CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
11


__ADS_3

Terdengar bunyi notifikasi pesan yang masuk dari handphone. Namun rupanya sang pemilik tengah berada didalam kamar mandi sehingga dia tak mendengarnya.


Saat Jingga masuk kedalam kamarnya, dia tak sengaja melihat handphone sang suami menyala. Dengan penasaran Jingga membuka isi pesan tersebut.


Temui aku dirumah sakit sekarang!!! Kita sama-sama lihat hasilnya.


Dahi Jingga berkerut dalam. Dia tak mengerti isi pesan nya.


"Kamu lagi ngapain sayang?" tanya Ken setelah selesai membersihkan tubuhnya.


"Ini Mas ada pesan buat kamu. Tapi dari no baru," jawab Jingga sambil menyodorkan handphone suaminya.


"Mas juga gak tahu sayang. Mungkin pesan e--yang nyasar," ucap Ken tergagap, karena bagaimana pun dia tahu dari siapa pesan ini. Hari ini dia akan tahu, apakah anak yang dikandung Resti adalah anaknya atau bukan, setelah kemarin melakukan tes DNA.


"Oh ya udah Mas, ayo kita sarapan! Aku udah buat nasi goreng udang," ucap Jingga tersenyum.


"Ah iya ayo!" ucap Ken yang setengah kaget karena masih memikirkan hasil tes DNA itu.


Ken merangkul pinggang istrinya menuju meja makan. Mata Ken langsung berbinar kala melihat nasi goreng kesukaanya.


"Woah... Pasti enak nih masakan istriku tercinta," ucap Ken yang langsung segera menyuapkan satu sendok nasi goreng kedalam mulutnya.


"Gimana mas?" tanya Jingga.


"Sangat enak sayang. Seperti biasanya," ucap Ken disela kunyahannya.


"Alhamdulillah kalo Mas suka. Mas hari ini kita jalan-jalan ke taman yah," ucap Jingga yang sontak membuat Ken tersedak.


"Aduh Mas pelan-pelan makannya," ucap Jingga sambil menyodorkan air minum pada Ken yang langsung ditenggak habis. Sungguh Ken kaget, bukan dia tak mau menerima ajakan Jingga, tapi masalahnya hari ini dia harus melihat hasil Tes DNA nya.


"Hm sayang, kalo jalan-jalannya minggu depan aja gimana? Soalnya aku... Aku harus ketemu Pak Bram," ucap Ken gugup. Sebenarnya dia tidak mau berbohong pada Jingga, namun dia terpaksa melakukannya, demi kebaikan rumah tangganya.


"Oh ya udah Mas gak papa. Kamu langsung pergi sekarang Mas?" tanya Jingga saat melihat suaminya sudah menghabiskan sarapannya.


"Iya sayang, aku harus pergi sekarang. Gak papa kan aku tinggal sebentar?" tanya Ken yang sedikit merasa bersalah.


"Iya mas. Oh iya aku lupa, tadi Citra ngajakin aku kerumahnya. Kalo aku kesana gimana Mas, soalnya aku bosan dirumah terus?" tanya Jingga.


"Boleh. Tapi Mas gak bisa anterin kamu. Takut Pak Bram menunggu lama," ucap Ken.


"Iya Mas gak papa. Nanti aku berangkat sendiri. Kamu hati-hati dijalannya Mas!" ucap Jingga sambil mencium punggung tangan suaminya.

__ADS_1


"Iya sayang. Aku pergi dulu, assalamu'alaikum," ucap Ken kemudian mencium kening Jingga.


"Wa'alaikumsalam," balas Jingga.


Diperjalanan Ken tak merasa tenang. Dia gugup, takut jika memang benar anak yang dikandung Resti adalah anaknya. Dia harus berbuat apa? Apakah dia harus menikahi Resti? Tidak, itu tidak boleh terjadi pikir Ken kesal.


Setelah sampai dirumah sakit, Ken langsung menuju ke ruang Dr. Adi. Dokter yang melakukan serangkaian proses tes DNA nya.


Didalam ruang tersebut, sudah ada Resti dan Dokter Adi yang tengah menunggu kedatangannya.


"Silahkan duduk Pak Ken! Saya akan memberitahukan hasilnya," ucap dokter Adi yang dibalas anggukan oleh Ken.


Perlahan dokter Adi membuka amplop yang masih tersegel. Kemudian menyerahkan isinya pada Ken.


Perlahan Ken membacanya sampai selesai dan setelah itu matanya membuat sempurna. Dia tak percaya dengan apa yang dia baca.


"Dokter, ini pasti ada yang salah dengan hasilnya," ucap Ken sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak Pak. Hasilnya memang benar. Anak yang dikandung Bu Resti adalah anak kandung Bapak," ucap dokter Adi yang membuat Ken lemas.


"Aku gak bohong kan, kalo anak ini adalah anak kamu, jadi kamu harus nikahin aku secepatnya," ucap Resti tersenyum penuh kemenangan.


"Tidak. Saya tidak akan pernah menikahimu walaupun itu adalah anak saya. Karena kamu sudah menjebak saya, dan saya tidak akan pernah memaafkanmu. Camkan itu!" ucap Ken dengan nada tinggi.


Pintu dibanting keras saat Ken meninggalkan ruangan itu. Namun Resti hanya tersenyum sinis melihat itu. Tunggu saja, Ken pasti akan segera menikahinya pikir Resti senang.


...****************...


Setelah pekerjaan dirumahnya selesai, Jingga bergegas pergi kerumah Citra dengan menaiki taksi. Namun ditengah perjalanan, dia melihat mobil sang suami berada diparkiran rumah sakit yang sontak membuat Jingga begitu penasaran.


Bukankah suaminya itu pergi untuk menemui Pak Bram, lantas kenapa mobilnya ada dirumah sakit? Apakah terjadi sesuatu pada suaminya itu pikir Jingga cemas.


Dengan langkah tergesa-gesa, Jingga segera masuk kedalam rumah sakit untuk memastikan apakah suaminya itu baik-baik saja atau tidak.


"Maaf Mba saya mau tanya, apakah Mba melihat orang ini masuk kedalam rumah sakit?" tanya Jingga pada salah satu Resepsionis sambil memperlihatkan foto suaminya lewat handphone.


"Oh benar Bu, memang Pak Ken ada jadwal bertemu dengan Dokter Adi," jawabnya sambil tersenyum manis.


"Suami saya sakit apa Mba? E---dimana ruangannya?" tanya Jingga panik.


"Ada dilantai 10, nanti saat Ibu keluar dari pintu lift, Ibu akan langsung melihat ruangannya," jawab Resepsionis itu.

__ADS_1


"Terimakasih," ucap Jingga yang langsung berjalan tergesa-gesa.


Saat didalam lift, pikiran Jingga tidak tenang. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan suaminya. Setahu dia, Ken tak pernah mengeluh sakit apapun padanya.


TING!!!!


Pintu lift terbuka dan Jingga segera berjalan kearah pintu ruangan Dokter Adi.


Namun belum sempat Jingga memegang knop pintunya, Ken keluar dengan wajah yang tampak menahan amarah.


Sontak Ken membesarkan matanya kala dia hampir berbenturan dengan Jingga.


"Ya Allah Mas, kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu sama kamu? Kamu baik-baik aja kan? Memangnya kamu sakit apa hingga harus bertemu dengan dokter tanpa sepengetahuan aku Mas?" tanya Jingga panik bahkan dia tak bisa menahan air matanya.


"Ssttt sayang, dengerin Mas ya! Mas gak sakit kok. Mas cuma cek kesehatan aja. Maaf gak bilang sama kamu sayang," ucap Ken seraya menarik Jingga kedalam pelukannnya. Sungguh Ken merasa bingung juga frustrasi, bagaimana istrinya itu ada disini? Bagaimana kalo dia sampai tahu tentang kehamilan Resti, pikir Ken pening.


"Harusnya kamu bilang sama aku Mas, biar aku temenin kamu," ucap Jingga disela tangisnya.


"Udah jangan nangis sayang! Mending kita pulang ya," ucap Ken sambil mengusap air mata Jingga. Ken sungguh takut jika Jingga masih berada disini lalu melihat Resti, pasti semuanya akan jadi kacau pikir Ken cemas.


Namun belum sempat mereka pergi, pintu ruangan Dokter Adi kembali terbuka dan memunculkan sosok yang Jingga kenal.


Kening Jingga berkerut dalam kala melihat Resti keluar dari ruangan yang sama dengan suaminya. Sedangkan Ken membesarkan matanya, bagaimana Resti bisa keluar disaat dia belum pergi? Sungguh apa yang ditakutkan Ken kini terjadi.


"Resti," ucap Jingga tak percaya.


"Ah hai Kak Jingga, hm ngapain Kakak ada disini?" tanya Resti yang tak kaget sama sekali, justru ini keberuntungannya. Jadi dia tak perlu repot-repot membuat rencana agar Jingga mengetahui hubungan dia dengan Ken, pikir Resti senang.


"Harusnya aku yang tanya sama kamu. Ngapain kamu disini? Terus kenapa kamu bisa keluar dari ruangan yang sama dengan suamiku?" tanya Jingga yang dipenuhi perasaan curiga pada keduanya.


"Kak Jingga bisa tanya langsung sama Mas Ken mengenai detalinya," ucap Resti tersenyum licik lalu melirik kearah Ken yang hanya bisa mengusap wajahnya frustrasi.


"M---Mas. Kamu sebut suami aku dengan sebutan Mas," ucap Jingga tersekat karena sesak didadanya memikirkan apa yang terjadi antara Resti dan suaminya.


"Iya, karena sebentar lagi Mas Ken akan menikahiku, karena aku hamil anaknya," ucap Resti yang sangat senang melihat kehancuran Jingga ada didepan matanya. Setelah mengatakan itu, Resti langsung meninggalkan Ken dan Jingga yang masih syok.


"Sayang, dengerin penjelasan aku! Aku tidak melakukannya dengan sengaja, a---aku dijebak saat aku menolongnya. Kamu harus percaya sama aku," jelas Ken sambil meraih tangan Jingga namun ditepis kasar oleh istrinya itu.


"Berapa bulan? Aku tanya berapa bulan kehamilannya Mas? Jawab!" tanya Jingga dengan suara meninggi.


"4 bulan," jawab Ken cepat dengan sorot mata bersalahnya.

__ADS_1


"4 bulan ya? Berarti sebelum kita menikah ya. Kamu hebat Mas, kamu hebat bisa menghancurkan aku dalam sekejap," ucap Jingga sambil terkekeh tak percaya. Setelah itu dia langsung meninggalkan suaminya yang masih berdiri mematung.


__ADS_2