CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
78


__ADS_3

Seolah batu permata yang indah, dengan pacaran sinarnya di pagi hari. Itulah perumpamaan Jingga di mata Ray, hingga membuat Ray tak jemu untuk terus melihatnya. Tatapan yang tak pernah Ray tunjukan pada orang lain, kini dia perlihatkan hanya untuk Jingga seorang, tatapan penuh cinta dan kasih sayang.


Kini mereka telah berada di toko kue milik Jingga. Namun Jingga sedikit salah tingkah sejak mereka sampai, karena Ray terus saja menatapnya. Apakah ada sesuatu pada wajahnya, hingga Ray terus saja mempertahankan tatapannya itu, pikir Jingga dalam hati.


"Ehm Ray, apakah ada yang salah dengan aku?" tanya Jingga langsung.


"Eh? Ah tidak. E--aku cuma, itu Nayla kayanya pengen langsung jalan-jalan. Kalo kamu udah beres cek bahannya, kita langsung pergi aja gimana, biar pulangnya gak ke sorean," ucap Ray gelagapan. Dia bingung harus menjawab apa karena dia ketahuan terus menatap wajah Jingga. Malu sekali dia, mungkin sekarang wajahnya sudah memerah karena menahan malu, pikirnya.


"Oh baiklah, aku udah mencatat semua bahan yang udah abis," ucap Jingga mengangguk kecil, kemudian dia langsung mengajak Nayla untuk segera pergi.


Nayla yang sedang memainkan bahan-bahan untuk membuat kue milik bundanya, segera menoleh saat Jingga menghampirinya. Dia hanya menampilkan senyum lebarnya, saat Jingga menatap dia sambil geleng-geleng kepala. Sudah menjadi kebiasaan Nayla saat dia ikut ke toko, hanya untuk bermain-main dengan tepung. Nayla sangat menyukai itu, karena menurutnya bermain tepung sangat menyenangkan, apalagi saat dia menempelkan tepung pada pipinya, membuat wajahnya terlihat lucu.


"Sayang, kenapa kamu main tepung? Bukannya kamu mau jalan-jalan sama om Ray. Kalo kamu kotor seperti ini, bagaimana kita bisa pergi?" tanya Jingga lembut sambil membersihkan tepung yang ada di wajah juga pakaian Nayla.


"Aku suka main tepung Bun, ini sangat menyenangkan. Lihat, aku lucu kan!" ucap Nayla senang.


"Iya, tapi semua badan kamu jadi penuh tepung seperti ini sayang," ucap Jingga terkekeh pelan. Melihat wajah lucu dan wajah senang anaknya, membuat Jingga tak pernah marah walaupun Nayla sering membuat dapurnya jadi berantakan.


Nayla yang melihat bundanya yang tertawa senang, membuat dia juga ikut tertawa. Kemudian Nayla mengalihkan pandangannya, pada Ray yang tengah berdiri sambil tersenyum manis.


"Om... Kita jadi pergi kan, walau aku kotor kaya gini," ucap Nayla dengan nada lucu. Dia sangat menyukai Ray, karena Ray selalu menuruti semua keinginannya.


"Iya sayang, tapi kamu harus cuci wajah kamu dulu, agar mata kamu gak kelilipan oleh tepung," ucap Ray dengan senyuman yang masih mengembang.

__ADS_1


"Horee... Aku jalan-jalan!" ucap Nayla sambil lompat-lompat kegirangan.


"Ya udah, sekarang Bunda harus membersihkan semua tepung dari wajah kamu," ucap Jingga segera menggendong Nayla ke kamar mandi.


Dengan perasaan senang, Ray menunggu Jingga dan Nayla di depan toko. Dia sudah tidak sabar ingin memberi kejutan pada Jingga. Ray berencana mengajak makan Jingga hanya berdua, tapi walaupun ada kehadiran Nayla, dia akan tetap mengutarakan maksud dia mengajak Jingga pergi.


Sebenarnya Ray sudah menyiapkan kejutannya itu berhari-hari yang lalu, dibantu oleh adiknya dan juga Citra. Dan rencana mereka tinggal di Malang untuk beberapa bulan ke depan itu, bukan tanpa maksud. Hanya saja mereka masih merahasiakannya dari Jingga.


"Ayo Om berangkat!" ajak Nayla sedikit mengagetkan Ray.


"Baiklah, sepertinya tuan putri sudah tidak sabar," ucap Ray dibalas tawa senang oleh Nayla. Kemudian mereka masuk ke dalam mobil, dan Ray langsung melajukan mobilnya ke tempat yang sudah dia rencanakan.


*****


Namun hanya sebentar saja mereka merasakan panasnya terik matahari, karena setelah mereka melangkahkan kaki ke dalam restoran itu, mereka langsung merasakan sejuknya udara yang berasal dari mesin pendingin restoran tersebut.


Sebenarnya Jingga dibuat heran karena tempat itu bukanlah tujuan yang diinginkannya. Jingga sempat ingin menanyakan itu pada Ray, namun dia urungkan, dia akan mencari waktu yang tepat, pikirnya.


Semakin melangkah masuk, Jingga semakin dibuat heran oleh suasana restoran itu. Tidak seperti biasanya, jika di jam-jam seperti itu, biasanya sebuah restoran akan sangat ramai dengan orang-orang yang makan siang. Tetapi ini sebaliknya, justru disana tidak terdapat satu orang pun yang sedang makan. Bahkan meja-meja dan kursi juga tidak ada. Hanya ada sepasang meja dan kursi di bagian tengah restoran itu, dengan segala pernak-pernik yang menghiasinya. Di sekelilingnya terdapat dekorasi yang penuh dengan bunga mawar dengan berbagai macam warna.


"Ray, apakah kita salah tempat? Bukannya kamu mau mengajak kami makan siang, tapi kenapa restoran ini sangat sepi? Apakah kita salah tempat?" tanya Jingga langsung, karena dia begitu penasaran.


Ray melirik Jingga sambil tersenyum manis. Dia juga mencium pipi Nayla yang ada digendongannya penuh rasa sayang. Namun sepertinya Ray belum mau menjelaskan semuanya, sampai mereka duduk ditempat yang sudah tersedia. Ray terus berjalan ke arah meja dan kursi itu, diikuti Jingga dibelakangnya.

__ADS_1


"Duluklah dulu, nanti aku jelaskan!" jawab Ray tersenyum.


Kemudian setelah Jingga duduk, Ray segera memanggil salah satu pelayan untuk membawakan satu kursi lagi untuk duduk Nayla, karena hanya terdapat dua kursi, untuknya dan juga untuk Jingga. Dan setelah kursinya cukup untuk duduk mereka bertiga, tiba-tiba saja tiga orang pelayan menghampiri mereka dengan membawakan makanan dari menu utama restoran tersebut.


"Selamat menikmati Tuan dan Nona!" ucap kepala pelayan setelah meletakan semua hidangan makanan.


"Terima kasih," ucap Ray. Kepala pelayan itu membalasnya dengan senyuman, dan setelah itu dia segera undur diri.


Jingga semakin dibuat heran dengan semuanya. Apalagi ditambah dengan hidangan makanan yang sudah ada didepannya, padahal mereka sama sekali belum memesannya. Sedangkan Nayla terlihat antusias, saat melihat berbagai macam makanan enak sudah ada di depan matanya.


"Ray, sebenarnya ini ada apa? Kenapa tiba-tiba mereka mengantarkan makanan pada meja kita, padahal kita belum memesan apapun?" tanya Jingga sambil melihat Ray yang ada di depannya. Nayla yang ada di tengah-tengah mereka hanya memandang sesekali ke arah Ray dan juga bundanya.


"Nanti aku jelaskan maksud semua ini Ga. Tapi sebelum itu, lebih baik kita makan dulu ya," jawab Ray.


"Tadi kamu bilang akan menjelaskan ini setelah kita duduk. Ray, aku mau kamu jelaskan sekarang," ucap Jingga sedikit menuntut.


"Baiklah, akan aku jelaskan. Sayang, kamu mau nunggu sebentar kan buat makannya. Ada yang mau Om jelaskan pada bunda kamu," ucap Ray, kemudian dia segera meminta Nayla untuk menunggu sebentar.


"Iya Om," balas Nayla tersenyum lebar.


Tiba-tiba saja Ray segera berdiri dari duduknya, dia berjalan perlahan ke samping Jingga. Tanpa aba-aba dia segera menekuk sebelah kakinya. Sedangkan Jingga dibuat bingung dengan tingkah Ray, apalagi saat melihat Ray yang merogoh saku dalam bajunya. Mata Jingga membesar saat tangan Ray mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah. Perlahan Ray membuka kotaknya, menunjukan sebuah cincin berlian yang sangat indah, dengan permata yang berkilauan ditengahnya.


"Jingga, will you marry me?" tanya Ray sambil menatap mata indahnya Jingga.

__ADS_1


__ADS_2