Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 88 Kok Pada Tahu ?


__ADS_3

Perlahan Bianca meninggalkan ruang tamu setelah melihat Sella sudah duduk di antara mama Hana dan wanita tadi. Kedua jemarinya saling meremas untuk menghilangkan rasa gugupnya.


“Kenalkan nama tante Hani, mirip sama mama kamu hanya beda satu huruf belakangnya.” Wanita yang sudah memperkenalkan diri itu meraih jemari Sella yang terasa dingin.


“Ini suami tante namanya Om Rizal.” Pria yang disebut dengan nama Om Rizal itu mengulurkan tangannya pada Sella sambil tersenyum.


“Apa kabar Marsella ?” Sapa Om Rizal.


Bianca mengangkat wajahnya dengan gugup dan berusaha tersenyum.


“Kabar baik, Om.”


“Kalau yang itu,” Tante Hani menunjuk pada sosok lelaki yang duduk di sebelah Om Rizal.


Posisinya tidak berubah tetap menunduk menyibukkan dirinya dengan handphone.


“Rasanya tante tidak perlu sebutkan namanya lagi. Kamu pasti sudah mengenalnya dengan baik.”


Om Rizal menepuk paha anaknya dan memberi kode untuk menghentikan kegiatannya.


Lelaki itu mengangkat kepalanya dan menoleh pada Om Rizal yang kembali memberi kode supaya menyapa Sella.


Sella langsung menundukkan kembali kepalanya saat mendapat tatapan tajam dari lelaki yang duduk di seberangnya.


Kedua orangtua mereka bahkan Desta membiarkan suasana mendadak hening.


Akhirnya setelah menunggu tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Sella maupun cowok di depannya, Tante Hani mengeratkan genggamannya dan mulai bicara.


“Maksud kedatangan om dan tante kemari mau melamar Sella jadi menantu kami. Sella mau kan jadi istrinya Andre ?”


Deg.


Jantung Sella berasa terhenti sebentar lalu kembali berdegup kencang. Dia menoleh menatap Tante Hani yang tersenyum hangat untuk meyakinkan pendengarannya.


“Tante dan mama kamu berteman baik sejak SMP. Kami sempat bertemu lagi pada saat reuni beberapa tahun yang lalu. Lalu tiba-tiba tercetus ide untuk mencoba menjodohkan anak-anak.”


Sella mengerjapkan matanya lalu kembali menunduk. Kekhawatiran menyelimuti hatinya. Apa tanggapan kedua orangtua mereka kalau Andre sampai bilang bahwa Sella lah yang telah menjebaknya.


“Papa kamu dan om tidak setuju dengan rencana itu karena nggak mau mengekang kebebasan anak-anak.” Om Rizal menjelaskan.


“Tapi sepertinya anak-anak kita memang berjodoh, Zal.” Papa Ardi menanggapi sambil tertawa.


“Saya nggak mau !” Seruan Sella yang cukup lantang membuat semua yang ada di situ terkejut, bahkan Andre sampai ikut mendongak dan menatap Sella.


Sella sudah berhasil mengumpulkan kekuatannya. Dia membalas tatapan Andre dengan tidak kalah tajamnya.


“Saya tidak menerima perjodohan ini.” Lanjut Sella kembali. “Saya ingin menikah dengan laki-laki yang mencintai saya juga dan menerima saya apa adanya.”


“Tidak bisa Sella !” Papa Ardi buka suara dengan nada tinggi. “Kamu tidak boleh menolak pernikahanmu dengan Andre.”


Mama Hana mencoba menenangkan papa Ardi dengan mengusap tangannya.


Tante Hani mengelus punggung Sella membuat gadis itu menatap kembali wajah di sebelahnya yang tetap terlihat tenang dengan senyum teduhnya.


“Biarkan Andre bertanggungjawab atas anak yang ada dalam kandunganmu, ya.”


Jeedeeerrr


Sella langsung terbelalak. Bagaimana bisa mami Hani mengetahui bahwa anak yang ada di dalam kandungannya adalah anak Andre ?


“Om dan Tante sudah setuju dengan permintaan papa dan mama kamu supaya kalian saling menikah. Memang usia kalian masih muda, tapi anak ini,” mami Hani mengelus perut Sella. “Anak ini membutuhkan kehadiran papanya juga kan ?”


“Tapi Tante…” Sella tidak meneruskan kalimatnya.


“Kamu tahu kenapa kami tetap menyekolahkan kamu di sekolah yang lama padahal urusan kepindahanmu sudah beres ?” Mama Hana ikut mengelus punggung Sella.


“Karena mama dan mami Hani sepakat untuk memberikan kesempatan buat kamu dan Andre. Syukur-syukur kalian berjodoh, tapi kami tidak mau mendikte.” Lanjut mama Hana.


“Kami akan membantu kalian belajar menjadi orangtua meskipun usia kalian masih muda,” Om Rizal ikut buka suara.

__ADS_1


“Dan kalian tetap bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Hanya saja harus semakin pintar bagi waktu karena ada pasangan dan anak yang juga membutuhkan perhatian.” Timpal papa Ardi.


Sella kembali menundukkan kepalanya dan beberapa kali melirik ke arah Andre yang terlihat kesal dan masa bodoh.


Sella menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan untuk kembali mengumpulkan keberaniannya.


“Andre tidak perlu menikah dengan saya, Om, Tante,” Sella memandang mami Hani dan papi Rizal bergantian.


“Kehamilan ini adalah akibat dari perbuatan saya sendiri yang sudah menjebak dan ingin membuat Andre terikat pada saya. Saya minta maaf atas semuanya. Semula saya merasa stress begitu tahu kalau saya sampai hamil, tapi setelah menjalani pengobatan, saya pastikan bahwa saya tidak menyesal dan tidak akan membuang janin ini.”


Sella menjeda sejenak dan mencoba mengatur nafasnya kembali.


“Dan saya tidak lagi mengharapkan apapun dari anak Om dan Tante. Saya akan membesarkan anak ini sendiri.” Perkataan Sella terdengar penuh ketakinan.


Dari ujung sofa, Desta yang sejak tadi hanya menjadi pendengar, menarik kedua sudut bibirnya. Ada rasa bangga dalam hatinya saat melihat Sella ternyata tidak terpuruk tetapi semakin dewasa menghadapi masalah hidupnya , bahkan menjadi perempuan yang sangat bertanggungjawab.


“Tidak bisa !” Tolak papi Rizal. “Om tidak mengajarkan Andre untuk lari dari tanggungjawab. Meskipun Andre melakukannya tanpa sadar, namun janin itu adalah bagian dari dirinya. Darah dagingnya dan calon cucu kami.” Tegas papi Rizal.


Dia menoleh menatap anaknya yang memilih diam sejak awal. Dia kembali menepuk paha anaknya sambil memberi kode.


“Bicaralah boy !” Pinta papi Rizal.


“Maaf sebelumnya Om, saya benar-benar tidak memerlukan pertanggungjawaban Andre. Saya ikhlas membesarkan anak ini sendiri.”


Sella beranjak bangun. Dia justru merasa sedih saat tahu bahwa kedua orangtua Sella maupun Andre memberikan restu supaya mereka bersatu sementara Andre begitu membencimya. Sella yakin kalau Andre akan semakin membencinya karena terpaksa harus menikahinya.


“Maaf saya permisi ke belakang,” Sella melangkah melewati mami Hani dan bergegas masuk ke dalam.


Mama Hana sudah bersiap bangun namun ditahan oleh mami Hani yang kembali menggeleng memberi kode supaya membiarkan Sella.


Tanpa diduga, Andre bangun dari sofa dan mengejar Sella sebelum menghilang dari ruang tamu.


“Nggak ada yang boleh menggantikan gue jadi papinya. Hanya gue satu-satunya papi anak yang ada di dalam perut elo karena dia adalah anak gue juga.”


Ucapan Andre yang terdengar galak dan dingin membuat Sella terpaku sementara salah satu lengannya masih dipegang Andre.


“Apa maksud lo ?” Sella menoleh menatap Andre. Tanpa dapat ditahan buliran air mata ikut menetes di pipinya.


Sella menghentakkan tangannya dengan kasar hingga pegangan Andre terlepas.


“Buat apa ? Gue tahu kalau dari SMA elo udah membenci gue dan tidak pernah menganggap gue ada. Bahkan elo sampai menampar gue supaya gue sadar. Masih inget kan ?”


Sella memajukan badannya dan membalas tatapan Andre dengan penuh kemarahan.


“Gue nggak mau hidup sebagai suami istri dengan orang yang membenci gue !”


Sella pun bergegas masuk. Dia sudah ingin kembali ke kamar, namun sampai di ruang tamu Bianca menahannya. Dia membawa Sella ke dalam pelukannya dan mengusap-usap punggung gadis itu dengan penuh kasih sayang. Sella masih terisak.


Bianca melerai pelukannya dan membawa Sella ke halaman belakang. Keduanya duduk di kursi yang ada di teras.


Bianca tidak bicara apa-apa hanya sekali-sekali mengusap-usap punggung Sella.


“Makan dulu ya, jangan terlalu hanyut dalam kesedihan seperti ini. Ingat ada debay yang memerlukan perhatianmu. Kamu calon mommy yang kuat kan ?”


Akhirnya Sella mau juga diajak makan siang bersama dengan keluarga Andre. Bianca ikut juga di sana sebagai bagian dari keluarga. Selama makan siang tidak ada yang menyinggung soal Sella maupun Andre. Kedua orangtua sibuk bertukar cerita tentang masa muda mereka. Desta pun hanya sekali-sekali bicara.


Bianca tersenyum saat matanya menangkap beberapa kali baik Andre maupun Sella saling mencuri-curi pandang. Sempat tatapan keduanya bertemu, dan tanpa sadar rona merah di wajah mereka langsung terlihat.


Selesai makan siang, Andre minta waktu untuk bicara berdua dengan Sella di taman belakang. Bianca meyakinkan kembali bahwa semua masalah harus dihadapi bukannya ditinggal lari.


Sella memilih mengajak Andre duduk di gazebo dekat kolam ikan supaya agak jauh dari para orangtua yang melanjutkan obrolan di ruang keluarga.


Keduanya sempat saling terdiam, hingga akhirnya Sella memberanikan diri menanyakan sesuatu yang mengganggu pikirannya.


“Apa papa gue mengancam elo sampai elo mengakui kalau bayi ini anak elo ?”


“Nggak sama sekali.” Jawab Andre datar.


“Terus bagaimana mereka bisa tahu ? Gue sendiri nggak pernah mau ngomong apapun.”

__ADS_1


“Elo lupa kalau papa elo itu pengacara handal ? Semua masalah pasti akan dicari jawaban yang sebenarnya.”


“Terus mereka kok pada tahu kalau gue sama elo ?” Nada Sella terdengar tambah emosi.


Andre mengeluarkan sebuah lipatan kertas dari kantong kemejanya lalu memberikannya pada Sella.


“Apaan ini ?”


“Lihat aja sendiri.”


Bianca membuka lipatan kertas itu. Tatapannya langsung membelalak begitu membaca tulisan yang ada di dalamya.


“Kapan gue melakukan tes DNA janin ?” Sella mengernyit.


“Lihat aja tanggal yang ada di situ. Ada kan tulisan kapan elo melakukan tesnya.”


Sella membaca tulisan tanggal yang tertera. Mengingat kembali apa yang dilakukannya pada waktu itu. Sella teringat kalau di tanggal yang tertera, mama Hana membawanya ke rumah sakit bukan sekedar kontrol kehamilan namun menjalankan juga tes. Mama Hana tidak memberitahu kalau Sella melalukan tes DNA pada janinnya.


“Nggak usah khawatir, Ndre. Meskipun orangtua kita bisa membuktikan kalau ini anak kita, tapi aku…”


“Aku mencintaimu,” potong Andre lalu mencium pipi Sella.


Sella hanya menganga tidak menyangka Andre akan mengucapkan cinta bahkan sampai menciumnya.


Andre mengibas-kibaskan tangannya di depan wajah Sella membuat gadis itu tersentak dan tersipu malu.


“Jangan sembarangan bilang cinta.”


“Aku nggak sembarangan,” jawab Andre.


“Aku ?” Sella menatap Andre tidak percaya.


“Aku menyukaimu sejak kelas 9, dan aku cemburu melihatmu malah semakin akrab dengan Dion bahkan sampai pindah sekolah supaya bisa satu sekolah sama Dion.”


“Hei, aku nggak pernah punya perasaan apapun sama Dion dan alasan kepindahan aku justru karena kamu semakin hari semakin mengabaikan aku.” Protes Sella dengan wajah cemberut.


Andre tertawa dan membelai pipi Sella membuat gadis itu kembali tersipu dan memerah wajahnya.


“Maaf karena aku pernah menamparmu. Rasa cemburuku membuat Gita dengan mudahnya merubah pandanganku terhadapmu. Apalagi Gita adalah sahabatmu, jadi aku percaya apa yang diceritakannya pasti lebih banyak benarnya.”


“Memangnya Gita menghasutmu dengan cerita yang mana ?”


“Tidak penting dan sudah lewat. Yang terpenting sekarang kesehatan kamu dan anak kita. Ayo kita menikah.” Andre meraih jemari Sella.


“Kamu nggak terpaksa kan menerima pernikahan ini ?”


“Nggak lah. Saat kita melakukannya pertama kali, aku sempat terkejut mendapati bercak darah di kasurku. Ternyata kamu bukan seperti yang Gita ceritakan.”


“Jadi Gita bilang aku cewek nakal dan suka berganti pasangan ?” Sella tersenyum getir.


“Aku belum pernah benar-benar pacaran tapi dekat dengan banyak cowok. Aku lebih suka berteman dengan cowok mungkin karena terbiasa diperlakukan Kak Desta dan papa yang sangat memanjakanku. Dalam pikiranku, perhatian seorang cowok pasti akan lebih membawa ketenangan daripada cewek. itu juga karena aku tidak bisa dekat dengan mama.”


“Aku bahagia karena menjadi lelaki pertama yang boleh memilikimu secara utuh meski dengan cara yang salah. Tapi sayangnya aku tidak punya keberanian untuk berbicara langsung denganmu. Apalagi Gita tetap berusaha menjauhkanmu dariku meski kami sudah tidak berstatus pacaran lagi.”


“Apa aku juga yang pertama bagimu ?” Sella menatap Andre dalam-dalam untuk menemukan kejujuran di sana.


“Kamu pikir aku bakalan macam-macam sama Gita ?” Andre tergelak. “Beberapa kali dia memang sempat menggoda aku saat ke pesta ulangtahun 17-an teman-teman kita. Tapi aku bukan modelan cowok begitu. Apalagi aku sadar bahwa aku adalah anak papi dan mami satu-satunya yang punya tanggungjawab terhadap nama baik orangtuaku.”


Sella menunduk malu. Ada kebahagiaan yang menyeruak dalam hatinya. Sella benar-benar berayukur bahwa keputusannya mempertahankan janin ini malah membuat Andre menjadi miliknya. Calon anak mereka justru menjadi pemersatu cinta mereka.


“Mau ya menikah denganku ?” Andre mengangkat dagu Bianca dan menatapnya penuh cinta. Bianca mengangguk malu-malu.


“Terima kasih Sel. Terima kasih karena tetap mempertahankan anak kita.”


Sella mengangguk dan membiarkan Andre mencium keningnya.


Dari ruang keluarga, para orangtua tersenyum bahagia saat melihat Andre mencium kening Sella cukup lama.


“Akhirnya kita jadi besanan juga, Na.” Mami Hani meraih jemari mama Hana.

__ADS_1


“Iya, nggak sangka ya kalau anak kita memang saling cinta tanpa perlu dijodohin”


Papa Ardi dan papi Rizal ikut tersenyum bahagia melihat anak-anak mereka saling menerima dan bertanggungawab.


__ADS_2