BUNGA GADIS PENARI PENJUAL KUE

BUNGA GADIS PENARI PENJUAL KUE
70


__ADS_3

Paginya


"Bunga sayang ayo bangun" teriak Sonia membangunkan anaknya dari luar kamar.


Bunga membuka matanya mendengar panggilan dari ibunya. Dia melihat jam dinding di kamarnya. Suara Sonia terdengar lagi membangunkannya. "Ya Bu, Bunga bangun" jawab Bunga supaya ibunya berhenti berteriak membangunkannya lagi.


Bunga duduk di tepi tempat tidurnya, dia mengambil air minum dimeja sebelah tempat tidurnya. Malam hari Bunga selalu menyiapkan air putih untuk dia minum paginya setelah bangun tidur. Baginya minum pagi hari setelah bangun membuat dia segar dan juga untuk kesehatan. Dia seorang penari jadi harus minum air putih banyak-banyak.


Setelah tersadar penuh Bunga mengambil hapenya, dia mengirim pesan kepada Rina bahwa hari ini dia tidak akan ke toko, sekalian memberitahukan rencananya mengajak dia liburan akhir bulan ini. Tak lama Rina membalas pesan "Baik mbak. Soal liburan saya akan minta ijin sama ibu dulu" isi pesan Rina.


"Baiklah, aku tunggu jawaban kamu segera" balas Bunga.


"Baik mbak" jawab Rina.


Setelah membaca pesan dari Rina, Bunga pergi ke kamar mandi untuk sikat gigi dan cuci muka. Tak lama dia pergi ke dapur menemui ibunya. Di dapur Sonia sudah menyiapkan sarapan untuk anaknya.


"Ibu?" ucap Bunga.


"Ya Nak, ada apa?" tanya Sonia.


"Bunga mau ngomong, ibu duduk dulu" pinta Bunga.


Sonia kemudian duduk didepan Bunga. Dirasa ibunya sudah duduk. Bunga memulai berbicara "Ibu Bunga mau menikah" ucap Bunga, sambil melihat ekspresi dari ibunya.


"Ibu" panggil Bunga, yang melihat ibunya tidak segera merespon ucapannya.


"Kamu sudah memikirkannya Nak" tanya Sonia.

__ADS_1


"Ya Bu, Bunga sudah memikirkannya. Apapun masalah nanti di depan Bunga akan siap untuk melaluinya" ucap Bunga dengan penuh semangat.


"Baiklah ibu merestui mu" ucap Sonia sambil mengelus rambut anaknya. "Makanlah nanti sarapanmu dingin" tambahnya.


"Iya ibu" jawab Bunga.


"Oya Bu, nanti Aditya mau kemari mau melamar Bunga secara resmi" ucap Bunga sambil makan.


"Apa, kenapa tidak bilang dari tadi. Ibu belum ada persiapan sama sekali. Belum bilang sama tetangga sebagai saksi. Makanan dan lain-lain juga belum siap, apa tidak bisa diundur" celoteh Sonia.


"Ah ibu kenapa jadi marah-marah sama Bunga sih, kalau ibu tidak siap telpon saja si Aditya, gitu aja kok repot" ucap Bunga santai.


Tiba-tiba Sonia memukul kepala Bunga. "Aduh" ucap Bunga kesakitan. "Kenapa ibu memukul kepala Bunga" imbuhnya.


"Kamu kalau ngomong yang benar saja, masa kamu menyuruh ibu menelepon Aditya. Kenapa tidak kamu saja, malah menyuruh ibu" omel Sonia lagi.


"Baiklah-baiklah biar Bunga yang meneleponnya" ucap Bunga menghentikan makannya dan mengambil hape untuk menghubungi Aditya.


Bunga mengulangi panggilannya lagi. "Halo sayang" ucap Bunga setelah panggilannya diterima Aditya.


"Halo juga sayang, ada apa?" tanya Aditya.


"Ini ibu bertanya apa lamaran mu bisa ditunda dulu?" tanya Bunga.


"Memang ada apa?" tanya Aditya balik.


"Ibu belum menyiapkan apapun" jelas Bunga sambil melihat ibunya yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan anaknya dengan calon menantunya.

__ADS_1


"Sebentar" ucap Aditya. "Mereka sudah datang, coba kamu lihat" perintah Aditya.


"Apa" tanya Bunga bingung.


"Pergilah ke depan, aku sudah menyiapkan semuanya, tinggal kamu dan ibu mengaturnya saja" ucap Aditya.


"Baiklah" jawab Bunga sambil berlari ke depan.


Bunga membuka pintu dilihatnya beberapa kurir membawa makanan, pakaian dan ada menata rias juga.


"Sayang terima kasih" ucap Bunga.


"Iya, sekarang kamu bersiap-siap ya" pinta Aditya.


"Baik sayang, sampai ketemu nanti malam" ucap Bunga.


Mereka pun menutup teleponnya. Sonia senang sekaligus tidak enak, karena semuanya sudah diatur Aditya. "Anak itu" gumam Sonia tersenyum.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2