BUNGA GADIS PENARI PENJUAL KUE

BUNGA GADIS PENARI PENJUAL KUE
35


__ADS_3

Aditya dan Bunga pergi menuju restauran. Sampai di restauran Aditya mengajak Bunga untuk masuk, sampai didalam mata Bunga tak henti-henti nya melihat ke sekeliling restauran, dia begitu takjub akan kemewahan restauran itu. Aditya menghampiri Bunga yang berhenti tiba-tiba. "Ada apa?" tanya Aditya. "Tidak, apa kau tidak salah mengajak ku makan malam disini" jawab Bunga. "Dan lagi kue yang aku bawa ini apa tidak kelihatan jelek" tanya Bunga, yang mulai tidak percaya diri. "Kau kesini aku ajak makan, dan kau berniat membawa kue untuk ayah ku untuk menghormati ayah ku, terus apa yang perlu kau khawatirkan" jelas Aditya. Bunga hanya diam saja, dan mengikuti Aditya yang berjalan menemui ayahnya.


Aditya sudah menemukan dimana ayahnya duduk, dia mengajak Bunga untuk menemui ayahnya. Hermawan melihat anak laki-laki nya tidak datang sendiri begitu terkejut. "Siapa gadis itu" tanya Hermawan pada diri sendiri. Aditya menyapa ayahnya dan memperkenalkan Bunga, ayah Aditya menyambut Bunga dengan ramah. Sebenarnya Hermawan adalah orang yang tidak memandang rendah siapa pun yang baru dia kenal, karena dia bukan orang terlahir kaya, jadi dia tahu rasanya jadi orang susah. Hermawan bekerja keras untuk mendapatkan ini semua. "Duduklah Nona" pinta Hermawan kepada Bunga. "Terima kasih Tuan" jawab Bunga. "Jangan panggil aku tuan, panggil saja aku om" pinta Hermawan. "Baik tuan eh om" ucap Bunga. "Tapi jangan panggil saya nona, panggil saja saya Bunga" tambah Bunga. "Baiklah" jawab Hermawan. Aditya melihat perkenalan ayahnya dengan Bunga lancar dia begitu senang.

__ADS_1


Telepon Hermawan berbunyi, ada panggilan dari sekertaris pribadi nya. "Ayah mengangkat panggilan dulu, kalian pesan makanan saja dulu, ayah pesan kan juga tidak apa-apa" kata Hermawan meninggalkan Aditya dan Bunga. "Halo tuan, perintah yang ada berikan, saya sudah mendapatkannya" ucap sekertarisnya. "Baiklah coba katakan" perintah Hermawan. "Sebenarnya tuan Setiawan sedang mengalami masalah dengan perusahaannya, tuan Hermawan mengalami kerugian yang cukup besar, dia menyembunyikan dari semua pihak termasuk anda, selebihnya tuan tahu apa maksud saya" jelas sekertarisnya. "Baiklah aku mengerti" ucap Hermawan dan menutup panggilannya.


Saat Hermawan menerima panggilan, keluarga Setiawan datang. Citra melihat Bunga duduk di samping Aditya begitu tidak menyukainya, segera dia berjalan mendekati meja Aditya dan Bunga. Dengan kasar Citra menarik tangan Bunga, membuat Bunga bangun dari duduk. "Aduh" ucap Bunga. "Hai jaga sikapmu" seru Aditya yang dengan cepat berdiri melihat Citra menarik paksa Bunga. Aditya menanyakan keadaan Bunga, setelah mendengar teriakan Bunga. "Dia yang harus menjaga sikapnya, berani - berani nya dia duduk dengan mu, kamu kan calon tunangan ku dan siapa yang mengundang wanita seperti ini" ketus Citra.

__ADS_1


"Aku yang mengundang" jawab Hermawan yang saat itu melihat semua kelakuan calon menantunya, sambil berjalan mendekat. "Om kenapa om mengundangnya, dia mengganggu Aditya dan acara makan malam keluarga kita" ucap Citra manja. "Aku tidak melihat dia mengganggu Aditya atau makan malam ini" jelas Hermawan yang membuat kaget Citra, terutama Setiawan dan istri nya, karena temannya tidak membela anaknya. Setiawan. "Iya Hermawan siapa gadis ini, kenapa kau membelanya" tanya Setiawan. "Dan kenapa juga kau mengundangnya" tambah Setiawan heran.


"Setiawan sebelum nya aku minta maaf, Aditya menolak pertunangan dia dengan Citra" jelas Hermawan kepada teman kerjanya. "Apa, kau tidak bercanda kan" jelas Setiawan yang begitu pucat mendengar penjelasan Hermawan. "Tidak, tanyakan saja sendiri pada anaknya" ucap Hermawan. "Apa benar nak Aditya, apa kurangnya Citra, dia baik, pintar dan berpendidikan" jelas nyonya Setiawan. "Karena saya tidak menyukainya dan saya sudah memiliki calon istri" jelas Aditya. "Dasar wanita jalang, berani sekali kau menggoda calon tunangan ku" teriak Citra, dan mencoba menampar Bunga, namun seketika Aditya menampis nya. "Jangan sekali-kali kau menghinanya, atau menyentuhnya" teriak Aditya sambil melepas tangan Citra dengan kasar. Citra merengek kepada ayahnya, namun ayahnya hanya diam saja tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


Terima kasih.. semoga suka dengan novel karya ku, jangan lupa like, komen dan vote.. 🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2