
Suasana sempat hening karena baik Bianca atau Sella tidak mengucapkan apa-apa. Udara masih terasa sejuk meskipun matahari mulai bergerak makin tinggi.
“Kamu menyesal sekarang hamil anaknya Andre, Sel ?”
“Nggak sama sekali Bi,” lirih Sella sambil mengelus perutnya yang masih rata.
“Aku stress karena tidak menyangka akan secepat ini. Baru sekali kami melakukannya. Aku takut papa dan mama akan mengusirku dan membuang aku sebagai anak mereka. Tapi jika aku dikasih pilihan antara menggugurkan anak ini atau diusir dari rumah, aku akan mengambil pilihan kedua.”
Bianca tersenyum mendengar perkataan Sella. Anak manja yang susah menerima penolakan ternyata seorang calon ibu yang sangat bertanggungjawab meski usianya sangat muda.
“Kenapa kamu mau mempertahankan bayimu ? Bukankah kamu mencoba bunuh diri sampai minum racun serangga dan itu sangat membahayakan janinmu.”
“Aku sempat histeris saat sadar pertama kalinya karena aku sadar kalau perbuatanku bisa membunuh bayiku. Aku begitu cemas Bi. Dan aku bersyukur saat dokter kandungan mengatakan bahwa janinku baik-baik saja. Aku ingin dia tetap hidup dan lahir ke dunia ini, Bi. Karena aku sadar tidak mungkin memaksakan hatiku pada Andre, dan kehadiran bayi ini pasti membuat aku bisa mencurahkan rasa cintaku pada Andre meski tidak bisa memiliki.”
Bianca tersenyum melihat Sella yang mengelus-elus perutnya dengan penuh kasih sayang.
“Apa papa dan mama kamu sudah tahu tentang kehamilan ini ?”
.
”Sudah sebelum mereka pergi keluar kota.”
“Mereka memarahimu sampai mengusirmu saat tahu kamu hamil ?”
“Marahnya mama melebihi papa. Tapi aku sudah terbiasa dengan sifat mama. Kalau papa dan kak Desta lebih menanyakan siapa ayah dari bayiku.”
“Kamu akan cerita sama mereka ?”
“Bi, bisakah untuk masalah Andre kamu bersikap sebagai seorang psikolog dan aku adalah pasienmu ?”
“Maksud kamu ?”
“Sejauh yang aku tahu, curahan hati pasien menjadi rahasia antara pasien dan psikolog nya ya ?” Sella menatap Bianca dengan wajah polosnya.
“Jadi hari ini aku sahabat atau konselor kamu ?” Bianca mengerling sambil tersenyum.
“Terserah kamu, Bi. Hanya aku mohon jangan sampai sebut nama Andre.”
“Apa Andre sudah tahu masalah kehamilan kamu ?”
Sella menggeleng dengan wajah sendu.
“Aku nggak mau maksa Andre lagi, Bi. Kalau orangtua kami tahu, mereka pasti akan memaksa menikah sebagai bentuk pertanggungjawaban Andre, dan aku nggak mau itu terjadi. Kalaupun Andre menerima, pasti karena terpaksa dan akhirnya aku akan tersiksa juga. Jadi biarlah hanya aku yang tahu siapa ayah bayiku ini.”
“Jangan mencoba bunuh diri lagi karena menyesal nantinya.”
“Nggak bakalan Bi. Kebodohan itu nggak akan aku ulangi lagi. Kesempatan aku bisa selamat adalah anugerah Tuhan yang membuat aku sadar bahwa semua ini adalah tanggungjawab atas perbuatanku sendiri.”
Bianca membiarkan Sella larut dengan pikirannya sendiri, dilihatnya gadis manja itu tampak dewasa saat mengungkapkan isi hatinya.
“Bi, perasaanku sama Andre disebut cinta atau obsesi ?” Sella menatap Bianca dengan mata berkaca-kaca.
“Aku salah ya Bi karena terlalu menginginkan Andre jadi milikku ?”
Bianca berpindah tempat duduk dan menggenggam tangan Sella sambil tersenyum. Sella kembali menangis di bahu Bianca.
“Awalnya perasaanmu seperti orang yang terobsesi. Namun dengan kehadiran bayi ini..” Bianca menyentuh perut Sella. “Kamu telah mematangkan hatimu bahwa perasaanmu bukan obsesi tapi cinta. Karena cinta mengajarkan untuk memberikan yang terbaik untuk orang yang kita sayangi tanpa harus memaksanya menberikan balasan. Cinta mengajarkan kita untuk merelakan orang yang kita cintai bahagia sekalipun tidak bersama kita atau kita miliki.”
“Terima kasih Bi, terima kasih.” Sella memeluk pinggang Bianca dari samping dan tetap meletakkan kepalanya di bahu Bianca.
“Seandainya kamu juga bisa mencintai Kak Desta dan menjadikannya pelabuhan terakhirmu, aku akan bahagia punya kakak ipar seperti kamu.”
__ADS_1
Bianca kembali mengusap jemari Sella yang digenggamnya.
“Kamu belum tahu aja sifat asliku Sella.” Ledek Bianca sambil tertawa kecil.
Sella melerai rangkulannya dan menjauhkan kepalanya dari pundak Bianca lalu menatapnya sambil mengernyit.
“Memang kamu jadi-jadian ?” Sella dan Bianca tertawa.
“Kak Desta cukup pusing menghadapiku saat kami masih kerja di kantor yang sama.” Bianca terkekeh.
“Lagipula sama seperti kamu, aku juga menyukai Devano sejak kelas 8. Saat lulus SMA aku sudah bertekad melupakannya tapi ternyata teman-temanku dan keluarga Devano seperti tidak merestui kalau aku melepaskan perasaanku dari Devano.”
“Apa alasan mereka memaksamu ?” Sella menautkan alisnya.
“Mereka berkeyakinan kalau Devano juga memiliki perasaan yang sama denganku.”
“Lalu apa itu terbukti ?”
Bianca tersenyum lalu mengangkat kedua bahunya.
“Devano tetap bersikukuh kalau dia tidak pernah sedikitpun menyukai aku. Tapi kadang-kadang di saat aku magang di kantornya, beberapa kali perlakuan Devano justru membuat aku merasakan kalau dia memang punya sedikit perasaan suka padaku.”
“Kenapa kamu nggak tanyakan langsung, Bi ?”
“Sudah Sel, sudah aku lakukan sebelum aku mengambil keputusan untuk melepaskan Devano seutuhnya tanpa mempertimbangkan pandangan orang lain. Dan dia tetap pada pernyataannya kalau dia tidak pernah menyukai aku sedikitpun.”
“Kalau kamu sudah berniat melepaskan Devano, kenapa tidak belajar membuka hatimu untuk Kak Desta ?”
Bianca kembali tersenyum sambil menatap Sella.
“Sama seperti kamu, aku juga butuh waktu untuk menerima orang lain masuk dalam hatiku. Kamu sendiri ngerasain kan kalau nggak segampang itu.”
“Akan aku minta Kak Desta sabar menunggu kamu.” Wajah Sella berubah menjadi penuh semangat.
“Lalu harus bagaimana ?” Sella menatap Bianca sambil mengerjapkan matanya.
“Biarkan semua berjalan dulu apa adanya Sella. Sama seperti keputusanmu untuk mempertahankan bayi ini tanpa memberitahu siapapun siapa ayahnya.
Biarkan semua berjalan dulu apa adanya.”
Bianca meraih kembali jemari Sella dan menepuk-nepuk punggung tangannya.
“Aku akan selalu menjadi sahabat dan teman bicaramu kapanpun kamu butuhkan.”
“Aku juga mau dong punya teman bicara kayak kamu, Bi.”
Suara bariton yang terdengar dari dalam rumah membuat kedua gadis itu menoleh.
“Loh katanya kamu banyak meeting penting hari ini ?” Tanya Bianca.
“Iya. Meeting pagi ini ternyata cepat selesai. Meetingberikutnya baru jam 1, jadi aku memutuskan untuk mampir dan menengok 2 bidadari ini.”
Desta mendekat dan ingin merangkul kedua wanita di depannya. Bianca yang sudah membaca gelagatnya buru-buru bangun hingga membuat Desta urung merangkul keduanya.
“ Kok bangun Bi ?” Sella menatap dengan wajah bingung.
“Mau ke kamar mandi dulu, kebanyakan minum.”
“Alasan !” Desis Desta. Dia langsung tertawa saat melihat Bianca langsung melotot padanya.
Bianca pun berlalu masuk ke dalam menuju kamae mandi.
__ADS_1
“Gimana kabar adikku hari ini ?” Desta meraih jemari Sella dan mengelusnya penuh kasih sayang.
“Terima kasih karena sudah meminta Bianca menemaniku,” Sella merebahkan kepalanya di pundak Desta.
“Sudah merasa lebih baik ?”
Sella hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Kalau kamu jenuh di rumah dan mau jalan-jalan, tanyakan sama Bianca apa dia bisa menemani kamu. Mumpung dia masih pengangguran.”
“Kakak bayar dia sebagai psikolog profesional buat aku ?” Sella mengangkat kepalanya dan menatap Desta.
“Bianca bukan model orang begitu, Sel,” Desta terkekeh. “Bisa-bisa dia ngamuk kalau aku paksa mau bayar dia. Aku minta tolong sebagai sahabat dan dia membantuku juga sebagai seorang sahabat.”
“Nggak ada niatan buat deketin Bianca biar jadi pacar gitu ?”
Desta tertawa lalu mengacak rambut Sella.
“Kalau jodoh nggak akan lari kemana Sel. Udah oernah ditolak sama Bianca, jadi biar aja kita jalanin apa adanya.”
“Kak Desta mencintai Bianca ?” Sella menatap Desta dengan wajah serius.
Desta kembali tertawa mendengar pertanyaan adiknya.
“Buat pria seumur aku mau carinya teman hidup bukan lagi sekedar pacar. Kalau aku cinta tapi ceweknya nggak mau, masa aku harus paksa kayak siti nurbaya. Jadinya obsesi bukan cinta.”
Sella terdiam dan menundukkan kepalanya. Teringat perasaan cintanya pada Andre yang bertepuk sebelah tangan. Perbuatan nekadnya hingga menghadirkan janin tidak berdosa di rahimnya. Perasaan obsesi yang membuat Sella jadi gelap mata dan berbuat tanpa berpikir akibatnya.
“Perut kamu sakit ?” Desta menyentuh tangan Sella yang sedang mengelus perutnya. Sella menggeleng.
“Kak, bayi yang ada di perutku hadir mungkin karena aku terlalu obsesi, tapi….”
“Jadi kamu bukannya diperkosa ?” Potong Desta cepat dengan wajah mengernyit.
Sella terdiam dan kembali menundukan wajahnya. Bulir air mata kembali keluar dari pelupuk matanya.
“Katakan siapa yang harus bertanggungjawab Sel !” Nada suara Desta sedikit meninggi dan terdengar sangat mendesak jawaban Sella.
Desta kembali meraih jemari Sella dan menggenggamnya erat.
“Sel…” panggil Desta dengan nada lebih lembut.
Bianca masih berdiri di belakang tembok dekat pintu sejak Sella menanyakan niatan kakaknya untuk mendekati Bianca. Sengaja Bianca tidak segera menghampiri supaya keduanya punya waktu untuk ngobrol. Saat melihat situasi yang bisa membuat Sella kembali tidak nyaman, Bianca memutuskan untuk mendekati kedua kakak beradik itu.
Bianca menyentuh bahu Desta pelan dan membuat lelaki itu menoleh. Bianca menggelengkan kepala sebagai kode supaya Desta tidak memaksa Sella untuk bicara.
“Desta, Bi Isa nanya kamu mau makan siang di rumah atau langsung balik kantor.” Bianca mencoba mengalihkan topik pembicaraan
Sella menghapus air matanya dan mengambil tissue untuk membersihkan seluruhnya.
“Eh aku lupa loh kalau kemari sama Heri.”
“Siapa Heri ?” Bianca mengernyit
“Asistenku.”
Bianca hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Desta.
“Kalau begitu aku makan siang di rumah aja. Sudah lama nggak makan siang bareng kesayanganku ini.”
Desta langsung merengkuh Sella dengan penuh kasih sayang. Sella membalas memeluk pinggang Desta.
__ADS_1
Bianca tersenyum melihat interaksi keduanya.
“Kamu harus bersyukur memiliki kakak sebaik Desta, Sel. Namun sayang aku hatiku belum bisa tersentuh dengan perasaan Desta. Semoga kami tetap bisa menjadi sahabat baik meski aku tidak bisa membalas perasaan Desta saat ini.”