CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
83


__ADS_3

Dengan tidak tahu malunya, Ken mengatakan ingin bertemu dengan anaknya. Jika boleh, Jingga begitu ingin membalas dengan kata-kata tajam, agar mantan suaminya itu bisa sadar dengan apa yang telah dia lakukan selama ini. Kemana 4 tahun lamanya Ken pergi, atau selama 4 tahun itu Ken masih hidup di dalam bumi atau tidak. Sampai dia tak menunjukan hidung batangnya, bahkan hanya sekedar untuk melihat darah dagingnya sendiri.


Tetapi Jingga menahan semua kekesalannya, karena dia tidak ingin membuat keributan atau sampai terdengar oleh anaknya. Kedatangan Ken bukan di waktu yang tepat, sebab semuanya sudah terlambat. Kemana saat anaknya merengek ingin dipertemukan dengannya? Kemana saat anaknya butuh perhatian dan kasih sayang dari ayahnya? Dan Ken tidak pernah ada disaat Nayla membutuhkannya. Padahal sejak kelahiran Nayla, berkali-kali Jingga sudah memberi tahunya, namun hati lelaki itu sepertinya terbuat dari batu, tak sedikit pun melunak bahkan untuk anak kandungnya sendiri.


"Sejak kapan kamu punya anak disini?" tanya Jingga buka suara. Ray yang berada disampingnya itu hanya melirik istrinya, takut istrinya kehilangan kendali.


"Apa maksud kamu?" tanya Ken tak mengerti.


"Ck! Bukankah kamu cukup pintar untuk mengerti maksud dari ucapan aku tadi?" tanya Jingga.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Aku memang tidak mengerti maksud kamu, aku ke sini hanya untuk bertemu dengan anakku sendiri, apa tidak boleh?" tanya Ken yang sudah terpancing emosinya.


"Apa kamu bilang? Anak kamu sendiri? Apakah ada seorang ayah yang tega menelantarkan anaknya sendiri?" tanya Jingga yang sudah habis kesabarannya. Bertemu dengan mantan suaminya membuat emosinya terpancing.


Ken bungkam, pertanyaan yang Jingga lontarkan memanglah sebuah kebenaran yang tak perlu jawaban. Bertahun-tahun Ken tak pernah menemui anaknya, dan jika tiba-tiba Ken datang untuk menemui anaknya, bukankah itu hal yang aneh?


"Kenapa kamu diam? Benarkan yang aku bilang. Tak ada seorang pun di dunia ini yang menyandang status sebagai seorang ayah yang tak pernah mengakui anaknya, bahkan banyak diluar sana, seorang ayah berjuang keras untuk anak-anaknya. Tapi apa yang kamu lakukan, jangankan untuk memberi kasih sayang, hanya untuk melihatnya saja kamu enggan," ucap Jingga lagi.


Hati Jingga perih, sebagai seorang ibu dia belum bisa membahagiakan anaknya, terutama kasih sayang dari seorang ayah, dan itu semua karena Ken, mantan suaminya. Jingga tak bisa menahan air matanya, saat Nayla terus meminta untuk bertemu dengan ayahnya. Dia tak bisa mengabulkan permintaan anaknya itu, dan selalu saja membujuk Nayla dengan berbagai alasan agar Nayla berhenti menanyakan tentang ayahnya. Ibu mana yang tak sakit melihat anaknya dirundung kesedihan, hanya karena ayahnya tak pernah menganggap dia ada, dan Jingga tak berdaya melihat wajah sedih sang putri.

__ADS_1


"Aku minta maaf, dan sekarang aku datang untuk memperbaikinya. Menebus semua kesalahan aku, dan berusaha mengembalikan waktu yang seharusnya aku berikan pada anak kita," ucap Ken merasa bersalah.


"Semuanya sudah terlambat, seharusnya jika kamu ingin melakukannya, lakukan sejak dulu, saat Nayla terus merengek ingin bertemu denganmu. Sekarang dia sudah bahagia, mendapat kasih sayang dari ayahnya yang seharusnya dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri, dan aku minta kamu jangan ganggu kehidupan Nayla lagi, karena dia sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang!" tegas Jingga.


Ken yang mendengar itu mengeraskan rahangnya, emosinya jelas tercetak diwajahnya, bagaimana mungkin dia tidak boleh bertemu dengan anaknya sendiri. Matanya menajam, saat melihat Jingga dan Ray yang ada di depannya, sangat tak suka melihat sikap Jingga yang melarang-larangnya.


Saat suasana cukup menegangkan diantara mereka, tiba-tiba pintu rumah terbuka dan Nayla dengan cepat berlari ke arah bundanya. Sontak pandangan 3 orang yang tengah saling bertatap tajam itu, mengalihkan pandangannya pada Nayla yang berlari ke arah mereka. Sedangkan Citra dan Keyla yang ikut keluar hanya berdiri di depan pintu, tak ikut menemui ke 3 orang yang dalam suasana tak baik itu.


"Bunda...!" ucap Nayla setengah berteriak saat dia masih berlari.


"Sayang, jangan lari-lari seperti itu, bagaimana kalau kamu jatuh!" ucap Jingga setelah Nayla sudah berada didepannya.


"Bunda... Aku kangen, kenapa Bunda lama sekali," ucap Nayla dengan nada lucu, dia merentangkan tangannya ingin digendong oleh bundanya.


"Maaf ya sayang, Bunda pulangnya terlambat," ucap Jingga sambil mencium kedua pipi anaknya.


"Iya Bun," balas Nayla yang terus memeluk leher sang bunda.


Tapi Nayla sedikit melihat ke arah depan, dimana ada seorang laki-laki yang terus menatapnya dengan senyuman.

__ADS_1


"Bunda, itu ciapa?" tanya Nayla sambil menunjuk ke arah Ken.


"Ehm, itu teman Bunda sayang," jawab Jingga singkat.


"Ini Ayah kamu Nak," ucap Ken yang tiba-tiba saja bicara.


Sontak Nayla bingung, kenapa orang didepannya itu bilang bahwa dia ayahnya, sedangkan ayahnya ada disebelahnya sedang mengusap lembut rambutnya. Nayla tak menjawab ucapan Ken, dia hanya melihat Ken dengan wajah polosnya.


"Mas, bisakah kamu bawa Nayla ke dalam, aku mau bicara dulu dengannya," pinta Jingga pada Ray yang ada disampingnya.


"Iya sayang, tapi kamu jangan lama-lama, takut Nayla nangis," jawab Ray yang di jawab anggukan oleh istrinya, "Ayo sayang, kita masuk dulu, Ayah udah beli barbie buat kamu," lanjutnya pada Nayla.


"Horeee... Punya barbie baru," ucap Nayla senang, dia langsung pindah ke gendongannya Ray, membuat Ken menggertakan gigi saat melihat anaknya memanggil Ray dengan panggilan ayah.


"Aku minta sekarang lebih baik kamu pulang. Aku tak mau membuat Nayla bingung dengan keadaan ini. Biarkan dia bahagia dengan kehidupannya saat ini, jadi aku mohon, jangan ganggu kehidupannya yang sudah bahagia," ucap Jingga menegaskan lagi.


"Kenapa kamu tega memisahkan anak dari ayahnya?" tanya Ken.


"Kamu jangan bilang aku yang tega memisahkan kalian, karena dari awal kamu sendiri yang tidak pernah menemuinya. Sekali lagi aku mohon sama kamu, jangan pernah hadir dalam kehidupan kami lagi!" ucap Jingga yang langsung berjalan ke dalam rumah.

__ADS_1


"Aku akan membawa Nayla bersamaku, aku pastikan dia akan hidup bersamaku. Tak peduli bagaimana caranya, aku akan membawa anakku!" ucap Ken berteriak.


Jingga yang mendengar itu langsung menghentikan langkahnya, melirik sebentar ke arah mantan suaminya yang tengah berdiri, namun tak punya minat untuk membalas ucapannya. Cukup kesal dengan kelakuan Ken, bisa-bisanya dia mengancam akan mengambil anaknya, sampai kapan pun, Jingga tak akan pernah menyerahkan Nayla pada mantan suaminya itu.


__ADS_2