CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
63


__ADS_3

"Kenapa kamu bisa melakukan itu? Kenapa kamu puas melihat aku menderita? Dan apakah kamu memang sahabat aku?" ucap Jingga langsung mencerca Dina dengan pertanyaan.


"Tentu aku bisa dan aku puas melakukannya. Karena apa? Karena akhirnya aku membalaskan sakit hatiku yang bertahun-tahun tak terbalaskan," jawabnya penuh penekanan.


"Maksud kamu apa?" tanya Jingga tak mengerti.


"Kamu tahu, dulu aku memang menganggap kamu sebagai sahabat aku. Tapi itu hanya sementara, karena setelah kamu mengambil semuanya dari aku, disaat itulah aku mulai membencimu!" ucap Dina dengan nada tinggi. Bahkan dia mengeluarkan semua emosi yang selama ini dia pendam.


Jingga terdiam, dia berusaha mencerna ucapan dari Dina. Dia mencoba berpikir apa yang sudah dilakukannya di masa lalu, namun berapa kali Jingga berpikir, dia tak mengetahui apa yang membuat Dina sampai membencinya.


"Tapi apa yang sudah aku lakukan sampai kamu membenci aku?" tanya Jingga penasaran.


"Cih! Kamu masih sama seperti dulu, terlalu polos dan so baik di depan orang. Kamu tahu, saat sekolah dulu, kamu siswi pintar, juga disukai banyak lelaki. Aku tak tahu apa yang kamu gunakan untuk memikat hati laki-laki di sekolah, sampai orang yang aku suka juga menyukai kamu. Entah apa yang dilihat mereka yang tergila-gila padamu," ucap Dina tak suka, tapi kemudian sorot matanya benar-benar mengerikan saat dia mengingat tentang laki-laki yang disukainya malah menyukai Jingga.


"Siapa yang kamu maksud itu?" tanya Jingga lagi. Kali ini hatinya begitu terluka karena orang yang dianggap dia sebagai sahabatnya, ternyata menyimpan kebencian. Apakah sikap baiknya dulu juga tidak tulus? Apakah semua yang di tunjukan pada dia hanyalah topengnya saja? Pikir Jingga.


Jingga sangat ingat, bagaimana dulu Dina memperlakukannya begitu baik dan hangat. Selalu ada disaat Jingga berada dalam kesusahan, dan sangat peduli padanya. Tapi sekarang Jingga begitu tak menyangka, semuanya hanya kepura-puraan Dina saja. Bahkan sekarang dia yang berusaha menghancurkan rumah tangganya.


"Alex. Kamu ingat pada Alexander Almatheana. Dia teman sekelas kita, dan aku juga ingat betapa dia menyukaimu. Padahal dilihat dari segi manapun kamu tidak sebanding denganku. Tapi kenapa dia tidak pernah sekalipun melihat aku. Melihat cinta dari aku, dan malah melihat kamu yang so baik ini. Cih! Menjijikan!" ucap Dina sedikit menerawang masa lalu. Dia juga langsung menunjuk Jingga dengan wajah yang penuh amarahnya, hingga membuat Jingga sedikit mundur ke belakang.

__ADS_1


Jingga benar-benar syok dengan informasi yang didengarnya. Dia tak menyangka ternyata sahabatnya dulu berubah karena salah sangka. Ah! Kenapa semua jadi seperti ini? Pikirnya. Sungguh Jingga merasa sakit atas ucapan yang terlontar dari mulut sahabatnya dulu. Padahal dulu, Dina tak pernah mengeluarkan ucapan yang sangat menyakitinya.


"Tapi Din, aku tak pernah tahu tentang itu. Bahkan kamu juga gak cerita tentang kamu menyukai Alex. Lagi pula aku tidak ada hubungan apapun dengannya," sangkal Jingga dengan air mata yang perlahan turun membasahi pipinya.


"Itu karena kamu tidak peka tentang perasaan aku, yang kamu tahu hanya menebar pesona polos dan so baik kamu itu, agar mereka menyukaimu!" ucap Dina dengan nada tinggi.


"Tidak Din, aku tidak pernah berpikir untuk menarik perhatian mereka. Aku sama sekali tidak tahu," bantah Jingga.


"Cih! Dasar munafik. Sekarang aku muak denganmu, jadi pergilah dari hadapanku. Bukankah kamu bukan bagian dari rumah ini lagi," ucap Dina tersenyum mengejek.


"Kamu harus ingat baik-baik Din, bahwa aku tak pernah melakukan seperti apa yang kamu pikirkan. Semoga kedepannya kamu tidak menyesal dengan apa yang sudah kamu lakukan," ucap Jingga sambil memendam semua emosi dan rasa sakitnya.


Tanpa mengucapkan kata lagi, Jingga segera melangkah menuju kamarnya untuk membawa barangnya yang tertinggal. Karena terlalu sesak jika harus berbicara lagi dengan orang yang begitu membencinya. Sepanjang dia melangkah, air matanya terus mengalir, Jingga tak habis pikir, semua ini menimpanya begitu saja.


Setelah membawa barangnya, dia segera keluar namun ekor matanya menangkap sebuah amplop diatas meja riasnya. Dan dia langsung ingat perkataan Resti tentang surat cerai yang ditaruhnya.


Perlahan tangan Jingga mengambil amplop itu dan membukanya. Air matanya kembali turun deras saat dia membaca isinya. Dia benar-benar akan berpisah dengan suaminya, apalagi tanda tangan suaminya sudah tertera disana.


Jingga ambruk, semua kejadian hari ini yang menimpanya benar membuatnya kehilangan tenaga, disamping pikirannya yang tertuju pada perceraiannya. Dia tak boleh seperti itu. Ya, dia harus berusaha agar suaminya bisa membatalkan keputusannya itu, dia tidak akan menyerah, pikirnya.

__ADS_1


Setelah menenangkan pikirannya, Jingga segera bergegas keluar, dia akan pergi menemui suaminya. Kalau perlu dia akan bersujud di kaki suaminya, agar dia tidak jadi berpisah dari lelaki yang sangat dicintainya itu.


Dengan langkah cepat, Jingga segera pergi dari rumah itu, namun belum sempat kakinya melangkah keluar, Dina dan Resti melontarkan kata yang membuat Jingga menghentikan langkahnya.


"Lihat Kak! Aku akan menjadi satu-satunya istri Ken," ucap Resti bangga.


"Tentu adikku, kamu akan menjadi nyonya di rumah ini. Karena ulat pengganggu sudah tersingkir dari rumah ini. Lagi pula dia tidak cocok menjadi istri untuk laki-laki setampan dan semapan Ken. Dia hanya wanita biasa dari keluarga biasa, dan kamu tahu betapa susahnya hidup dia dulu, sampai ayahnya harus menikah dengan wanita lagi untuk membantu kehidupan mereka," ucap Dina langsung mengeraskan suaranya. Dia sangat puas melihat Jingga yang sudah pucat mendengar lontaran kata dari mulutnya.


"Benarkah seperti itu?" tanya Resti pura-pura kaget. Tapi kemudian dia tertawa lepas bersama kakak sepupunya Dina. Tepatnya menertawakan kehidupan Jingga.


Jingga yang mendengar dirinya dihina, terlebih Dina mengungkit kehidupannya satu dulu, hanya bisa diam. Tak minat membalas mereka, karena apapun yang diucapkan dan apapun alasan yang diberikan pada orang yang membencinya hanyalah usaha yang sia-sia.


Benar bukan? Karena seorang pembenci tak percaya itu. Sebesar apapun usaha untuk meyakinkannya, seorang pembenci akan tetaplah membenci. Dan saat ini mengabaikan mereka adalah pilihan yang tepat, karena tujuan saat ini adalah menemui suaminya.


Jingga segera pergi ke restoran tempat suaminya bekerja dengan menggunakan taksi online. Walaupun supir taksi itu sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tapi bagi Jingga yang didera rasa gelisah, perjalanan itu sangatlah lama.


"Pak, tolong lebih cepat lagi!" ucap Jingga tak sabar.


"Baik Bu," jawab sopir itu sambil menambah laju kecepatan mobil taksinya.

__ADS_1


Namun bukannya cepat sampai, mobil taksi yang ditumpanginya terjebak macet. Ternyata di persimpangan jalan menuju tempat kerja Ken, terjadi kecelakaan yang membuat jalan menjadi macet panjang. Karena tak sabar, Jingga segera keluar setelah memberi ongkos pada supir taksi itu. Ya! Lebih baik dia berjalan karena restoran tempat kerjanya dulu tak jauh dari tempat dia terjebak macet. Agar secepatnya dia bisa menemui Ken, pikirnya.


__ADS_2