
Pagi hari yang cerah, dengan suara khas di desa, membuat Roy sangat menyukai suasana itu. Terlebih dengan pemandangan yang masih asri, membuat dia semakin betah tinggal dirumah Jingga.
Namun kesedihan masih berkabut di rumah itu, terutama pada menantunya. Dapat Roy lihat, pagi itu, mata Jingga sangat bengkak, kemungkinan karena semalaman dia menangis terus.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Roy lembut pada menantu kesayangannya itu.
"Sudah lebih baik Pa. Jingga mencoba menerima semua ini dengan ikhlas," jawab Jingga sambil menatap ayah mertuanya.
Saat itu Jingga sedang menyiapkan sarapan, sedangkan suaminya masih berada di dalam kamar, sepertinya dia sedang bersiap-siap karena baru saja membersihkan tubuhnya.
"Syukurlah. Memang kamu harus menerimanya dengan ikhlas, karena bagaimanapun ini semua sudah menjadi takdir-Nya," ucap Roy lagi.
"Iya Pa,"
"Dimana suami kamu?" tanya Roy lagi.
"Dia baru saja selesai membersihkan tubuhnya Pa. Mungkin sekarang lagi siap-siap," jawab Jingga.
Roy yang mendengar itu hanya mengangguk mengerti. Dia hanya memastikan bahwa putranya itu tidak bangun kesiangan.
"Wah! Sarapannya sudah siap ya," ucap Ken yang tiba-tiba saja muncul. Dia semangat akan memakan makanan buatan istrinya. Sejak kepulangan Jingga ke rumahnya, Ken jadi merindukan masakan sang istri.
"Ya udah Mas, ayo makan!" ucap Jingga langsung.
"Keyla mana Ken?" tanya Roy pada putranya yang sudah duduk manis, dan bersiap memakan makanannya.
"Dia masih tidur Pa, aku gak tega membangunkannya. Mungkin karena kemarin kelelahan, jadi tidurnya sangat pulas," jawab Ken yang ingat tadi pagi Keyla begitu pulas di pelukannya, karena mereka tidur bersama.
"Oh begitu, ya sudah kita sarapan dulu," ucap Roy sambil memulai memakan makanannya.
Sama seperti putranya, Roy juga sangat menyukai masakan sang menantu. Setiap makanan yang dimasak Jingga pasti selalu enak, membuatnya terus ketagihan, walaupun memang masakan istrinya juga tak kalah enak. Roy bersyukur dia dan putranya sama-sama memiliki seorang wanita yang hebat.
"Iya Pa. Biar nanti Keyla sarapannya saat dia sudah bangun," ucap Jingga setelah meletakan makanan ke atas piring suaminya.
__ADS_1
"Papa udah ngasih kabar sama mama kalian, kalau siang ini kita pulang," ucap Roy disela makannya.
"Iya Pa," jawab Jingga.
"Pa, mama ngasih kabar enggak soal Resti yang udah diizinkan pulang atau belum?" tanya Ken yang tiba-tiba ingat Resti.
Jingga menoleh ke arah Ken, begitu pula dengan Roy. Kenapa Ken harus membahas masalah itu didepan istrinya, apalagi keadaan Jingga yang masih berkabut kesedihan? Tidak kah Ken melihat bahwa tatapan Jingga itu berubah menjadi sendu, saat mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Ken itu, pikir Roy sedikit tak habis pikir.
"Papa gak tahu," jawab Roy santai.
"Kenapa kamu gak coba menghubungi Resti langsung aja Mas. Kamu kan bisa nanya langsung," ucap Jingga setelah beberapa detik dia mencoba berdamai dengan perasaannya yang mulai bergejolak itu.
"Oh iya ya sayang, kenapa Mas gak kepikiran. Ya udah setelah sarapan, nanti Mas akan menghubungi dia," ucap Ken setuju dengan ucapan istrinya.
Roy yang melihat itu memicingkan matanya menatap Ken. Dia terus menatap Ken sambil berpikir, kenapa putranya itu sama sekali tidak peka terhadap perasaan istrinya? Padahal terlihat jelas, raut wajah Jingga tiba-tiba langsung sedih saat mendengar ucapannya itu.
"Jingga, coba kamu lihat Keyla, barang kali dia sudah bangun. Kasian, perutnya juga harus diisi makanan," ucap Roy langsung, dia tak mau terus melihat wajah sedih menantunya.
Setelah Jingga masuk ke dalam kamar, Roy langsung menatap Ken dengan tatapan tajamnya, membuat Ken sedikit meringis karena di tatap seperti itu oleh papanya.
"Papa kenapa natap aku kaya gitu?" tanya Ken dengan kekehan untuk menutupi rasa gugupnya.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu didepan Jingga?" tanya Roy tak suka.
"Bicara bagaimana Pa?" ucap Ken tak mengerti.
"Ck! Kamu benar-benar suami yang tidak peka. Wajah sedih Jingga terlihat jelas saat kamu membahas soal Resti. Kenapa kamu berbicara masalah itu didepannya? Harusnya kamu sadar, bahwa istri kamu itu baru saja ditinggal ayahnya, pasti dia sangat sedih kehilangan orang yang berarti bagi hidupnya. Tetapi kamu dengan tak sadarnya, malah membuat dia semakin sedih," ucap Roy meluapkan semua yang ada dipikirannya.
Ken bungkam setelah mendengar semua penuturan papanya. Dia terus mencerna semua yang di ucapkan papanya. Benar, kali ini dia sudah keterlaluan, istrinya masih dalam kesedihan, tapi dengan tak tahu malunya dia sudah menambah kesedihan pada Jingga, pikir Ken dalam hati.
"Maafkan aku Pa," ucap Ken setelah sekian detik mereka hanya diam.
"Minta maaflah pada istrimu. Kedepannya, Papa minta kamu harus selalu menjaga perasaan Jingga. Papa tak mau melihat dia sedih lagi, karena tugasmu sebagai suami untuk membahagiakannya, bukan membuat dia sedih. Cukup sekali Papa melihat dia berkorban untuk rumah tangga kalian, selanjutnya kamu yang harus berjuang untuk mempertahankan rumah tangga kalian. Ingat Ken, walaupun saat ini kamu sudah mempunyai seorang anak, tapi kamu tak boleh mengabaikan Jingga, karena bagaimanapun dia rela berbagi suami dengan wanita lain," nasihat Roy pada anak semata wayangnya itu.
__ADS_1
Roy tidak mau putranya melakukan sesuatu yang akan disesali nantinya, maka dari itu, dia terus mewanti-wanti Ken dengan nasihat-nasihat yang dia berikan.
"Baik pa,"
"Ingat satu lagi Ken, tidak ada seorang wanitapun di dunia ini yang mau berbagi suami dengan wanita lain," ucap Roy lagi dan Ken mengangguk patuh terhadap apa yang diucapkan papanya.
Roy segera menyudahi percapakannya dengan Ken, karena dia melihat Jingga yang keluar dari kamarnya sambil menggendong Keyla.
"Pagi sayang," ucap Roy tersenyum pada Keyla.
"Pagi, e--om," jawab Keyla yang membuat orang-orang tertawa.
"Sayang, jangan panggil om. Kalau kamu mau, kamu bisa panggil Kakek," ucap Roy setelah tawanya reda. Lebih baik dia dipanggil kakek dari pada dengan sebutan om. Lagi pula dia menginginkan cucu dari Jingga, jadi adik Jingga akan dianggap sebagai cucunya.
"Iya sayang, kamu boleh memanggilnya Kakek," ucap Jingga saat melihat wajah bingung adiknya.
"Iya Kak," ucapnya sambil tersenyum lucu.
"Sekarang Keyla cantik makan dulu ya, setelah itu kita pergi ke rumah kakak Jingga," ucap Roy yang begitu senang saat melihat Keyla.
"Iya Kek. Tapi Key mau disuapin cama Kakek," ucap Keyla yang membuat Roy tersenyum senang.
"Baiklah. Kakek akan menyuapi cucu Kakek yang cantik ini," ucap Roy yang disambut tawa lucu dari Keyla. Setelah mengatakan itu, Roy langsung duduk disamping Keyla, dan segera menyuapinya dengan sayang.
Jingga yang melihat itu ikut senang, dia berharap kedepannya Keyla akan terus bahagia walaupun ayah dan bundanya sudah tiada. Sedangkan disampingnya, Ken masih berkecamuk dengan rasa bersalahnya, membuat Jingga sedikit mengerutkan keningnya.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Jingga yang langsung membuat Ken tersentak dari lamunannya.
"Eh? Mas gak papa sayang," jawab Ken langsung tersenyum. Kemudian dia memegang tangan Jingga dan segera mencium lembut punggung tangan istrinya.
"Mas malu," ucap Jingga sambil melirik ke arah papa mertuanya, yang untungnya saat Ken mencium tangannya, papanya itu sedang fokus meyuapi Keyla.
sedangkan Ken langsung tertawa, melihat wajah istrinya yang sudah merona karena malu. Dalam hati dia berjanji akan terus menjaga dan membahagiakan istrinya, seperti apa yang dinasihatkan oleh papanya.
__ADS_1