Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 24 Kesempatan


__ADS_3

Devano, Joshua, Ernest dan Leo menepati janji mereka untuk menyambangi ruang ICU tempat papa Indra dirawat. Arya yang semula ingin ikut menggunakan kursi roda mendapat larangan dari Om Hendra karena dokter sudah berpesan supaya Arya benar-benar beristirahat total dalam 3 hari ke depan.


Devano mengambil posisi duduk agak menjauh. Suaranya hanya terdengar saat menyapa mama Lisa dan memperkenalkan diri saja, selebiunya dia memilih duduk sambil memainkan handphonenya. Bianca sempar beberapa kali memandangi sikap Devano yang terlihat masa bodoh. Rasa kesal dan sedih bercsmpur dalam hatinya. Kehadiran Devano bukannya menambah semangat malah membuat moodnya jadi berantakan.


Setelah 45 menit ngobrol ke sana sini minus Devano, akhirnya keempat cowok itu pamit sementara Della dan Mia memilih masih menemani Bianca dan mama Lisa sambil menunggu kedatangan Bernard.


14 hari berlalu namun keadaan papa Indra belum ada perkembangan apa-apa. Bernard sempat dilarang ikutan berjaga karena harus menjalankan PAS selama seminggu. Bianca yang memang sudah tidak ada kegiatan penting di sekolah diberi ijin untuk tidak hadir di sekolah.


“Sepi ooiii nggak ada Bianca,” keluh Mia di dalam kelas.


“Kagak ada yang bisa elo bully ya ?” Ledek Della


“Diihh siapa juga yang suka nge-bully dia. Yang ada elo sama Bianca yang suka membully cewek cantik ini,” Mia mengangkat wajahnya dengan ekspresi genitZ


“Amit-amit,” Della menoyor jidatnya.


“Della !” pekik Mia kesal.


“Mia, Della.” Arya yang sudah keluar dari rumah sakit nampak berdiri di depan pintu kelas. Kedua gadis yang dipanggil itu langsung menoleh ke arah pintu. Pelajaran memang sudah tidak diberikan untuk anak-anak kelas XII karena tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Mia mengangkat tangannya dan memanggil Arya agar masuk menghampiri mereka.


“Bianca belum masuk,” Della langsung bicara. Ini adalah hari ketiga sejak mereka bersekolah kembali dan Arya selalu menanyakan kehadiran Bianca.


“Kayaknya masih jaga di rumah sakit.”


“Mau temenin gue siang ini ke sana ? Naik mobil gue.”


“Bayarin makan siang ya ?” Tanpa malu-malu Mia bicara ke Arya.


“Tenang aja, nanti ajak Bianca sekalian.”


“Yaahh itu mah namanya sambil menyelam minum air. Awas keselek lo,” cebik Mia.


“Apaan sih lo, kagak jelas,” Della kembali menoyor kepala Mia yang langsung mendapat pelototan.


“Sekali lagi gue suruh Pak Arman bawa elo transmjgrasi ke bulan.” Mia mengomel.


Della tertawa terbahak, Arya ikut tersenyum mendengar celoteh Mia.


“Elo kira Pak Arman ngurusin transmigran ? Gaje lo !” Della sudah mengangkat tangannya namun langsung ditangkap oleh Mia dan ditepisnya dengan wajah masam.


“Sampai nanti siang ya,” Arya kembali menegaskan dan meninggalkan kelas sosial.


“Del,” panggil Mia setelah Arya berlalu. “Apa mungkin ya kalo ujung-ujungnya Bianca malah jadian sama Arya ?”


“Ngaco lo,” Della geleng-geleng kepala. “Kan dari awal Bianca dah bilang kalo dia nggak punya rasa apa-apa sama Arya biar tuh cowok baik sama dia.”


“Ya, tapi kalo Arya mepetin Bianca terus apa kagak melehoy hati Bianca. Secara wajah Arya kagak kalah sama Devano meski satu level di bawahnya.”


“Elo kira permainan pake level segala,” Della tergelak.


“Yaahhh Arya kayaknya lebih enak diajak ngomong daripada Devano yang brrrr” Mia menggidikan kedua bahunya seperti orang kedinginan.


“Kagak usah mikir jauh lo,” Della merapikan barang-barang bawaannya karena sebentar lagi bel akan berbunyi. Pukul 11 anak-anak kelas XII boleh pulang terlebih dahulu.


“Itu urusan Bianca sama hatinya, kita temennya cuma bisa memberi dukungan.”


Dan benae saja tidak sampai lima menit bel istirahat kedua berbunyi, tanda anak-anak kelas XII boleh meninggalkan sekolah.


Della yang hari ini membawa motor tadinya berencana mengikuti mobil Arya dari belakang tapi dicegah oleh cowok itu.

__ADS_1


“Elo tulisin aja alamar rumah elo dan kunci titip di pos satpam ya. Gue dah minta tolong salah satu karyawan kantor ambil dan antar ke rumah elo.” Arya menjelaskan ke Della setelah selesai menelepon seseorang.


“Jangan lupa bilang nyokap elo kalo ads yang mau anter motor, jangan sampai ditolak atau pikir macam-macam.” Mia mengingatkan Della dan hanya ditanggapi dengan anggukkan Della.


Ketiganya masuk dalam mobil Arya dengan posisi Mia di depan bersebelahan dengan Arya sementara Della duduk di belakang.


“Yang lainnya kagak ikut, Ya ?” Della bertanya sambil tangannya mengetik pesan untuk sang mama.


“Maksud lo ?” Arya menatap Della dari spion tengah.


“Ya lima sekawan elo.”


Arya tertawa kecil mendengar julukan yang diberikan Della untuk dia dan keempat temannya.


“Ada yang mau gue omongin sama Bianca. Nanti kalo ramean malah jadi kagak jelas.”


“Mi,” panggil Della yang masih sibuk berbalas pesan dengan sang mama. “Coba elo tanya Bianca dia ada di rumah apa rumah sakit. Seingat gue dia lagi dapat giliran jaga malam soalnya Bernard lagi sibuk PAS.”


Mia tidak menjawab tapi langsung mengambil handphonenya dan mengetik pesan langsung ke nomor Bianca.


Mia : Bi, elo ada dimana ?


5’menit, 10 menit belum ada jawaban dari Bianca. Arya menepikan mobilnya.


“Bisa ditelepon aja nggak Mi ? Soalnya jalurnya beda nih antara ke rumah Bianca dan rumah sakit.” Arya meminta Mia yang masih menatap layar handphonenya untuk langsung menghubungi Bianca


Mia melakukan panggilan melalui handphonenya. Panggilan pertama hingga masuk ke kotak suara tidak diangkat juga oleh Bianca. Hingga akhirnya panggilan ketiga baru terdengar jawaban.


Bianca : Ada apa Mia ? Gue baru selesai mandi.


Mia : Elo ada dimana ?


Mia : okkey kita otw ke sana ya


Bianca : memangnya..


Belum sempat Bianca menanggapi, Mia memutus sambungan telepon dan memberitahu Arya agar langsung menuju rumah Bianca. 20 menit kemudian mobil Arya sudah terparkir di depan rumah Biancaz


“Bi, habis jaga malam ?” Tanya Mia saat mendapati Bianca membukakan pintu untuk mereka. Bianca hanya menggangguk.


Bianca yang tidak terlalu memperhatikan jenis mobil yang terparkir di depan rumahnya tidak menyadari kalau ada Arya di antara mereka.


“Bianca,” panggil Arya saat dilihatnya gadis itu terus melangkah masuk menuju dapur.


“Arya ? Elo ikutan juga ?”


Mendengar namanya di panggil dengan suara yang berbeda membuat Bianca menghentikan langkahnya dan berbalik.


“Gue mau ngomong sama elo.”


Bianca menoleh kiri kanan menatap Mia dan Della beegantian.


“Udah sono kalian ngobrol dulu. Gue sama Mia langsung self service aja ke dapur ya.” Della menepuk bahu Bianca dan melewatinya.


“Tapi gue nggak ada stok makanan.”


“Santai Sis,” Mia mengangkat handphone dan menggoyangkannya. “Tinggal order.”


“Gie ambilin minum dulu Ya,” Bianca hendak berbalik menuju dapur tapindicegah oleh Arya.

__ADS_1


“Nggak usah Bi, belum lama habis makan di kantin.”


Bianca menatap Arya dan dibalas dengan anggukan serta senyuman. Bianca mendahului Arya menuju ruang tamu tapi Arya memegang tangannya sebelum Bianca duduk.


“Kita ngobrol di teras depan aja yuk Bi, kayaknya enak ngobrol di tempat terbuka. Adem juga.”


Bianca hanya mengekor Arya yang tanpa sadar masih menggandeng lengan Bianca. Keduanya menghempaskan bokong mereka di masing-masing kursi yang ada di sana.


“Bi,” suara Arya terdengar pelan dan ragu-ragu. “Apa elo bisa memaafkan gue apapun yang terjadi sama Om Indra?”


“Maksud elo ?” Bianca menoleh dan menatap Arya dengan menautkan kedua alisnya.


Arya menarik nafas panjang sebelum menjawab.


”Gue denger dari Om Hendra, kalaupun Om Indra sadar, beliau akan lumpuh karena ada saraf bagian lehernya yang rusak.”


“Sejak kapan elo panggil papa gue dengan Om Indra,” Bianca tertawa kecil.


“Om Indra boleh karyawan papa di kantor, tapi beliau tetap papanya temen gue.” Arya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Arya Pramudya, udah gue bilang berapa kali kalo gue dan keluarga gue nggak pernah menyalahkan siapapun keadaan yang menimpa papa.” Bianca menarik nafas panjang, pandangannya beralih ke tanaman yang menghampar di depannya.


“Kejadian itu kecelakaan kerja. Sekalipun bukan elo, gue dan mama yakin papa akan melakukan tindakan sama saat melihat kondisi yang kalian alami. Jadi nggak ada sedikitpun menyalahkan elo.”


“Tapi Bi..”


“Arya, elo masih inget nggak sih omongan gue di rumah sakit ?” Bianca menoleh dengan sedikit cemberut. “Nggak usah bicara kalau ini, kalau itu, seandainya begini, seandainya begitu… Huffttt,” Bianca menarik nafas dengan sedikit kesal.


“Kalau memang sudah takdir mengalami apapun dalam hidup, mau elo puter-puter lewat manapun, ujung-ujungnya akan terjadi juga. Gue dan keluarga cuma berharap..” Bianca menggelengkan kepala.


“Bukan berharap tapi minta tolong supaya masalah ini diselidikin aja, apa murni kecelakaan atau sabotase. Bukan nggak mungkin kalau memang targetnya elo kan ? Tapi memang nasib elo belum waktunya atau memang dilindungi dari orang-orang yang mau celakain elo.”


“Apa sesudah ini, apapun yang terjadi sama Om Indra gue boleh bertanggungjawab atas kehidupan elo dan keluarga elo ?”


“Maksud elo ?” Bianca kembali menoleh menatap Arya dengan mengangkat kedua alisnya.


“Eehhh… maksud gue, gue akan menggantikan posisi Om Indra untuk menafkahi kalian.”


“NO !” Tegas Bianca mengacungkan telunjuknya lalu menggoyangkannya pelan di depan wajah Arya.


“Itu artinya ?” Bianca memajukan wajahnya ke Arya meski masih berjarak dengan menyipitkan matanya.


Arya yang melihat wajah Bianca mendekat membuatnya bertambah gugup dan memundurkan wajahnya.


“Nggg… maksud gue… maksud gue….”


“Elo mau jadi pengganti papa gue gitu ?” Bianca langsung memotong cepat. Hatinya sedikit deg deg kan, jangan sampai Arya mengungkapkan kalimat yang bermain-main di otaknya.


“Mau jadi kakak gue gitu ?”sambung Bianca.


“Eehhh… kakak… iya jadi kakak elo boleh.” Arya menjawab dengan senyuman yang dipaksakan.


“Mau lebih dari jadi kakak juga boleh,” gumam Arya pelan namun masih terdengar oleh Bianca.


“Diihh modus,” Bianca menepuk bahu Arya pelan. “Itu sama aja mengambil kesempatan dalam kesempitan donngg,” Bianca mencebik.


Arya kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tertawa terpaksa.


__ADS_1


__ADS_2