CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
69


__ADS_3

Pagi menyingsing, Jingga sudah berada di dapur untuk menyiapkan sarapan. Semalaman dia habiskan untuk istirahat membuat dia lebih bertenaga, sehingga bisa melakukan aktivitas seperti biasanya. Untuk saat ini, dia tidak ingin memikirkan masalahnya, karena dia hanya ingin fokus untuk kesehatan dia dan janinnya, sesuai saran dari dokter.


Setelah kemarin melakukan hal gila yang hampir membuat Jingga kehilangan nyawanya, dia baru sadar bahwa tindakannya begitu kelewatan. Padahal Tuhan memberi cobaan pada hambanya itu lengkap, satu paket, setiap masalah dengan solusinya. Hanya manusia saja yang selalu berburuk sangka, bahwa Tuhan tak menyayanginya sebab cobaan yang menerpanya.


Jingga merasa begitu bersalah, hingga ingin menghilangkan nyawa yang sudah Tuhan titipkan padanya, karena dia tidak tahu kehadirannya. Seandainya kehamilannya diketahui saat dia masih berada dirumah Ken, mungkin saat ini mereka masih bersama, pikirnya.


"Akhirnya selesai juga," monolog Jingga setelah menaruh piring terakhirnya di meja makan.


"Wah, sarapannya sudah siap nih. Kamu yang nyiapin ini semua Ga?" tanya Citra tiba-tiba saja datang.


"Iya Cit, padahal baru aja aku mau manggil kamu buat sarapan," ucap Jingga.


"Benarkah? Wah berarti rezeki anak sholehah," ucap Citra sambil terkekeh.


"Bisa aja kamu. Ya udah aku mau bangunin adik aku dulu," ucap Jingga sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.


"Aromanya wangi sekali," ucap Citra langsung duduk di kursi, sambil menunggu Jingga yang sedang membangunkan Keyla.


Tak lama Jingga datang sambil menggendong Keyla yang masih menutup matanya, tangannya dia lingkarkan pada leher Jingga, membuat Citra terkekeh pelan saat melihatnya.


"Masih ngantuk ya dia?" tanya Citra setelah Jingga duduk di depan Citra.


"Iya Cit, Keyla susah bangunnya," ucap Jingga sambil mengelus punggung Keyla yang seperti koala diatas pohon.


"Sayang, kamu sarapan dulu ya. Ayo bangun, nanti Kakak ajak kamu jalan-jalan," bujuk Citra yang segera melangkah mendekati Keyla.


Jingga tersenyum melihat bagaimana Keyla susah dibujuk walaupun oleh Citra sekalipun.


"Aku mau jalan-jalannya sama kak Ray aja, kalo sama Kak Citra gak seru," ucap Keyla yang perlahan membuka matanya dan segera mengucek mata kantuknya.


"Ya udah kalo begitu Key harus sarapan dulu, nanti Kakak telpon kak Ray agar membawa kamu jalan-jalan, gimana?" tanya Citra yang diangguki oleh Keyla.


"Kamu sekarang duduk yang benar, nanti Kakak suapin," ucap Jingga sambil mendudukan tubuh mungil Keyla ke atas kursi yang ada disampingnya. Namun Keyla menggelengkan kepalanya membuat dahi Jingga berkerut.


"Kenapa sayang?" tanya Jingga.

__ADS_1


"Aku maunya disuapin sama Kak Citra," rengek Keyla manja membuat Citra tersenyum.


"Tapi Kak Citra mau sarapan sayang. Kamu disuapin sama Kakak aja ya," ucap Jingga lagi, namun Keyla tetap tidak mau bahkan dia memasang wajah cemberutnya.


"Gak mau Kak," ucap Keyla memonyongkan bibirnya.


"Ya udah Kakak suapin anak cantik ini. Ayo sekarang kamu makan ya sayang," ucap Citra langsung pindah ke dekat Keyla, dan segera memberi satu sendok makanan yang segera diterima oleh Keyla.


"Enak Kak," ucap Keyla dengan mulut penuh membuat Jingga geleng-geleng kepala.


"Jangan berbicara saat makan sayang," ucap Jingga.


"Ga, setelah ini aku mau bicara sama kamu," ucap Citra disela menyuapi adiknya Jingga.


"Tentang apa?" tanya Jingga penasaran.


"Nanti aja, setelah selesai sarapan," ucap Citra dan Jingga hanya mengangguk mengerti.


Setelah Keyla menyelesaikan sarapannya, dia segera dibawa Jingga ke kamar untuk membersihkan badannya. Sedangkan Citra masih memakan makanannya, dan segera mengirim pesan pada Dafa agar datang ke rumah sesuai permintaan Keyla.


Lalu bagaimana dengan pekerjaan Citra sendiri? Dia tak mempermasalahkannya karena dia langsung mengambil cuti selama satu minggu, jadi masih banyak waktu untuk menemani Jingga yang kondisinya masih dia khawatirkan itu. Beruntung Jingga mempunyai sahabat seperti Citra yang rela meluangkan waktu hanya untuk menjaganya.


"Kamu mau bicara apa Cit?" tanya Jingga setelah selesai memandikan adiknya.


"Oh, kamu udah selesai. Terus sekarang Keyla dimana?" tanya Citra sedikit kaget diawal karena kedatangan Jingga yang tiba-tiba, apalagi tanpa Keyla membuat Citra sedikit heran.


"Keyla lagi nonton tv, aku sengaja nyuruh dia nonton kartun kesukaannya, karena teringat kamu yang mau bicara sama aku. Ada apa?" tanya Jingga.


"Oh iya aku mau tanya soal kemarin. Tapi aku gak mau maksa buat kamu nyeritain kejadian kemarin," ucap Citra menatap serius Jingga.


"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya," ucap Jingga.


"Kalo nanti membuat kamu sedih, mending gak usah Ga. Aku cuma penasaran aja kenapa kamu bisa berbuat seperti itu," ucap Citra lagi sedikit khawatir akan membuat Jingga mengingat kejadian kemarin, dan akhirnya membuat dia tertekan lagi.


"Gak papa Cit, aku baik-baik aja kok. Jadi kemarin saat aku ambil barang yang ketinggalan, ternyata dirumah mas Ken itu ada sepupunya Resti yang tidak lain adalah sahabat aku waktu SMA," ucap Jingga.

__ADS_1


"Ha? Bagaimana mungkin Ga?" tanya Citra tak percaya.


"Iya, Dina yang pernah aku ceritain dulu. Aku juga gak tahu kenapa Dina tiba-tiba saja jadi sepupunya Resti, karena sejak sekolah dulu, Dina tak pernah bercerita bahwa dia punya saudara disini," ucap Jingga lagi sambil mengambil nafas dalam-dalam untuk menyiapkan penjelasan selanjutnya.


"Terus apa yang terjadi sama kamu?"


"Aku sempat mendengar pembicaraan mereka yang menyinggung soal masalah perceraian aku dan mas Ken. Dina sengaja memberi informasi palsu soal aku yang mandul pada mas Ken. Entahlah, aku juga tidak tahu detilnya. Tapi yang pasti mereka sangat senang melihat aku bercerai dengan suami aku. Bahkan aku tidak menyangka sahabat aku yang dulu begitu dekat dengan aku, ternyata merencanakan ini semua, hanya agar aku hancur, dan dia bisa membalaskan sakit hatinya," ucap Jingga menjelaskan.


"Maksud kamu?"


"Dina punya dendam tersendiri pada aku, tapi aku tidak mengetahuinya," jawab Jingga.


"Lalu kenapa kamu ingin mengakhiri hidupmu sendiri?" tanya Citra.


"Itu, e--aku juga gak tahu kenapa aku bisa punya niat seperti itu. Mungkin kemarin pikiran aku benar-benar kacau, karena sebelum pulang, aku menemui mas Ken ke tempat kerjanya. Aku meminta agar dia membatalkan perceraian kami, tapi dia tetap bersikukuh dengan keputusannya. Bahkan saat aku bilang bahwa suatu saat nanti aku bisa memberinya anak, dia seolah menutup hati dan telinganya, membuat aku benar-benar tak kuat menahan semua ini," ucap Jingga dengan air mata yang perlahan turun membasahi pipinya.


"Dengar Ga, masih banyak yang peduli dan menyayangi kamu disini, jadi jangan beranggapan bahwa kamu hidup sendiri. Jangan pernah terlintas lagi dalam pikiran kamu untuk mengakhiri hidupmu yang berarti ini. Ingat Ga, jangan pernah memilih mati, karena aku dan orang-orang yang menyayangi kamu akan hidup dalam penyesalan karena tak bisa mencegah kamu," ucap Citra sambil memeluk erat sahabatnya. Citra juga sedih dengan cobaan yang menimpa sahabatnya itu, tapi dia akan terus menguatkan Jingga.


"Iya Cit, makasih atas semuanya. Aku bersyukur masih punya kamu yang menyayangi aku dan peduli sama aku," ucap Jingga parau.


"Baiklah, sekarang kamu jangan sedih! Kamu harus kuat demi calon bayi kamu. Aku gak mau terjadi sesuati sama calon keponakan aku," ucap Citra tersenyum yang segera ditularkan pada Jingga.


"Aku minta sama kamu, tolong rahasiakan tentang kehamilan aku ya," pinta Jingga.


"Tapi bukannya kalo Ken tahu kamu hamil, dia bisa kembali lagi sama kamu," ucap Citra.


"Enggak Cit, aku sudah tidak mau terlibat dengan kehidupannya lagi. Dia sudah cukup bahagia dengan istri dan anaknya, jadi aku gak mau mengganggunya lagi," ucap Jingga yang masih teringat dengan Ken, saat terakhir kali mereka bertemu dimana Ken tak memberi kesempatan pada Jingga untuk membuktikan bahwa suatu saat Tuhan akan mempercayakan seorang anak pada mereka.


"Tapi Ga... "


"Aku mohon Cit, tolong rahasiakan dari mas Ken ataupun orang tuanya," ucap Jingga.


"Baiklah jika itu keinginanmu. Aku akan merahasiakannya," ucap Citra yang akhirnya memenuhi keinginan sahabatnya.


"Makasih Citra," ucap Jingga langsung memeluk Citra lagi.

__ADS_1


Aku berharap suatu saat akan mendapatkan kebahagiaan untuk keluarga kecilku nanti, ucap Jingga dalam hati.


__ADS_2