
“3 bulan yang lalu gue nembak Revan.”
Ekspresi Bianca terlihat santai saat menyampaikannya pada Della.
“What ?” Pekik Della setengah berteriak. Matanya membelalak menatap Bianca yang tersenyum.
“Elo kagak kapok pernah ditolak Devano ?”
Bianca tetap tersenyum. Tidak lama pelayan mengantarkan pesanan minuman dan cemilan. Keduanya mengucapkan terima kasih setelah pelayan mempersilakan mereka menikmati hidangan.
“Sebetulnya gue nggak punya perasaan apapun sama Revan. Cuma perasaan nggak enak karena selama dua setengah tahun dia bersikap sangat baik sama gue.”
“Terus elo mengartikan kebaikannya itu kalo dia punya perasaan khusus sama elo ?”
“Nggak begitu.” Bianca menggeleng.
“Bukan cuma di depan Dewi, tapi juga teman-teman kampus gue, Revan tuh sering ngomong kalau dia itu masa depan gue.”
“Pernah nembak elo langsung ?”
Bianca menggeleng dan mengambil kentang goreng.
“Cuma setiap ada cowok mulai dekat sama gue, Revan tuh langsung mepet dan terang-terangan bilang sama cowok itu kalo dia itu udah ditakdirkan jadi masa depan gue.”
“Dan cowok-cowok itu jadi nggak lanjut deketin elo ?”
Kali ini Bianca ganti mengangguk.
“Elo bayangin dua tahun lebih diperlakukan kayak begitu. Tapi perasaan gue biasa aja sama dia. Malah bikin gue nggak enak, apalagi dia bersikap baik banget. Hampir tiap weekend gue dianter pulang dari kost an ke rumah.”
“Elo nggak ada getar-getar gimana gitu ?” Della memicingkan matanya memastikan perasaan Bianca.
“Nggak ada sama sekali. Kayak gue ke Arya aja.”
“Terus elo kok malah nembak dia ?”
“Gue curiga kalau dia ada hubungan khusus sama Diana.”
“Karena ada pihak ketiga elo baru menyadari perasaan elo sama Revan ? Makanya cepat-cepat nembak dia karena takut ditikung ? Malah yang nikung adiknya Devano lagi.”
“Dih bukan begitu ya,” Bianca mencibir.
“Pas kita olahraga bareng di XX dan nggak sengaja ketemu Diana sama Arini, gue lihat Revan akrab sama Diana. Bukan sekedar akrab karena Revan teman kakaknya, tapi lebih istimewa.”
“Elo cemburu ?”
Bianca melotot ke arah Della dan melempar satu kentang ke sahabatnya. Della tertawa.
“Udah dibilang gue kagak ada perasaan apa-apa sama Revan.”
“Terus kenapa sampai putusin nembak dia ?”
“Gue kok punya feeling kalau kebaikan Revan ada hubungannya sama Devano.”
“Elo yakin nggak ke pedean ?” Della mencibir.
“Diana pernah ngajak ketemu berdua di Cafe Pelangi setelah acara olahraga itu. Bukan sekedar membahas Arini sebagai sahabatnya, tapi malah dia minta gue mempertahankan perasaan gue sama Devano.”
“Apa bukan itu taktik Diana supaya elo nggak suka sama Revan, sementara dia tahu gimana Revan dekat sama elo ?”
Bianca menggeleng dan mengalihkan pandangannya sejenak ke arah lain.
__ADS_1
“Kalau dari sudut pandang gue nggak begitu. Gue kepikiran kalau Revan sama Diana memang punya hubungan khusus dan mereka berdua berusaha menjodohkan gue sama Devano.”
“Kayaknya gara-gara kuliah psikologi elo jadi belajar untuk jadi cenayang juga ?”
“Eh psikolog bukan cenayang ya !” Bianca melotot dan dibalas dengan tawa oleh Della.
“Jadi maksud elo selama dua setengah tahun itu sikap Revan punya tujuan menjaga elo supaya nggak pindah ke lain hati selain Devano ?”
Bianca mengangguk-angguk dan menyedot minuman cokelatnya.
“Terus Diana sendiri gimana ? Kan dia nggak kenal elo. Lagian kalo nggak salah adiknya Arya yang kata Arya sahabatnya itu kan udah dijodohin sama Devano.”
“Pas di Cafe Pelangi malah Diana beberapa kali menegaskan supaya gue tetap menjaga hati gue buat Devano dan jangan peduli dengan Arini.Biar Arini jadi urusan dia, Tante Angela dan Arya.”
“Jadi elo mau bertahan untuk Devano ?”
“Nggak !” Jawab Bianca cepat.
“Keinginan supaya gue sama Devano kan datang dari keluarganya bukan dari Devano. Gila apa gue bertahan untuk sesuatu yang nggak jelas !”
“Terus tujuan elo nembak Revan sebetulnya buat apa ?”
“Gue mau membuktikan kalau dia memang ada hubungan khusus sama Diana.”
“Pacaran gitu ?”
“Iyalah masa istri,” Bianca mencebik. “Revan tau gimana sikap gue kalau sampai pacaran beneran sama dia. Selain dia sendiri sebetulnya nggak punya perasaan khusus sama gue, dia pasti mau menjaga hati Diana.”
“Ribet banget sih, kayak konspirasi politik.” Della menggeleng-gelengkan kepala sambil menikmati minuman espressonya.
“Dan sepertinya dugaan gue bakal segera terbukti. Revan memang udah pacaran sama Diana sebelum mendekati gue di kampus. Dan sikapnya yang menjauhkan cowok-cowok dari gue adalah bagian rencana yang dia susun sama Diana.”
“Gue pura-pura nggak tahu aja kalo Revan sama Diana punya hubungan khusus.”
“Makanya daritadi pas makan bareng mereka elo nggak ngomong kecuali ditanya ?”
Bianca hanya mengangguk. Keduanya hening karena menikmati makanan masing-masing.
“Kenapa elo nggak tanya langsung aja sama mereka Bi ?”
“Buat apaan gue cari tahu soal begituan.”
“Yah setidaknya elo sendiri punya kejelasan, apa bener tujuan mereka menjadi mak comblang elo sama Devano.”
“Ogah banget !”
“Bi,” Della memajukan sedikit badannya condong ke Bianca.
“Sebenarnya elo masih punya perasaan cinta nggak sama Devano ?”
Bianca diam sejenak dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia menarik nafas panjang. Disedotnya minuman cokelat hingga tandas.
“Kalau ingat gimana sikap Devano terakhir pas gue dikerjain sama Nindi, hati membuang jauh-jauh rasa suka sama Devano. Tapi sampai sekarang, tiap kali ada cowok yang deketin gue, kok rasanya belum bisa membuka hati.”
Della tertawa kecil dan menyentil kening Bianca.
“Sakit Della !” Bianca cemberut sambil mengusap-usap keningnya.
“Sembilanpuluh persen artinya elo belum bisa move on dai Devano.”
“Apa iya ?” Bianca menautkan alisnya.
__ADS_1
“Dasar bucinnya Devano !” Della mencibir sambil tertawa.
“Gue pengen banget mulai hubungan sama cowok, tapi kok ya belum ada yang melebihi Devano dari sudut pandang gue.”
“Kenapa elo nggak ngomong aja sama Revan dan Diana buat bantu elo biar jadian sama Devano.”
“Ide gila !” Bianca melotot. “Mana ada cara begitu dalam kamus gue.”
“Tapi kirim surat cinta duluan !” Della mencebik lagi.
“Itu khilaf.” Bianca menjawab sambil nyengir.
“Ada lagi kirim surat cinta karena khilaf. Nanti elo nyesel loh pas pulang ke Indonesia, Devano udah bawa gandengan. Mana bule, cakep pula.”
“Biarin aja !” Bianca langsung mengerucutkan bibirnya hingga maju 5 senti. Della langsung tergelak.
“Jadi elo mau biarinin aja situasi antara elo, Revan sama Diana ?”
Bianca terdiam kembali. Dia sedang memikirkan perkataan Della mau bagaimana kelanjutannya.
“Memangnya pas elo nembak, Revan jawab apa ? Dia nolak atau gimana ?”
“Revan shock dan diam aja. Gue sempet nunggu 15 menit tapi dia tetap diam aja. Akhirnya gue bilang, dengan sikap elo begini berarti elo nolak gue.”
“Terus ?”
“Ya habis itu gue tinggalin aja dia sendirian.”
“Terus ?”
“Kebiasaan !” Bianca mendelik. “Belum selesai ngomong pengennya cepet-cepet aja.”
Della hanya tertawa. Jarang-jarang melihar sisi kekanak-kanakan Bianca seperti saat ini.
“Setelah kejadian penembakan itu, Revan nggak pernah datangan gue lagi di kampus, apalagi nawarin pulang bareng pas weekend. Dewi sempet nanya juga sih, tapi gue belum cerita sama Dewi kalo gue nembak Revan.”
“Perlu saran ?” Della mengerlingkan matanya menggoda.
“Nggak perlu !” Bianca langsung sewot.
“Mending elo kerjasama deh sama Revan dan Diana buat dapetin Devano.”
“Ogah ! Bener-bener emoh kalo yang itu. Gue bukan ditolak sekali karena surat cinta ya… Diomelin Devano supaya nggak cari-cari perhatian sama nyokapnya iya, dan yang paling nyakitin pas gue di bully sama Nindi dia bahkan nggak anggap gue.”
“Terus gimana mau elo ?”
“Kalo memang Devano punya perasaan yang sama ke gue, biar dia yang ngomong ke gue atas kemauannya sendiri bukan karena dipaksa sama orang.”
“Nah soal Revan dan Diana, elo mau membuat keduanya dalam posisi nggak nyaman karena menganggap elo marah setelah Revan menolak elo tapi malah kedapatan jalan sama Diana ?”
Bianca diam dan menarik nafas panjang kembali.
“Biarkan dulu apa adanya. Gue nggak mau punya skenario apapun buat perasaan gue sama Devano.”
Della terdiam dan menatap wajah Bianca yang sedikit menunduk. Tangannya memainkan sedotan dalam gelas minumannya yang sudah habis.
“Elo yakin ? Kalau sudah yakin nggak boleh nanti menyesal.”
“Iya gue yakin !” Jawab Bianca pelan.
“Kata orang jodoh nggak akan lari kemana. Jadi biarkan keadaan sekarang berjalan apa adanya.”
__ADS_1