
Citra segera membuka pintu saat suara yang tak asing mengucapkan salam. Sudah pasti sahabatnya yang datang, tapi yang menjadi pertanyaan Citra di kepalanya adalah kenapa Jingga sudah datang begini paginya? Jika seperti ini, apakah terjadi sesuatu dirumahnya? Pikir Citra.
Tanpa menunggu lama, Citra sudah membukakan daun pintu lebar-lebar dan menampakkan sosok sahabatnya yang membawa dua koper besar, dengan Keyla yang berada di gendongannya dengan mata mengantuk.
"Sini, biar Keyla aku yang gendong!" ucap Citra langsung mengambil Keyla, karena melihat Jingga yang begitu kesusahan membawa banyak barang.
"Makasih Cit," balas Jingga sambil melangkah masuk.
"Iya, aku bawa Keyla ke kamar dulu, kasian dia sepertinya masih mengantuk," ucap Citra.
"Iya tadi pagi aku bangunin dia masih waktu shubuh," ucap Jingga yang membawa kerutan di kening Citra, namun tak lanjut bertanya.
Dengan langkah cepat Citra segera membawa Keyla kekamarnya dan merebahkan tubuh mungil itu ke atas kasur, tak lupa Citra menarik selimut sampai batas leher karena suhu udara pagi hari sangatlah dingin.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Citra setelah berada di ruang tengah, dimana Jingga baru saja mendudukan tubuhnya.
"Maaf aku akan membuatmu repot beberapa hari ke depan, karena bukan hanya Keyla yang akan menginap disini, tapi sepertinya aku juga akan menginap disini, itu pun kalau kamu mengizinkannya," ucap Jingga menatap sahabatnya yang selalu ada dikala dia sedang kesusahan.
Kening Citra semakin berkerut semakin dalam. Dia tak mengerti kemana arah pembicaraan sahabatnya itu, kemarin dia bilang akan menitipkan Keyla sementara Jingga mengurus masalahnya, lantas kenapa tiba-tiba dia juga akan bermalam dirumahnya? Sepertinya sesuatu telah terjadi hingga Jingga melakukan itu, pikirnya.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Citra semakin penasaran, apalagi melihat wajah lelah sahabatnya.
Jingga menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Citra. Sepertinya dia memang harus menceritakan masalah rumah tangga yang kini menghampirinya, pikir Jingga dalam hati.
"Hari ini suami aku menceraikan aku, bahkan aku harus menandatangani surat cerainya hari ini juga. Entah kapan dia mengurus semuanya, sampai-sampai semua berkas-berkasnya sudah beres. Mungkin memang dia ingin aku pergi dari kehidupannya secepat mungkin," ucap Jingga kemudian dia tertawa hambar, tawa yang menyimpan begitu banyak luka, dan Citra bisa melihatnya.
"Alasan dia menceraikanmu itu apa?" tanya Resti lagi, sekarang dia sudah terpancing sisi emosi oleh kelakuan lelaki yang jadi suami sahabatnya.
"Aku tak tahu, dia hanya bilang bahwa sampai saat ini, aku belum bisa memberinya seorang anak," jawab Jingga dengan mata yang mulai berkabut oleh air mata.
__ADS_1
Citra langsung bergeser ke samping Jingga, memberinya pelukan, semangat juga kekuatan. Baginya, Jingga sudah seperti saudaranya sendiri, dia tak bisa membiarkan Jingga terus-menerus menyimpan kesedihan.
"Sabar Ga, aku yakin kamu bisa melewati semua cobaan ini," bisik Citra di telinga Jingga.
Jingga tersenyum disela tangisnya. Dia bersyukur masih memiliki orang yang peduli padanya.
"Iya Cit, aku berharap aku bisa melakukannya. Aku juga berharap kamu tak keberatan menampung aku dirumah kamu, untuk sementara waktu," ucap Jingga sambil melepaskan pelukannya, dia juga sedikit mencoba mencairkan suasana.
"Mulai deh kamu. Mau kamu berapa bulan, atau selamanya juga boleh kok tinggal disini," balas Citra sedikit tersenyum, dia tidak hanya menyenangkan hati sahabatnya, tapi jika memang Jingga mau tinggal bersama dirumahnya, Citra akan merasa senang karena memang dia tinggal sendiri.
"Ah, nanti kalo aku tinggal disini, bagaimana dengan Dafa? Pasti dia tak akan sering ke sini karena ada aku," kekeh Jingga langsung mendapat dengusan dari Citra.
"Niat banget yah ledekin aku," kesal Citra sambil geleng-geleng kepala. Ah! Kenapa sahabatnya ini selalu ngomongin Dafa! Tuh kan dia jadi ingat Dafa menyebalkan itu, pikir Citra kesal.
"Haha, aku enggak pernah ledekin kamu Cit," ucap Jingga setelah tawanya reda.
"Ih! Awas aja lelaki itu, kalau ketemu akan ku buat perhitungan dengannya. Berani-beraninya dia tega menyakiti sahabat aku," ucap Citra mengabaikan ucapan Jingga tentangnya. Bahkan dia mengepalkan tangannya, membuat Jingga merintis namun langsung tertawa geli melihatnya.
"Lagian kamu ngapain ngepal tangan kaya gitu," ucap Jingga heran.
"Ya aku lagi kesal sama suami kamu. Kalo ketemu aku akan buat batang hidungnya patah," ucap Citra lagi, dia masih menunjukan emosinya.
"Jangan Cit! Dia adalah orang yang sama, laki-laki yang masih aku cintai," ucap Jingga serius membuat Resti menoleh ke arah Jingga.
"Cih! Dia sudah tega menyakiti kamu, tapi kamu masih memberinya cinta," ucap Citra tak habis pikir.
"Bagaimanapun sikapnya, dia masih orang yang sama yang memiliki hati aku sepenuhnya," balas Jingga membuat Citra semakin kesal.
"Hah! Sudahlah, jangan bahas dia. Lebih baik kamu istirahat ke kamar, aku akan buat sarapan untuk kita," ucap Citra pada akhirnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menaruh koper dulu. Lalu aku akan buat sarapan," ucap Jingga langsung berdiri dan bergegas masuk ke kamar yang ada disamping kamarnya Citra.
"Hei! Aku bilang tadi apa. Aku yang akan buat sarapan!" ucap Citra dengan suara kerasnya, karena Jingga berjalan begitu saja.
Dasar! Kebiasaannya selalu seperti itu, tak mendengar ucapannya, pikir Citra sedikit kesal, namun terlalu sayang pada sahabatnya itu.
Ternyata ucapannya hanya sebatas tameng didepan Citra, buktinya saat Jingga sudah didalam kamar, dia tak bisa membendung air matanya. Terlalu pedih mengingat beberapa waktu lalu saat masih bersama suaminya. Dan kini dia harus menerima kenyataan bahwa suaminya sudah tidak lagi ada didalam kehidupannya.
"Ah! Kenapa air mata ini begitu mudah keluar," monolog Jingga sambil mengusap kasar air matanya.
Dengan cepat Jingga membereskan barang-barangnya, agar dia bisa cepat membantu Citra membuat sarapan, pikirnya.
Di dapur, Citra segera memilih-milih bahan untuk dia masak. Namun perkara memasak bukanlah hal mudah, walaupun dia bekerja di sebuah restoran. Mengingat dia bukanlah koki direstoran tempat dia bekerja.
Dengan mulut masih menggerutu namun tangan memilah bahan yang pas untuk dibuat makanan, Citra tetap berkutat di dapur sampai Jingga menghampirinya.
"Mau buat sarapan apa Cit?" Tiba-tiba Citra terlonjak kaget mendengar pertanyaan Jingga, yang mana sahabatnya itu muncul dibelakangnya.
"Hei, tak bisa ya, jangan tiba-tiba muncul seperti itu, membuat orang kaget aja," omel Citra sambil menenangkan detak jantungnya.
Namun Jingga hanya terkekeh melihat ekspresi sahabatnya. Citra semakin cantik saat di sedang kesal, apalagi tambah imut jika dia menggerutu. Jadi Jingga sangat suka membuat sahabatnya itu kesal.
"Ck! Suka banget liat orang kesal," cibir Citra berdecak tak suka.
"Sini biar aku yang buat sarapannya!" ucap Jingga mengambil alih pekerjaan Citra yang belum juga selesai.
"Ya udah, mending masaknya sama kamu aja biar enak. Masak itu bukan bidang aku, jadi aku mau mandi aja ya Jingga sayang!" ucap Citra.
"Hm, baiklah. Lagi pula kamu harus bersiap-siap untuk kerja," ucap Jingga lagi.
__ADS_1
"Hm," Setelah mengucapkan itu, Citra langsung melangkah menuju kamarnya. Sedangkan Jingga, secepat mungkin menyelesaikan membuat sarapannya, agar nanti saat Citra dan Keyla datang, mereka langsung sarapan, pikirnya.