CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
41


__ADS_3

Langkah kaki terdengar jelas, menandakan sang pemilik tengah tergesa-gesa. Di belakang, Ray mengikuti langkah cepat kaki Jingga. Bahkan Jingga terlihat sesekali berlari karena dia sudah tidak sabar ingin melihat kondisi ayahnya.


Siang itu, rumah sakit tempat ayah Jingga dirawat sangat ramai pengunjung, sampai Jingga beberapa kali hampir menabrak orang-orang yang berlalu lalang di rumah sakit itu. Sampai akhirnya dia sampai didepan ruang perawatan ayahnya.


Jingga menatap nyalang pada dua orang yang terbaring lemah di ruang yang bertuliskan ICU itu. Dia masih belum menerima bahwa yang terbaring disana adalah ayah dan juga ibu tirinya.


Entah apa penyebab kecelakaan itu, namun yang pasti Jingga tak kuasa menahan tangisnya saat dia melihat ayahnya yang tak sadarkan diri dengan beberapa peralatan medis yang menempel pada hampir disekujur tubuhnya. Dia hanya bisa menatap nanar ayahnya dari kaca pembatas ruangan itu.


Ray ikut merasa sedih saat melihat wanita pujaannya menangis pilu. Dia juga pernah ada diposisi Jingga sekarang, saat dulu ayah dan ibunya juga mengalami kecelakaan yang langsung merenggut nyawa mereka, yang membuat dia dan Dafa harus kehilangan kedua orang tua mereka saat umur mereka masih kecil.


"Menangislah sampai membuat perasaan kamu lega. Setelah itu kamu harus kuat, karena saat ini mereka membutuhkan semangat dan juga doa-doa darimu. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja, dan ayah juga ibumu akan secepatnya pulih," ucap Ray yang berada disamping Jingga berdiri.


"Aku harap juga begitu. Aku tak mau lagi merasakan sakit karena ditinggal oleh orang yang sangat berarti dalam hidup aku. Aku, a--aku belum siap jika harus merasakan kehilangan orang tersayang lagi," ucap Jingga sedikit tercekat sebelum tangisnya kembali pecah.


Ray hanya mengulum bibirnya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Ray ingin membawa Jingga kepelukannya untuk memberikan Jingga ketenangan, tapi dia sadar kalau dia bukanlah siapa-siapa baginya. Sungguh Ray merasa hatinya begitu sakit saat melihat Jingga yang begitu terpukul atas yang menimpa ayah juga ibunya, sedangkan dia tidak bisa melakukan apapun karena terhalang oleh status mereka.


"Sstt, kamu gak boleh berpikir seperti itu, kamu harus percaya bahwa mereka akan baik-baik saja," ucap Ray lembut, dia ingin sekali menghapus air mata Jingga, atau paling tidak dia bisa menjadi sandaran Jingga saat ini, namun apalah daya, dia hanyalah sebatas teman yang baru dikenalnya.


"Iya Ray. Hm, bisakah kamu disini dulu, e---maksud aku, bisakah kamu jangan pulang dulu. Aku masih butuh seseorang disamping aku, karena aku belum tahu kapan suami aku datang kesini," ucap Jingga sedikit sungkan, karena bagaimanapun mereka baru saja saling mengenal, tentu membuat Jingga sangat sungkan meminta hal itu pada Ray.


"Baiklah, aku akan tetap berada disini. Kamu jangan khawatir ya," balas Ray tersenyum yang langsung ditularkan kepada Jingga.


"Makasih ya Ray atas semuanya," ucap Jingga yang sudah bisa mengontrol kesedihannya.


"Iya. Ya sudah kamu duduk dulu, sampai dokter mengizinkan kamu masuk ke dalam," ucap Ray menyarankan.


Mendengar itu Jingga hanya mengangguk, dan segera duduk di kursi diikuti oleh Ray.


"Hm, Ga, apakah keluargamu yang lain, atau kerabat-kerabat kamu udah tahu kondisi ayahmu?" tanya Ray penasaran, karena sedari dia sampai di sana, dia tak melihat seorangpun yang menunggu ayah dan ibunya Jingga.

__ADS_1


Jingga hanya menggelengkan kepalanya, karena memang kerabat-kerabatnya tinggal jauh dari tempat ayahnya tinggal.


Namun setelah beberapa detik dia baru mengingat tentang adiknya. Iya, dimana sekarang gadis kecil itu? Saat dia sampai di rumah sakit itu, dia tidak melihat adiknya. Kemana dia? Apakah Keyla baik-baik saja? Pikir Jingga sedikit panik.


"Ray... " ucap Jingga panik.


"Ada apa?" tanya Ray cepat saat melihat wajah panik Jingga.


"Itu Keyla, e--adik aku. Aku belum melihatnya. Aduh bagaimana ini? Aku harus tanya pada siapa lagi," ucap Jingga bingung. Dia berusaha menghubungi tetangganya tetapi masih belum bisa tersambung.


"Gimana? Apa ada orang yang bisa kamu hubungi lagi?" tanya Ray lagi.


"Semua yang coba aku hubungi gak ada satupun yang mengangkatnya. Aku jadi khawatir, dimana ya Keyla," jawab Jingga yang benar-benar frustrasi.


"Sudah, sekarang kamu tenang dulu. Coba kamu berikan alamat rumah kamu, nanti biar aku coba nyari ke sana. Kamu disini aja nunggu, bagaimana?" tanya Ray.


"Ya udah, tapi kamu beneran gak papa nyari Keyla sendiri?" tanya Jingga memastikan.


Kemudian Jingga langsung memberikan alamat rumahnya dan juga foto adiknya, agar Ray bisa cepat menemukan keberadaan Keyla. Sekarang Jingga benar-benar diliputi rasa khawatirnya. Kenapa dia bisa lupa tentang adiknya itu? Pikir Jingga.


"Sekarang aku berangkat cari adik kamu ya," ucap Ray sebelum pergi.


"Iya, makasih ya Ray," ucap Jingga lagi. Dia benar-benar bersyukur ada Ray saat itu, kalau tidak, entah bagaimana dia bisa melakukannya sendiri.


"Sudah jangan berterima kasih terus. Kamu jangan panik ya, secepatnya aku akan membawa adik kamu kesini," ucap Ray sebelum benar-benar melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit itu.


*****


Dengan dahi berkerut Ray kembali mengamati alamat rumah yang diberikan Jingga. Kenapa alamatnya sangat dekat dengan rumah neneknya? Pikir Ray dalam hati.

__ADS_1


"Ternyata memang benar, alamat ini tidak jauh dari rumah nenek. Mudah-mudahan aku cepat menemukan adiknya Jingga," monolog Ray sebelum melajukan mobilnya.


Ray kembali menambah laju kecepatan mobilnya, memecah keramaian kota Malang. Dia terus fokus menyetir agar cepat sampai ditujuannya, sambil sesekali dia menghubungi orang-orang kepercayaanya agar lebih cepat menemukan keberadaan Keyla.


Bunyi dering panggilan dari ponsel membuat Ray sedikit kaget. Dia langsung menjawab panggilan itu setelah dia memakai earphone, karena saat itu dia masih menyetir.


"Hallo," ucap Ray menjawab panggilan dari anak buahnya.


"... " ucap seseorang diseberang.


"Baiklah, saya akan segera kesana. Terima kasih," ucap Ray lagi sebelum dia menutup panggilan itu.


Setelah mendapat kabar tentang keberadaan adiknya Jingga, Ray langsung melajukan mobilnya lagi ke tempat yang diberitahukan oleh anak buahnya.


Hanya butuh beberapa menit, akhirnya Ray sampai dirumah neneknya. Ternyata tempat yang diberitahukan oleh anak buahnya tadi adalah rumah neneknya. Entah apa yang terjadi, sampai adiknya Jingga berada dirumah neneknya. Tetapi yang pasti Ray merasa lega, akhirnya dia menemukan keberadaan Keyla.


Dengan langkah tegasnya, Ray memasuki halaman rumah neneknya. Ray langsung mengetuk pintu setelah dia berada tepat didepan rumah neneknya.


"Assalamu'alaikum," ucap Ray memberi salam.


"Wa'alaikumsalam," jawab seseorang dari dalam sambil membuka pintunya.


Begitu daun pintu dibuka lebar, Lastri sangat terkejut melihat seseorang yang berdiri tepat didepan matanya. Cucu yang sangat dirindukannya kini ada dihadapannya, membuat Lastri sangat bahagia juga sedikit kaget dengan kedatangan Ray yang tiba-tiba.


"Bagaimana kabar Nenek?" tanya Ray yang langsung memeluk neneknya setelah dia mencium punggung tangan neneknya.


"Alhamdulillah, kabar Nenek baik. Bagaimana dengan kamu sendiri Ray?" tanya Lastri pada cucu kesayangannya.


"Alhamdulillah, Ray juga baik Nek," jawab Ray sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu. Ayo masuk!" ucap Lastri langsung merangkul cucunya masuk ke dalam rumah.


__ADS_2