
Proses pemulihan Resti terbilang cepat, karena hal itu, dokter mengizinkannya pulang. Namun Resti sedikit kesal, lantaran dia harus pulang tanpa suaminya, karena suaminya masih berada di Malang bersama Jingga.
Kabar duka yang sampai ke telinga Resti, tidak membuat dia berempati pada madunya. Justru karena hal itu, Resti semakin senang. Dia sudah tidak sabar ingin melihat wajah kesedihan Jingga, dan bagaimana reaksinya saat Ken akan lebih memberi perhatian pada anaknya.
Hanya mama mertuanya saja yang menemani Resti pulang. Tapi setidaknya Resti sedikit senang, karena mama mertuanya itu lebih memilih menjaganya dari pada pergi ke Malang untuk menemui Jingga.
Setelah Resti dan anaknya sampai dirumah beberapa waktu lalu, Bella segera membantu Resti untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur. Entah percaya atau tidak, yang pasti Bella selalu menuruti keinginan Resti, dari mulai memasak makanan untuknya, maupun mengganti popok anaknya.
"Ma, makasih ya Mama mau menjaga aku, bahkan sampai membantu aku mengganti popok anak aku," ucap Resti dengan tak tahu malunya malah bersikap santai.
"Gak papa Res, Mama senang melakukannya. Apalagi itu semua untuk cucu Mama," jawab Bella senang membuat Resti menaikkan sudut bibirnya. Sudah pasti mama mertuanya akan berpihak padanya, pikir Resti tersenyum sinis.
"Iya Ma,"
"Oh iya Mama lupa. Tadi Ken telepon Mama, katanya dia akan pulang nanti siang," ucap Bella yang baru teringat percakapannya dengan Ken.
"Pulang sendiri Ma?" tanya Resti.
"Enggak Res, Ken pulang sama Jingga, Papa dan juga adiknya," ucap Bella yang membuat Resti mengerutkan keningnya.
"Kak Jingga punya adik?" tanya Resti yang tak tahu soal itu.
"Iya. Ken akan membawanya ke rumah ini, karena dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Hanya Jingga satu-satunya keluarga yang dia miliki," jawab Bella.
Resti yang mendengar itu hanya ber o ria saja, tak punya minat untuk mengetahui lebih jauh tentang keluarga Jingga. Baginya saat ini, dia harus fokus agar Ken dan mertuanya hanya memperhatikan dia dan anaknya saja.
"Sekarang beristirahatlah! Mama akan memasak untuk Ken dan Jingga saat dia pulang nanti. Kalo kamu butuh sesuatu, kamu bisa panggil Mama," ucap Bella lagi dan Resti hanya mengangguk mengerti.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Bella segera melangkah keluar. Perasaannya saat itu antara senang dan sedih. Dia sangat senang dengan kehadiran cucu pertamanya, namun dia juga merasa sedih karena Jingga harus kehilangan orang tuanya sekaligus. Bella tak bisa membayangkan perasaan Jingga saat itu.
Sedangkan Resti yang melihat mama mertuanya sudah keluar dari kamarnya, dia langsung mengambil ponsel dari tasnya. Setelah itu, Resti langsung menekan tombol panggilan pada kakak sepupunya. Dia harus tahu informasi tentang Jingga lagi.
*****
Selama perjalanan, Keyla tak henti-hentinya bercerita dengan gaya lucunya, membuat Ken dan Jingga merasa terhibur. Terutama bagi Jingga, dia sedikit bisa melupakan rasa sedihnya. Mulai saat itu, Jingga akan menjaga dan melindungi adik satu-satunya, keluarga satu-satunya yang dia punya.
Beruntung Ken juga menyayangi adiknya, setidaknya Jingga tak perlu merisaukan hal itu. Namun yang masih jadi pertanyaan didalam benaknya, apakah kehidupannya akan baik-baik saja? Apalagi dengan kehadiran darah daging Ken di tengah-tengah kehidupan mereka. Jingga sedikit ragu soal itu.
"Mas, beneran gak papa Keyla tinggal dirumah kita?" tanya Jingga sambil melirik suaminya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu sayang? Lagi pula dimana lagi dia harus tinggal. Saat ini kamu adalah keluarga satu-satunya yang dia punya," jawab Ken sedikit heran. Kenapa istrinya bisa bertanya seperti itu?
"Aku cuma gak mau ngebebanin kamu Mas," ucap Jingga sedikit sedih.
"Tapi kan kamu udah ada anak Mas," ucap Jingga pelan.
Ken yang mendengar itu hanya menaikan sudut bibirnya. Ternyata itu sebenarnya yang ditakutkan oleh istrinya. Bagaimanapun Ken tahu perasaan Jingga, apalagi kemarin papanya sempat menyinggung soal itu.
"Kamu gak usah khawatir sayang, karena sampai kapanpun kamu yang akan menjadi prioritas Mas," ucap Ken meyakinkan istrinya.
"Iya Mas. Tapi kamu gak perlu ngurus surat adopsi Keyla, biar dia tetap seperti ini sama kita," ucap Jingga lagi.
"Baiklah, terserah kamu aja sayang. Yang terpenting kamu jangan sedih dan jangan memikirkan soal ini lagi ya," bujuk Ken sambil mengusap puncak kepala Jingga dengan penuh kasih sayang.
"Iya Mas. Oh iya, Mama udah tahu kan kalo kita pulang sekarang?" tanya Jingga yang tiba-tiba teringat dengan mama mertuanya.
__ADS_1
"Sudah sayang, tadi pagi Mas udah ngasih kabar sama Mama. Saat ini Mama juga ada dirumah, karena Resti sudah pulang," jawab Ken langsung.
"Oh begitu Mas," ucap Jingga sambil manggut-manggut. Namun dalam hati dia sedang menyiapkan perasaannya, saat dia sudah tiba di rumah nanti, dan menyiapkan hati dengan kenyataan bahwa suaminya telah memiliki seorang anak.
"Sayang, Keyla ketiduran ya," ucap Ken yang baru menyadari kalau sepanjang percakapan mereka, tak terdengar celoteh adik kecilnya itu.
"Iya Mas. Mungkin dia kecapean karena bercerita terus," ucap Jingga sambil terkekeh. Dia mengelus punggung sang adik yang ada dipelukannya, sambil mengingat keceriaan Keyla tadi.
"Dia membuat Mas gemas sayang," ucap Ken tersenyum sumringah.
"Gemas kenapa Mas?" tanya Jingga penasaran.
"Mas gemas karena dia begitu mirip denganmu sayang. Tawa dan wajahnya sangat mirip kamu. Mas jadi berpikir, mungkinkah dulu saat kamu masih seusia Keyla, kamu juga seperti itu," ucap Ken tertawa sambil membayangkan wajah cantik istrinya saat masih kecil.
"Mas... " ucap Jingga pura-pura kesal.
" Kenapa? Kan kalo sama juga gak papa. Berarti kamu memang lucu dari dulu," ucap Ken lagi.
"Berarti maksud kamu, sekarang aku terlihat lucu begitu?" tanya Jingga penuh selidik.
"Hahaha, kalo sekarang, kamu galak, bukan lucu lagi," ucap Ken sebelum melambungkan tawa kerasnya.
Lagi-lagi Jingga mencubit pinggang Ken dengan keras, membuat Ken langsung merintis kesakitan.
"Aw.... Hahaha, kenapa kamu cubit sayang. Kan benar, kalo kamu itu galak, apalagi kalo didalam kamar," ucap Ken lagi sambil tertawa puas, apalagi melihat wajah Jingga yang begitu memerah karena menahan malu.
Perasaan senang, tawa dan bahagia mewarnai perjalanan mereka saat pulang. Anehnya lagi, tawa keras Ken tak membangunkan Keyla. Mungkin karena memang kelelahan, jadi tidur Keyla sama sekali tak terganggu oleh suara gaduh yang dibuat oleh Kakak-kakaknya.
__ADS_1