
Setelah di rawat dua hari satu malam, Bunga dan Aditya meninggalkan rumah sakit. Sebelumnya Bunga harus menjalani berbagai macam tes untuk memastikan bahwa tidak ada luka dalam.
"Sayang kita pulang saja gimana" pinta Bunga.
"Kamu serius tidak apa-apa kalau kita tidak jadi liburan" tanya Aditya,
"Tidak, lebih baik kamu selesaikan masalah kamu dulu. Aku tidak mau mengganggu kamu. Toh kita liburan pun, kamu tidak bisa lepas memikirkan pekerjaanmu" jawab Bunga meyakinkan.
"Baik lah, terima kasih" ucap Aditya.
Aditya melanjutkan mengendarai mobilnya menuju Kota A. Kecelakaan yang menimpa Bunga dan dirinya, dia serahkan kepada Arya untuk mengurusnya.
Ditempat lain
Bug bugĀ suara pukulan berkali-kali terdengar di sebuah gudang kosong, seorang pria dipukuli sampai mengeluarkan darah diseluruh tubuhnya. Tanpa ampun anak buah Arya memukuli lelaki itu, lelaki itu adalah orang yang telah berani mencelakakan tuannya. Ya orang itu adalah orang yang sudah menggelapkan dana proyek yang sedang di tangani Aditya, dan orang yang telah memotong kabel rem mobil Aditya yang menyebabkan kecelakan.
flas back
Arya malam hari sampai dikota G, dia segera menemui tuannya dirumah sakit. Arya mendengarkan apa perintah dan cerita bosnya tersebut dengan sesama.
"Saya tidak mau dia mati dan hidup" kata Aditya penuh ketegasan.
"Baik tuan, malam ini saya akan bergerak dan membereskannya" ucap Arya.
"Sisa masalah ini kamu bereskan sekalian, aku akan mengajak Bunga kembali ke kota A" perintah Aditya.
"Baik tuan, Tuan tenang saja saya akan mengurus semuanya" jawab Arya.
Setelah mendengar perintah Aditya, Arya pergi meninggalkan Aditya untuk bertindak. Arya membawa beberapa orang kepercayaannya yang tidak bisa diragukan lagi keahliannya dalam bertindak bahkan bisa membunuh tanpa ampun dan bukti.
.
.
.
"Ampun tuan" ucap lelaki itu, karena dia sudah tidak bisa menahan rasa sakit akibat pukulan dari orang kepercayaan Arya.
"Apa, ampun. Dimana rasa ampunmu setelah kamu berniat membunuh tuanku dan kekasihnya" teriak Arya.
"Maafkan saya tuan, saya tidak berniat membunuh tuan Aditya dan kekasihnya" jawab lelaki itu memohon.
"Kamu sudah mengambil dana proyek di kota ini, tapi masih mau mencelakainya tuan. Nyalimu sungguh besar" ucap Arya dengan penuh amarah.
Lelaki itu hanya bisa menangis menyesali perbuatannya, dia tidak bisa mengelak lagi. Arya pergi meninggalkan gudang tersebut dan menyuruh anak buahnya menyelesaikan. Arya harus mengurus yang lain sebelum dia kembali ke kota A.
.
.
.
.
__ADS_1
Aditya dan Bunga sampai dikota A, setelah menempuh waktu kurang lebih tiga jam.
"Kita mau kemana ini" tanya Bunga yang menyadari jalanan itu bukan ke arah rumahnya.
"Kita pergi ke suatu tempat dulu" jawab Aditya.
Bunga mengangguk.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di suatu tempat. Aditya ternyata mengajak Bunga ke sanggar tempat Bunga biasa latihan dan melatih anak-anak.
Bunga melihat ke arah Aditya, dia mengembangkan senyumnya lebar tanda bahwa dia sangat menyukainya.
"Terima kasih sayang" ucap Bunga sambil memeluk Aditya.
"Sama-sama. Ayo turun" ajak Aditya.
"Iya" jawab Bunga singkat.
Mereka turun dari mobil dan masuk kedalam sanggar. Sanggar terlihat sepi, karena hari ini adalah hari Minggu, jadi anak-anak tidak ada yang berlatih. Bunga melihat-lihat kesekeliling, dia sangat merindukan tempat itu. Disinilah dia menjadi dirinya sendiri, dia bebas berexpresi tanpa ada yang melarang.
"Apa kamu tidak ingin menari" tanya Aditya.
"Menari" tanya balik Bunga.
Aditya berjongkok dan mengulurkan tangannya mengajak Bunga berdansa. Bunga terharu dan menerima ajakan Aditya. Mereka berdansa tanpa alunan musik namun masih tetap romantis, mereka terhanyut dalam suasana.
Lama mereka berdansa. Kemudian Aditya berjongkok lagi dan berucap "Sayang maukah kau menikah denganku?".
Bunga mendengarnya menjadi terharu. "Ya aku mau sayang" ucapnya.
"Sama-sama" balas Bunga.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya.
Bunga bangun dan melihat ibunya masih tertidur. Dia memeluk ibunya, ada perasaan bahagia yang ingin di utarakan kepada ibunya. Sonia merasakan ada yang memeluknya, dia pun terbangun dan melihat putrinya berada disampingnya.
"Kok kamu tidur disini" tanya Sonia.
"Iya Bu, aku kangen sama ibu" ucap Bunga.
__ADS_1
"Bukannya kamu pulang besok" tanya Sonia lagi.
"Iya, tapi karena ada masalah jadi kami pulang lebih cepat" jawab Bunga.
"Ada masalah apa?" tanya Sonia penasaran.
"Masalahnya hari ini Bunga mau menikah dengan Aditya" jawab Bunga santai.
"Ooo... Sejenak berpikir " Apa, kamu dan Aditya mau menikah hari ini" tanya Sonia terkejut.
"Iya Bu, tadi malam Aditya mengajak Bunga menikah. Dan nanti kita menikah di KUA, tanpa pesta" celoteh Bunga.
"Tanpa pesta pun ibu harus syukuran, gimana kamu itu" ucap Sonia.
Sonia kemudian beranjak bangun "Ibu mau kemana" tanya Bunga.
"Ayo bangun dan mandi, antar ibu ke pasar" ucap Sonia meninggalkan anaknya menuju kamar mandi untuk mandi.
Selesai mandi Bunga dan ibunya pergi ke pasar untuk membeli keperluan yang dibutuhkan untuk syukuran. Rencananya Sonia ingin membuat nasi kuning dan dibagikan ke tetangga sebelah rumah, untuk menghindari fitnah.
Sampai di rumah Sonia segera memulai memasak, Bunga membantu ibunya.
Alunan musik dari hp Bunga berbunyi tanda ada panggilan masuk. "Pagi sayang" sapa nya dengan seseorang diujung telepon, yang tak lain adalah Aditya.
"Aku lagi bantu ibu memasak buat syukuran" jawab Bunga, setelah Aditya bertanya sedang apa kamu.
Bunga menutup panggilannya dengan Aditya setelah selesai berbicara panjang lebar dan bermanis - manisan.
Dua jam lebih Sonia dan Bunga selesai memasak dan menata rapi dikotak-kotak kardus untuk dibagikan ke tetangga.
"Sudah mulai bisa dibagikan" kata Sonia.
"Baik ibu, Bunga bantu bagikan" ucap Bunga.
Sonia dan Bunga membagikan nasi kotak kepada tetangga-tetangga, tak lupa mereka meminta doa kepada tetangga semoga pernikahan Bunga berjalan dengan lancar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
bersambung.