Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 39 Menginap


__ADS_3

Mia dan Della berbaring santai di ranjang Bianca, sementara tuan rumah memilih tidur di lantai beralaskan kasur gulung. Sempat berdebat dengan Della soal siapa yang tidur di bawah, akhirnya alasan Bianca membuat Della mengalah.


“Bibi Bian,” Mia memanggil sahabatnya sambil menatap langit-langit kamar.


“Apaan ?” Bianca masih mengoleskan lotion di tangannya.


“Elo punya hubungan khusus sama Revan ?”


“Nggak !” Bianca menjawab cepat.


“Dia agresif banget sama elo tadi. Udah lama dia kayak gitu ke elo ?” Della gantian bertanya.


“Udah 2 tahun ini tuh anak kayak sok deket sok akrab gitu sama gue.”


“Udah pernah nyatain cinta ?”


Bianca menggeleng lalu meletakkan botol lotion di atas nakas.


“Terus ?” Mia berganti posisi duduk di atas ranjang dan membalikkan badan berhadapan dengan Bianca.


“Secara langsung sih belum pernah bilang gue suka elo, i love, atau ngajak pacaran.”


“Lah 2 tahun pendekatan ngapaian aja ?” Della memiringkan tubuhnya yang masih dalam posisi rebahan.


“Yah begitu deehhh… over banget perhatiannya. Rempong nawarin ini itu…. Yah kayak tadi aja pas selesai dari cafe.”


Bianca teringat kembali saat mereka bubar dari Cafe Pelangi, Revan ngotot mengantarnya pulang. Padahal sudah dijelaskan kalau Mia membawa mobil sendiri dan gadis itu akan menginap di rumah Bianca bersama Della.


“Yakin dia nggak pernah menyatakan perasaannya sama elo ?” Tanya Della kembali.


“Secara eksplisit belum. Tapi kemarin pas Dewi nyinggung soal Devano, Revan ada ngomong kalo Devano itu mantan calon pacar gue sedangkan dia calon masa depan gue.”


“Dewi ?” Mia mengangkat alisnya sebelah.


“Ooo Dewi itu teman gue di kampus. Satu jurusan dan satu kost pula sama gue. Kapan-kapan gue kenalin.”


“Oooo..” kedua sahabatnya hanya ber oo ria.


“Itu mah nembak secara nggak langsung, Bi.”


“Buat gue sih nggak ya,” jawab Bianca.


“Eh, gue boleh ajak Dewi ke acara besok ?” Bianca menatap sahabatnya bergantian dan keduanya langsung mengangguk.


“Sekalian gue kenalin ya. Anaknya asyik kok, satu channel lah sama kita.” Bianca tertawa kecil sementara tangannya yang sudah memegang handphone mencari nama Dewi dan langsung menghubunginya.

__ADS_1


Hanya pembicaraan singkat masalah ajakan Bianca untuk acara olahraga bersama Minggu pagi. Dewi sendiri sepertinya baru terbangun karena suaranya terdengar sedikit serak khas orang baru bangun. Dewi meng-iyakan untuk ikutan dan langsung bertemu di lokasi.


Bianca mengirimkan pesan soal tempat dan waktu untuk acara besok lewat aplikasi pesan ke nomor Dewi.


“Elo nggak ada getar-getar gimana gitu sama Revan ?” Mia bertanya sambil memicingkan matanya.


“Elo kira getaran kesetrum ?” Bianca tergelak.


“Ditanyain serius !” Mia cemberut dan melemparkan salah satu boneka yang ada di atas ranjang.


“Revan nggak kalah cakep sama Devano loh, Bi.” Della memprovokasi.


“Iya calon dokter lagi.” Mia menimpali.


Bianca terdiam. Dia menarik nafas panjang dan merebahkan diri di atas kasur. Tatapannya menerawang ke langit-langit kamar.


“Iya Revan memang cakep juga,” jawab Bianca pelan.


“Dia baik, perhatian, bisa bikin hati gue yang kadang-kadang gabut jadi hepi lagi.”


“Nah cocoklah !” Mia menepukkan kedua tangannya. “Selama SMP dan SMA fokus elo kan cuma sama Devano, makanya Revan kagak kelihatan.”


“Nggak ada niatan punya hubungan serius sama Revan, Bi ?”


Bianca terdiam masih dengan posisi yang tadi.


“Elo sendiri terakhir kan yang bilang kalo benci sama Devano. Sekarang udah ada yang nggak kalah sama Devano, malah lebih baik mungkin. Bukalah hati elo buat Revan.”


“Belum tentu juga Devano mikirin elo di sana Bi.” Della mencibir dan merebahkan tubuhnya dengan posisi terlentang.


“Gue ogah pacaran dulu.”


“Kalo belum dicoba mana elo tau, Bi.”


“Elo kira makanan dicoba dulu !” Bianca melemparkan kembali boneka yang tadi dilempar Mia. Sahabatnya itu masih dalam posisi dulu dan reflek menangkis lemparan Bianca.


“Yah buka hati elo gitu loh !”


“Kepedean banget gue nya.” Bianca tergelak.


“Loh kan Revan udah kasih kode bilang ke elo kalo dia tuh masa depannya elo.” Della buka suara.


“Iya, tapi kan hanya bercandaan doang. Lagian gue memang beneran belum mau pacaran dulu.”


“Dasar bucin Devano !” Mia mencebik lalu merebahkan tubuhnya di sebelah Della.

__ADS_1


“Bukan karena Devano,” sahut Bianca pelan.


“Gue pengen fokus kuliah sambil cari uang, pengen cepat selesai dan dapat kerjaan bagus. Gue mau lepas dari pemberian bokapnya Arya.”


“Maksud elo ?” Della memiringkan kembali tubuhnya menghadap Bianca.


“Sejak papa meninggal, atas nama perusahaan, Om


Himawan masih memberikan semacam gaji pada mama. Jumlahnya memang nggak sebesar gaji papa waktu masih bekerja. Kita udah menolak, karena dana asuransi kecelakaan kerja udah cukup besar untuk cadangan dana. Tapi Om Himawan berkeras. Beliau bilang jumlahnya nggak sebanding dengan pertolongan papa yang menyelamatkan nyawa Arya.”


“Anggap saja ucapan terima kasih dari keluarga Arya, Bi.” Nasehat Della.


“Iya gue ngerti. Gue sekeluarga udah ikhlas kok. Akhirnya disepakati kalau pemberian itu akan dihentikan saat gue selesai kuliah dan sudah bekerja permanen. Tapi biaya sekolah Bernard akan ditanggung sampai selesai.”


“Apa nggak ditawarin juga elo dikawinin sama Arya ?” Celetuk Mia .


“Eh bisa jadi Bi,” timpal Della sambil tertawa. “Mungkin banget kalo ortunya Arya punya niat ke sana.”


“Arya juga nggak kalah pamor sama Devano, Bi.”


Mia mengangkat tubuhnya melewati badan Della yang dalam posisi miring.


Kedua sahabat Bianca tergelak sambil terus menggoda Bianca.


“Siapa tahu suka sama Devano jodohnya Arya. Apalagi dia kan juga udah menyatakan cinta sama elo.” Mia menaikturunkan alisnya.


“Ya ampun elo berdua yaa… Sahabat gresek memang. Tadi suruh gue jadian sama Revan yang belum menyatakan cinta, sekarang suruh siap-siap sama Arya kalo memang dijodohin.”


“Ya tinggal pilih aja susah amat,” sahut Della masih tertawa.


“Pusing aahh gue !” Bianca cemberut dan menarik gulingnya.


“Udah pada tidur, udah malam. Besok kita pada kesiangan lagi.”


“Duh yang lagi galau dapat banyak pilihan.” Goda Mia.


Bianca beranjak dari kasurnya dan mematikan lampu kamar. Hanya tersisa dari lampu kecil di dekat meja rias.


“Tidur ! Tambah malam otak elo berdua tambah gresek.” Bianca memeluk gulingnya sambil menarik selimut.


Tidak lama ketiganya terlelap saat jam dinding menunjukkan waktu pukul 12.45 subuh.


Alarm di handphone Bianca berbunyi. Matanya masih ingin diajak tidur tapi ingat janji pagi ini dengan para teman-teman SMA-nya membuat Bianca menyibakkan selimut dan sedikit merenggangkan otot-ototnya. Dilihatnya Mia dan Della masih tertidur pulas, tidak terganggu sedikit pun dengan suara alarm yang Bianca setel.


Bianca membangunkan kedua temannya sebelum keluar ke kamar mandi untuk bebersih. Sampai selesai dan kembali ke kamar ternyata tinggal Mia yang masih bergelung di bawah selimut.

__ADS_1


Bianca mengguncang kembali tubuh Mia sampai akhirnya gadis itu terduduk di atas ranjang dengan wajah acak-acakan. Bianca hanya tertawa melihat kondisi sahabatnya. Mia banyak merubah penampilannya. Rsmbutnya yang sedikit lebih dari bahu dibuat bergelombang dan dicat warna blonde. Tambah cantik dan lebih dewasa.


Jam 06.20 mereka sudah siap di mobil menuju tempat yang dijanjikan kemarin malam. Rencananya selesai dari olahraga pagi, mereka akan menghabiskan waktu ke salon bersama mama Lisa.


__ADS_2