Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 31 Selamat Tinggal Putih Abu-abu (2)


__ADS_3

Bianca dan Mia sudah kembali ke aula dan bergabung dengan teman-teman sekelas mereka. Della masih ada di sana tengah berbincang-bincang dengan beberapa teman dari kelas IPS lain.


Akhirnya Bianca menikmati sesi foto-foto terakhir dengan teman-temannya menggunakan seragam putih abu-abu. Tidak lupa Bu Yuli selaku walikelas diikutsertakan juga. Guru-guru lain pun ikut ditarik berfoto ria. Sesi terakhir foto kelas plus walikelas dengan gaya bebas.


Bianca mengambil tissue dari tas selempangnya dan menghapus peluh di wajahnya. Bahagia sekaligus sedih. Kenakalan masa remaja akan ditutup hari ini dan kenangan selama 3 tahun akan menjadi satu album yang tersimpan apik dalam memori dan hati.


“Kalian belum foto ya sama gue.” Arya muncul di tengah ketiga sahabat yang berdiri dekat pintu keluar aula.


“Ayo gue juga mau punya foto sama grup gresek.” Arya langsung merangkul bahu Della dan Bianca yang berada di dekatnya.


“Eeehhh apaan nih main rangkul-rangkul.” Della langsung sewot dan berusaha melepaskan tangan Arya.


Cowok itu malah tertawa dan langsung pasang pose siap berfoto.


“Ayo Mia langsung posisikan hape elo. Kan elo paling jago selfie.”


Arya sudah berdiri di antara Bianca dan Della dengan pose ala-ala james bond.


Mia yang memang senang berfoto langsung mengambil tempat di depan Arya dengan gaya centilnya dan memposisikan handphonenya untuk berfoto.


“Udah jangan cemberut, udah jelek tambah jelek.” Arya cekikikan melihat ke arah Della yang masih terlihat garang.


Beberapa siswa yang berada dekat situ banyak yang menghentikan langkah dan saling berbisik. Mereka tidak menyangka kalau Arya yang selama ini terkenal dingin dan cuek apalagi sama kaum perempuan bisa bergaya kecentilan begitu dengan Bianca dan kedua sahabatnya.


Mia pun mengambil beberapa foto dengan berbagai gaya. Tidak lama teman-teman Arya datang mendekat.


“Ya ampun, ini beneran Arya ?” Joshua melotot melihat Arya yang asyik berfoto dengan berbagai pose sesuai perintah Mia.


“Wadduuhh nih tiga cewek, yahg diajak cuma Arya doang.” Leo berkomentar dan langsung mencuri tempat saat Mia mengambil foto.


“Leo !” Pekik Mia. “Jelek kan tuh tiba-tiba nongol, separo pula.”


“Ya udah sih, tinggal diulang aja,” bela Leo.


Akhirnya sesi foto pun bertambah personilnya. Joshua, Ernest dan Leo sudah mengambil posisi yang muat dalam satu bingkai foto di layar handphone.


“Eh batal deh,” Mia menurunkan handphonenya dan langsung mendapatkan gerutuan dari semuanya.


“Eh lima sekawan, elo pada kagak sadar apa anggota elo berkurang satu ?“ Omel Mia.


Ernesr dan Leo yang melihat posisi Devano tidak jauh dari mereka sedang memainkan handphonenya langsung menghampirinya dan menarik tangan Devano.


“Eh mau ngapain ?” Devano yang tadi konsentrasi dengan handphonenya dibuat bingung karena langsung ditarik.


Matanya sempat bertatapan dengan Bianca, namun gadis itu cepat-cepat membuang muka ke arah lain.


Dan lagi entah siapa mengaturnya sekarang posisi Devano dan Bianca berdekatan. Bianca jadi merasa canggung untuk bergaya bebas.


Arya yang melihat gelagat Bianca langsung bergeser dari sebelah Devano ke sebelah Bianca.

__ADS_1


“Minggir, gantian gue di sini.” Arya menepuk bahu Della dan memintanya bergeser.


Della sempat mengangkat kedua alisnya tapi langsung mengerti saat Arya memberi kode dengan gerakan wajahnya.


Setelah 15 menit menyelesaiakan acara foto-foto, mereka sempat melihat hasil jepretan di handphoe Mia dan meminta supaya Mia mengirimkan ke nomor Joshua untuk dibagikan kepada yang lain.


“Capek ?” Mama Angela menepuk bahu Bianca yang sedang mengipas wajahnya dengan tangan.


“Siang Tante.” Bianca langsung menoleh dan memgangguk sambil tersenyum.


“Gimana Ma, jadi acara makan siangnya ?” Papa Harry yang menyusul ke sekolah setelah acara selesai mendatangi mama Angela.


“Jadi dong Pa. Ayo Bianca ajak teman-teman kamu juga. Siapa namanya ? Tante belum kenalan.”


“Eh nggak usah Tante. Kami mau pulang kok.” Bianca menggeleng menolak ajakan mamanya Devano.


“Sudah, ayo!” Mama Angela langsung merangkul lengan Bianca.


Bianca menoleh menatap Mia dan Della yang juga sedang menatapnya dengan wajah bingung. Bianca memberi kode dengan gerakan wajahnya supaya Della dan Mia melepaskannya daei mama Angela.


“Siang Tante.” Mia langsung berdiri mendahului Bianca yang berjalan bersama mama Angela dan papa Harry.


“Maaf Bianca sudah ada janji sama saya dan Della.” Tutur Mia kembali.


Mama Angela dan papa Harry menghentikan langkah mereka. Mama Angela mengerutkan alisnya dan menatap Bianca serta Mia bergantian.


“Oh iya maaf belum kenalan, Tante.” Mia mengulurkan tangannya. “Saya Mia, teman sekelas Bianca. Dan ini…” Mia menepuk bahu Della yang sudah ada di sebelahnya.


“Angela, mamanya Devano.”


“Harry, papanya Devano.”


Ternyata kedua orangtua Devano langsung menerima uluran tangan Mia dan Della yang memperkenalkan diri.


Sebelah tangan mama Angela masih merangkul lengan Bianca.


“Devano,” mama Angela menoleh ke arah Devano yang mengikuti di belakang.


“Ajak semua teman kamu dan Bianca plus orang tuanya untuk makan siang dengan mama dan papa. Di tempat biasa.”


“Tapi ma…”


“Tapi Tante…”


Bianca dan Devano bicara bersamaan.


“Nggak ada tapi ini itu. Tuh Tante Dewi sama Om Himawan sudah menunggu juga.”


Papa dan mama Arya ternyata sudah lengkap di situ dan menghampiri mereka.

__ADS_1


“Mana orangtua kalian, sayang ?” Mama Angela menatap satu persatu pada Bianca, Mia dan Della.


“Mereka menunggu di depan Tante,” jawab Della.


“Ya sudah diajak sekalian. Om sudah pesankan tempat dan cukup untuk semuanya.”


Tanpa mampu menolak, akhirnya 30 menit kemudian kedelapan lulusan itu plus orangtua mereka sudah berada di salah satu restoran yang memang sudah dipesankan oleh Papa Harry.


Lagi-lagi mama Angela mengatur supaya Bianca duduk satu meja dengannya bersama papa Harry dan Devano. Mama Lisa, mama Deasy dan papa Himawan serta Arya ikut duduk satu meja dengan mereka. Mama Angela dan mama Deasy begitu ramah mengajak bicara semua yang ada di meja makan., hingga mama Lisa yang awalnya merasa canggung akhirnya ikut ngobrol santai.


Bianca masih terlihat kaku dan mengurangi interaksinya dengan Devano yang ditempatkan duduk si sebelahnya. Di sisi kanannya duduk mama Lisa. Arya yang duduk persis di seberang Bianca beberapa kali menggodanya dengan gurauan atau ekspresi wajah yang membuat Bianca sebal.


Akhirnya acara makan siang yang kesemuanya ditraktir oleh orangtua Devano berakhir. Masing-masing berpamitan begitu juga dengan Bianca dan kedua sahabatnya.


“Kamu diantar sama Devano.” Mama Angela sudah menuntun Bianca menuju salah satu mobil yang baru saja diantar sopir.


Di kursi pengemudi ternyata sudah ada Devano duduk di sana. Mama Angela membukakan pintu depan di bagian kursi penumpang.


“Tapi Tante…” Bianca berusaha menolak.


Bianca menoleh ke arah mama Lisa yang sedang menatapnya sambil tersenyum. Namun posisi mama Lisa justru berada dekat mobil Mia bersama Della dan orangtua masing-masing.


“Selesaikan masalah kalian sebelum Devano berangkat ke Amerika. Tidak baik membiarkan masalah menggantung.” Mama Angela sedikit mendorong Bianca supaya masuk ke dalam mobil lalu menutup pintunya.


“Mama kamu aman diantar Mia.” Mama Angela tersenyum sambil menganggukkan kepala.


“Ingat pesan mama Devan.” Mama Angela membungkukkan badan supaya bisa melihat Devano dari jendela penumpang.


“Hmm.” Hanya itu jawaban Devano bahkan tanpa menoleh sedikit pun.


Tidak lama mobil yang ditumpangi Devano dan Bianca berlalu.


Mama Angela menghampiri mama Lisa beserta yang lainnya termasuk mama Deasy yang sudah ikut berdiri di sana. Sementara Arya berdiri dengan papa Harry dan papa Himawan. Ketiga sahabatnya sudah pulang duluan dengan mobil masing-masing.


“Maafkan saya pinjam anaknya dulu, Jeng Lisa.” Mama Angela langsung mendekati mama Lisa.


“Devano perlu diajar jadi laki-laki pemberani dan nggak kayak kanebo kering.” Mama Angela tertawa.


“Terlalu serius dia Angela.” Mama Deasy ikut tertawa sambil menimpali.


“Tidak apa-apa, kalau memang ada yang bisa Bianca lakukan untuk Devano.”


Arya sempat menatap kelompok ibu-ibu plus Mia dan Bianca yang sedang bicara. Dia agak terkejut juga kalo Devano menuruti perintah mama Angela untuk pergi berdua dengan Bianca. Begitu juga dengan Mia dan Della yang masih bertanya-tanya dalam pikiran mereka.


Tanpa mereka ketahui ternyata mama Angela diremani mama Deasy sempat berbincang-bincang saat pamit ke toilet setelah acara makan-makan berakhir.


Mama Angela yang ternyata mengetahui semua kejadian antara Devano dan Bianca selama di SMA termasuk perlakuan Nindi dan kawan-kawannya, bercerita banyak pada mama Lisa dan mama Deasy.


Mama Angela yang meminta ijin juga supaya mama Lisa membolehkan Bianca mengambil waktu untuk bicara dari hati ke hati dengan Devano.

__ADS_1


Sebagai orangtua apalagi seorang ibu, mama Angela bisa melihat sedikit perasaan yang disembunyikan oleh Devano. Kejadian terakhir di sekolah membuatnya yakin jika keduanya tidak dibantu didekatkan kembali maka semuanya hanya akan terpendam dalam hati mereka.


__ADS_2