasti akan merasakan kalau Kak Devano itu cowok yang sangat bucin Bi. Melebihi sayangku ini.” Diana merangkul tangan Revan dan dibalas Revan dengan ciuman di kening Diana.
“Ternyata ya, kalian sudah sebucin ini.” Ledek Bianca.
“Rencana selesai koas gue mau melamar Diana kok, Bi. Pas Diana lulus kuliah juga. Iya kan sayang ?”
Diana mengangguk dengan tatapan manja. Bianca beranjak bangun dari duduknya.
“Mendadak mules gue melihat kelakuan kalian berdua.”
“Nanti kalo kelakuan Devano lebih dari gue pas jadian sama elo, gue akan jadi orang pertama yang bakal ketawain elo habis-habisan.” Revan balas mencibir pada Bianca yang langsung dibalas dengan gelak tawa.
“Wah kayaknya seru nih obrolannya. Memang kapan Bianca jadian sama Devano ?”
Suara mama Angela terdengar bersamaan dengan kehadirannya bersama papa Harry.
“Sebentar lagi, ma.” Diana mengedipkan matanya sebelah.
“Dengan senang hati mama merestuinya.” Mama Angela tersenyum dan mengelus rambut Bianca membuat gadis itu tersipu.
“Papa juga. Kalau nggak mendukung mana mungkin sampai khusus meminta Pak Rachman mengijinkan Bianca magang di perusahaan
“Tuh Bi… kurang apa lagi coba ?” Revan ikut menimpali.
Bianca hanya diam saja dengan wajah yang terasa bertambah panas.
“Tinggal beberapa hari lagi kok, Bi. Sabar ya. Sekarang kita makan malam dulu.” Mama Angela merangkul lengan Bianca dan mengajaknya menuju ruang makan.
Papa Harry, Revan dan Diana mengikutinya.
Suasana makan malam hari itu sangat menyenangkan dan sangat akrab. Bianca merasakan sangat bahagia apalagi kehadiran papa Harry yang membuatnya kembali teringat pada sosok papa Indra.
Dukungan mereka membuat aku merasa terbang ke langit dan bahagia tak terkira. Tapi apakah Devano masih punya perasaan yang sama seperti sebelum kepergiannya ? Batin Bianca.
__ADS_1