
Bella menatap suami dan anaknya secara bergantian, saat mereka sudah bisa mengontrol emosinya. Bella tak percaya, suaminya bisa menampar anaknya sendiri, padahal dari dulu, Roy tak pernah melakukan itu pada anaknya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, sehingga Papa harus menampar Ken?" tanya Bella penasaran, karena dia memang tidak tahu apa penyebab suaminya sampai semarah itu.
"Ma, anak kita sudah memperlakukan Jingga dengan tidak adil, bahkan sekarang sikapnya begitu dingin pada menantu kita. Apa Mama tadi tidak mendengar apa yang diucapkan Ken pada Jingga? Dia membahas soal Jingga yang belum juga memberinya keturunan," ucap Roy kesal, sambil melirik ke arah Ken yang hanya diam saja.
Sedangkan Jingga hanya menjadi pendengar saja, bahkan dia hanya menundukan kepalanya.
"Benarkah?" tanya Bella kaget.
"Iya Ma. Mama bisa tanya sendiri pada anaknya," ucap Roy langsung.
"Benar apa yang dikatakan Papamu, Ken?" tanya Bella pada anaknya.
Ken hanya mengangguk sebagai jawabannya, dan karena hal itu pula, Bella tak dapat menyembunyikan wajah kagetnya.
"Kenapa kamu bisa mengatakan hal itu pada istrimu sendiri?" tanya Bella tak habis pikir.
"Lalu aku harus bagaimana Ma. Aku sangat ingin mempunyai anak darinya, tapi sampai anak aku dari Resti sudah sebesar ini pun, dia belum menunjukan tanda-tanda bahwa dia akan memberikan anak untukku," ucap Ken membuat isak tangis Jingga semakin bertambah.
"Kamu harus sabar Ken, suatu saat kalian akan dipercaya untuk mempunyai seorang anak. Kenapa kamu jadi bersikap seperti ini!" ucap Bella tak habis pikir dengan anaknya itu.
"Sudahlah Ma, aku gak mau bahas soal ini lagi. Aku sudah memutuskan, bulan depan, aku akan menceraikan Jingga!" tegas Ken membuat semua orang syok saat mendengarnya.
"Ken!" teriak Roy marah.
"Mas, aku mohon jangan ceraikan aku. Aku gak mau berpisah sama kamu. A---aku, aku siap diperlakukan seperti apapun, asal kamu jangan menceraikan aku," lirih Jingga dengan tangisnya, sambil memegang tangan suaminya.
Roy dan Bella yang melihat itu, merasa tak tega dengan menantunya. Apalagi mendengar tangisan pilu Jingga, membuat hati mereka jadi sakit saat mendengarnya.
"Keputusan aku sudah bulat, dan tidak ada seorangpun yang bisa mengubah keputusan ini," ucap Ken dengan memejamkan matanya, untuk memantapkan hati dengan keputusannya. Kemudian Ken melepas tangan Jingga dari lengannya, dia segera berdiri dan melangkahkan kakinya, meninggalkan Jingga dengan tangis pilunya.
__ADS_1
"Mas... Aku mohon dengarkan aku. Aku gak mau berpisah dari kamu!" ucap Jingga disela tangisnya, namun Ken terus melangkah tanpa mendengar teriakan dari istrinya.
"Sayang, tenang. Kamu harus tenang ya! Mama janji akan berbicara dengan suami kamu," ucap Bella langsung memeluk Jingga, saat Jingga hampir ambruk ke lantai. Bella juga tak bisa menahan tangisnya, saat melihat Jingga seperti itu.
"Ma, aku gak mau berpisah sama Mas Ken. Aku gak akan sanggup hidup, jika tanpa dia Ma," ucap Jingga sebelum tangis kerasnya mengudara.
"Iya sayang, kamu gak bakal pisah sama Ken, Mama janji sayang," ucap Bella sambil mengelus punggung Jingga yang terkulai lemas dipelukannya.
"Kakak, Huaaa... Kenapa Kakak menangis?" tanya Keyla sambil menangis saat melihat kakaknya menangis dipelukan neneknya.
"Sayang, Kakak kamu gak papa. Kamu ikut Kakek ke kamar ya!" bujuk Roy sambil menggendong Keyla. Karena saat ini, Jingga butuh ketenangan.
"Kamu jangan nangis ya sayang!" ucap Roy lagi sambil menghapus air mata di pipi Keyla. Kemudian dia langsung membawa Keyla kekamarnya, agar Keyla tenang dan tidak melihat kakaknya yang masih menangis histeris.
Setelah Roy sampai dikamar Keyla, dia segera mendudukan Keyla ke atas kasur, dan segera mengusap lembut pipi gembul Keyla, yang masih dipenuhi oleh air matanya.
"Kek, kenapa Ka--kak menangis?" tanya Keyla tersedu-sedu.
"Kakek boong kan?" tanya Keyla lagi.
"Enggak sayang, Kakek gak bohong. Sekarang kamu tenang ya, Kakek akan menemani kamu disini, sampe kamu tidur," ucap Roy lagi sambil mengusap surai Keyla.
"Tapi kakak me--nangis Kek," ucap Keyla masih dengan suara paraunya.
Roy hanya menggelengkan kepala, sebagai jawabannya. Dia juga bingung, harus dengan cara apalagi agar Keyla mempercayainya.
"Tadi kakak menangis. Kenapa kakak sering menangis? Dia juga sering menangis saat kakak lagi sendiri," ucap Keyla.
"Kamu tahu dari mana sayang?" tanya Roy sambil mengusap ingus di hidung Keyla.
"Key sering lihat kakak menangis, saat Key bangun dari tidur Key," jawab Keyla dengan nada lucu, tapi hal itu tidak membuat Roy senang. Justru ucapan Keyla langsung membuatnya kaget.
__ADS_1
Bagaimana mungkin Jingga sering menangis disaat dia tengah sendiri? Mungkinkah selama ini, dia menyimpan semuanya sendiri, dan menanggung bebannya hanya seorang diri? Pikir Roy dalam hati.
"Sudah ya sayang, kamu jangan menangis lagi. Nanti kalau kak Jingga lihat kamu menangis, dia akan sedih. Kamu gak mau kan, melihat kak Jingga sedih?" tanya Roy yang berhasil membuat Keyla mengangguk patuh.
"Baiklah, sekarang Keyla bobo dulu ya. Kakek temenin kamu sampai tidur," ucap Roy segera membantu Keyla merebahkan tubuhnya. Dia menarik selimut sampai batas leher Keyla, dan mengusap-usap kepala gadis kecil itu, agar Keyla cepat tertidur.
*****
Karena menangis semalaman, membuat mata Jingga bengkak saat dia terbangun dari tidurnya. Bahkan menggerakan tubuhnya pun terasa sulit, karena semua tubuhnya terasa lemas. Namun dia tetap berusaha bangun dari tempat tidurnya, sambil melirik ke arah Keyla yang masih tertidur.
Dia tak percaya dengan kehidupannya yang berubah seperti itu. Baru saja Jingga ditinggal oleh ayahnya, dan kini dia harus menerima kenyataan bahwa suami yang sangat dicintainya itu akan segera menceraikannya.
Tak sedikit pun terlintas didalam pikirannya, bahwa pernikahannya akan berakhir seperti ini. Dia tak pernah berpikir bahwa dia akan berpisah dari suaminya. Suami yang sangat mencintai dan menyayanginya. Bahkan selalu berjanji akan selalu menjaga dan membahagiakannya. Tapi kini, suaminya telah berubah, dan sebentar lagi, Ken akan menceraikannya. Hanya dengan memikirkannya saja, membuat air mata Jingga lolos lagi melewati pipi putihnya.
"Ah sepertinya air mata ini akan habis," monolog Jingga dengan wajah frustrasi.
Jingga segera melangkah ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya. Sedikit melupakan masalahnya sejenak. Setelah selesai, Jingga segera bergegas keluar untuk menyiapkan sarapan.
"Mas, kamu mau aku buatkan apa untuk sarapannya?" tanya Jingga saat melihat Ken berjalan ke arah dapur.
"Gak perlu, aku akan sarapan diluar aja," jawab Ken datar.
"Mas, aku mohon pertimbangkan lagi keputusan kamu itu," ucap Jingga pelan.
"Sudahlah jangan bahas itu lagi. Aku akan berangkat kerja, jadi kamu jangan bahas lagi, dan jangan membuat aku pusing dengan masalah ini, karena keputusan aku sudah bulat," ucap Ken kesal, dan segera melangkah pergi.
"Kenapa kamu bisa melakukan ini Mas? Kenapa kamu bisa melupakan janji-janji kamu, yang akan selalu menjaga aku. Bahkan kamu sudah berjanji akan menua bersama aku, tapi kenapa kamu mengingkari janjimu sendiri. Untuk apa kamu meminta aku untuk hidup bersamamu, jika akhirnya kamu ingin kita berpisah? Kenapa Mas, kenapa kamu tega melakukan ini sama aku? Kenapa... " ucap Jingga yang sudah tak tahan, bahkan dia menangis lagi.
Dia menumpahkan semua kesedihannya, berharap agar Ken bisa kembali seperti dulu, saat dia mengatakan janji-janji yang diucapkan suaminya. Namun Jingga tak dapat menyelesaikan perkataannya, karena rasa sesak didadanya saat dia menangis.
Namun sepertinya, semua yang diucapkan oleh Jingga tak berpengaruh sama sekali pada Ken. Buktinya dia tetap melanjutkan langkah kakinya, walaupun dia mendengar tangisan pilu sang istri. Bahkan tak ada raut wajah khawatir sedikitpun yang ditunjukan oleh Ken, saat melihat Jingga yang sudah terkulai lemas di lantai.
__ADS_1