
"Bagaimana keadaan ibumu?" tanya Rian membuka obrolan.
"Sudah membaik" jawab Rina.
"Baguslah" ucap Rian sambil melanjutkan fokus mengemudi.
"Sial, kenapa harus sekarang sih" umpat Rian. Rina yang mendengar umpatan Rian hanya diam takut, apa dia membuat salah.
Rian meminggirkan mobilnya dan turun tanpa berkata apapun, Rina hanya memperhatikan tanpa bertanya apapun.
Rian menuju bagasi mobilnya ada yang diambilnya, hujan mengguyur tubuhnya.
Sedang apa dia, gumam Rina.
Rina melihat Rian membawa ban menuju depan mobil. Aku harus membantunya, gumamnya.
Tanpa pikir panjang Rina mencari sesuatu didalam mobil "ketemu" ucapnya. Rina ternyata mencari sebuah payung.
Rina keluar dari mobil, dia menemui Rian. "Kenapa kemari, hujannya cukup deras ini. Masuklah nanti kamu sakit" pinta Rian.
"Tidak, aku mau membantumu" ucap Rina yang masih berdiri tegak memayungi Rian.
"Kau mau membantu apa?" teriak Aditya karena kalau bicara pelan suaranya kalah dengan hujan.
Rina hanya diam "Aku memayungi mu" katanya keras.
"Buat apa, aku sudah basah kuyup begini. Lebih baik kamu masuk dan tunggu didalam" perintah Rian.
__ADS_1
Rina pun pergi meninggalkan Rian dan masuk kedalam mobil. Dia sedikit khawatir melihat Rian, tapi apa boleh buat dia tidak bisa berbuat apa-apa juga.
Beberapa menit kemudian, Rian selesai mengganti ban yang bocor. Hujan berhenti tiba-tiba " Sial, kau baru berhenti setelah aku selesai" umpat Rian kesal. Rina yang melihatnya Rian marah-marah sendiri karena hujan tanpa sengaja tersenyum.
Hai Rina bukannya takut dia marah-marah kok kamu malah tersenyum. Kata hati Rina.
Rian pun masuk ke dalam mobil untuk mencari pakaian kering, dia membiasakan diri selalu membawa pakaian untuk berjaga-jaga. Apalagi dia sangat suka berolahraga, memungkinkan dia untuk terus membawa pakaian ganti.
"Aku pergi dulu berganti pakaian disana" ucap Rian sambil menunjuk sebuah toilet umum. "kamu tunggu dulu disini" tambahnya.
Rina mengiyakan, kemudian Rian pergi untuk berganti pakaian. Rina terus saja menatap Rian, dia mengamati Rian yang begitu mandiri walaupun orang kaya.
Diakan orang kaya, kenapa mau susah-susah mengganti ban mobilnya sendiri. Biasanya orang kaya itu tidak mau repot sendiri apa-apa tinggal suruh sana sini. Gumam Rina sambil tersenyum. Halo Rina sadar-sadar, siapa kamu dan siapa dia. hati satunya tiba-tiba melawan.
Rina membuyarkan lamunannya karena Rian sudah masuk ke dalam mobil dengan pakaian kering.
"Ada apa?" tanya Rian melihat Rina melamun.
Rian kemudian melanjutkan perjalanan untuk mengantar Rina pulang.
.
.
.
Aditya sudah sampai di rumah Bunga, dia memarkirkan mobilnya dihalaman rumah Bunga. Sonia yang mengetahui anaknya sudah pulang, dia keluar menyambutnya.
__ADS_1
"Halo nak Aditya, apa kabar?" tanya Sonia.
"Baik Bu" jawab Aditya. "Sudah malam kenapa ibu belum tidur"? tambahnya.
"Ibu menunggu Bunga, sudah kangen sama anak ibu satu ini" jawabnya sambil memeluk Bunga.
Sonia sangat menyayangi Bunga, karena Bunga salah satu alasan dia untuk bertahan hidup setelah ditinggal suaminya.
"Ayo masuk, ibu buatkan kopi" pinta Sonia.
Sonia dan Bunga masuk ke rumah, diikuti Aditya dari belakang. Sonia menyuruh Aditya untuk duduk dan dia pergi ke dapur untuk membuat kopi. Bunga mengikuti Sonia ke dapur, dia ingin mengobrol dengan ibunya secara rahasia. Pasti ngomongin Aditya.
"Bu apa aku pantas buat Aditya" tanya Bunga pelan-pelan takut Aditya mendengar.
"Kenapa kamu tanya itu kepada ibu, yang tahu itu hatimu. Pantas tidaknya bukan diukur dari harkat derajat dan martabat, tapi kamu sendiri yang menilainya pantas tidak kamu bersamanya" jelas Sonia.
Tanpa disadari Aditya sudah menempelkan telinganya untuk mendengar pembicaraan ibu dan anak itu, sebenarnya dia hendak pergi ke kamar mandi.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih jangan lupa like, komen dan vote. Mohon dukungannya.. masih masih belajar menulis.🤗🤗🤗🤗🤗🤗