
Jingga segera membuatkan minum untuk tamunya. Walaupun dia sama sekali tidak suka dengan kedatangan Ken apalagi anaknya, tetapi menyambut tamu adalah kewajibannya sebagai tuan rumah.
Hanya 4 gelas teh manis, Jingga segera membawanya ke ruang tamu. Sedikit tak menyangka, dan tak percaya, mantan suaminya itu bertamu dengan membawa anaknya.
"Silahkan diminum!" ucap Jingga sambil meletakan minumannya ke atas meja.
"Terima kasih," balas Ken.
Saga yang duduk bersama papanya hanya diam saja. Takut karena bertemu dengan orang yang tidak dikenalnya. Sesekali Saga terlihat menarik ujung lengan baju Ken. Mungkin dia merasa tak nyaman karena berada di lingkungan baru.
"Apa maksud kedatangan Anda ke sini?" tanya Ray langsung membuka pembicaraan.
"Saya ke sini untuk bertemu dengan anak saya, dan ada hal yang harus saya sampaikan pada Jingga," ucap Ken.
Jingga yang merasa namanya disebut langsung menautkan kedua alisnya. Cukup penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh mantan suaminya itu.
"Katakanlah!" ucap Ray lagi, membuat Ken sedikit geram. Padahal dia ingin berbicara dengan Jingga, tetapi Ray yang selalu membalas ucapannya.
"Ga, dimana Nayla?"
"Ada di kamar, dia belum bangun. Katakan tujuan kamu datang ke sini!" ucap Jingga sedikit menuntut.
Sedangkan Ray yang duduk di samping istrinya tiba-tiba merasa gelisah, takut apa yang akan disampaikan Ken tidak baik.
"Baiklah, sepertinya kalian tidak senang dengan kedatanganku, sampai aku harus cepat-cepat mengutarakan maksudku datang ke sini," ucap Ken sedikit sinis.
Namun Ray dan Jingga tak menanggapinya.
"Aku ke sini ingin menemui Nayla sekaligus memperkenalkan dia dengan kakaknya, Saga,"
"Lalu?"
"Setelah itu, e--Ga, maukah kamu kembali padaku?"
Ucapan Ken sontak membuat Ray dan Jingga membulatkan matanya. Mereka sangat kaget, dan tak menyangka Ken dengan percaya dirinya meminta Jingga untuk kembali padanya. Dimana urat malunya? Apakah memang sudah putus? Dengan tak tahu malunya meminta Jingga kembali, padahal jelas-jelas Jingga adalah istri Ray.
"Kamu gi*a Ken! Jelas-jelas aku ini sudah bersuami, dan kamu dengan tak tahu malunya memintaku untuk kembali," ucap Jingga tak habis pikir.
"Apakah Anda sadar dengan apa yang Anda katakan?" tanya Ray penuh penekanan.
"Dengan sadar, saya mengatakan yang sebenarnya," ucap Ken santai.
Jingga yang mendengar itu semakin tersulut emosinya. Bagaimana Ken bisa seperti itu didepan suaminya.
__ADS_1
"Mas, izinkan aku untuk mengusir makhluk tak tahu malu ini?"
"Tenanglah sayang! Kita dengarkan dia sampai selesai bicara,"
Jingga langsung menuruti ucapan suaminya, walaupun hal itu sangat bertolak belakang dengan hatinya. Ingin sekali Jingga mencakar wajah dan tubuh mantan suaminya itu. Sungguh tak habis pikir, pagi-pagi kedatangan tamu yang membuat tekanan darahnya naik.
"Kamu benar-benar tak tahu malu Ken. Dimana akal sehatmu? Meminta pada istri orang untuk kembali padamu, bahkan tak ingat pada istrimu sendiri,"
"Seminggu yang lalu Resti kecelakaan yang menyebabkan dia kehilangan nyawanya,"
Jingga dan Ray sekali lagi terkejut, namun sekarang raut wajah mereka berubah menjadi tak percaya. Mereka memang menutup informasi tentang apapun yang menyangkut Ken dan keluarganya, namun cukup tak menyangka bahwa Resti telah tiada.
Jingga belum menanggapi ucapan Ken, karena terlalu kesal dengan sikap percaya dirinya itu, walaupun didalam hatinya dia sedikit merasa kasihan pada anaknya Resti yang harus kehilangan seorang ibu di usianya yang masih kecil.
"Kami turut berbela sungkawa atas kepergian istrimu," ucap Ray tulus.
"Terima kasih. Aku meminta maaf pada kalian, atas namanya, bila semasa hidup Resti banyak salah pada kalian,"
"Kami sudah memaafkan semua kesalahannya,"
"Aku juga sudah memaafkannya. Tapi sebaiknya kamu pulang jika kamu tetap kukuh pada keinginanmu. Sampai kapanpun aku tidak akan kembali padamu. Kamu lihat sendiri kan, kini aku sudah bahagia hidup bersama suamiku." Kini Jingga membuka suaranya.
"Kamu serius bahagia?" tanya Ken dengan nada sedikit meremehkan, bukan tidak percaya, namun dengan kondisi Ray yang hanya duduk di kursi roda apakah benar bisa membahagiakan Jingga.
"Dengan kondisinya yang hanya duduk di kursi roda, begitu maksudmu?"
Jingga yang mendengar itu semakin tersulut emosinya. Bagaimana mungkin dia membiarkan orang yang sudah berani mengejek suaminya.
Sedangkan Ray hanya diam saja, cukup tersinggung dengan perkataan Ken, namun dia hanya melihat saja bagaimana wajah pongah Ken.
"Silahkan pergi dari rumah ini! Kamu tak berhak berbicara apapun tentang suamiku, karena kamu bahkan tidak lebih baik dari seorang laki-laki breng**k!" ucap Jingga penuh emosi, bahkan suaranya yang keras membuat Nayla langsung terbangun.
"Sayang, jangan emosi!"
"Bagaimana aku bisa tenang Mas, dia sudah keterlaluan,"
"Aku bicara yang sebenarnya. Bukankah yang aku katakan adalah sebuah kenyataan? Lantas kenapa kamu marah," ucap Ken santai, dia hanya mengelus kepala Saga yang semakin ketakutan mendengar orang dewasa yang bertengkar.
"Kedatanganmu kesini hanya membuat aku emosi, jadi lebih baik kamu pergi. Sekarang!"
Jingga sudah hilang kendali, beberapa kali pun Ray menenangkan tapi Jingga tetap terkuasai emosinya. Menurutnya, ucapan Ken sangat keterlaluan.
"Tapi aku mau bertemu Nayla,"
__ADS_1
"Aku bilang pergi!!!"
Ken langsung berdiri, mengajak Saga untuk pulang.
"Ayah... "
Namun teriakan Nayla berhasil membuat langkah Ken terhenti. Dia segera mengembangkan senyuman saat putri kecil itu berlari ke arahnya.
"Sayang!" Ken segera menurunkan Saga dari gendongannya, dan berbalik memeluk Nayla.
"Ayah mau kemana?"
"Ayah mau ketemu sama putri Ayah yang cantik ini," ucap Ken seraya mencium kedua pipi Nayla.
Nayla terlihat sangat senang sekali. Pagi ini ayahnya datang, namun sedikit bingung karena ada ayahnya membawa seorang anak laki-laki.
Berbeda dengan Nayla, justru Jingga terlihat menahan kesal lantaran anaknya bangun disaat Ken belum beranjak pergi dari rumahnya itu. Dia sama sekali tidak menyangka, Nayla akan mengetahui kedatangan ayahnya.
"Kamu mandi dulu yuk sayang," ajak Jingga pada Nayla.
"Enggak mau Bun, aku maunya cama Ayah,"
"Tapi sayang,, "
"Sudahlah Ga, aku hanya ingin melepas rindu dengan putriku sendiri,"
Jingga hanya bisa menghela nafas panjang. Sia-sia saja membujuk anaknya, jika dia sudah bersama ayahnya, bahkan ucapannya pun tak lagi di dengar.
"Sayang, biarkan Nayla bersama ayahnya," ucap Ray segera mengelus tangan istrinya yang sudah diliputi emosi.
"Ayah, itu ciapa?" tanya Nayla sambil menunjuk ke arah Saga.
"Emm dia kakak kamu sayang, namanya kak Saga," jawab Ken sambil mengelus surai Nayla.
Nayla dibuat bingung, kenapa tiba-tiba dia punya seorang kakak? Aneh, pikirnya.
"Kakak aku Yah?" tanya Nayla dengan nada lucu.
"Iya sayang, ini kakak kamu. Kalian harus akur ya!"
"Saga sayang, ini adik kamu. Ayo beri dia pelukan!" lanjut Ken.
Tanpa menjawab Saga melangkah mendekati anak kecil yang menurutnya sangat lucu.
__ADS_1