
Di rumah orang tua Ken, tengah terjadi pembicaraan serius antara Bella dan Roy. Roy terlihat kacau hanya dengan memikirkan masalah rumah tangga anaknya. Dia tak habis pikir dengan anaknya yang mengambil keputusan sendiri, tanpa pertimbangan terlebih dahulu.
Roy sangat menyayangi Jingga seperti anaknya sendiri, bahkan tak pernah membedakan rasa sayangnya pada Ken maupun Jingga.
"Ma, kita harus bagaimana agar anak itu membatalkan keputusannya untuk menceraikan Jingga. Papa tidak mau Ken sampai berpisah sama Jingga," ucap Roy frustrasi sambil menatap istri yang ada disampingnya.
"Mama juga tidak mau Pa. Tapi apa yang bisa kita lakukan untuk rumah tangga mereka. Papa tahu sendiri kan, kalau Ken sudah mengambil sebuah keputusan, akan sulit untuk kita membujuknya," ucap Bella yang sama bingungnya harus berbuat apa.
"Mama coba bicara sama dia, siapa tahu dia bisa denger ucapan Mama. Kalau sama Papa, mana mau dia dengerin ucapan Papa," ucap Roy lagi.
"Baiklah, nanti mama coba bicara dengannya," ucap Bella langsung.
"Papa tidak bisa membayangkan saat mereka berpisah, apa yang akan terjadi pada menantu kita. Sejauh ini, dia sudah banyak berkorban untuk rumah tangganya," ucap Roy sambil melihat istrinya dengan serius.
"Iya Pa, Mama tahu. Mama juga gak mau berpisah sama menantu kita, bagaimanapun Mama sangat menyayanginya, seperti anak kandung Mama sendiri," ucap Bella sedih. Dia tak bisa melihat wajah sedih menantu kesayangannya.
Sejenak hening setelah pembicaraan mereka itu, dan mereka hanya larut dalam pikirannya masing-masing. Roy tak tahu apa yang menyebabkan Ken mengambil keputusan untuk menceraikan Jingga. Tapi yang pasti dia menaruh curiga pada Resti. Bisa saja dalang semua itu adalah dia, bagaimanapun juga, dulu dia bisa menjebak Ken, pikirnya.
"Ma, apakah semua ini karena istri keduanya Ken?" ucap Roy menduga.
"Maksud Papa apa?" tanya Bella tak mengerti.
"Bagaimana kalau yang menyebabkan Ken ingin menceraikan Jingga adalah Resti. Dia kan tidak menyukai Jingga, bisa saja dia melakukan hal yang membuat Ken mengambil keputusan itu," ucap Roy sambil berpikir.
"Kenapa Papa bisa berpikir seperti itu?" tanya Bella sedikit heran.
"Papa cuma menduga saja Ma. Mama kan tahu sendiri, bagaimana dulu dia menjebak anak kita agar menikahinya, dan sekarang bukan tidak mungkin dia melakukan sesuatu lagi untuk memisahkan Jingga dan Ken," ucap Roy lagi.
"Tidak mungkin Pa, Resti kan sudah berubah, apalagi saat ini dia tengah sibuk mengurus cucu kita. Mungkin Papa bisa berpikir seperti itu, karena memang Papa tak pernah menyukainya," ucap Bella yang membuat Roy berkerut kening.
__ADS_1
"Kenapa Mama jadi belain dia? Atau memang Mama sudah menerimanya, karena dia bisa memberikan seorang cucu untuk Mama," ucap Roy sedikit kesal.
"Bukan begitu maksud Mama, Pa," sangkal Bella.
"Sudahlah, Papa jadi pusing bahas ini," ucap Roy kesal dan langsung melangkah pergi meninggalkan Bella yang kebingungan.
Yang pertama bahas masalah Ken, kan suaminya, kenapa sekarang jadi dia yang kesal dan marah sendiri, pikir Bella dalam hati.
*****
Jingga membuka matanya perlahan, mengumpulkan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul. Kegiatannya saat ini, memang hanya dirumah untuk mengurus pekerjaan rumah. Rupanya dia ketiduran setelah menyelesaikan semua pekerjaannya.
Senyum merekah Jingga terlihat, saat dia menoleh ke arah sampingnya, dimana gadis kecil penyemangatnya juga tengah tertidur nyenyak. Kalau sudah melihat Keyla tidur seperti ini, pasti dia tidak akan cepat terbangun, sekarang lebih baik dia mencari udara segar diluar, sambil menenangkan pikiran dari masalahnya saat ini, pikir Jingga segera bangun dari tempat tidurnya.
Jingga segera bergegas pergi, tanpa meminta izin pada orang rumah, karena memang suaminya sedang bekerja. Sedangkan adiknya, Keyla belum lama tertidur, jadi bisa dipastikan butuh beberapa jam lagi untuk dia bangun, karena Keyla tipikal anak yang suka tidur lama, membuat Jingga bisa sebentar berjalan-jalan keluar.
Tak mau pergi terlalu jauh dari rumahnya, karena Jingga hanya ingin mencari udara segar, jadi dia hanya duduk dibangku taman yang dekat dengan rumahnya.
Jingga terus berpikir, kenapa Ken tiba-tiba ingin menceraikannya? Apa kesalahannya? Apa yang sudah dilakukannya, sehingga suaminya itu begitu ingin berpisah darinya?
Terlalu banyak pertanyaan di kepalanya, sehingga membuat Jingga meneteskan air matanya lagi. Entah sudah ke berapa kalinya dia terus menangis. Tetapi yang pasti, semua tangisannya, tak ada yang mampu membuat perasaan Jingga menjadi lega.
Dia tak bisa menjamin, kehidupannya nanti setelah Ken menceraikannya, akan berjalan dengan baik atau tidak. Hanya dengan memikirkannya saja, membuat isak tangis Jingga semakin jelas terdengar.
Saat Jingga masih dalam keadaan menangis, tiba-tiba saja dia merasakan hangat disamping tempat duduknya. Tak lama setelah itu, samar-samar Jingga melihat sapu tangan sudah terpampang didepan wajahnya.
Dengan mata yang masih dipenuhi air mata, Jingga menoleh ke arah sampingnya. Dapat Jingga lihat, Ray yang sedang tersenyum padanya. Rupanya Ray yang memberi sapu tangan itu padanya.
"Jika memang ingin menangis, menangislah! Walaupun tangisan tidak bisa menyelesaikan masalah, tapi setidaknya, dengan menangis akan membuat perasaan menjadi lebih baik," ucap Ray langsung saat melihat Jingga menghapus air matanya dengan cepat.
__ADS_1
Jingga yang mendengar itu hanya diam, tak tahu harus bereaksi seperti apa. Niatnya dari rumah, dia ingin memenangkan pikiran dari masalah yang tengah dihadapinya. Tak tahunya, dia malah menangis sampai ada orang yang melihatnya, namun begitu, masih beruntung yang melihatnya hanya Ray.
"Ambilah! Kamu sangat membutuhkannya," ucap Ray sambil memberikan sapu tangannya lagi.
"Terima kasih," ucap Jingga pada akhirnya mengambil sapu tangan yang diberikan oleh Ray.
"Sama-sama. Lain kali, kalau menangis itu jangan ditempat seperti ini," jawab Ray.
"Kenapa?" tanya Jingga setelah menghapus air matanya.
"Karena menangis ditempat sepi itu berbahaya. Orang yang berniat jahat,
akan dengan mudah memanfaatkan keadaanmu yang seperti ini," jawab Dafa sambil melihat sekelilingnya yang cukup sepi.
"Oh itu, tadi masih ada orang disekitar sini. Lagi pula, taman ini tidak jauh dari rumahku, jadi aku rasa aman. Aku juga sering mengunjungi tempat ini," balas Jingga lagi.
"Iya, tapi kita gak bisa tahu kan, kapan kejahatan itu datang," ucap Ray lagi.
Sebenarnya dia tadi hanya lewat dan sekilas melihat seseorang yang sedang memperhatikan Jingga dari jauh, dari gerak-geriknya terlihat seperti orang yang ingin berniat jahat, maka dari itu Ray langsung mendekat ke arah Jingga dan langsung saja duduk disebelahnya tanpa izin terlebih dahulu. Beruntung saat Ray datang, orang yang mencurigakan itu segera pergi.
"Iya Ray," balas Jingga seadanya.
"Hm, bagaimana keadaan Keyla?" tanya Ray memecah keheningan. Sejujurnya dia sangat ingin bertanya alasan Jingga menangis seperti itu, tapi dia urungkan karena Ray rasa itu masalah pribadinya.
"Keyla baik-baik saja Ray. Saat ini dia sedang tidur, makanya aku mencari udara segar sebentar selama Keyla masih tidur," jawab Jingga.
"Bolehkah kapan-kapan aku mengajaknya jalan-jalan?" tanya Ray sedikit ragu.
"Boleh Ray. Nanti kamu tinggal kasih tahu aku aja," jawab Jingga sambil tersenyum manis, membuat Ray sedikit tersipu melihatnya. Jingga rasa Keyla juga senang jika bersama Ray, seperti pada waktu lalu saat mereka di Malang.
__ADS_1
"Benarkah boleh?" tanya Ray lagi memastikan.
Jingga mengangguk-ngangguk sambil tersenyum, membuat Ray sangat senang. Dia senang bisa mengajak Keyla pergi dengannya, dan dia juga senang melihat senyuman Jingga.