
Senin pagi selalu saja penuh kesibukan yang tidak terduga. Itu sebabnya radio, papan reklame dan iklan lainnya selalu mengajak siapapun untuk bilang “I love Monday.”
Pagi-pagi tadi Bianca dan mama Lisa sudah sibuk di dapur menyiapkan bekal untuk Bernard yang akan kembali ke Jogja. Jumat malam dia khusus diminta Devano untuk kembali ke Jakarta. Mulai dari tiket sampai kendaraan antar jemput ke bandara sudah disiapkan oleh calon kakak iparnya itu.
Bianca hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. Devano benar-benar bisa membuat semua orang mengikuti skenario kejutan yang dibuatnya. Jadi mama Lisa dan Bernard pun sudah tahu lama soal acara lamaran kemarin.
Jam 9, dua mobil sudah terparkir di depan gerbang rumah Bianca. Keduanya lengkap dengan sopir. Satu mobil akan mengantar Bernard ke bandara, dan satu mobil lagi akan membawa Bianca, mama Lisa dan mama Angela untuk mulai mengurus segala keperluan untuk pernikahan.
Bianca menyempatkan diri masuk kuliah yang hanya 3 jam. Tidak mungkin dia membolos karena hari ini baru minggu kedua mulai kuliah. Selesai kuliah, sopir Devano sudah menunggunya di parkiran. Bianca harus melanjutkan ke kantor Devano dan menjelang sore menemui pemuka agama yang akan meresmikan pernikahan mereka.
Pukul 10 malam, mobil Devano sudah terpakir di depan rumah Bianca.
“Sayang,” Devano mengelus pipi Bianca yang tertidur dengan posisi bersender ke pintu.
Bianca masih tertidur pulas hingga membuat Devano merasa iba melihatnya.
Perlahan Devano melepaskan seatbelt dan mendekatkan wajahnya ke wajah Bianca lalu mencium lembut pipi calon istrinya.
“Bianca Aprilia, bangun yuk,” bisiknya lembut di telinga Bianca. Gadis itu sedikit bergerak membuat Devano tersenyum. Devano kembali melancarkan aksi lainnya dengan meniup telinga Bianca yang akhirnya membuat Bianca menggeliat lalu membuka matanya.
“Sudah sampai,” Devano berkata sambil mengusap lembut pucuk kepala Bianca.
“Maaf aku ketiduran, Devan.”
Devano hanya tersenyum dan ikut membuka pintu saat Bianca juga membuka pintu mobil.
“Bobo yang nyenyak, ya. Besok kan ada jadwal lagi pergi sama mama ya ?”
“Sekarang mama Angela minta diganti panggilannya,” Bianca berkata sambil terkekeh.
“Maksudnya ?” Devano menautkan kedua alisnya.
“Supaya nggak bingung, mulai tadi siang, mama kamu minta dipanggil mommy, sedangkan mama Lisa tetap mama.”
Devano menggeleng dan tertawa pelan.
“Tapi benar juga sih.”
“Ya udah, kamu pulang sana,” Bianca mendorong pelan badan Devano menuju mobil. “Hati-hati setirnya. Kamu juga pasti capek.”
“Kamu masuk dulu,” Devano membuka gerbang yang belum digembok.
Bianca menurut dan berdiri di pagar sambil menyuruh Devano masuk ke dalam mobilnya. Sebelum berbalik, Devano menyempatkan mencium kening Bianca.
“Sweet dream, Baby.” Bisik Devano. Bianca hanya tersenyum sambil mengangguk.
Bianca cepat-cepat menggembok pintu dan masuk ke kamarnya karena melihat ruangan sudah mulai gelap, begitu juga dengan kamar mama Lisa.
Hari-hari sibuk menjelang pernikahan Devano dan Bianca cukup menyita waktu dan menguras tenaga. Namun mereka berdua yakin, bahwa inilah yang harus mereka jalani untuk kebahagiaan mereka sendiri nantinya.
Hingga tidak terasa, waktu tinggal seminggu lagi menjelang hari H. Dan hari Sabtu ini adalah jadwal Bianca untuk gantian mengunjungi rumah keluarga Devano dan berkenalan dengan keluarganya yang baru pada datang dan berkumpul di rumah keluarga Wijaya.
Devano sudah meminta ijin pada mama Lisa untuk mengajak Bianca menginap di rumahnya karena acara kumpul keluarga ini bisa dipastikan akan berakhir cukup larut malam.
Mobil Devano yang baru saja menjemput Bianca sudah kembali memasuki halaman keluarga Wijaya.
“Apa semua keluarga akan menginap di sini Devan ?” tanya Bianca saat keduanya berjalan bergandengan menuju rumah.
__ADS_1
“Nggak, cuma opa dan oma saja. Yang lainnya menginap di hotel.”
Bianca hanya mengangguk-anggukan kepala. Devano langsung membawanya ke halaman belakang. Di sana sudah ada kedua orangtuanya, Diana, Opa Ruby dan Oma Liana yang baru saja datang dari Australia kemarin sore.
Bianca menyapa semuanya satu persatu dengan peluk cium. Hingga giliran terakhir, Bianca mendekati Oma Liana, istri Opa Ruby, yang harus menggunakan kursi roda.
Bianca berlutut dan menyentuh dengan lembut jemari Oma Liana yang sudah berkeriput.
“Selamat pagi Oma,” Bianca menyapa dengan senyuman manisnya. “Saya Bianca, calon istri Devano, cucu kesayangan Oma. Senang saya akhirnya bisa bertemu dengan Oma.”
Oma Liana yang juga mengalami kesulitan berbicara beberapa tahun ini hanya diam memandangi wajah Bianca. Semua yang ada di situ pun berfokus pada Bianca dan Oma Liana.
“Apa perjalanan Oma menyenangkan ?” Bianca tetap bertanya meski ekspresi wajah Oma Liana terlihat datar. “Maaf kalau kami malah membuat Oma lelah karena harus terbang jauh. Tapi kehadiran Oma akan sangat berarti buat saya dan Devano.”
Bianca mengelus dan sekali-sekali menggenggam erat jemari renta itu.
Tiba-tiba Oma Liana menarik tangannya dari gengaman Bianca membuat gadis itu bahkan yang lain juga terkejut. Namun Bianca tetap berusaha bersikap biasa saja. Bianca tetap tersenyum.
Tanpa terduga, Oma Liana mengangkat tangannya dan mengelus pipi Bianca.
“Kamu… cantik.” Dua kata langsung terucap dari bibir Oma Liana.
“Terima kasih atas pujiannya, Oma. Boleh saya peluk Oma ?” Bianca kembali tersenyum saat Oma Liana mengangguk pelan.
Mama Angela tidak mampu lagi menahan air matanya sebagai rasa haru, begitu juga dengan Diana yang mulai berkaca-kaca. Papa Harry merengkuh bahu istrinya. Opa Ruby dan Devano tersenyum lebar.
Semenjak divonis kanker tulang, Oma Liana menghabiskan waktunya duduk di kursi roda. Beliau pun menjadi pendiam dan tidak suka berinteraksi dengan orang lain bahkan dengan Diana dan Arini yang sempat tinggal bareng di Australia. Hanya dengan Opa Ruby, oma mau berbicara banyak.
Mereka terharu mendengar Oma Liana bahkan bicara langsung dua kata pada Bianca yang baru dikenalnya.
Bianca mengelus lembut punggung Oma Liana dengan penuh cinta.
Bianca melerai pelukannya dan menggenggam kembali jemari Oma Liana.
“Terima kasih juga karena merestui hubungan kami, Oma dan Opa,” Bianca tersenyum pada Oma Liana lalu beralih ke Opa Ruby dengan senyuman merekah.
Opa Ruby menarik bangku dan duduk di sebelah kursi roda istrinya.
“Apa kamu tidak berlebihan memuji calon istri Devano ini cantik, Honey ?” Ledek Opa Ruby sambil merangkul bahu istrinya dari samping.
Oma Liana tersenyum lalu menyentuh dada Bianca.
“Cantik hatinya,” jawab Oma Liana.
“Kamu belum mengenalnya Hon. Aku nggak yakin kalau kamu masih punya pandangan yang sama kalau sudah semakin menegenalnya.” Opa Ruby masih dengan nada mengejek mencibir pada Bianca.
“Opa !” Protes Devano.
Bianca terkekeh saat opa berkata pelan namun masih bisa didengar oleh semuanya.
“Kamu yakin mau menikahi pria model begitu ?”
“Yakin banget Opa !” Jawab Bianca mantap, mengangkat jempolnya lalu mengedipkan sebelah matanya pada Devano.
“Barang yang sudah dibeli tidak boleh ditukar apalagu dikembalikan ya,” tegas Opa Ruby.
Ucapan opa membuat semua yang ada di situ tergelak bahkan mama Angela yang tadi sempat menangis. Devano sempat cemberut tapi akhirnya geleng-geleng melihat kelakuan opanya yang nyeleneh. Devano percaya kalau tingkah opanya itu sebetulnya ingin menunjukkan kalau Opa Ruby sudah sangat menyayangi Bianca. Apalagi tadi opa juga melihat bagaima Oma Liana langsung menyukai Bianca. Reaksi oma sangat berbeda saat pertama kali opa mengenalkan Arini sebagai calon istri Devano.
__ADS_1
Satu persatu keluarga dari mama Angela dan papa Harry mulai berdatangan dan berkumpul di rumah. Mama Angela sibuk memperkenalkan calon memantunya pada keluarga yang hadir.
Nindi sebagai istri dari sepupu Dimas yang berarti masih sepupu Devano juga hadir sore harinya. Setiap usahanya untuk menjatuhkan Bianca di depan keluarga besar selalu gagal karena sekarang Bianca tidak lagi diam saja tetapi melawan dengan cara yang elegan dan cantik.
Bianca mengetuk kamar Devano untuk memanggilnya makan malam. Tadi Devano sempat pamit untuk mandi sore karena merasa lengket.
Karena tidak mendapatkan jawaban apapun, Bianca memberanikan diri membuka pintu dan melongok ke dalam. Sepi. Hanya terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.
Pandangan Bianca terpaku pada dus bekas sepatu di atas meja kerja Devano. Tanpa sadar, Bianca semakin masuk ke dalam kamar Devano setelah menutup pintu. Langkahnya mendekati dus itu dan membukany perlahan.
Kembali dipandanginya isi yang masih sama seperti beberapa bulan yang lalu, saat mama Angela membawanya ke kamar ini dan memperlihatkan padanya sebagai bukti kalau Devano memang menyukainya sejak lama.
Namun yang menjadi perhatiannya adalah undangan pernikahan mereka yang masih baru diletakkan paling atas. Bianca sempat mengerutkan dahinya dan bertanya dalam hati, untuk apa satu undangan pernikahan mereka diletakkan di sana juga.
“Kenapa ?” Bisikan lembut dan pelukan hangat di pinggangnya membuat Bianca tersentak.
Terlalu serius memperhatikan isi dus itu membuatnya tidak sadar kalau Devano sudah keluar dari kamar mandi hanya menggunakan celana rumah tanpa penutup dadanya.
“Kok bisa ada undangan kita di sini ?” tanya Bianca tanpa menoleh.
Sebelah tangan Devano masih merangkul pinggang Bianca dan sebelah tangannya mengambil undangan beserta surat cinta dari Bianca.
“Kalau 7 tahun yang lalu kamu memberikan aku selembar surat untuk memintaku menjadi kekasihmu, maka inilah jawabanku untukmu. Undangan ini adalah jawabanku. Aku membuat ini untuk memintamu menjadi istriku, kekasih seumur hidupku dan hanya maut yang bisa memisahkan kita.”
Bianca terdiam dan mengusap amplop suratnya yang terlihat kotor dan kusut, lalu beralih mengusap amplop undangan pernikahan mereka yang masih bersih dan cantik.
“Kamu lihat keduanya ?” Devano meletakkan kepalanya pada ceruk leher Bianca. “Aku sengaja memilih warna yang serupa.”
Bianca memperhatikan keduanya dan baru menyadari apa yang dikatakan oleh Devano. Keduanya dibungkus amplop berwarna putih dengan gradasi biru laut.
“Kamu bahkan memperhatikan hal seperti ini, Devan,” ada rasa haru mencuat di hati Bianca.
“Aku tidak berbohong kalau sejak dulu memperhatikanmu. Banyak hal tentangmu yang terpatri dalam ingatanku dan semuanya itu selalu menambahkan rasa cintaku padamu.”
Devano mengecup lembut pipi Bianca namun cukup lama.
Bianca melepaskan pelukan Devano dan membalikkan badannya. Dia merangkulkan tangannya di leher Devano.
“Terima kasih karena telah membalas perasaanku.”
Devano menggeleng lalu mencium bibir Bianca sekilas.
“Bukan membalas, tapi kita sebetulnya sama-sama sudah saling menyukai. Hanya saja kamu lebih berani menyatakan lebih dulu kepadaku, sedangkan aku harus menunggu 7 tahun untuk menjawab suratmu.”
Bianca terkekeh mendengar ucapan Devano yang ternyata romantis juga.
“Jadilah segalanya bagiku di sepanjang hidupku, Bianca Aprilia. Aku akan selalu menambahkan cintaku untukmu.”
“Terima kasih juga karena akhirnya menjawab surat cintaku meski setelah 7 tahun berlalu.”
Devano pun mencium kening Bianca penuh cinta dan lama.
“Kita turun yuk, nanti kalau kelamaan dalam suasana begini bisa bahaya,” tutur Devano lalu melepaskan pelukannya.
“Aku siap-siap dulu.” Devano pun berlalu menuju ruang ganti pakaian.
Bianca kembali menatap kedua amplop yang diletakkan sejajar di meja Devano. Senyumnya semakin lebar merekah.
__ADS_1
“Terima kasih Tuhan karena memberikan aku pasangan hidup yang sangat aku cintai dan juga mencontaiku.” Batin Bianca sambil memejamkan mata.