CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
14


__ADS_3

Pagi ini untuk pertama kalinya Ken sarapan dengan kedua istrinya. Dengan posisi Ken yang berada ditengah-tengah. Biasanya Jingga yang selalu meletakkan makanan diatas piring suaminya, karena itu sudah menjadi rutinitasnya setiap kali mereka makan.


Namun baru saja Jingga akan meletakkan nasi keatas piring suaminya, tiba-tiba dengan gerakan cepat, Resti langsung meletakkan nasi beserta lauk pauknya secara spontan, dan itu membuat Ken dan Jingga kaget serentak.


"Biar Jingga yang melakukannya. Saya sudah terbiasa dilayani oleh dia," ucap Ken yang tak suka dengan tingkah Resti itu.


"Tapi kan Mas, aku juga istri kamu. Aku juga mau melayani kamu," balas Resti.


"Tapi saya tidak terbiasa. Untuk kedepannya biarkan istri saya yang melakukannya," ucap Ken setengah kesal.


Resti hanya mengerucutkan bibirnya kesal, lagi-lagi suaminya itu bersikap dingin, apalagi tadi selalu memanggil Jingga dengan sebutan istri. Cih! Ken selalu mengatakan itu, seolah dia bukan istrinya saja, pikir Resti kesal sambil melirik kearah suaminya itu.


"Sudahlah Mas jangan ribut! Mending kamu lanjutin sarapan kamu, sebentar lagi kamu kan harus berangkat kerja," ucap Jingga yang tidak tahu harus berkata apa. Dia sebenarnya kurang nyaman dengan keadaan seperti ini, harus sarapan bersama dengan madunya.


"Iya sayang. Hm sayang... " rengek Ken manja.


"Ada apa Mas?" tanya Jingga.


"Aku mau itu," jawab Ken dengan nada setengah manja sambil menunjuk kearah udang tepung.


Jingga pun meletakkan udang tepungnya keatas piring suaminya.


"Makasih sayangku," ucap Ken sambil tersenyum manis pada Jingga.


Sedangkan disamping Ken, Resti hanya mendengus kesal mendengar ucapan Ken. Melihat pasangan suami istri yang sedang acara romantis-romantisan itu. Resti sangat kesal pada Ken, bisa-bisa suaminya itu berkata manis, bermanja, dan bermesraan didepannya, seolah dia hanyalah nyamuk yang sedang menonton pertunjukan drama romantis.


"Cih! Kalo sama aku saja, ngomongnya datar, gak ada romantis-romantisnya," gerutu Resti pelan namun masih bisa didengar oleh Ken.


"Kamu kenapa? Kamu lagi ngomongin saya?" tanya Ken dengan nada ketus.


"Enggak, siapa juga yang ngomongin kamu," jawab Resti yang sedikit salah tingkah karena ditatap tajam oleh Ken.


"Tadi saya dengar, kam---ah sudahlah. Nanti kamu dirumah, jangan lupa mengurus rumah ini, jangan mengandalkan istri saya, karena sekarang kamu juga tinggal disini jadi tugas dirumah ini, kamu juga harus mengerjakannya. Paham?" tanya Ken memastikan setelah dia menjelaskan semuanya.


"Iya Mas," balas Resti seadanya. Dia terlalu malas untuk terus berdebat dengan suaminya yang tidak ada lembut-lembutnya itu.

__ADS_1


Sedangkan Jingga hanya mengamati percakapan keduanya.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Ken langsung berangkat kerja, sedangkan Jingga dan Resti langsung membersihkan meja juga piring kotor, namun keduanya sama-sama diam, tak ada yang berani memulai pembicaraan terlebih dahulu.


...----------------...


"Cit nanti minggu, mau gak jalan-jalan sama aku?" tanya Dafa pada Citra yang mengantarkan pesanan makanan dia dan kakaknya.


Hari ini mereka sengaja makan direstoran karena Dafa yang suka mengeluh, katanya dia bosan setiap hari hanya makan dirumah.


"Kemana?" tanya balik Citra.


"Ya kemana aja. Ke mall, taman atau bioskop juga boleh. Gimana? Mau kan ya ya ya," ucap Dafa kekeh.


Sedangkan Ray hanya tersenyum geli melihat tingkah adiknya itu. Sekarang dia sedikit tahu bagaimana cara adiknya itu saat menggoda wanita.


"Iya iya. Dasar pemaksa," balas Citra dengan


terkekeh.


"Nanti kamu bilang aja Cit sama kakak, kalo nanti Dafa bertingkah yang aneh-aneh," ucap Ray yang sangat suka membuat adiknya kesal.


"Hahaha, iya Kak pasti," ucap Citra yang suka melihat sahabatnya itu merenggut kesal.


Namun disela tawanya itu, tiba-tiba Citra melihat Ken yang baru datang. Langsung saja Citra menghampirinya.


"Pagi pak," sapa Citra.


"pagi," balas Ken cepat.


"Hmm itu, gimana pak sekarang tinggal dengan kedua istri bapak?" tanya Citra penasaran. Sebenarnya dia tak punya minat mengurusi urusan orang lain, tetapi karena ini menyangkut Jingga, jadi dia harus tahu keadaan sahabatnya itu.


Namun karena jarak mereka dengan meja Ray dan Dafa tak begitu jauh, jadi Ray bisa mendengarnya, bahkan dia tersedak dengan makanannya. Bukan hanya Ray, Dafa pun dengan jelas mendengarnya dan sontak membuat dia kaget bahkan sampai membesarkan matanya. Kedua istri? Apa dia tidak salah dengar dengan yang tadi diucapkan Citra, pikir Dafa kaget.


"Kenapa kamu ingin tahu dengan kehidupan rumah tangga saya?" tanya Ken dengan nada tak suka.

__ADS_1


"Saya cuma pengen tahu keadaan sahabat saya aja kok," jawab Citra setengah kesal. Dia heran kenapa nada bicara managernya itu seolah dia tak suka, padahal yang seharusnya marah itu dia, karena Ken yang sudah tega menyakiti hati sahabatnya.


"Sudahlah jangan ikut campur urusan orang lain. Mending sekarang kamu lanjutkan pekerjaan kamu!" ucap Ken tegas dan langsung masuk kedalam ruangannya.


Citra hanya melihat kepergian Ken dengan tatapan kesalnya. Harusnya Jingga tak mendapat suami seperti dia pikir Citra kesal.


"Kak, apa mungkin aku salah dengar ya," ucap Dafa memastikan.


"Apa?" tanya Ray.


"Itu yang tadi Citra bilang, bahwa suami Kak Jingga punya dua istri," ucap Dafa yang tak bisa menyembunyikan wajah penasarannya.


Tetapi Ray hanya mengangkat bahunya acuh, dan itu sukses membuat Dafa kesal setengah mati, bagaimana kakaknya itu bisa santai begini, padahal kalo yang diucapkan Citra itu benar, berarti kak Jingga sudah diduakan.


Namun jauh dilubuk hati Ray, dia tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Hanya saja dia tak mau adiknya itu sampai tahu bahwa dia pun sebenarnya penasaran dengan keadaan yang sebenarnya.


.................


"Hmm, Res aku ada urusan sebentar. Kamu jaga rumah ya!" ucap Jingga setelah bersiap-siap akan pergi.


"Iya Kak," balas Resti seadanya. Sebenarnya dia bukan canggung pada Jingga. Dia hanya malas untuk berbicara banyak pada Jingga yang notabenya adalah istri pertama Ken.


Apalagi saat terbayang bagaimana Ken memperlakukan Jingga dengan lembut dan hangat, itu semua membuat dia kesal dan tak sabar ingin segera menendang Jingga dari kehidupan Ken, agar hanya dia yang menjadi satu-satunya istri Ken.


Setelah kepergian Jingga, Resti yang bingung harus apa, dia hanya duduk disofa sambil menonton tv.


Tiba-tiba suara bel berbunyi, dengan segera Resti berjalan untuk membukakan pintu. Awalnya dia mengira yang datang itu Jingga, mungkin dia ada yang ketinggalan karena Jingga baru keluar beberapa menit.


Namun dia berkerut kening kala membukakan daun pintu. Bukan Jingga yang ada dihadapannya, melainkan seorang wanita yang sudah cukup umur namun masih terlihat cantik.


"Assalamu'alaikum," ucap Bella memberi salam.


"wa'alaikumsalam," ucap Resti menjawab salam dari orang yang sama sekali tak dia kenal.


"Kamu siapa ya? Mana jingga?" tanya Bella penasaran. Biasanya Jingga yang selalu menyambutnya, namun sekarang orang asing yang membukakan pintunya, mungkin dia pembantu baru, tapi dilihat dari penampilannya sepertinya bukan, pikir Bella bingung.

__ADS_1


"Saya Resti istri kedua Mas Ken dan kak Jingga sedang keluar, katanya ada keperluan," ucap Resti yang sebenarnya juga penasaran dengan wanita yang ada didepannya itu.


Namun penuturan Resti membuat Bella kaget, bahkan dia sampai terhuyung kedepan.


__ADS_2