
Setiawan dan keluarganya memutuskan pergi dari makan malam, karena tidak ada gunanya di situ. Hermawan memilih mengikuti anaknya dari pada permintaan sahabatnya. Hermawan hanya diam membiarkan sahabatnya pergi, dia merasa kecewa sekali. Makan malam pun berlanjut, namun suana jadi hening Aditya hanya diam tanpa banyak bicara, tapi dia merasa senang ayahnya membelanya kali ini. Bunga merasa bingung "aku akan menanyakan nanti kalau sudah berdua saja dengan Aditya" dalam pikirannya.
Makan malam selesai, Hermawan pergi terlebih dulu, tak lupa dia berterima kasih dengan Bunga karena sudah membawakan kue buatnya. "Ajak dia ke rumah lain waktu, ayah ingin mengobrol banyak dengan nya" pesan Hermawan. Aditya mengiyakan. Tak lama Hermawan pergi Aditya dan Bunga juga pergi. Di dalam mobil "Apa kau tidak mau menjelaskan semuanya kepada ku" tanya Bunga membuka pembicaraan, karena rasa penasarannya juga. "Soal apa" tanya balik Aditya. "Soal tadi di restauran" tanya Bunga kesal sambil cemberut.
"Keluarga tadi adalah sahabat ayahku bekerja, dia berencana menjodohkan aku dengan wanita arogan tadi, tapi niatan dari mereka sudah tidak baik kepada keluarga ku" jelas Aditya.
"Ooo... terus kenapa kau mengatakan aku calon istrimu" tanya Bunga.
"Kenapa, apa kau menolak ku" tanya Aditya.
"Perhatikan jalanmu" ucap Bunga tanpa menjawab pertanyaan Aditya.
Aditya hanya tersenyum dan kembali fokus mengemudi. Sampailah Aditya mengantarkan Bunga ke rumahnya, karena besok ada pekerjaan Aditya langsung pergi setelah mengantar Bunga. Sebelum pergi Aditya berpesan kalau butuh apa-apa untuk menghubunginya, Bunga pun mengiyakan. Setelah melihat Aditya pergi Bunga masuk ke dalam rumah, dilihat ibunya tidak ada di ruang tamu, segera dia mengecek ke dalam kamar ibunya. Dilihat ibunya sudah terlelap dalam tidurnya, Bunga pergi menuju kamarnya untuk bersih-bersih dan mandi. Bunga selesai mandi, kemudian merebahkan badannya di atas kasur. Bunga tiba-tiba kebayang Aditya "Haduh, kenapa jadi kebayang dia sih" ucap Bunga sambil mengacak-ngacak rambutnya.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
Rian kembali ke rumah sakit setelah pagi, dia membawakan Rina makanan. "Pagi" sapa Rian setelah bertemu Rina melamun di luar kamar inap ibunya. "Pagi Tuan" jawab Rina pelan setelah melihat siapa yang menyapanya. "Gimana keadaan ibumu" tanya Aditya sambil duduk disebelah Rina. "Alhamdulillah sudah baikan setelah istirahat semalam, sekarang juga sedang istirahat" jelas Rina. "Makanlah dulu, kamu pasti belum makan" tanya Rian menyodorkan makanan yang dia bawa. "Terima kasih Tuan, saya tidak lapar" jawab Rina pelan. "Apa kamu mau dirawat disini juga bersama ibumu" ketus Rian. "Tidak tuan, buat apa saya dirawat. Saya tidak sakit kok di rawat" jawab Rina begitu polosnya. "Kalau gitu makanlah, kamu belum makan kan pagi ini. Menjaga orang sakit itu butuh energi, kamu kalau tidak makan bisa-bisa kamu juga ikut sakit" jelas Rian panjang lebar. "Ayo makan, atau mau aku suapi" canda Rian. "Tidak tidak saya bisa sendiri" ucap Rina gugup ketakutan. Rina mengambil makanan yang dibawa Rian dan membukanya. Sebenarnya Rina sudah lapar, namun dia tidak berselera karena melihat ibunya. Rina makan dengan hati-hati, disela makannya suster datang mencarinya.
__ADS_1
"Maaf nona bisa berbicara sebentar" tanya suster pelan karena takut mengganggu makan Rina.
"Iya suster ada apa" jawab Rina sambil menghentikan makannya.
Suster menjelaskan semuanya, Rina mendengarnya dengan seksama, Rian pun ikut mendengarkan. Wajah Rina terlihat senang, karena ibunya diperbolehkan pulang hari ini juga, karena tidak ada tanda-tanda terkena penyakit yang membahayakan. Suster pun meminta Rina untuk melunasi biayanya terlebih dahulu sebelum meninggalkan rumah sakit, Rina pun mengiyakan. Setelah suster pergi Rina menyudahi makannya, dia pamit kepada Rian untuk melihat ibunya terlebih dahulu, Rian juga pamit pergi keluar sebentar.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih sudah membaca novel karya ku. Jangan lupa like, komen dan vote. 🤗🤗🤗🤗🤗🤗