CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
58


__ADS_3

Jingga menatap suami dan mama mertuanya dengan pandangan terluka. Beginikah rasanya dihempaskan dari ketinggian diatas tiga ribu kaki? Pikirnya.


Dia terus menatap nyalang pada suaminya, begitu inginnya kah Ken segera berpisah dengannya?


Kemudian Jingga segera menyuruh Keyla agar masuk ke dalam kamar, karena dia tak mau Keyla mendengar semua pembicaraan dia dan suaminya.


"Sayang, kamu tenang, sekarang kamu duduk dulu!" ucap Bella sambil memegang tangan sang menantu, dan menariknya agar duduk di sofa.


"Ma, Mas Ken tidak serius untuk menceraikan aku kan?" tanya Jingga menatap sendu pada mama mertuanya.


"Iya sayang, Ken tidak akan menceraikan kamu. Mama dan papa akan memastikan itu," jawab Bella sambil mengusap pipi menantunya.


"Ma, sudahlah. Memang seharusnya Jingga tahu, bahwa besok dia harus menandatangani surat cerainya," ucap Ken sambil menatap Jingga datar. Namun jauh didalam lubuk hatinya, dia ingin sekali memeluk istri yang sangat dicintainya, apalagi saat melihat tatapan terluka Jingga.


"Apa!" ucap Jingga tak percaya, detik itu hatinya seperti terkena beribu anak panah, saat mendengar ucapan suaminya.


"Ken, pokoknya kamu tidak boleh menceraikan Jingga! Mama dan papa tak akan pernah menyetujuinya!" ucap Bella dengan nada tinggi.


"Maaf Ma, aku mau istirahat dulu ke kamar!" ucap Ken langsung berdiri dan segera melangkah ke dalam kamarnya.


"Ken!" teriak Bella tak habis pikir, kemudian dia mengalihkan pandangan pada menantunya yang hanya terdiam, menatap ke depan dengan pandangan kosongnya.


"Sayang, kamu gak usah khawatir ya. Mama pastikan Ken akan mengurungkan niatnya itu," ucap Bella namun Jingga hanya bergeming. Bella merasa miris, dia tak tahan melihat Jingga yang hanya diam menangis, dengan pandangan kosongnya.


Di peluknya tubuh menantunya dengan lembut, kemudian tangan Bella bergeser untuk mengelus lembut punggung Jingga, sambil membisikan kata-kata untuk menenangkannya. Namun isak tangis Jingga semakin jelas terdengar.


"Ma, aku permisi ke kamar dulu," ucap Jingga langsung berdiri dan berjalan menuju kamarnya.


"Maafkan Mama tidak bisa membantumu sayang," lirih Bella setelah Jingga masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


*****


Setelah berada didalam kamarnya, Jingga segera menghampiri adiknya yang tengah duduk di atas kasur, dan dia langsung memeluknya erat, membuat Keyla sedikit bingung.


"Kakak kenapa?" tanya Keyla sangat penasaran, apalagi tadi Jingga langsung menyuruhnya masuk ke dalam kamar.


"Kakak gak papa sayang, Kakak cuma kangen rumah kita," jawab Jingga dengan suara paraunya.


"Iya, Key juga kangen sama ayah, sama bunda. Kenapa mereka tidak temuin Key, Kak?" tanya Keyla yang teringat dengan ayah bundanya. Dia begitu merindukan mereka.


"Nanti mereka bakal temuin kamu, setelah urusan ayah selesai sayang," bohong Jingga lagi. Hanya itu yang selalu dia ucapkan, ketika Keyla menanyakan ayah dan bundanya. Karena memang sulit menjelaskan keadaan yang sebenarnya, pada anak seusia Keyla.


"Iya Kak. Nanti kita pulang ke rumah kan," ucap Keyla semangat membuat Jingga tersenyum.


"Iya sayang," jawab Jingga lagi.


Sejujurnya saat ini, hatinya begitu terluka. Bahkan dia tak tahu kedepannya seperti apa, jika memang benar Ken akan menceraikannya. Bagaimana dengan Keyla nanti? Itu yang selalu jadi pertanyaannya.


"Beneran Kak, Key nginep di rumah kak Citra," ucap Keyla memastikan apa yang diucapkan oleh kakaknya.


"Iya sayang," ucap Jingga cepat, membuat Keyla terlompat-lompat kegirangan. Keyla begitu menyukai Citra, jadi mendapat tawaran untuk menginap dirumah Citra, membuat dia sangat senang.


"Sekarang Keyla mandi dulu, baru setelah itu makan ya sayang!" ucap Jingga sambil turun dari ranjang.


"Ok Kak," jawab Keyla mengangguk cepat.


Kemudian Jingga segera masuk ke dalam kamar mandi, untuk membantu adiknya membersihkan tubuhnya.


Sedangkan didalam kamar Resti, Ken sedang menjernihkan pikirannya dari masalah yang saat ini dia hadapi. Tepatnya bukan masalah, karena Ken sendiri lah yang memulai semua ini menjadi rumit.

__ADS_1


Seandainya dulu dia tidak ceroboh, mana mungkin saat ini Resti hadir dalam kehidupan rumah tangganya. Mungkin saat ini, dia sudah merajut kebahagiaan bersama Jingga sebagai istri satu-satunya, sampai akhir nanti. Namun kini, hanya sesal yang menyelimuti Ken, walaupun kejadian itu bukanlah murni kesalahannya.


Kini yang dapat Ken lakukan adalah membuat Jingga menemukan kebahagiaannya dengan tidak berada disituasi saat ini. Biarlah Jingga menemukan orang yang bisa membahagiakannya, bukan dengannya yang hanya bisa menempatkan dia dalam keadaan seperti ini.


"Mas, kamu mau makan dulu?" tanya Resti setelah selesai memberi Saga susu.


Ken hanya menggelengkan kepalanya. Saat ini, pikirannya sedang kacau, dan hanya dengan melihat Resti saja membuat pikirannya tambah kacau. Jadi dia memutuskan untuk melangkah keluar, mencari udara segar agar pikirannya bisa sedikit tenang.


Ah! Resti semakin jengkel dengan sikap suaminya itu. Ken hanya bersikap manis saat didepan Jingga saja, sedangkan jika mereka hanya berdua, Ken selalu saja begitu, dingin dan tak pernah memedulikannya, pikir Resti tak senang.


"Hah, tapi gak papa lah dia tetap bersikap seperti itu, toh sebentar lagi dia akan menceraikan istrinya tercintanya itu," monolog Resti tersenyum penuh kemenangan. Hari itu adalah hari yang sangat ditunggu oleh Resti. Melihat Jingga menangis darah karena berpisah dengan suami tercintanya.


*****


Citra baru saja mendapat telepon dari sahabatnya, bahwa dia akan menitipkan adiknya selama dia masih menyelesaikan masalah dengan suaminya. Tentu Citra menerimanya dengan senang hati, terlebih karena dia hanya tinggal sendiri, jadi kehadiran Keyla akan membuat dia tak merasa kesepian lagi.


Apalagi jika Keyla tinggal bersamanya, akan lebih mudah bagi Ray dan Dafa untuk sering menemui Keyla, pikir Citra.


Berkumpul bersama mereka, membuat kebahagiaan tersendiri bagi Citra. Walaupun Dafa sering membuatnya kesal, tapi dia tak menampik rasa nyaman saat bersamanya. Tunggu! Rasa nyaman? Apakah kini Citra sudah menaruh hati pada teman sekolahnya itu? Tapi, mana mungkin dia bisa jatuh cinta pada laki-laki seperti Dafa yang sangat menyebalkan, pikirnya tertawa sendiri.


"Ah, sudahlah! Kenapa aku jadi berpikir yang tidak-tidak soal lelaki menyebalkan itu," monolog Citra sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Citra segera menutup jendela dan pintu yang masih terbuka, namun baru saja dia ingin menutup satu jendela terakhir, tiba-tiba dia melihat siluet Dafa ada didepan rumahnya. Dia mengucek-ucek matanya, mencoba menyadarkan dia dari halusinasinya. Tapi Dafa masih ada didepan rumahnya dan terlihat berjalan ke arah pintu rumahnya.


Ah! Mungkin itu cuma bayangannya aja, tadi kan dia sempat memikirkan lelaki itu, pikir Citra mencoba sadar. Namun Citra terus melihat Dafa yang berjalan ke dekat pintu dengan gayanya seperti biasa, membuat Citra sadar kalau itu bukanlah halusinasinya saja.


"Assalamualaikum," ucap Dafa sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah Jingga.


Dan saat itulah Citra yakin bahwa memang Dafa datang kerumahnya. Tapi untuk apa malam-malam Dafa datang ke rumah, pikirnya. Walaupun ada banyak pertanyaan yang bersarang di kepala Citra, tetapi dia tetap melangkah ke arah pintu.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab Citra setelah membukakan pintunya.


"Cit, ayo pergi nonton ke bioskop!" ucap Dafa yang langsung membuat Citra melongo.


__ADS_2