
30 menit perjalanan tanpa percakapan. Diana tertidur di mobil sementara pikiran Bianca melayang-layang memikirkan tentang apa yang bakal terjadi antara dirinya dengan Devano.
Mobil memasuki gerbang rumah mewah setelah seorang satpam membukakan pintu. Bianca berdecak dan terkagum-kagum dengan bangunan megah yang terpampang di depannya sekarang. Dari kaca jendela mobil terlihat Bianca terpesona dengan rumah keluarga Wijaya tersebut.
“Di… Di, bangun.” Bianca menepuk-nepuk bahu Diana pelan saat mobil sudah berhenti di depan pintu kayu setinggi hampir 5 meter.
Diana mengerjapkan matanya dan merenggangkan badannya sejenak.
“Maaf aku ketiduran.”
“Nggak apa-apa Di. Sepertinya sudah sampai.”
Tiga orang pelayan yang keluar dari pintu utama sudah menanti dan sopir membukakan pintu sisi Diana.
Bianca ikut membuka pintu mobil dan berjalan memutar menuju teras.
“Sayang.” Mama Angela muncul di pintu lalu merengangkan tangannya.
Diana memghampiri mama Agela dan langsung memeluknya sebentar kemudian membiarkan Bianca gantian bertemu mama Angela.
“Sayang Bianca, apa kabar ?” Mama Angela langsung memeluk Bianca sambil mengusap punggung Bianca.
“Baik Tante. Senang juga ketemu tante lagi dan terlihat sehar.” Bianca tersenyum menatap mama Angela setelah pelukan mereka terlepas.
Mama Angela langsung merangkul lengan Bianca dan melangkah masuk mengekori Diana yang sudah duluan.
“Kalian mandi dulu ya, baru nanti kita ngobrol.”
“Maaf saya tidak bawa baju ganti Tante.”
Diana menghentikan langkah dan berbalik badan jadi berhadapan dengan Bianca dan mama Angela.
“Tenang aja, pakaian sudah aku pilihkan tadi di mal.
Untuk pakaian dalam aku sudah minta bibi Sri menyiapkan satu set yang baru. Ada di kamar tamu.”
“Kalau begitu kalian mandi dulu, nanti kita ngobrol.”
Dan disinilah Bianca kembali sedang menganggumi kondisi kamar tamu yang disiapkan untuknya. Kantong belanjaan yang tadi diberikan oleh Diana sudah diletakkan di atas meja rias. Pakaian ganti lengkap dengan pakaian dalam sudah disiapkan di atas tempat tidur.
Bianca mengedarkan pandangannya. Perabotan sederhana namun terlihat mewah dan mahal melengkapi kamar tersebut. Ada satu pintu lagi yang Bianca yakin adalah kamar mandi.
Bianca melangkah melebarkan pintu yang tadi sedikit terbuka dan melihat kamar mandi mewah lengkap dengan bathup, shower dan wastsfel yang sangat mewah buat Bianca dan membuatnya berdecak beberapa kali.
Hanya melihat situasi kamar tamu aja membuat Bianca merasa tidak sebanding dengan Devano Ruangan kamar tamu lengkap dengan kamar mandi yang mewah tidak bisa dibandingkan dengan kondisi rumah keluarganya.
Namun mengingat sikap orangtua dan adik Devano yang begitu ramah dan baik kepadanya, membuat rasa percaya diri Bianca merasa sedikit lebih baik karena tetap diterima meskipun keadaan keluarganya berbanding terbalik dengan keluarga Devano.
30 menit Bianca menyelesaikan ritual mandi dan berdandan tipis untuk acara makan malam hari ini. Dia mematutkan diri menatap bayangan dirinya mengenakan baju dress selutut warna peach dengan perpaduan lace di kerah dan bawahnya. Pilihan Diana memang sangat cocok dengan selera Bianca, hanya harganya saja membuat Bianca langsung sakit kepala
Bianca membuka pintu dan menengok ke kanan kiri mencari sosok Diana atau mama Angela. Bingung harus kemana karena belum terbiasa dengan tata letak rumah yang besar ini.
__ADS_1
“Nona, nyonya sudah menunggu di ruang makan.” Seorang pelayan mendekati Bianca dan berjalan mendahului Bianca menuju ruang makan.
“Silakan.” Pelayan itu sedikit membungkukkan badan dan dibalas dengan anggukan serta ucapan terima kasih dari Bianca.
“Cantiknya.” Mama Angela yang baru selesai memotong kue langsung menyapa Bianca.
Bianca tersenyum dan mendekati mama Angela.
“Wangi banget. Tante bikin sendiri ?”
“Iya, kamu harus coba.”
Bianca mengambil potongan kue yang sudah disiapkan di piring dan seorang pelayan membawakan segelas jus di hadapan mereka.
“Enak banget Tante.” Bianca mengangkat jempolnya setelah satu suapan kue habis di mulutnya.
“Beneran ?”
Bianca mengangguk sambil memasukkan satu potongan kembali.
“Mama kamu kan juga jago bikin kue.”
“Mama lebih sering bikin kue kering Tante.”
Sambil mengobrol, Bianca menoleh ke kiri dan ke kanan mencari Diana yang belum terlihat.
“Diana tadi bilang mau tidur sebentar. Semalam habis selesaikan tugas sampai jam 2 pagi. Nanti pas makan malam baru minta dibangunkan.” Mama Angela langsung menjelaskan saat melihat mata Bianca mengedarkan pandangannya.
“Kalau sudah selesai, Tante mau ajak kamu ke kamar Devano.”
Bianca tersedak saat mendengar perkataan mama Angela. Wanita paruh baya itu tertawa sambil menepuk-nepuk punggung Bianca.
“Jangan gugup begitu.”
Wajah Bianca langsung bersemu merah.
Tidak lama mama Angela mengajak Bianca ke lantai 2 dan menunjukkan beberapa ruangan yang ada di sana termasuk kamar Diana. Sekarang berdua sudah berdiri di depan pintu kayu berwarna cokelat dan langsung dibuka oleh mama Angela.
“Masuk !” Mama Angela menyuruh Bianca mengikutinya saat dilihat gadis itu masih berdiri di depan pintu.
Ragu-ragu Bianca melangkah. Kamar bernuansa putih abu-abu itu menggambarkan pemiliknya yang maskulin. Bianca mengedarkan pandangannya. Ranjang besar ada di tengah-tengah lengkap dengan nakas di kiri kanannya. Harum kamar itu mengingatkan Bianca pada sosok Devano yang selalu wangi maskulin saat di sekolah bahkan setelah berolahraga.
“Sini Bianca.” Mama Angela membuyarkan lamunan Bianca, memanggilnya mendekat dan memintanya duduk di sebelahnya di sofa panjang yang ada di sana.
Bianca menghampiri mama Angela yang sedang memangku satu kotak sepatu. Bianca langsung duduk di sebelah mama Angela.
“Bukalah !” Mama Angela memindahkan kotak sepatu itu ke pangkuan Bianca.
Bianca menatap mama Angela sejenak untuk memastikan kalau dia boleh membuka dan melihat isi dalamnya. Mama Angela mengangguk sambil tersenyum.
Dengan sedikit gugup, Bianca membuka penutup kotak sepatu itu. Matanya langsung terbelalak saat melihat isi dalamnya.
__ADS_1
Diambilnya satu gantungan kunci bergambar wayang. Dia ingat betul kalau gantungan kunci itu adalah oleh-oleh darinya untuk Devano saat keluarganya mengisi liburan akhir tahun ke Jogjakarta. Saat itu mereka masih kelas 9. Dan Bianca yang memang sudah mulai menaruh hati pada Devano khusus membelikan cowok itu gantungan kunci yang berbeda, khusus dibelinya di salah satu toko batik ternama. Smeemtara untuk teman-teman lainnya, Bianca membeli oleh-oleh gantungan kunci juga yang dibelinya di Malioboro.
Selain gantungan kunci itu, Bianca juga menemukan amplop surat cinta yang pernah diberikan pada Devano. Kondisinya sangat lusuh dan kotor di bebeapa bagian. Dan yang tambah mengejutkan dirinya, di bawah amplop surat ada foto-foto Bianca ! Terlihat foto-foto itu diambil secara candid dalam berbagai pose, bahkan pada saat Bianca mengisi acara pada saat acara sekolah. Dan bukan hanya saat SMA tapi juga pada waktu mereka masih SMP.
“Sekarang kamu mengerti kenapa om, tante dan Diana begitu yakin kalau Devano memiliki rasa yang sama denganmu.”
Mama Angela mengelus punggung Bianca.
“Surat cinta darimu bukan yang pertama dan satu-satunya buat Devano tapi hanya surat kamulah menjadi satu-satunya yang disimpan olehnya.”
Bianca masih melihat-lihat foto yang tersimpan dalam kotak sepatu itu.
“Devano pasti juga tersiksa karena harus menutupi perasaannya sejak SMP. Dan kamu mau tahu alasannya ?”
Bianca mengangkat wajahnya dan menatap mama Angela dengan sendu.
“Saya tahu kalau Devano sudah dijodohkan dengan Opa Ruby, Tante. Saya…”
Mama Angela mengangkat telunjuknya dan mendekatkan ke bibir Bianca.
“Perjodohan itu hanya keinginan Opa Ruby dan Arini, bukan om dan tante sebagai orangtuanya. Jangan kalian saling menyiksa diri lagi.”
Bianca tersenyum getir.
“Sudah empat tahun lebih berlalu Tante. Saya tidak yakin kalau Devano masih menyimpan rasa yang sama seperti isi kotak ini.”
“Tante yakin kalau Devano bukan orang yang mudah mengalihkan perasaannya.”
Mama Angela mengusap rambut Bianca dengan penuh kasih sayang sambil tersenyum.
“Terakhir om dan tante bertemu dengannya saat liburan akhir tahun. Berarti sekitar 7 bulan yang lalu. Devano masih jadi pria dingin dan datar seperti yang kamu kenal. Kami yakin kalau Devano belum belajar mencintai orang lain.”
Bianca tertunduk. Meski hatinya bahagia melihat isi kotak yang ada di pangkuannya, namun ada sedikit keraguan dalam hati Bianca. Kalau memang Devano begitu menyukainya, kenapa dia juga berkeras untuk melawan hatinya ? Apalagi seluruh keluarga kecuali Opa Ruby sangat mendukung Devano untuk menjalin hubungan dengan Bianca.
“Kotak ini baru tante temukan tidak lama setelah Devano berangkat ke Amerika untuk kuliah. Tersimpan dengan rapi di pojokan lemari baju Devano.”
“Foto ini boleh untuk saya Tante ?” Bianca mengambil salah satu foto yang ditemukannya di dalam kotak.
Dalam foto itu terlihat kalau Devano melakukan selfie dengan latar belakang Bianca yang sedang berdiri di pinggir lapangan basket. Terlihat tujuannya supaya mereka berada dalam satu frame foto.
Terlihat Devano tersenyum tipis. Senyum yang sudah jarang dilihat Bianca selama mereka mulai memasuki jenjang SMA.
“Bianca, om dan tante percaya bahwa cinta kalian akan berakhir manis. Tolong kamu sedikit lebih sabar. Om dan tante bahkan Diana akan selalu memberikan dukungan pada kalian. Masalah Opa Ruby, om dan tante yang akan bicara langsung supaya opa melepaskan Devano dari beban itu.”
“Bagaimana kalau ternyata Devano sudah tidak menyukai saya lagi, Tante ?”
Mama Angela tersenyum lalu merengkuh bahu Bianca.
“Jangan terlalu pesimis, sayang. Tidak mudah membuang rasa yang terpendam selama lima tahun.”
Bianca menarik nafas panjang dan kembali menundukkan wajahnya menatap kembali isi kotak di oangkuannya. Mama Angela masih mengusap-usap kembali punggungnya.
__ADS_1
Rasa bahagia membuncah dalam hati Bianca saat mengetahui bahwa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Bahkan pikirannya teringat akan peristiwa terakhir di Cafe Pelangi saat mereka bernyanyi bersama. Meski Devano tidak bicara apa-apa, namun cowok itu juga tidak marah atau berkata ketus saat Bianca secara tidak sadar memegang tangan Devano.
Akankah rentang waktu empat tahun tidak akan merubah rasa yang ada di antara kita Devano ? Batin Bianca.