
Setelah Ernest menyelesaikan pembayaran, ketujuh orang itu meninggalkan restoran menuju parkiran.
“Sorry Le, gue ada perlu sama Devano jadi nggak langsung balik kantor. Mendadak.” Arya menepuk bahu Leo.
“Santai Bro, gue nebeng Ernest aja sampai tempatterdekat.”
“Balik kantor Arya ?” Tanya Ernest.
“Yoi, motor gue masih menunggu manis di sana.”
“Gue anter aja langsung. Sekalian Joshua juga kenal jalan. Kan kalo lolos tes semua langsung jadi asisten gue, sekalian nyicil belajar.” Ernest tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.
“Moga-moga gue beneran diterima.” Sahut Joshua dengan wajah penuh harap.
Formasi mobil tetap sama seperti pas berangkat. Bianca yang mencoba ngotot untuk di depan, kembali ditolak sama Arya.
“Duduk di belakang atau kejutan dari gue batal nih !” Ancam Arya saat Bianca sudah membuka pintu depan bagian mobil.
“Aahh kejutan bohongan doang,” Bianca mencibir.
“Kalo bohongan ngapain gue balik lagi ke kantor Devano ? Gue sambil nungguin elo pulang kerja.”
“Beneran ?” Wajah Bianca berbinar sambil menyentuh lengan Arya.
Devano yang masih berdiri di pintu belakang sopir memperhatikan interaksi keduanya dengan mencuri-curi pandang dan dengar. Dimas yang melihat kelakuan Devano hanya senyum-senyum sendiri.
“Woi mau balik kantor apa pacaran ?” Ujar Dimas dai dalam mobil.
“Cepetan ! Tuh boss kamu juga udah ngeliatin aja.” Arya sengaja mendekatkan wajahnya ke Bianca dan bicara berbisik.
Bianca melirik ke arah Devano yang ternyata memang masih berdiri di samping mobil namun pandangannya entah kemana. Buru-buru Bianca membuka pintu belakang dan duduk manis di kursi penumpang. Arya hanya terkekeh dan geleng-geleng kepala.
Perjalanan yang lebih lama 10 menit karena rute harus memutar lebih jauh dihabiskan dengan perbincangan ketiga penumpang mobil. Devano kali ini tidak sibuk dengan handphonenya, tapi posisi badannya agak santai bersandar ke kursi dengan mata terpejam. Meski tahu kalau Devano tidak tidur, tapi tidak ada seorang pun yang berniat mengajaknya bicara.
Arya langsung mengikuti masuk ruangan Devano setelah mereka sampai di lantai 10, Bianca dan Dimas kembali ke meja kerja mereka.
Arya langsung membuka laptopnya yang tadi dititip di ruangan Devano dan memeriksa beberapa pekerjaannya di sofa.
“Ar, elo ada perlu sama gue atau papa ?” Tanya Devano di tengah-tengah pekerjaan mereka.
“Gue ada janji apa ya sama elo ? Soalnya Dimas nggak ada info apa-apa.”
Arya melepas kacamata anti radiasinya dan sedikit merenggangkan otot-otot tangannya.
“Nggak ada keperluan sama elo langsung, tapi mau minta ijin Bianca bisa pulang lebih awal hari ini ?”
“Memang ada apa ?” Devano mengernyitkan alisnya.
“Rahasia Bro,” Arya tertawa. “Tapi itu juga kalo elo kasih ijin. Kalau memang dia sibuk, gue tunggu aja sampai jam pulang kantor.”
“Bawa aja, mau sekarang juga boleh.” Suara Devano terdengar datar dan pandangannya kembali beralih ke laptop di depannya.
“Van,” Arya beranjak dari sofa dan duduk di berhadapan dengan Devano di meja kerjanya.
“Elo nggak keberatan kalau gue coba deketin Bianca lagi ? Elo yakin mau melepas dia ?”
Devano mengangkat wajahnya dan memandang Arya dengan muka datar.
“Kenapa harus ijin sama gue ? Dia cuma anak magang di sini, di luar itu dia cuma sama-sama satu almamater sama gue.”
Nada Devano terdengar sedikit ketus dan suaranya meninggi.
“Yah kali aja diam-diam elo…”
Brak !
__ADS_1
Devano menggebrak mejanya sambil bangkit. Arya sampai terlonjak karena kaget di kursinya. Dia mengelus-elus dadanya.
“Van, nggak usah sampai begitu juga bambang.”
Suara gebrakan Devano terdengar sampai keluar membuat Bianca dsn Dimas terkejut mendengarnya.
“Kak coba masuk ke dalam, siapa tahu mereka lagi berantem.” Bianca menyuruh Dimas masuk.
Keduanya terdiam dan menyimak suara yang bakal terdengar selanjutnya. Tapi tidak terdengar apapun.
“Aman kayaknya Bi, udah tenang kok. Mungkin Devano cuma spontan aja.”
“Yakin nggak mau pura-pura masuk kak ?”
“Nggak dipanggil Bi, nanti malah Devano tambah emosi.”
Sementara di dalam ruangan, Devano menyadari sikap spontannya yang bukan hanya membuat orang lain kaget tapi juga kejutan buat dirinya. Belum pernah rasanya Devano sampai tidak bisa mengontrol emosinya seperti ini.
“Sorry. Tolong jangan bahas lagi kalau gue ada apa-apa sama Bianca. Capek guu. Pikiran semua orang sama, ya keluarga gue, ya Dimas, juga sahabat-sahabat gue, kalian selalu bilang kalo gue punya perasaan sama Bianca.” Devano meremaa rambutnya sendiri sengan wajah kesal.
“Nggak perlu jadi orang pintar untuk melihat gimana perasaan elo Van. Hati-hati jangan sampai menyesal.” Arya bangun dari bangkunya dan kembali mendekati meja sofa merapikan laptopnya.
“Kalau begitu gue pamit sekarang aja dan atas seijin elo, Bianca gue pinjam ya. Buat sore ini aja.”
“Ya.” Hanya jawaban singkat Devano yang terucap.
Setelah Arya keluar dari ruangannya Devano meremas rsmbut dengan kedua tangannya. Dia bangun dari kursi dan berdiri di depan jendela besar yang memberikan pemandangan kesibukan kota Jakarta di tengah-tengah gedung perkantoran.
“Bi, gue udah ijin sama Devano untuk ngajak elo sekarang juga.”
“Eh beneran ?”
“Dim, ada kerjaan penting nggak yang harus Bianca selesaikan ?” Arya menoleh menatap Dimas.
“Nggak ada sih Bro. Kalau boss udah kasih ijin, sok aja Bianca boleh ikut elo.”
Bianca merapikan meja, mematikan komputer dan membereskan tasnya. Dia menghampiri Dimas dan memberikan satu map padanya.
“Kak, laporan hasil meeting udah aku email ke Kak Dimas dan Pak Devan. Ini proposal untuk penambahan peralatan di perkebunan kopi dari cabang Sulawesi dan sudah aku periksa datanya.”
“Ya udah, kamu tinggal aja. Jangan lupa pamit sama boss.”
Bianca mengangguk dan megertuk pintu ruangan Devano. Karena tidak ada jawaban, Bianca langsung membuka pintu pelan-pelan.
Sosok Devano yang masih berdiri di depan jendela sambil memandang keluar membuat Bianca menghela nafas. Mau dilihat dari sisi manapun Devano tetap menarik dan menggetarkan hati Bianca. Namun sikapnya yang membingungkan membuat Bianca enggan menaruh harapan.
“Maaf mengganggu, Pak” Bianca mendekati meja kerja Devano namun tetap menjaga jarak.
“Saya ijin untuk meninggalkan kantor sekarang dengan Pak Arya. Beliau bilang kalau bapak sudah mengijinkan saya.”
“Ya.”
Lagi-lagi hanya jawaban singkat yang keluar dari mulut Devano. Pria itu tidak membalikkan badannya sama sekali.
“Terima kasih Pak. Saya pamit.”
Meski Devano tidak berhadapan dengannya, Bianca tetap membungkukkan badannya dan akhirnya keluar dari ruangan Devano.
“Seandainya aku punya keberanian untuk melanggar ketentuan yang sudah digariskan dalam hidupku.” Batin Devano
“Sebetulnya kita mau kemana Ya ?” Tanya Bianca saat keduanya sudah di dalam mobil dan Arya melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
“Mau ke Cafe Pelangi.”
“Duh apa nggak ada tempat lain ? Mau ngapain ke sana ?”
__ADS_1
“Mau suruh elo nyanyi.” Arya terkekeh.
“Serius nih Arya… Sebetulnya mau ngapain ?”
”Namanya juga kejutan. Elo duduk diam aja ya. Bobo kalo perlu biar anteng. Sejak kuliah ternyata elo berubah jadi bawel dan nyeleneh ya… Padahal pas sekolah dulu kalem banget.”
Aryta mengacak-acak rambut Bianca dari samping, sementara tangan satunya tetap memegang kemudi.
“Kalau jadi psikolog bisanya diam doang gimana orang mau konseling ?”
“Benar juga ya,” Arya tertawa.
Bianca menyenderkan tubuhya ke kursi dengan posisi lebih santai. Pandangannya ke arah samping jendela. Pikirannya masih melayang pada sikap Devano yang semakin membingungkan hatinya. Di restoran, Devano bisa menggenggamnya cukup lama bukan hanya sekedar mencegah pindah tempat ke sebelah Leo, tapi di kantor mendadak sikapnya dingin dan jutek lagi.
“Udah jangan kebanyakan mikirin Devano. Memang begitu orangnya.” Arya tertawa kecil.
“Siapa juga yang mikirin dia ?” Bianca langsung cemberut.
“Elo boleh bilang nggak di mulut, tapi mata elo nggak bisa bohong.”
“Gue kadang bingung aja sama sikapnya. Kenapa sekarang tambah galak ya ?”
“Mungkin karena menutupi perasaannya sama elo. Bukannya begitu ibu psikolog ?”
“Ah ternyata bapak lebih pantas jadi konselor daripada saya ya…” canda Bianca.
“Gimana kalau kita bikin drama yang membuat Devano bisa mengungkapkan isi hatinya ?”
“Duh bahasa apa lagi itu Ya ? Drama ? Elo jadi sutradaranya ?” Bianca tertawa.
“Cocok lah gue.” Arya ikut tertawa.
“Tau ah pusing soal Devano. Yang penting sekarang sebetulnya kita mau ngapain ke Cafe Pelangi ?”
“Sabar, sebentar lagi juga sampai.”
Keduanya pun berbincang tentang hal-hal lain selain Devano hingga tidak terasa mobil Arya sudah terparkir di depan Cafe.
“Yuk masuk.” Arya langsung membuka pintu mobil dan diikuti oleh Bianca.
“Mau ketemu siapa sih ?”
Arya diam saja dan melangkah menuju salah satu meja yang sudah ditempati seseorang. Posisinya membelakangi mereka. Namun dari rambutnya, Bianca tahu kalau yang duduk adalah seorang perempuan.
“Udah lama nunggu sayang ?” Arya merangkul gadis yang diduk itu lalu mencium puncak kepalanya.
“Sudah sampai ?” Gadis itu menoleh namun Bianca belum dapat melihatnya dengan jelas.
“Dia sudah di sini.” Bisik Arya.
Bianca memicingkan matanya berusaha mengenali sosok yang dipanggil sayang oleh Arya. Rambutnya panjang sepundak dengan warna rambut sedikit blonde.
Gadis itu pun bangun dari kursinya dan membalikan badan menghadap Bianca.
“Apa kabar Bibi Bian ?” Suara lembut menyapanya.
“Mia !” Bianca terpekik lalu menutup mulutnya.
Bianca langsung menubruk Mia dan memeluknya.
“Kangen.” Tutur Bianca.
“Sama gue juga kangen.” Suara Mia mulai kembali ke mode aslinya.
“Eh tapi tunggu….” Bianca melepaskan pelukannya. “Sayang ?”
__ADS_1
Bianca memicingkan matanya dan menatap Arya serta Mia berganrian. Kedua sahabatnya hanya saling melempar pandangan sambil tertawa. Arya mendekat dan merangkul bahu Mia.