
Sella bangun pagi dan bersiap-siap pergi ke rumah sakit hari ini. Sejak tinggal bersama Bianca, dia mulai terbiasa bangun pagi dan merubah hidupnya jadi lebih teratur.
Bianca selalu mengingatkan dirinya untuk terus belajar memperbaiki diri karena sebentar lagi Sella akan menjadi seorang ibu.
Sella memeriksa handphonenya sebelum turun ke bawah. Semalam dia mengirim pesan pada Bianca. Sella minta ditemani juga oleh Bianca saat pemeriksaan ke dokter nanti. Memang ada mama Hana, tapi Sella masih merasa canggung untuk bersikap normal layaknya ibu dan anak.
“Pagi Pa, Ma, Kak Desta.” Sapaan Sella tanpa nada juteknya membuat papa Ardi dan mama Hana sedikit tercengang.
Ada kebahagiaan di hati mereka saat melihat perubahan Sella yang semakin dewasa. Terutama mama Hana. Ada sedikit rasa penyesalan karena sikap kerasnya selama ini bukan membuat anak putrinya semakin mandiri namun malah memilih lari dari kenyataan dan mencari kebahagiaan dengan caranya sendiri.
“Pagi sayang,” jawaban yang sama diberikan oleh papa Ardi dan mama Hana.
Kata sayang yang terucap dari mulut mamanya membuat Sella langsung melebarkan senyumnya.
Desta hanya tersenyum dan merasa bahagia akan perubahan suasana di tengah keluarganya. Pagi ini tidak ada drama perdebatan antara mama dan adiknya.
Desta merasa sangat tepat meminta Bianca untukmendampingi Sella selama masa sulitnya menghadapi kenyataan bahwa dia hamil di masa remajanya.
Dari Bianca pula akhirnya Desta tahu bahwa kehamilan Sella ini bukanlah kesalahan dari pihak laki-lakinya. Bianca berharap Desta dan keluarganya akan bersikap bijaksana apabila mereka sudah menemukan siapa ayah dari bayi yang dkandung Sella.
Selesai sarapan, papa Ardi berangkat bersama Desta menuju kantor. Mama Hana dan Sella masih bersantai sebentar karena masih ada waktu sebelum ke rumah sakit.
Jam 9.45 mama Hana dan Sella sudah sampai di rumah sakit dan langsung menuju ruangan yang memang khusus disiapkan untuk Sella atas permintaan papa Ardi.
Kedua orangtuanya ingin membuat Sella tetap merasa nyaman dan menghindari penilaian negatif dari orang-orang yang akan ditemuinya bila berobat di ruang poli. Mereka tidak ingin Sella mengalami stress atau depresi lagi.
Bianca ternyata sudah duduk di kursi yang ada di depan ruangan. Sella langsung. tersenyum saat melihat Bianca akan ikut menemaninya.
Sella sedikit cemas karena saat perjalanan tadi mama Hana menyampaikan bahwa kunjungan ke dokter hari ini bukan hanya untuk pemeriksaan rutin, tapi ada beberapa tes yang harus dijalani oleh Sella. Menurut mama itu semua untuk memastikan bahwa kandungan Sella baik-baik saja meski sang ibu masih terbilang muda.
“Bi, kapan kamu mulai kuliah ?”
Sella yang masih berbaring di atas ranjang membuka percakapan. Mama Hana sedang berbicara dengan dokter Shinta. Sebetulnya Sella boleh langsung pulang setelah dokter mengambil sampel yang dibutuhkan, tapi mama Hana memintanya tetap tinggal sebentar di ruangan yang sebetulnya adalah kamar inap.
“Bulan depan, Sel.”
“Kamu akan kost lagi di dekat sana ?” Lirih Sella.
“Nggak kok, Sel, aku akan tinggal sama mama. Untuk progran pascasarjana, letak kampusnya ada di dalam kota. Sepertinya memang dibuat begitu supaya mahasiswanya bisa kuliah sambil bekerja.”
“Jangan pernah bosan menemui aku ya, Bi.”
“Aku pasti akan mengatur jadwal rutin menemuimu.”
“Karena aku pasienmu ?” Tanya Sella sambil tertawa pelan.
“Hei ababil, sudah aku bilang dari awal kalau aku ini bukan psikologmu tapi sahabatmu. Kalau aku menganggap diriku seorang profesional, sudah pasti tak akan kubiarkan kamu hanya memanggil namaku,” Bianca mengomel sampai mencubit hidung Sella membuat gadis itu tertawa.
“Apaan lagi tuh ababil ?” Ledek Sella.
“ABG labil, kayak kamu.” Bianca tertawa.
__ADS_1
Sella mendengus kesal dan membiarkan Bianca menertawakannya.
Tidak lama mama Hana sudah kembali ke ruangan dan mengajak mereka pulang.
“Sebetulnya tadi tes apa sih, Ma ?” Tanya Sella saat mereka sudah kembali ke mobil dan perlahan meninggalkan rumah sakit.
“Memeriksa kondisi organ tubuhmu yang berkaitan langsung dengan kehamilanmu.”
Sella hanya menggangguk-angguk. Baginya jawaban mama terlalu abstrak. Sudah 3 kali Sella mengajukan pertanyaan yang sama dengan cara yang berbeda, namun jawaban mama tetap sama.
Bianca yang ikut pulang semobil dengan Sella dan mama Hana langsung diajak makan siang di restoran yang diinginkan oleh Sella.
Bianca geleng-geleng sambil tersenyum. Sella selalu tahu cara membuat orang mengabulkan keinginannya.
Dua minggu berlalu sejak pemeriksaan Sella di rumah sakit.
Bianca sendiri sibuk bolak balik kampus mengurus administrasi sebelum memulai kuliah pascasarjananya. Untuk semester pertama nanti, Bianca sengaja memilih kelas pagi hingga sore karena sementara waktu dia tidak akan mencari pekerjaan di luar tetapi fokus pada Sella.
Rasa penasaran menyelimuti hatinya saat bangun tidur di Sabtu pagi ini. Semalam Om Ardi mengirimkan pesan padanya untuk datang ke rumah mereka pada jam makan siang.
Papa Desta dan Sella itu baru satu kali bertukar pesan dengan Bianca mengenai Sella. Itu terjadi saat mereka belum berangkat ke villa. Pesan yang diterima Bianca semalam adalah yang kedua.
Om Ardi mewanti-wanti Bianca supaya jangan sampai tidak datang.
Jam 10 pagi Bianca sudah selesai bersiap. Dia mengecek posisi taksi onlinenya sambil duduk di ruang tamu. Mama pergi keluar, jadi hanya tinggal Bi Imah yang ada di rumah.
Satu notifikasi pesan masuk ke handphonenya. Ada nama Dimas tertera di sana.
Bianca langsung men-download gambar yang terkirim sesudahnya.
Hati Bianca dibikin mencelos. Getar kerinduan menyeruak dalam hatinya saat melihat foto Devano duduk di balik meja kerjanya mengenakan polo shirt warna putih. Diam-diam Dimas memfoto lalu mengirimkannya untuk Bianca.
Bukan melupakan sosok Devano selama sebulan ini, tapi Bianca berusaha meyakinkan hatinya bahwa dia harus siap melakukan apapun untuk mengimbangi tanggungjawab Devano sebagai penerus Berdikari Putra Wijaya. Bahkan Bianca berpikir bukan tidak mungkin dia harus melepaskan cita-citanya.
Dimas : Kok dibaca doang ? Nggak ingin ketemuan ? Aku bisa bantu aturin biar sama-sama enak 😀😀😝
Bianca : Maaf Kak Dimas, aku dipanggil Om Ardi siang ini, katanya ada hal penting.
Dimas : Bukan membahas hubungan kamu sama Desta kan ? 🤔🤔
Bianca : Belum ada rencana pindah ke lain hati Kak Dim 😘😘
Di tempatnya Dimas senyum-senyum sendiri. Devano menatapnya sambil mengernyit. Sudah 3 kali dia memanggil Dimas tapi tidak ditanggapi.
“Dimas !” Panggil Devano setengah berteriak.
Dimas terlonjak di kursinya.
“Elo udah punya pacar ? Kok dari tadi senyum-senyum sendiri sambil lihat handphone ?”
“Bukan pacar, tapi calon ipar.”
__ADS_1
“Revan ?” Tanya Devano.
“Ya ampun Bro, sepupu gue kan bukan cuma elo sama Diana doang. Masih ada saudara yang lain.”
Devano hanya diam dan kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa ingin tahu lebih lanjut siapa yang Dimas maksud.
Bianca memasuki rumah keluarga Ardi dan Hana pukul 11.30. Setidaknya dia tidak terlambat. Pesanan taksi online nya sempat beberapa kali dibatalkan hingga dia harus memesan ulang.
Bianca langsung menghampiri Sella yang masih ada di kamarnya. Setelah mengetuk dan mendapat jawaban dari dalam, Bianca membuka pintu dan mendapati Sella masih duduk di depan meja rias.
“Duh cantiknya anak papa Ardi dan mama Hana.” Bianca mendekati Sella lalu menoel pipinya.
“Aku nggak tahu kenapa mama nyuruh aku pakai dress begini hari ini. Malah warna pink lagi. Mama kan tahu kalau aku nggak suka warna pink.” Wajah Sella yang cemberut dan kesal membuat Bianca terkekeh.
“Cantik banget kok. Kamu cocok banget Sel pakai warna pink begini. Kelihatan segar juga.” Bianca yang berdiri di belakang Sella memegang kedua bahu gadis itu yang masih duduk menghadapi kaca.
“Sepertinya anak kamu cewek nih, Sel. Mamanya terus kelihatan cantik apalagi kalau dandan begini.”
“Aku mau dikasih cowok atau cewek bahagia aja, Bi. Yang penting anakku sehat.” Akhirnya Sella tersenyum sambil mengelus perutnya.
Perutnya mulai terlihat membuncit di usia kehamilan yang memasuki 17 minggu. Bianca pun ikutan mengelus perut Sella.
“Sehat-sehat diperut mommy ya debay, aunty selalu mendoakan yang terbaik.” Ujar Bianca.
Sella semakin melebarkan senyumnya dan melupakan kekesalannya masalah baju pilihan mama.
Tidak lama terdengar ketukan di pintu kamar Sella.
“Yuk kita turun. Itu pasti panggilan buat kamu supaya cepat-cepat turun.”
Bianca mengulurkan tangannya mengajak Sella bangun dan segera turun ke bawah.
Sampai di tangga terakhir, suara obrolan di ruang tamu mulai terdengar.
Sella berjalan beriringan dengan Bianca menuju ke ruang tamu. Hatinya berasa deg deg kan.
“Nah ini dia anakku, calon pengantinnya.” Papa Ardi yang duduk menghadap ke arah dalam rumah berdiri dan menghampiri Sella.
Mendadak perasaan Sella tidak enak, apalagi saat mendengar papa Ardi berkata calon pengantinnya.
Sella belum melihat sosok lelaki yang duduk membelakanginya. Namun wajahnya sangat terkejut saat menatap kedua orang tua yang duduk di samping lelaki itu menoleh ke arahnya.
Sella menggelengkan kepalanya. Bianca meraih jemarinya dan menggenggamnya dengan lembut. Bianca berusaha membuat Sella tenang.
“Marsella ya ?” Seorang ibu seumuran mama Hana beranjak bangun menghampiri Sella yang masih berdiri di antara papa Ardi dan Bianca.
“Iii…iya Tante. Apa kabarnya ?” Dengan perasaan gugup Sella menyapa wanita yang berdiri di depannya sambil tersenyum.
“Yuk duduk di sana. Tenang saja ada om dan tante juga papa mama kamu.” Wanita itu berusaha menuntun Sella mendekati sofa.
Langkah Sella tertahan dan dia menoleh menatap Bianca dan dibalas dengan anggukan dari Bianca. Sella melepaskan genggaman Bianca dan mengikuti wanita tadi yang menuntunnya.
__ADS_1
“Kenapa jadi kamu yang ada di sini ?” Batin Bianca.