Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 28 Tentang Arya


__ADS_3

Arya yang mendapat telepon dari papanya untuk segera pulang dan menemuinya akhirnya memilih tidak kembali lagi menemui Bianca. Arya hanya mengirim pesan singkat kepada Bianca dan langsung dijawab dengan tidak masalah dan terima kasih dari Bianca.


Mama Deasy yang tadi dijemput oleh Tante Angela akhirnya ikut pulang dengan Arya.


Sampai di rumah ternyata papanya sudah menunggu di ruang kerja bersama Om Hendra juga.


“Pa. Om Hendra.” Arya menyapa kedua laki-laki paruh baya yang sedang duduk berhadapan.


“Duduk Ya.” Papa Himawan beranjak dari kursi kerjanya dan berpindah ke salah satu sofa dekat Arya.


“Ada masalah penting, Pa ?”


“Kamu satu sekolah dengan anaknya Indra ?” Papa Himawan melepas kacamatanya dan menatap serius ke arah putra sulungnya.


“Iya pa, hanya beda jurusan. Arya IPA sedangkan Bianca IPS.”


“Kamu mengenalnya dengan baik ?” Papa Himawan mengangkat alisnya sebelah.


“Kalau yang papa maksud bersahabat sama sekali nggak. Tapi Arya pernah ngobrol beberapa kali dan pernah mengantarnya pulang saat dia sedang kena masalah di sekolah.”


“Kamu menyukainya ?” Pertanyaan papa Himawan membuat Arya langsung melotot kaget.


“Maksud papa ?”


Papa Himawan tersenyum tipis penuh arti.


“Sepertinya kalian punya hubungan spesial.”


“Nnngg… nggak pa. Kami hanya berteman.” Arya menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya sambil menggeleng-geleng.


“Yakin ?” Papa Himawan mendekatkan wajahnya sambil tersenyum curiga.


“Papa melihat kamu sangat khawatir dan perduli padanya… hmmm… siapa namanya ?” Papa Himawan menatap intens ke arah Arya.


“Bianca, Pa,” sahut Arya pelan.


“Papa merestui kalau kamu memang ada hati padanya.”


Deg


Pernyataan papanya membuat Arya langsung mengangkat kepalanya dan menatap sang papa dengan eskpresi tidak percaya. Seorang Himawan yang sangat tegas kepada anak-anaknya tiba-tiba memeberikan kesempatan pada anak sulungnya itu untuk mendapatkan gadis pujaannya.


“Nggak Pa.” Arya menggeleng kembali dengan suara pelan.


“Aku nggak mau jadi orang ketiga di antara mereka.”


“Mereka ?” Papa Himawan mengerutkan keningnya sambil menatap Arya kembali.


“Bianca sangat menyukai Devano, bahkan karena masalah itu Bianca sempat mengalami pem-bully an di sekolah oleh penggemar Devano.”


“Tapi Devano kan sudah dijodohkan dengan adikmu.”


“Pa,” Arya mengangkat wajahnya dan menatap papanya. “Devano tidak pernah menyukai Arini sebagai seorang wanita. Lagian Tante Angela juga sangat menentang perjodohan itu.”


“Kenapa kamu harus memikirkan perasaan orang lain kalau memang Bianca memang kebahagiaanmu ?”


Arya menggeleng dengan tetap bertatapan dengan papanya.


“Devano bukan sekedar seorang sahabat buat Arya, tapi sudah seperti saudara.”


“Kamu tau kan kalau Devano tidak pernah menolak langsung soal perjodohannya. Lagian Arini, adik kamu itu sangat menyukai Devano.”

__ADS_1


“Arini bukan mencintai Devano, dia hanya obsesi pada Devano.” Arya tersenyum tipis.


“Kamu itu calon penerus usaha papa, Arya. Kalau kamu punya sikap lembek seperti ini, bagaimana bisa menjadi seorang pemimpin perusahaan ?” Suara papa Himawan terdengar naik satu oktaf.


“Bisnis beda dengan persahabatan, Papa. Apalagi persaudaraan.” Suara Arya ikut meninggi.


“Devano memang tidak pernah menentang soal perjodohan, tapi dia juga tidak menerima.”


“Tapi dia tetap bertahan untuk tidak memiliki pasangan sampai Arini kembali ke Indonesia kan ?”


Tatapan papa Himawan terlihat sangat kesal.


Saat melihat bagaimana sikap putranya terhadap keluarga Pak Indra terutama pada putri Pak Indra membuat Pak Himawan lebih seksama memperhatikan perilaku Arya. Dia tau betul bahwa selama ini putranya tidak begitu tertarik memiliki pacar atau mendengar cerita tentang usaha Arya mendekati yang namanya perempuan. Meski sibuk, Pak Himawan selalu memantau perkembangan dan kondisi putranya melalui orang-orang kepercayaannya termasuk para guru di SMA Dharma Bangsa yang cukup dikenalnya dengan baik.


Pak Himawan merupakan salah satu donatur besar meski tidak sebesar keluarga Devano


“Devano bertahan dengan kondisi saat ini karena dia tidak mau ada keributan antara Om Harry dan Opa Ruby.”


“Arya..”


“Pa, Arya sudah menuruti keinginan papa untuk melanjutkan kuliah bisnis dan mengabaikan cita-cita Arya untuk menjadi dokter.” Arya menarik nafas panjang.


“Jadi kamu menyesal ?” Nada suara papa Himawan sudah tidak sekeras tadi.


“Tidak.” Arya menggeleng. “Dengan berjalannya waktu, Arya sadar tanggungjawab sebagai seorang anak laki-laki sulung keluarga Prayoga untuk meneruskan usaha keluarga yang sudah ada sekarang.”


Papa Himawan tersenyum lebar. Wajahnya sudah terlihat lebih tenang dan bahagia mendengar perkataan Arya.


“Tapi tolong untuk masalah pasangan hidup, papa jangan lagi memaksakan seperti Opa Ruby.”


Papa Himawan menatap Arya dengan kedua alis menaut.


“Please Pa.” Arya menangkup kedua tangannya si depan dada.


“Tolong papa berikan pengertian pada Arini juga supaya tidak memaksakan Devano menyukainya apalagi mewujudkan niatan Opa Ruby untuk menikahkan mereka.”


Papa Himawan tersenyum menatap Arya.


“Kamu terlihat tambah dewasa.” Ditepuk-tepuknya bahu Arya dengan penuh kebanggaan.


“Apa kamu yakin rela melepas seorang Bianca untuk Devano ?”


Arya menggangguk mantap.


“Keduanya sama-sama saling menyukai amat sangat. Tapi sayang masih ada beban tanggungjawab dan kekhawatiran dalam diri Devano yang membuat dirinya terus membangun tembok yang sulit ditembus.”


“Dengan kamu di sisinya sebagai seorang sahabat dan saudara, Devano pasti bisa meruntuhkan tembok itu.”


Papa Himawan semakin melebarnya senyumnya dan menepuk kembali bahu Arya.


“Terima kasih Pa atas kepercayaan dan dukungannya.”


Arya langsung memeluk papanya dengan penuh kasih sayang. Selama ini papa yang menjadi panutan hidupnya adalah sosok ayah yang tegas dan cukup keras mendidik anak-anaknya terutama kepada Arya sebagai seorang anak laki-laki satu-satunya yang akan menjadi penerus usaha keluarga mereka yang cukup ternama di bidang property.


Seiring berjalannya waktu ternyata Arya mampu melihat sisi lain sosok sang papa yang ternyata memiliki perhatian padanya. Saat ini Arya seperti mendapat satu kesempatan untuk membuktikan diri pada sang papa bahwa dia mampu menjadi seorang laki-laki sejati yang bertanggungjawab. Kepercayaan dan kebebasan untuk mengambil keputusan bagaikan angin segar yang membuat kecemasan Arya selama ini menjadi semangat baru.


Arya yang selama ini cemas dan khawatir jika pemikirannya tidak mampu memuaskan dan membahagiakan sang papa ternyata mampu tersenyum dan merasa lega dengan sikap sang papa saat ini.


“Yakin ya kamu melepaskan Bianca ?” Papa Himawan menegaskan kembali sebelum duduk kembali di kursi kerjanya.


“Yakin, Pa !” Jawab Arya tegas.

__ADS_1


“Atau kamu mau tetap dijodohkan dengan Diana ?” Papa Himawan menaikturunkan alisnya sambil tersenyum menggoda Arya.


“Kepinginnya nggak pakai jodoh-jodohan, Pa. Tapi nggak tau kalau nanti udah ketemu lagi sama anaknya.”


Arya ikut tersenyum melihat sikap sang papa.


“Ya sudah kalau begitu. Kamu boleh keluar dan istirahat.” Papa melambaikan tangannya memberi kode Arya untuk meninggalkan ruang kerja.


“Pa, mau ngomong sebentar sama Om Hendra.” Arya menoleh menatap Om Hendra yang duduk di salah satu sofa dan menjadi penonton percakapan kedua ayah dan anak itu.


“Ada yang bisa saya bantu Tuan Muda ?”


“Apa bisa Om Indra dipindahkan ke ruangan seperti kamar rawat inap biasa dengan penunjang tetap seperti di ICU ?”


“Memangnya ada masalah apa Ar ?” Papa Himawan yang bertanya dari balik meja kerjanya.


“Kasihan karena keluarganya bergantian menunggu dengan kondisi tidur yang tidak nyaman di ruang tunggu.”


Arya menatap papanya lalu kembali menoleh ke arah Om Hendra.


“Mereka tidak mau Tuan Muda.”


“Kamu tenang aja Ar, sekarang baik istri maupun anak-anaknya tidak ada yang bertugas jaga malam.” Papa Himawan kembali yang menjawab.


“Hendra sudah mengatur orang-orang kepercayaan untuk bertugas menunggu di sana saat malam secara bergantian.”


Arya mengangguk-anggukan kepalanya.


“Istri dan anak-anaknya menolak saat Pak Himawan ingin memberikan pelayanan VVIP.” Om Hendra menjelaskan.


“Mereka hanya meminta supaya perusahaan menyelidiki lebih lanjut masalah kecelakaan itu apa murni kecelakaan atau disengaja.”


“Hasilnya sendiri gimana, Om ?”


“Masih dalam proses Tuan Muda.”


Arya mengangguk kembali kemudian bangun dari tempat duduknya.


“Pa, Arya pamit dulu mau mandi.” Arya tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya untuk pamit.


Pak Himawan balas menggangguk sambil tersenyum. Hatinya benar-benar bahagia mendapati sikap putranya hari ini.


“Arya !” Arya menghentikan langkah dan menunda membuka pintu saat sang papa memanggilnya.


“Keberangkatan kamu dipercepat jadi pertengahan Juli.”


“Kenapa pa ? Bukannya kuliah baru dimulai bulan September ?” Arya menautkan alisnya.


“Om Hendra akan menemani kamu hingga menjelang kuliah untuk belajar di perusahaan cabang yang ada di London.”


“Oke Pa, diatur aja bagaimana baiknya. Asal Arya jangan sendirian pas belajar di perusahaan.”


“Iya pasti.” Papa Himawan mengangguk dan memberi kode Arya boleh keluar dari ruangan.


Arya menyusuri lorong lantai 2 menuju kamarnya- Ada rasa bahagia karena bisa berbincang-bincang dengan papanya dengan situasi seperti diskusi.


Teringat omongan papanya tadi bahwa Arya akan menjadi sahabat sekaligus saudara untuk Devano. Dia akan membantu Devano melepaskan tanggungjawab dari opanya yang selalu mengatur hidupnya. Gagal mengatur hidup Om Harry sebagai menantunya, Opa Ruby memaksakan kehendaknya pada Devano, satu-satunya cucu lelaki yang dimiliki Opa Ruby.


Adik satu-satunya dari Tante Angela yang saat ini tinggal di London bernama Tante Sisca, memiliki 2 anak dari pernikahannya dengan seorang pria keturunan Inggris. Kedua anaknya perempuan dan karena kondisi kesehatan, Tante Sisca tidak bisa menambah anak lagi.


Arya memasuki kamarnya dengan perasaan lega. Meski hati kecilnya masih sulit membuang rasa suka pada Bianca, tapi rasa sayangnya kepada Devano yang sudah dianggap saudara, membuat Arya bertekad akan membuat Devano dan Bianca bersatu.

__ADS_1


__ADS_2