Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 23 Takdir Kita


__ADS_3

Mia dan Della segera menghampiri Bianca, Devano, Joshua, Ernest dan Leo.


“Elo ngapain di sini Bi ?” Tanya Leo yang sekarang sudah berpindah posisi di samping kiri Devano.


“Eehhh gue..”


“Jangan bilang elo habis besuk Arya,” tutur Joshua.


“Nggak !” Bianca menjawab cepat sambil menggeleng.


“Memang Arya dirawat di sini juga ?” Gantian Della yang bertanya.


“Juga ? Memangnya siapa lagi yang dirawat di sini ?”


Leo yang kembali bersuara.


“Papanya Bianca,” Mia yang merespons.


“Sakit apa papa elo Bi ?” tanya Joshua.


Mia mengangkat kedua bahunya dan menatap Bianca menunggu jawabannya.


“Eh sorry, gue keluar dulu, kayaknya udsh mau hujan.” Bianca hendak berjalan melewati Ernest dan Della yang berdiri bersisian.


“Makan siang buat elo sama tante udah kita bawain Bi. Nih …” Della mengangkat kantong plastik yang dijinjingnya.


“Kalo gitu ikutan kita aja sekalian besuk Arya ya Bi. Habis itu besuk bokap elo.” Ajak Ernest.


Bianca menoleh memandang Mia dan Della bergantian dan mendapati keduanya menganggukkan kepalanya.


“Ayolah. Toh juga masih rumah sakit ya sama,” Mia menarik lengan Bianca yang masih bengong menuju ke lift.


“Lantai berapa Nest ?” Mia yang berdiri dekat pintu lift bersiap memencet angka tujuan mereka.


“Lantai 5,” Devano kali ini yang menjawab.


Karena kondisi lift yang cukup ramai, keenamnya hanya diam membisu sambil menunggu lift sampai di lantai 5. Devano melangkah paling depan bersama Leo menuju kamar tempat Arya dirawat sedsngkan Bianca berjalan paling belakang dengan Della. Mia berada di depan mereka berjalan bersama Leo dan Joshua.


“Bi, sibuk amat.” Bisik Della.


“Kirim pesan ke mama biar nggak cariin kalo kelamaan. Gue nggak bisa lama-lama ya soalnya kan mau bawain makan siang.”


“Iya ngapain juga kita lama-lama yang ada malah garing.” Della masih memelankan suaranya.


Leo masih berdiri memegangi pintu kamar menunggu Della dan Bianca masuk ke dalam kamar rawat Arya. Di brankar nampak Arya dengan posisi setengah duduk sedang memegang handphonenya.


“Om Hendra,” desis Bianca saat mendapatk sosok pria paruh baya yang menemuinya kemarin sedang menuju pintu kamar.


“Nona Bianca,” om Hendra membalas sapaan Bianca sambil membungkuk sopan.


“Om kok ada di sini ?” Tanya Bianca dengan ekspresi bingung.


“Oh sebenarnya om..”


“Biar saya saja yang menjelaskan ke Bianca. Om.” Suara Arya terdengar memotong perkataan Om Hendra.

__ADS_1


Suasana di ruangan mendadak hening. Arya membuka selimutnya dan mengambil posisi duduk di pinggir brankar.


“Bianca,” panggil Arya dari brankarnya. “Bisa lebih dekat kemari ?”


Bianca nampak ragu-tagu dan menatap teman-temannya yang mulai menepi dari posisi mereka berdiri supaya Bianca lebih leluasa berjalan menghampiri Arya. Dengan langkah pelan dia mendekati Arya.


“Duduklah,” Arya menunjuk kursi yang tadi sempat ditempati Om Hendra persis di sebelah brankar.


Ragu-ragu Bianca hendak duduk sampai Arya mengangguk dan memberi kode supaya Bianca duduk. Berada di dekar Arya membuat Bianca bisa melihat beberapa luka lecet di wajah dan tangan Arya.


“Bianca, gimana keadaan papa elo ?” Arya menatap gadis itu dengan sendu.


“Masih belum sadar.”


“Gue minta maaf,” Arya terbata dengan suara sedikit serak. “Gara-gara gue papa elo harus mengalami semua ini.”


Ketujuh orang yang ada di ruangan hanya memperhatikan percakapan dan interaksi Arya dan Bianca.


“Maksud elo ?” Bianca menautkan alisnya dan mengangkat kepalanya yang tadi sempat menunduk. Bianca menatap Arya seperti minta penjelasan.


“Om Indra berusaha nolong gue pas di proyek, dan malah menggantikan posisi gue harus terbaring kayak sekarang.” Mata Arya terlihat berkaca-kaca. Perlahan dia turun dari brankar meski badannya masih terasa sakit di beberapa bagian.


“Gue janji akan bertanggungjawab penuh kalau sampai terjadi sesuatu sama Om Indra.” Arya meraih kedua jemari Bianca dan menggenggamnya erat, namun reflek Bianca menariknya hingga terlepas.


“Gue masih belum mengerti, Ya.” Bianca memggeleng pelan. Pandangannya beralih mencari sosok Om Hendra yang pasti bisa memberikan penjelasan lebih rinci.


“Sebetulnya bukan salah Tuan Arya, Nona Bianca.”


Om Hendra yang mengerti arti tatapan Bianca kepadanya segera melangkah mendekati keduanya.


“Tidak usah di luar Om,” cegah Arya. “Mereka sudah seperti keluarga buat kami berdua.” Arya berusaha kembali naik ke ranjangnya dengan pelan. Leo yang paling dekat berdiri dekat situ bersama Om Hendra membantu Arya kembali duduk di ranjangnya.


Om Hendra menarik nafas panjang dan sempat menatap satu persatu orang yang ada di ruangan itu. Terakhir pandangannya tertuju pada Bianca.


“Pak Indra bekerja di perusahaan keluarga Tuan Muda Arya, Nona.”


“Panggil saya Bianca saja, Om.” Sela Bianca yang merasa risih dengan panggilan tambahan nona.


“Tapi..”


“Ikuti saja Om,” potong Arya.


“Pak Indra adalah salah satu orang kepercayaan Tuan Himawan, papanya tuan Arya.”


“Jadi kamu selama ini tahu kalau papa bekerja di perusahaan keluarga elo, Ya ?” Bianca menatap Arya dan mendapati laki-laki itu menggeleng.


“Tuan muda Arya tidak pernah dilibatkan dengan kegiatan usaha karena Tuan Himawan ingin tuan Arya fokus pada pendidikannya sampai SMA. Setelah menyelesaikan ujian kemarin, Tuan Himawan bermaksud mulai memperkenalkan tuan Arya tentang seluk beluk perusahaan namun belum sepenuhnya terjun karena Tuan Hendri ingin tuan Arya menyelesaikan kuliahnya dulu.”


Om Hendra menjeda penjelasannya sejenak.


“Beberapa bulan ini, Pak Indra menemukan sedikit kejanggalan dalam laporan salah satu proyek kami di pinggiran kota. Karena kemarin Tuan Himawan kurang sehat, beliau meminta Tuan Arya untuk menggantikannya melakukan sidak di lokasi proyek tersebut. Saya tidak dapar mendampingi karena mendadak paginya anak saya yang paling kecil demam tinggi. Akhirnya Tuan Himawan meminta Pak Indra mendampingi sekaligus mencari data keuangan dari lokasi proyek.”


Om Hendra menghentikan penjelasannya dan membantu Arya yang sedikit meringis dan berusaha rebahan di ranjang.


“Apa kejadian kemarin disengaja, Om ?” tanya Bianca.

__ADS_1


“Belum tahu Nona,” Om Hendra menggeleng dsn kembali ke posisi semula.


“Maaf Bi.. Maaf.” tutur Arya pelan namun masih bisa di dengar oleh mereka yang berdiri dekat situ.


“Pak Indra mendorong tuan muda Arya saat melihat beberapa tumpukan kayu terlepas dari crane yang mengangkatnya. Akibatnya Pak Indrs yang tertimpa dan tuan muda terjatuh hingga menyebabkan beberapa luka karena kondisi proyek yang belum diaspal.”


“Gue pasti akan bertanggungjawab Bianca,” tutur Arya kembali sambil menatap Bianca penuh kesedihan.


“Jangan pikirkan masalah itu Arya,” Bianca bangkit dari kursinya dan menjalan mendekati ranjang Arya.


“Semuanya adalah kecelakaan, bukan keinginan elo juga.” Bianca menjeda sambil menarik nafas panjang.


“Saya minta tolong Om Hendra,” Bianca menoleh ke arah Om Hendra yang berdiri di sampingnya. “Tolong pastikan apakah kejadian kemarin murni kecelakaan atau disengaja.”


“Saya pamit dulu,” Bianca membungkukkan badan sedikit ke Om Hendra.


“Gue pamit Ya, mama nungguin.” Bianca menepuk pelan jemari Arya yang terpasang selang infus.


“Bianca !” Arya menahan lengan gadis itu. “Gue bener-bener…”


“Stop Arya,” Bianca mengangkat tangannya ke hadapan Arya. “Mau seribu kali elo ngomong nggak akan membuat keadaan seperi sebelumnya. Yang penting ke depannya harus dicari tahu kebenarannya.”Bianca tersenyum pahit.


“Kalau memang sudah takdir harus mengalami semua ini, mau menghindar dengan cara apapun tidak akan bisa.” lanjutnya kembali.


“Cepet sembuh aja, supaya bisa melakukan apa yang harus elo lakukan.” Bianca memganggukan kepalanya sambil kembali tersenyum tipis.


“Gue balik dulu guys,” Bianca pamit kepada teman-temannya yang sedari tadi hanya jadi penonton.


“Bianca,” panggil Joshua sebelum Bianca meninggalkan kamar bersama Della dan Mia. “Papa lo dirawat di lantai berapa ?”


“Nggak usah repot-repot, belum bisa dibesuk juga. Thanks ya,” Bianca tersenyum tipis. Dia sempat melirik ke arah Devano yang duduk di sofa, terlihat sosok itu hanya diam dan cuek sambil memainkan handphonenya. Ada rasa sedih di dalam batinnya. Ternyata Devano benar-benar tidak pernah melirik padanya sedikit pun. Bahkan di saat Bianca memerlukan penyemangat menghadapi situasinya saat ini, Devano tetap terlihat santai dan masa bodoh.


Bianca, Della dan Mia menghampiri mama Lisa yang nampak sedang ngobrol dengan salah seorang ibu paruh baya.


“Mama,” panggil Bianca dan mengangguk sopan pada ibu yang sedang ngobrol dengan mama Lisa.


“Ah, ini anak saya yang paling besar Bu Dinda.” Mama Lisa meraih pinggang Bianca dan membero kode untuk memberi salam.


“Bianca, Tante.”


“Dinda.”


“Siang Tante Lisa,” Mia menghampiri diikuti Della dan langsung menyapa. Mama Lisa tersenyum.


“Ayo duduk. Terima kasih sudah datang.”


“Makan siang dulu Tante,” Mia mengeluarkan beberapa kotak berisi makanan.


“Kalau begitu saya pamit dulu,,” Tante Dinda beranjak bangun dari kursinya.


“Sekalian aja makan sama kami, Tante,” tutur Mia. “Kami memang bawa lebih kok.”


“Terima kasih, bukan menolak rejeki tapi itu,” Tante Dinda menunjuk seorang pria paruh baya yang baru muncul dari lift. “Sudah ditunggu sama mantan pacar.” Tante Dinda tersenyum. Dan akhirnya pamit menghampiri suaminya yang baru datang.


Keempat wanita beda usia itu menikmati makanan yang dibawa oleh Mia dan Della tanpa membicarakan kondisi papa Indra yang memang masih belum ada perubahan. Setidaknya Della dan Mia sudah mengetahui kejadian yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2