
Jingga segera keluar rumah, kala dia melihat taksi online yang akan mengantarkan dia ke Malang, sudah berada didepan rumahnya. Dia berjalan cepat dengan ditemani Ken disampingnya yang berwajah tak rela.
"Sayang, kamu beneran mau pergi sendiri? Aku bisa aja anterin kamu," ucap Ken sangat tak rela, membiarkan istri tercintanya pergi sendiri.
"Iya Mas, kita kan udah bahas ini sebelumnya. Kamu gak usah khawatir, aku janji akan baik-baik aja," balas Jingga langsung memeluk suaminya.
Ken hanya membalas pelukan Jingga dengan sangat erat.
"Ya udah, tapi jangan lupa kasih Mas kabar, kalo udah nyampe di rumah ayah," ucap Ken setelah melepaskan pelukannya. Dia kemudian mencium kening Jingga, seperti biasanya.
"Iya Mas, aku pergi dulu ya. Assalamu'alaikum," ucap Jingga sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Wa'alaikumsalam. Kamu hati-hati ya sayang!" ucap Ken yang dibalas anggukan oleh Jingga.
Ken menatap Jingga yang naik kedalam taksi itu, dan tak lama sopir taksi itu segera melajukan mobilnya.
"Kak Jingga udah berangkat Mas?" tanya Resti kala melihat suaminya itu masuk kedalam rumah.
"Hm," Hanya itu jawaban Ken.
"Mas, besok temenin aku ke rumah sakit ya!" ucap Resti lagi.
"Mau ngapain?" tanya Ken penasaran.
"Mau cek kandungan aku Mas. Kamu temenin aku yah, plisss!" jawab Resti manja sambil merangkul lengan suaminya. Dan itu membuat Ken begitu terkejut dengan sikap Resti, yang tiba-tiba berubah menjadi manja seperti itu.
"Gak bisa ya, kamu pergi sendiri aja," ucap Ken malas sambil melepaskan rangkulan Resti ditangannya.
"Gak bisa Mas. Kamu kan suami aku, jadi kamu harus temenin aku buat cek kandungan. Masa kamu tega sih Mas, membiarkan istri kamu yang tengah hamil ini, pergi sendiri ke rumah sakit," ucap Resti lagi.
"Iya. Ya udah, mending kamu sekarang masak makanan buat saya," balas Ken yang akhirnya pasrah.
"Loh, emang kak Jingga enggak masak ya?" tanya Resti sedikit kaget dengan permintaan suaminya. Jangankan masak untuk suaminya, untuk dirinya sendiri dia tidak bisa.
__ADS_1
"Enggak, karena dia terburu-buru. Lagian kan saya udah nyuruh kamu buat belajar masak, biar gantian bantu Jingga masak," jawab Ken.
"Tapi kan aku belum sempet belajar masak Mas. Kita pesan makanan dari restoran aja ya Mas," ucap Resti lagi.
"Terserah kamu," ucap Ken ketus.
"Ya udah aku pesan sekarang ya," balas Resti lagi.
Setelah itu Resti langsung memesan makanan online dari restoran favoritnya.
Tak butuh waktu lama untuk pesanan mereka datang, karena setelah 30 menit kemudian, kurir yang mengantarkan pesanan Resti datang.
"Mas, ini makanannya udah sampe. Ayo makan!" ucap Resti sambil melirik kearah suaminya yang sedang duduk disofa. Kemudian dia segera menata makanan itu ke atas piring yang ada dimeja makan.
Ken tak menyahuti ucapan Resti, namun dia tetap berjalan ke arah meja makan.
Kemudian dia duduk dan langsung memakan makanan yang sudah disiapkan oleh Resti.
Ken hanya mengangguk sebagai jawabannya. Karena dia terlalu malas untuk menanggapi ucapan Resti. Setelah itu hanya ada denting sendok dan piring yang terdengar, karena Resti tak mau membuat suaminya tambah kesal, jadi dia hanya diam.
...----------------...
Jingga begitu menikmati perjalanannya ke Malang. Dia tak sabar ingin segera memeluk ayahnya, dan ingin berziarah ke makam bundanya. Sudah 3 tahun dia berada di Bandung, dan kepulangannya ini membuat dia sedikit gugup. Karena bagaimanapun dia masih ingat saat pertama dia pergi dari rumahnya.
Semoga kepulangannya ke Malang ini, tak mengingatkan dia lagi dengan luka yang sudah sembuh. Sekarang dia sudah punya kehidupan yang baru, yang membuatnya bahagia, walaupun memang sekarang keadaan rumah tangganya tak seperti awal pernikahan mereka, karena kehadiran Resti sebagai istri kedua suaminya. Namun hal itu tak membuat Jingga menyerah, dia menganggapnya sebagian ujian dalam rumah tangga dia dan Ken.
Jingga terus melamun sampai tak sadar dia tertidur didalam mobil. Bahkan Jingga tak tahu bahwa dia sudah berada di kota Malang, dan mobil yang mengantarkannya pun sudah berhenti tepat di jalan depan rumahnya.
"Mba, bangun! Kita sudah sampai!" ucap sang sopir berusaha membangunkan Jingga.
"Eh? Ah iya Pak. Terima kasih sudah mengantarkan saya sampai di kota Malang," ucap Jingga pelan, sambil berusaha mengumpulkan jiwanya yang belum sepenuhnya terkumpul, karena tertidur selama perjalanan.
"Iya Mba, sama-sama," balas sopir taksi itu.
__ADS_1
Kemudian keduanya sama-sama keluar dari mobil. Sang sopir segera membantu membawa barang bawaan Jingga. Setelah taksi yang mengantarkan Jingga pergi. Jingga segera berjalan perlahan kearah rumahnya.
Tiba-tiba muncul bayangan tentang kenangan masa kecilnya, bersama ayah dan bundanya. Air mata Jingga lolos begitu saja membasahi pipinya. Dia segera menyeka air matanya, dan berusaha menenangkan hatinya yang terasa perih, kala mengingat semua kenangan itu.
Jingga berusaha menguatkan hatinya, untuk tidak terbawa dengan suasana.
"Assalamu'alaikum," ucap Jingga sambil mengetuk pintu rumahnya.
"Wa'alaikumsalam," balas seorang lelaki yang baru saja membukakan pintu rumahnya. Seperti mimpi! Itulah yang ada dipikiran laki-laki itu sekarang, karena dia begitu terkejut melihat sosok didepannya.
"Ayah... " ucap Jingga lirih. Bahkan dia tak bisa menahan air mata yang sudah mengumpulkan dipelupuk matanya, kala sosok yang begitu dia rindukan ada didepannya.
Dimas begitu kaget, dia masih saja berdiri mematung sambil menatap Jingga. Antara percaya dan tidak percaya melihat putri kesayangannya ada didepannya. Namun dia sadar, semua itu bukanlah mimpi kala dia mendengar suara lembut putrinya, memanggilnya dengan sangat lirih.
Bahkan dia melihat tatapan sendu putrinya itu, dia melihat tatapan yang menyiratkan kerinduan yang begitu dalam.
Dimas perlahan berjalan ke arah putrinya berdiri. Kemudian dia memegang pipi putrinya, mengelusnya lembut, dan segera membawa tubuh Jingga masuk kedalam pelukannya.
Air mata Dimas meleleh begitu saja, kala dia merasakan hangat tubuh putrinya. Dia memeluknya erat, dan mengusap-usap lembut punggung putrinya.
"Aku sangat merindukan Ayah," lirih Jingga ditengah tangis rindunya. Dia pun membalas pelukan ayahnya, dan menumpahkan segala rindu yang begitu menyesakan dada.
"Ayah juga merindukanmu sayang," ucap Dimas setelah melepaskan pelukannya. Dia juga menghapus air mata yang mengalir dipipi putrinya.
"Bagaimana kabar Ayah?" tanya Jingga lembut.
"Kabar Ayah sangat baik sayang. Apalagi sekarang dengan kehadiran kamu, Ayah begitu bahagia," jawab Dimas sambil mengusap lembut pucuk kepala putrinya.
"Ayo masuk ! Kita lanjutkan didalam," ucap Dimas lagi yang langsung membawa Jingga masuk kedalam rumahnya.
Baru saja beberapa langkah Jingga menapakan kakinya, suara nyaring Keyla sudah menyambutnya.
"Kakak... " teriak Keyla yang langsung menghamburkan tubuh mungilnya kedalam pelukan sang kakak.
__ADS_1