BUNGA GADIS PENARI PENJUAL KUE

BUNGA GADIS PENARI PENJUAL KUE
81


__ADS_3

Diperjalanan....


Aditya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, namun masih dengan hati-hati. Satu jam mereka menempuh perjalanan, hari ini jalanan tidaklah begitu ramai karena bukan hari libur. Kota G merupakan kota wisata yang cukup terkenal di negara mereka.


"Ayo turun" ajak Aditya, setelah memarkirkan mobilnya.


"Apa aku tidak disini saja menunggumu" ucap Bunga.


"Ayo ikut saja, disana ada tempat menunggu. Aku sudah menyiapkannya, jadi kamu bisa sambil istirahat" ucap Aditya.


Bunga menggangguk dan segera turun mengikuti Aditya dari belakang. Mereka masuk ke dalam gedung, dimana gedung tersebut adalah kantor sewaan sementara untuk proyek yang sedang ditangani di kota G. Aditya biasanya menyewa sebuah gedung untuk kantor sementaranya disetiap mendapatkan pekerjaan diluar kota A.


Aditya dan Bunga disambut oleh pegawai yang ditugaskan dikota G. "Selamat siang pak" ucap salah satu pegawai. "Apa kabar bapak" tambahnya.


"Siang, aku baik.  kumpulkan tim sekarang juga diruang rapat, aku tunggu disana" ucap Aditya yang terus saja berjalan mendahului pegawainya.


Aditya menuju sebuah ruangan "Ayo masuk" kata Aditya kepada Bunga yang hanya diam mengikuti Aditya, "Kamu tunggu disini, aku usahakan untuk cepat menyelesaikannya" tambah Aditya.


"Aku lapar" ucap Bunga malu.


Aditya melihat jam dan ternyata sudah melebihi jam makan siang mereka sampai dikota G. "Kamu tunggu disini, nanti aku akan meminta pegawaiku membawakannya untukmu" jawab Aditya.


"Kamu tidak makan sekalian bareng sama aku" tanya Bunga.


"Tidak, aku masih kenyang. Nanti saja kalau urusanku sudah selesai aku makan" jawab Aditya.


"Baiklah" ucap Bunga.


Aditya meninggalkan Bunga dan pergi menuju ruang rapat. Dia ingin segera menyelesaikan masalah yang mengganggu proyeknya. Berani-beraninya salah satu pegawainya mencuranginya.


Tok tok suara pintu diketuk.


Bunga yang mendengar pintu diketuk segera membuka pintunya, ada seorang wanita muda membawa nampan berisi makanan.


"Permisi Nona, saya mengantarkan makanan yang diperintahkan tuan Aditya" ucap sopan pegawai tersebut.


"Oh ya, terima kasih" ucap Bunga dan menerima nampan yang berisi makanan tersebut.


"Apa sudah cukup Nona" tanya pegawai tersebut.


Bunga melihat makanan yang dibawa pegawai tadi. "Bisa belikan aku buah" pinta Bunga.


"Buah, buah apa?" tanya pegawai tersebut.

__ADS_1


"Kalau rujak gimana?" tanya Bunga.


"Rujak Nona?" tanya balik pegawai tersebut.


"Iya, apa sulit mencarinya?" tanya Bunga lagi dengan sedikit kecewa.


"Maaf Nona bukannya saya tidak mau membelikannya, tapi saya bukan orang ini jadi saya tidak tau harus membelinya dimana" jelas pegawai tersebut.


"Oh... baiklah. Ini saja sudah cukup kalau begitu" ucap Bunga.


"Baik Nona, maaf sekali lagi ya" ucap pegawai tersebut. " Kalau begitu saya permisi Nona" tambah pegawai tersebut.


"Terima kasih" ucap Bunga.


Setelah pegawai tersebut pergi Bunga mendudukan tubuhnya disofa, sebenarnya sudah beberapa hari ini dia ingin sekali makan rujak, karena sudah lama sekali dia tidak makan. Bukan karena ngidam atau apa, tapi cuma sekedar ingin. Bunga memakan makanan yang dibawakan pegawai tadi dengan lahapnya, dia tidak makan semuanya karena ingin menunggu Aditya dan makan bersama dengannya.


Diruang rapat...


"Aku tidak akan membuang waktuku, yang merasa menyelewengkan dana proyek ini silahkan maju dan ajukan mengunduran dirimu" ucapan pertama kali Aditya setelah para pegawainya berkumpul.


Para pegawai terkejut dan berbisik-bisik, bukannya selama ini tidak ada masalah dengan proyek ini. Bagaimana bosnya bisa mengatakan ada pegawai yang menyelengkan dana.


"Diam" bentak Aditya, karena para pegawainya semakin ribut.


"Kamu bilang tidak ada masalah, lalu kenapa para pegawai lapangan membuat laporan seperti ini" ucap Aditya.


"Bre***k, berani sekali mereka. Ancamanku tidak mereka hiraukan" batin salah satu pegawai.


"Oo.. jadi tidak ada yang mau mengaku, oke.. tunggu saja surat penangkapan dari polisi" bentak Aditya meninggalkan tempat rapat.


Setelah Aditya keluar dari ruang rapat para pegawai kemudian saling bertanya-tanya, kenapa tidak ada gosip sama sekali, kenapa pelakunya begitu pintar sehingga tidak tercium pegawai yang lainnya. Tanpa mereka sadari salah satu pegawai ada yang keluar mengikuti Aditya.


"Maaf tuan Aditya, bisa berbicara sebentar?" tanya pegawai tersebut.


"Silahkan ikuti saya" jawab Aditya datar.


Aditya mengetahui bahwa pegawai yang sedang mengajaknya berbicara adalah pelaku sebenarnya, namun Aditya tidak langsung menuduhnya. Aditya ingin melihat sejauh mana dia bertindak.


Aditya dan pegawai tersebut sudah berada di ruangan lain.


"Apa yang ingin kamu bicarakan, cepatlah saya tidak ada banyak waktu" ucap Aditya tegas.


"Anu pak sebenarnya saya tau siapa pelakunya" jawab pegawai itu enteng.

__ADS_1


"Kamu tahu" tanya Aditya penuh tekanan.


"Iya pak, sebenarnya yang menggelapkan dana proyek ini adalah Pak David penanggung jawab kita" jelasnya.


"Sialan... kamu berani juga ya menuduh orang lain" batin Aditya.


"Kenapa kamu bisa menuduh David?" tanya Aditya tegas.


"Kemaren saya melihat dia sedang mengancam bagian lapangan pak" jelas pegawai tersebut.


"Oo.. ternyata dia juga mengancam bagian lapangan, baiklah kamu mau main-main sama aku ya" batin Aditya.


"Baiklah, sisanya aku urus. Kamu kembalilah bekerja" ucap Aditya.


"Baik pak saya undur diri" pamit pegawai tersebut.


.


.


.


Setelah pegawai tersebut pergi Aditya menemui Bunga.


Pelan dia membuka pintu, dilihatnya Bunga sedang berbaring di sofa sambil bermain-main hape nya.


Cup


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2