Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 73 Kemarahan Opa Ruby


__ADS_3

Sabtu pagi yang cerah. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 tetapi Devano masih bergelung di dalam selimut. Pria itu baru saja menyelesaikan meeting dengan calon pembeli daei Amerika pada jam 4 pagi. Perbedaan waktu 2 negara membuat Devano harus menyesuaikan waktu kerja kliennya.


Suara gedoran pintu kamar yang cukup keras membuat Devano terlonjak dan lamgsung duduk di pinggir ranjang. Kesadarannya belum pulih saat gedoran itu kembali terdengar. Dengan langkah terseok, Devano berjalan membukakan pintu. Sudah pasti bukan mama atau pelayan yang menggedor pintunya sekencang itu.


“Ada apa Opa ?” Devano mengucek matanya sambil bertanya pada sosok Opa Ruby yang berdiri di balik pintu.


Tatapan Opa Ruby terlihat tidak bersahabat dan penuh emosi.


“Cepat mandi dan turun ! Opa tunggu di ruang makan.”


Opa Ruby langsung berbalik meninggalkan kamar Devano. Perlahan beliau menuruni tangga dengan tongkat kayunya.


Devano menggerutu karena masih mengantuk. Namun melihat tatapan Opa Ruby, rasanya sulit untuk membantah.


20 menit akhirnya Devano selesai mandi dan berpakaian. Dia pun menuruni tangga dan langsung menuju ruang makan dimana papa Harry dan opa Ruby sudah duduk bersebelahan dan di seberangnya mama Angela. Diana tidak kelihatan pagi ini.


“Selamat pagi Opa, Pa, Ma.” Devano menyapa dan langsung duduk di sebelah mama Angela.


Sudah tersedia segelas susu putih dan sepotong sandwich persis di depan Devano.


Opa Ruby menatap Devano dengan tajam sambil menggenggam tongkat kayunya. Namun belum ada kalimat yang keluar, opa menunggu Devano meminum susu putihnya.


“Ada masalah apa Opa ?” Devano meletakkan gelas susunya yang tinggal setengah. Sandwich isi ayam dan telur tidak disentuhnya karena lebih penting mendengar perkataan opa Ruby terlebih dahulu.


“Kamu masih ingat janjimu saat di Singapura ?”


Devano mengerutkan dahinya dan sesaat kemudian mengangguk.


“Ingat Opa. Devan sudah bicara langsung pada Arya sebelum Bianca keluar dari kantor. Devan sudah minta Arya supaya menjaga Bianca dan membahagiakannya.”


Mama Angela langsung menautkan alisnya dan bertukar pandangan dengan papa Harry yang mengangkat kedua bahunya. Tanpa mengucapkan kalimat, papa Harry sudah mengerti arti tatapan istrinya.


“Apa hal yang sama kamu katakan juga sama Bianca ?” Opa menelisik Devano dari balik kacamatanya.


“Devan sudah meyakinkan Bianca bahwa Devan tidak menyukainya dan tidak akan pernah menyukainya. Bianca sendiri sudah memastikan akan melupakan Devan selamanya.”


“Bodoh !” Bentak Opa Ruby sambil menghentakkan tongkatnya ke lamtai.


Mama Angela dan papa Harry sempat terlonjak kaget sementara Devano menatap Opa Ruby dengan wajah bingung.


“Kamu pikir dengan penolakanmu pada Bianca akan menjadikan gadis itu menerima Arya sebagai istrinya ?”


“Apa maksud papa bilang kalau Bianca itu calon istri Arya ?” Mama Angela yang semakin bingung akhirnya tidak dapat menahan diri lagi untuk tidak bertanya.


“Devano sudah berjanji pada papa 4 tahun lalu sebelum dia kuliah. Janji akan membuat Bianca dan Arya bersatu karena Arya sangat mencintai gadis itu.” Nada suara Opa Ruby masih terdengar galak.


“Tapi Bianca sukanya sama Devano bukan Arya !” Protes mama Angela lagi.


“Arya sudah lama menyukai gaids itu. Selama ini Arya sudah banyak mengalah untuk Devano. Dia siap memberikan apapun untuk Devano seperti seorang saudara sekalipun mereka tidak sedarah. Bahkan sekarang dia menggantikan Devano untuk meneruskan perusahaan papa.”


“Tapi Pa..”


“Devano sendiri yang menyanggupi untuk membuat Arya dan Bianca bersatu !” Seru Opa Ruby dengan tatapan tajam pada mama Angela dan beralih pada Devano yang memasang wajah datar.


“Devan sudah mengusahakan supaya Bianca semakin dekat dengan Arya dan merasa nyaman dengannya.”


“Tapi kenyataannya sekarang mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa !”


“Apa maksud opa ? Dua minggu lalu saat Devan menanyakan bagaimana kabar Bianca, Arya menjawab bahwa mereka baik-baik saja.” Devan membalas tatapan opa Ruby penuh keyakinan.


“Cih.. yang kamu tanyakan kabar Bianca bukan hubungan mereka sejauh mana.” Sindir opa Ruby dengan nada sinis.

__ADS_1


“Lalu sekarang apa yang harus Devan lakukan ?” Devano masih menatap Opa Ruby.


“Mereka tidak berpacaran ! Bianca malah dekat dengan anak Ardi bahkan akan menjadi calon memanru keluarga Prataman. Hari ini keluarga Ardi akan membawanya pergi meninggalkan Jakarta !” Opa Ruby menatap Devano penuh emosi.


Devano terkejut mendengar nama Ardi Pratama. Berarti Bianca bukan semakin dekat dengan Arya tetapi dengan Desta.


“Maksud opa Desta ?”


“Tidak tahu siapa namanya… Tapi semalam opa bertemu dengan Ardi dan dia mengatakan bahwa sebentar lagi dia akan unduh mantu. Ardi menunjukkan foto calon menantunya.”


Opa Ruby mengeluarkan handphone dari kantong celananya dan membuka aplikasi pesan lalu menunjukkannya pada Devano.


Mama Angela mengambil handphone Opa Ruby yang ada di atas meja dan melihat foto yang terpampang di sana. Mama Angela langsung terkejut mendapati foto Bianca dengan seorang laki-laki muda dalam pakaian pesta yang serasi.


“Apa maksudnya ini Pa ?” Tanya mama Angela.


“Papa minta Ardi mengirimkan foto anak dan calon menantu yang dibanggakannya. Dan itu foto mereka.”


Devano tampak terkejut juga saat melihat foto Bianca dan Desta terpampang di layar handphone Opa Ruby.


“Dan sore ini, gadis itu akan dibawa oleh keluarga Ardi ke Semarang entah untuk berapa lama.”


“Maksud opa, Bianca adalah calon istri Desta ?” Devano bertanya sambil tetap memandang foto yang ada di handphone Opa Ruby.


“Itu yang Ardi katakan sama opa.”


Devano langsung beranjak dari kursinya dan bergegas naik ke kamarnya. Tidak lama Devano sudah turun dengan celana santai dan kaos polo sambil membawa kunci mobil.


“Mau kemana kamu ?” Tanya papa Harry yang sudah berpindah ke ruang keluarga dengan mama Angela dan opa Ruby.


“Mau ke rumah Arya.”


“Mau ngapain ke sana ? Apa masih penting ?” Sindir opa Ruby dengan ketus.


Tanpa menunggu jawaban dari ketiganya, Devano bergegas keluar rumah menuju garasi tempat mobilnya terparkir.


Sementara di ruang keluarga mama Angela terlihat sedih mendapatkan bahwa Bianca akan menikah dengan pria lain. Papa Harry dan Opa Ruby saling melempar pandangan dan tersenyum penuh rahasia.


Hanya memerlukan waktu 20 menit Devano sudah sampai di depan rumah Arya. Satpam yang sudah mengenal sahabat majikannya langsung membukakan pintu.


Sampai di depan pintu, Devano sempat mengedarkan pandangan melihat situasi di ruang tamu lalu meneruskan langkah ke dalam namun suasana rumah terlihat sepi.


“Selamat pagi Den Devano.” Pak Amir, kepala pelayan di rumah itu menyapa Devano dekat tangga.


“Pada kemana Pak ? Kok sepi ?”


“Tuan dan nyonya keluar kota sejak kemarin sore. Non Arini belum lama keluar dan Den Arya masih di kamarnya belum turun.”


“Saya langsung ke atas Pak Amir.”


Devano melanjutkan langkahnya ke lantai 2 menuju kamar Arya. Sebelum mengetuk, Devano mencoba membukanya dan ternyata tidak terkunci.


Arya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai terkejut mendapati Devano sudah ada di dalam kamarnya.


“Tumben Bro, pagi-pagi udah kemari.” Arya melemparkan handuk kecil yang digunakan untuk mengeringkan rambutnya ke ranjang.


“Kenapa elo biarinin aja terjadi !” Devano mendekat dan mencengkram kaos Arya.


“Apa maksud lo ?” Arya mencoba melepaskan cengkraman Devano.


“Gue udah pernah bilang supaya menjaga dan membahagiakan Bianca !” Seru Devano dengan penuh emosi.

__ADS_1


“Kenapa malah elo biarinin dia malah mau menikah dengan Desta !” Devano semakin mengencangkan cengkramannya.


“Gue bukan pawangnya Bianca ! Lagian kalau dia bahagia dengan menikahi Desta bukannya gue juga sudah membahagiakan Bianca ?” Arya menjawab dengan tatapan tidak kalah galaknya.


“Gue minta elo membahagiakan Bianca sebagai pasangan hidup elo ! Bukan melepaskan dia jadi milik orang lain.”


Arya menghempaskan cengkraman Devano dengan kasar hingga terlepas.


“Kenapa elo bisa yakin kalau memiliki gue berarti Bianca akan bahagia ?”


“Karena elo sangat mencintai dia kan ? Elo pasti bisa membahagiakannya !”


“Apa elo seyakin itu ?” Ejek Arya dengan senyuman sinis. “Gue laki-laki yang akan membiarkan wanita yang gue cintai memilih kemana hatinya akan berlabuh, bukan memaksakan kehendak gue.” Lanjut Arya sambil mendekati Devano dan memandangnya dengan tajam.


Devano terdiam dan mendudukan dirinya di lantai bersandar ranjang.


“Tapi gue udah berjanji sama opa kalau akan membiarkan elo memiliki Bianca, bukan melepaskan Bianca dan dimiliki orang lain.” Suara Devano terdengar lebih tenang.


“Dan membohongi diri elo sendiri, menyangkal perasaan elo dan menyakiti Bianca ?” Masih dalam posisi berdiri, Arya menatap Devano yang duduk di lantai.


“Bukannya dia mulai bisa menerima elo saat gue menolaknya. Gue meihat dia selalu bisa bahagia dan tertawa kalau sama elo. Dia bisa menangis dan berkeluh kesah sama elo. Bahkan gue lihat dia juga tidak lagi menolak saat elo menggandeng tangannya.”


Wajah Devano terlihat sendu saat mengucapkan kata-katanya.


Arya melipat kedua tangannya di dada.


“Terus sekarang mau elo gimana ? Masih mau menyangkal perasaan elo sama Bianca atau mau terus terang sama dia kalo elo juga mencintainya ?”


“Tapi gue udah janji…”


“Persetan dengan janji elo !” Arya gantian mencengkram kaos Devano sampai laki-laki itu berdiri.


“Mau sampai kapan elo begini hah !” Seru Arya menatap Devano yang masih sendu.


“Kalau memang elo mencintainya, ngomong sama dia, peluk dia dan jangan biarkan Bianca lepas lagi dari elo !”


“Tapi dia sudah memutuskan menjadi istri Desta.” Devano menundukkan wajahnya dan membiarkan Arya masih mencengkram kaosnya.


“Apa elo denger sendiri dari mulut Bianca ?”


Arya melepaskan cengkramannya. Devano menggeleng.


“Dan elo nggak berniat memastikannya langsung sama Bianca ?”


“Gue nggak tahu harus bagaimana. Kalau betul dia sudah menerima Desta dan bersedia menjadi calon istrinya, gue bisa apa.”


“Bodoh !” Arya menoyor kepala Devano dengan kesal.


“Elo datengin lah Bianca dan tanya langsung sama dia.”


“Gue nggak mau dia jadi bimbang karena kedatangan gue di hadapan dia.”


“Bodoh ! Bodoh banget ya temen gue satu ini. Calon pemimpin perusahaan multinasional tapi nyalinya nggak lebih dari semut.” Arya terlihat gemas dengan sikap Devano.


“Selamanya elo akan jadi pencundang kalau nggak berani memastikan segala sesuatu dalam hidup elo ! Temui Bianca sekarang dan tanya langsung sama dia. Ya berita pernikahannya sama Desta, ya perasaan dia, perasaan elo… Semua yang mau elo pastikan sebelum menyesal.”


Arya menuju lemari baju dan mengganti celana rumahnya dengan jeans pendek.


“Dimana cari Bianca ?” Devano menatap Arya dengan wajah bingung.


Arya geleng-geleng kepala dengan wajah kesal. Devano benar-benar jadi sosok yang terlihat berbeda dari biasanya. Entah apa yang membuatnya seperti ini. Akibat kurang tidur atau kemarahan opa Ruby atau berita Bianca yang akan menikah dengan Desta. Entahlah. Arya hanya bisa geleng-geleng kepala.

__ADS_1


“Mau tetap di sini ?” Pekik Arya.


Devano langsung menggeleng dan mengikuti langkah Arya meninggalkan kamar.


__ADS_2