Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 70 Pertemuan di Mal


__ADS_3

Hari ini Sella sudah diijinkan pulang dari rumah sakit oleh dokter. Hanya diminta lebih rileks dan banyak istirahat di rumah, jangan terlalu stress agar tidak memicu sakitnya dan demi kesehatan janin yang ada dalam kandungannya.


Desta yang menjemputnya tanpa sopir. Hari ini Desta sengaja memgambil cuti demi mengurus adik semata wayangnya yang begitu dia sayangi.


Bianca mengikuti langkah Desta dan Sella yang sudah lebih dulu turun dari mobil, memasuki rumah besar milik keluarga Pratama. Bianca yang baru pertama kalinya diajak ke rumah keluarga Desta, berdecak kagum dalam hatinya. Ternyata keluarga Desta tidak kalah dengan keluarga Devano.


Bianca sebetulnya merasa canggung ikut menjemput dan mengantar adik Desta itu. Sella berubah manjadi sedikit ketus pada Bianca. Meski masih menanggapi pertanyaan atau pembicaraan Bianca, Sella kembali pada mode juteknya.


Bianca menghela nafas. Seperti dugaannya kalau Sella akan kembali sulit diajak berteman saat Bianca tidak memberikan jawaban apapun atas permintaan Sella di rumah sakit, meminta Bianca bukan lagi menjadi sahabatnya tapi kakak iparnya.


Bianca menunggu di ruang tamu sementara Sella diantar Desta masuk ke kamarnya dengan alasan masih letih dan ingin istirahat.


“Kamu mau pulang atau masih mau di sini sambil nunggu Sella bangun ?”


Desta ikutan duduk di sofa berseberangan dengan Bianca.


“Sepertinya Sella marah sama aku, Kak.”


“Kenapa ?” Desta mengernyit.


“Dia minta aku bukan hanya jadi sahabat buat kalian tapi juga kakak iparnya.”


Desta terkekeh mendengar ucapan Bianca.


“Sepertinya adikku mendengar suara hatiku, Bianca.” Batin Desta.


“Aku nggak keberatan.” Desta memberikan senyuman tampannya.


“Kok malah memprovokasi ?” Bianca berubah masam.


“Hahahaha… permintaan yang tulus susah ditolak. Aku sih siap-siap aja kalau kamu mau jadi kakak iparnya Sella.”


“Sebel ah !” Bianca yang makin cemberut beranjak dan mengambil tasnya.


“Eh kok ngambek.” Desta ikutan bangun dan menahan Bianca yang hendak keluar.


“Nggak mungkin maksa Sella hari ini. Biar dia istirahat dulu dan berpikir tenang. Aku mau pulang aja.”


“Yah aku sengaja cuti hari ini karena mau temenin kamu sama Sella.”


“Boss tinggal batalin cutinya, tukar besok,” ledek Bianca sambil mencibir.


“Kalau begitu aku antar pulang tapi mampir dulu ke mal ya. Ada yang mau aku beli.”


Tanpa permisi Desta langsung menggandeng tangan Bianca dan membawanya keluar.


Desta meminta Bi Isa untuk menemani Sella dulu di rumah karena setelah mengantar Bianca pulang, Desta akan kembali ke kantor.


Sampai di mal dan mobil sudah terparkir, keduanya turun dan berjalan beriringan. Desta berusaha menggandeng tangan Bianca namun selalu ada saja cara Bianca menghindarinya.


Melewati salah satu restoran, Bianca menghentikan langkahnya dan menatap sosok yang keluar dari tempat itu.


“Arya !” Panggil Bianca.


Cowok yang sibuk dengan handphonenya mendongak saat mendengar namanya dipanggil.

__ADS_1


“Bianca !” Reflek Arya mendekati dan hendak memeluknya namun ditahan oleh Bianca.


“Sejak kapan elo main peluk-peluk,” omel Bianca.


Arya tertawa dan mencubit kedua pipi Bianca dengan gemas.


“Kok jadi galak sih, manis ?”


Bianca langsung cemberut karena cubitan Arya. Keduanya baru sadar kalau melupakan Desta yang ada di belakang Bianca hingga terdengar suara deheman Desta.


Arya langsung melepaskan cubitannya dan mengalihkan pandangan pada sosok yang berdiri di belakang Bianca.


“Ya, kenalin nih…”


“Desta kan ?” Arya langsung memotong.


“Kok tahu ?” Bianca mengernyit.


“Duh udah pelupa ya… Kan kita pernah ketemu di Cafe Pelangi pas gue lagi kumpul sama Devano dan yang lainnya.”


Bianca menepuk jidatnya. Benar kata Arya. Desta yang pernah membawakan rangkaian bunga untuknya saat sedang manggung di Cafe Pelangi, bertemu dengan lima sekawan yang sedang reuni.


Meski sudah pernah berkenalan namun kedua pria tetap bersalaman sambil menanyakan kabar masing-masing.


Arya memperhatikan Desta tanpa sembunyi-sembunyi. Ada rasa khawatir melihat keduanya jalan bareng di tengah jam sibuk seperti ini. Pakaian kerja Desta lengkap seperti normalnya orang bekerja sedangkan Bianca lebih santai mengenakan dress motif selutut dipadu dengan kardigan dan sepatu kets.


“Arya !” Panggilan Bianca membuyarkan pikiran Arya tentang Desta.


“Elo makan siang atau meeting di sini ? Sendirian ?”


Bianca berusaha memutus pandangan Arya yang membuat Desta tidak nyaman.


“Sendiri ?”


Belum sempat Arya menjawab, seseorang memanggil Bianca dari arah restoran.


“Bianca.”


Bianca membungkukan badannya sebagai tanda hormat.


“Selamat siang opa Ruby, Pak Himawan.”


Bianca menyapa kedua pria yang ternyata bersama Arya.


“Apa kabar Bianca ?” Papa Himawan yang adalah papa Arya menyapanya juga.


“Baik Pak.” Bianca mengangguk sambil tersenyum.


Papa Himawan memicingkan mata sambil menatap sosok yang berdiri di belakang Bianca.


“Desta ! Kok kamu ada di sini ?” Papa Himawan menyapa Desta yang bergerak maju dan berdiri sejajar dengan Bianca. Pria itu mengulurkan tangannya pada papa Himawan yang langsung dibalas oleh beliau.


“Apa kabar Om ? Saya lagi jalan sama Bianca dan nggak sengaja tadi papasan sama Arya.”


“Kalian ?” Papa Himawan menatap Desta dan Bianca bergantian. Reflek Bianca langsung menggeleng.

__ADS_1


“Kak Desta ini pernah bekerja di tempatnya Om Harry dan kami bertemu saat saya magang di sana Om.” Bianca memberi penjelasan.


Papa Himawan manggut-manggut sementara Arya yang berdiri di belakang Bianca dan Desta masih memperhatikan keduanya.


“Kalian pacaran ?” Suara opa Ruby terdengar galak dan menuntut jawaban.


“Eh nggak kok Opa..” Bianca menjawab dengan kikuk.


“Maunya sih begitu opa.” Lain lagi jawaban yang Desta ucapkan membuat Arya langsung terbelalak. Meski Desta mengucapkan sambil terkekeh san berkesan santai, namun Arya menangkap kalau ada harapan yang ingin Desta sampaikan dalam ucapannya.


“Bercanda opa. Kak Desta bercanda.” Bianca tersenyum kaku sambil menatap Opa Ruby sekilas. Tatapan tidak suka dan penuh selidik terpancar dari wajah opa Ruby yang masih menautkan kedua alisnya.


“Kapan-kapan main ke kantor Bianca. Kamu juga sudah lulus kerja kan ? Kalau memang membutuhkan pekerjaan jangan ragu-ragu menghubungi Om atau bisa lewat Arya.”


Pak Himawan menepuk bahu Bianca lalu menoleh pada Opa Ruby.


“Kita balik sekarang Om ? Lanjut membahas meeting tadi di kantor saya saja.” Tutur Papa Himawan pada Opa Ruby.


Tanpa pamitan pada Bianca maupun Desta, Opa Ruby berjalan dengan tongkat kayunya melewati Bianca dan Desta yang sedikit menepi memberi jalan padanya.


“Ar, kapan-kapan bawa Bianca main ke kantor.” Papa Himawan menoleh pada Arya dan dibalas dengan anggukan.


“Kami pamit dulu Bianca, Desta.” Kali ini papa Hinawan menepuk bahu Desta sambil menggangguk.


“Gue balik duluan Bi.” Arya menepuk bahu Bianca.


Setelah pertemuan tidak disengaja itu berakhir, Desta mengajak Bianca melanjutkan rencana awal mereka. Desta memasuki salah satu toko pakaian dengan brand ternama.


“Bisa pilihkan aku beberapa dasi ? Selama bekerja di Berdikari aku tidak pernah pakai dasi. Di tempat papa, bukan hanya dasi yang wajib hukumnya, aku bahkan harus memakai jas.”


Desta mulai memilih-milih dasi yang berderer dengan rapi. Bianca ikut mendekat dan melihat-lihat yang ada di situ. Matanya membelalak saat melihat label harga yang terpasang.


“Pilih saja nggak usah lihat harga. Kan aku juga yang bayar. Yang penting bagus dan cocok untukku.”


Tanpa menoleh Desta sempat melihat ekspresi Bianca saat memegang label harga. Desta tersenyum dan mengerti reaksi Bianca.


“Kemeja kamu kebanyakan warna biru ya ?”


“Kok kamu tahu ?”


“Selama 3 bulan kerja di tempat yang sama, aku perhatiin Kak Desta sering banget pakai kemeja biru.”


“Cie cie… diam-diam kamu perhatian ya sama aku ?” Desta tertawa menggoda.


“Ya harus diperhatiin, namanya juga ketemu, bertatap muka. Dan karena seringnya pakai warna biru, aku sampai berpikir, apa jangan-jangan Kak Dest sering pakai kemeja satu warna karena belinya langsung lusinan.” Bianca terkekeh.


“Enak aja !” Protes Desta. “Kamu nggak hafal kalau seragam kantor seminggu 3x pakai warna biru ?”


“Kak Dimas nggak sering pakai biru. Kebanyakan putih atau cokelat.”


“Yah kan dia beda, asisten Devano.”


“Makanya aku nggak tahu kalau kantor mewajibkan karyawan prianya pakai warna biru seminggu 3x”


“Kirain kamu perhatian sama aku.” Goda Desta.

__ADS_1


“Ge-er deh.” Bianca mencibir dan Desta hanya tertawa.


Bianca menyerahkan 3 buah dasi pilihannya. Selesai berbelanja Desta menawarkan mampir untuk makan di salah satu gerai yang ada di Mal. Bianca menolaknya dan minta langsung diantar pulang karena merasa lelah.


__ADS_2