
Pagi kembali datang dengan cuaca sedikit mendung. Mama Lisa yang susah tidur pulas semalam sudah mandi dan bersiap kembali ke rumah sakit padahal waktu masih menunjukkan pukul 05.30 pagi. Mama Lisa mencoba mencari kesibukan di dapur dengan membuat sarapan untuk mereka bertiga. Rencananya mama Lisa akan mengajak Bianca sarapan bersama Bernard di rumah sakit. Bianca terlonjak kaget saat mendengar alarm di handphonenya berbunyi. Dia memang sengaja menyetel alarm rutin setiap pagi dari Senin sampai Jumat untuk membantunya bangun dan bersiap ke sekolah.
Pagi ini kepalanya terasa pusing. Semalam Bianca menemani mama yang masih sering menangis di kamarnya. Jam 3 subuh saat terbangun karena haus dan melihat mamanya tertidur pulas, Bianca memilih kembali ke kamarnya. Sebelum tidur kembali, Bianca sempat menyiapkan pakaiannya dan milik Bernard yang akan dibawa ke rumah sakit dalam satu tas ransel kecil. Matanya ingin terpejam kembali karena mengingat hari ini sekolah libur. Tapi sontak Bianca bangun dan langsung loncat dari tempat tidur karena teringat papanya yang sedang terbaring di rukah sakit. Bianca memegang kepalanya yang masih cukup pusing. Namun sayup-sayup dia mendengar ada suara berisik dari luar. Bianca membuka pintu kamarnya sejenak dan melongok. Di dengarnya suara peralatan masak yang beradu dari dapur. Bianca memutuskan untuk mandi terlebih dahulj sebelum menghampiri mama Lisa di dapur. Dia tidak ingin mama Lisa melihat matanya bengkak karena sempat menangis mengeluarkan perasaan yang ditahannya di rumah sakit.
“Ma,” Bianca menyapa mama Lisa yang sedang sibuk menata makanan di dalam wadah plastik.
“Sudah mandi ?” Mama Lisa menatap Bianca sejenak kemudian melanjutkan aktivitasnya.
“Sudah ma. Mama juga sudah mandi ?”
Mama hanya mengangguk dan memasukkan kotak-kotak berisi makanan ke dalam tas kain.
“Bianca bantu ma.”
“Sudah selesai kok. Yuk kita berangkat.” Mama mulai merapikan meja makan.
“Bibi pesan taksi online dulu ma.” Bianca membuka handphonenya dan mulai memesan taksi online lewat aplikasi. Bianca belum bisa setir mobil karena selama ini papa Indra tidak mengijinkan. Apalagi mobil yang dipakai papa Indra adalah milik kantor tempatnya bekerja.
Mau naik motor matic ada rasanya tidak tega membawa mama Lisa pagi begini naik motor. Bianca khawatir mamanya sakit karena dalam kondisi capek fisik dan pikiran.
Sepuluh menit kemudian taksi pesanan sudah datang dan karena masih lumayan pagi jalanan belum terlalu macet. Hanya 30 menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit.
Sampai di ruang tunggu, mama Lisa dan Bianca mendapati Bernard masih tertidur dalam balutan sleeping bag yang biasa digunakannya untuk kegiatan camping. Mama Lisa sempat menyentuh sudut matanya melihat kondisi anaknya yang tertidur pulas meski di lantai berkarpet meski tanpa batal guling.
“Biar Bianca bangunkan, ma.” Bianca baru saja hendak melangkah memasuki ruang tunggu khusus pasien ICU yang dibatasi pintu kaca, namun mama Lisa menahannya.
“Biar saja dulu. Takutnya belum lama bisa tidur.”
Bianca menoleh dan menggangguk pelan kemudian menuntun mama Lisa untuk duduk di salah satu deretan bangku panjang yang tersedia di depan ruangan.
“Sudah lapar Bi ? Semalam kamu makan sedikit.” Mama hendak mengeluarkan kotak-kotak bekal dari tas kain namun dicegah oleh Bianca.
“Nanti saja tunggu Ben, ma.” Jawab Bianca sambil tersenyum menatap wajah mama Lisa yang terlihat letih dan mata yang sembab. Ben adalah panggilan kesayangan keluarga untuk Bernard.
“Mama istirahat dulu aja. Bisa tiduran di sini ma, biar paha Bianca jadi bantalan mama.” Bianca menggeser duduknya tiga kursi dan menepuk-nepuk pahanya untuk dijadikan bantalan mamanya tidur.
“Tidak usah Bi, mama bisa tidur sambil duduk.” Mama Lisa merapatkan mantel woolnya dan mulai merubah posisi duduk dengan menyandarkan kepala ke tembok. Bianca hanya tersenyum dan kembali mengambil tempat duduk lebih dekat ke mama Lisa. Posisinya berjarak satu kursi dimana kursi di antara mereka digunakan untuk meletakkan bekal sarapan yang dibawa.
Jam 07.30 kegiatan di sekitaran ruang ICU mulai terlihat sibuk. Beberapa dokter tampak mulai bergantian datang untuk mengecek kondisi pasien-pasien yang dirawar di ruang ICU. Mama dan Bianca menghampiri dokter yang menemui mereka kemarin saat melihat dokter itu keluar dari ruang ICU.
“Belum ada perkembangan yang berarti, Bu.” Dokter menggelengkan kepala saat mama Lisa dan Bianca sudah berdiri di depannya.
“Terima kasih, dok.” Bianca mengganggukan kepalanya dan memegang lengan mama Lisa yang hanya diam.
“Saya permisi.” Dokter itu menganggukan kepalanya sebelum berlalu.
“Ma, kak,” Bernard sudah berdiri di belakang keduanya. “Sudsh lama sampai di sini ?”
Bernard baru saja selesai mencuci mukanya dan menggosok gigi di kamar mandi dekat situ. Begitu keluar, didapatinya mama Lisa dan kakaknya sedang berdiri depan pintu ICU dan terihat dokter sudah berlalu.
“Sarapn dulu yuk, ma. Aku lapar.” Bernard berusaha memecah keheningan yang menyelimuti mama Lisa dan Bianca.
“Eh mama sudah bawa Ben.” Mama berjalan menuju kursi yang tadi didudukinya dalam gandengan Bianca sedang Bernard mengikuti keduanya.
Bertiga mereka menikmati sarapan yang sudah disiapkan mama Lisa. Sesekali Bernard mencoba mengajak bicara hal-hal lain supaya mama Lisa terutama tidak terlalu terbebani dengan kondisi papa Indra saat ini. Bernard sempat bertanya juga soal ujian SNMPTN yang diikuti Bianca kemarin.
Jam 09.30 Bermard pamt untuk kembali ke rumah dan istirahat di sana untuk mengembalikan lagi kondisi tubuhnya untuk menjaga papa Indra nanti malam. Dan Bianca menemani mama Lisa menunggu di rumah sakit.
__ADS_1
Bianca membuka ponselnya yang tidak tersentuh sejak kemarin siang masih dalam mode diam. Mama Lisa tampak memejamkan mata di sampingnya. Tas bekal sudah dibawa pulang oleh Bernard.
Bianca menyentuh aplikasi percakapan yang merupakan grup nya dengan Mia dan Della.
Mia : Bibi… Bian… Gimana ujiannya ?
Della : Susah nggak Bi ?
Mia : Bibi…. Bian… kok diem aja sih ? Molor ya ?
Della : Kecapekan kayaknya Mi, habis jadi pejuang
masa depan 😜😜
Itu adalah pesan yang diterima kemarin dengan petunjuk waktu jam 16.15. Dan ternyata malamnya sekitar jam sepuluh kedua temannya kembali mengirim pesan ke grup mereka.
Mia : Bibi… Bian…. Udah bangun dari bobo cantiknya ?
Della : Bi, gimana ujian tadi siang ?
Ada jeda 15 menit sebelum pesan berikutnya masuk kembali.
Mia : Duuhh nih bocah kemana sih ? Apa jangan-
jangan lagi sibuk pacaran ? 😩😡
Della : Dasar Minimi… mana ada cerita Bianca.
pacaran.
Mia. : Ddiihh siapa tahu aja Bianca diam-diam
Della : Heh bocil jangan sembarangan ngomong lo !
Mia : Maap eyang putri 😛😛🙏🙏🙏
Della : Apa lo kata ? Eyang ? Sejak kapan gue kawin
sama opa elo ? Lagian amit-amit punya cucu
modelan kayak elo
Mia : wkwkkwkwk kaabbooorrr 🏃🏼♀️🏃🏼♀️
Della : 😤😤😡😡
Mia : Bibi… Bian… yuuhhuuuu… Ujian udah selesai
semua, kagak perlu semedi cari wangsit lagi
Dan itulah pesan terakhir yang ada di grup mereka semalam.
Bianca : Morning 🙂 Sorry baru pegang hp.
Gue di rumah sakit, bokap kecelakaan.
Kemarin habis ujian gue dianter sama Bu
__ADS_1
Yuli, Pak Edi sama Pak Min ke RS
Mia : Whaatttt ?? Beneran ? Duuhhh maaf baru
tahu sekarang Bi.
Ternyata Mia sudah bangun dan langsung merespon pesannya. Bianca melihat notifikasi waktu di handphonenya jam 09.15.
Della : Bi, di rumah sakit mana ? Gue sama Mia ke
sana hari ini
Della pun ikut merespon pesannya sesudah Mia.
Bianca : papa masih di ICU belum bisa dibesuk juga
Mia : nggak apa-apa Bi, paling nggak kita bisa
ketemu mama Lisa.
Bianca : papa di rumah sakit xxxx. Ruang ICU ada
di lantai 2.
Della : Jam 11 an kita sampai sana Bi
Bianca : 👌🏻👌🏻
Waktu terus berlalu. Mama Lisa sudah bangun dari tidurnya dan mencuci muka di kamar mandi. Jam 11.15. Kedua temannya belum kelihatan atau menghubunginya kalau sudah sampai di rumah sakit.
“Ma, Bianca turun dulu ya cari makan buat kita.” Bianca menepuk pelan bahu mamanya.
“Kamu nggak ngantuk Bi ?” Bianca menjawab dengan gelengan kepala. Sebetulnya dia masih merasakan sedikit pusing apalagi AC di ruang tunggu cukup dingin dan Bianca lupa membawa jaket atau mantel.
“Mama nggak apa-apa sendiri dulu ?”
“Pergilah cari makan dulu.” Mama Lisa tersenyum tipis.
Bianca menggosokkan kedua telapak tangannya saat menuruni tangga menuju lantai 1. Dia sempat mencoba menggunakan lift tapi cukup lama. Niatnya mau mencari makanan di warung makan yang ada di sekitaran rumah sakit. Saat dekat pintu lobby, handphone yang ada di saku celananya bergetar. Bianca mengambilnya dan melihat nama yang ada di sana. Mia.
Buuugghhh
Bianca yang fokus dengan handphonenya kurang memperhatikan jalan hingga menabrak seseorang mendekati pintu masuk lobby rumah sakit.
“Maaf.” Bianca reflek mengusap jidatnya yang lumayan sakit saat menabrak orang di depannya.
“Elo !” Bianca sedikit terpekik saat melihat sosok yang ditabrakmya. Tingginya yang hanya sebatas ketiak oranv itu membuat kepalnya tadi membentur dada bidang cowok yang berdiri di depannya.
“Bibi !” suara Mia yang sedikit cempreng membuat Bianca melongok ke samping lengan cowok di depannya dan spontan dia melambaikan tangan ke Mia.
“Bianca, elo ngapain di sini ?” Joshua yang berdiri persis di sisi kanan Devano langsung menyapa Bianca.
“Ehh… “
“Bianca,” Ernest dan Leo yang berdiri di belakang melongok sosok di balik tubuh Devano dan memanggilnya bersamaan.
Ya sosok yang tidak sengaja ditabrak oleh Bianca adalah Devano. Dan dia tidak datang sendirian. Hanya Arya yang tidak nampak batang hidungnya.
__ADS_1
Hai readers,
Jangan lupa like, vote dan komennya ya biar tambah semangat nih nulisnya 😊😊