CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
56


__ADS_3

Hari ini Keyla begitu senang karena Ray akan mengajaknya jalan-jalan keluar. Jingga membawa Keyla ke rumah Citra, agar Ray bisa bertemu disana, karena tak mungkin mengizinkan Ray menjemput adiknya dirumah, bisa-bisa Ken semakin punya alasan untuk segera menceraikannya.


Tak butuh waktu lama, Jingga dan Keyla sudah sampai dirumah Citra. Citra sangat antusias dengan kedatangan mereka. Apalagi Citra tahu bahwa Ray akan mengajak Keyla jalan-jalan. Itu sebuah awal yang baik, jika memang Jingga akan berpisah dari Ken, pikir Citra begitu senang.


"Ah senangnya kalian datang lagi," ucap Citra sambil mencium pipi kanan dan kiri Keyla.


"Kakak tau tidak, kalo Key mau diajak jalan-jalan sama Kak Ray," ucap Keyla semangat.


"Benarkah? Wah berarti Kakak boleh ikut dong," ucap Citra pura-pura terkejut, kemudian dia langsung menjahili Keyla dengan candaannya.


"Gak boleh. Kak Ray cuma mau ajak Key aja, Kakak dirumah aja sama Kak Jingga," tolak Keyla dengan gaya lucunya, membuat Citra melambungkan tawa yang sedari tadi dia tahan.


"Wah, ternyata gadis kecil ini pelit ya," balas Citra masih dengan tawanya.


"Hahaha, geli Kak!" ucap Keyla langsung karena Citra menggelitiki pinggangnya.


"Ini hukuman untuk kamu," ucap Citra yang terus menggelitiki Keyla. Sedangkan Jingga hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Semua itu, tontonan yang sering Jingga lihat saat Citra sudah bersama adiknya.


Ting tong!


Suara bel berbunyi tak membuat Citra dan Keyla menghentikan kegiatan mereka. Akhirnya Jingga yang berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintunya. Tak melihat siapa orang yang menekan bel pintu itu, Jingga sudah tahu siapa orangnya. Pasti yang datang itu Ray, pikirnya.


"Assalamu'alaikum," ucap Ray setelah pintu terbuka.


"Waalaikumsalam, oh ada Dafa juga," jawab Jingga sedikit terkejut saat melihat Ray datang bersama adiknya. Setahu Jingga, Ray akan datang sendiri.


"Iya, aku ikut. Masa kalian mau berkumpul aku gak diajak sih," ucap Dafa langsung menggerutu.


"Itu e--ah, ayo masuk dulu!" jawab Jingga bingung bagaimana menjelaskannya. Dia langsung mempersilahkan Dafa dan Ray masuk ke dalam rumah.


Dengan langkah cepat Dafa masuk mendahului Jingga dan Ray, membuat Ray menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan adiknya itu.


"Hai, Keyla cantik!" ucap Dafa setengah berteriak, membuat Keyla dan Citra langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Wah, ada Kakak ganteng!" ucap Keyla antusias, dia langsung berlari ke arah Dafa yang baru mendudukan tubuhnya di sofa depan Citra dan Keyla.


"Iya cantik, Kakak disini," balas Dafa langsung memeluk Keyla senang. Sedangkan Jingga dan Ray yang baru bergabung, hanya melihatnya saja.

__ADS_1


"Ck! Dari mana gantengnya. Di lihat dari segi manapun, kamu itu biasa aja," ucap Citra berdecak tak suka melihat wajah pongah Dafa, saat Keyla menyebutnya ganteng.


"Cantik, lihat deh kak Citra! Dia cemburu sama kamu," ucap Dafa tertawa geli melihat ekspresi sahabatnya itu. Sedangkan Keyla yang melihat itu, hanya memasang wajah bingungnya, karena dia tak mengerti apa yang dimaksud oleh Dafa.


"Mana ada," balas Citra cepat.


"Ehem, sepertinya disini ada bau-bau asap orang yang sedang jatuh cinta," ucap Jingga tersenyum sambil menggoda sahabatnya.


"Udah deh Ga, kamu jangan mulai lagi!" ucap Citra setengah kesal, namun hanya dibalas kekehan oleh Jingga.


"Kamu gak kangen sama Kakak, sayang?" tanya Ray pada Keyla yang tengah asyik berada di pangkuan Dafa.


"Key kangen juga kok, sama Kak Ray," jawab Keyla sambil beringsut pindah ke dekat Ray. Kemudian Keyla langsung memeluk Ray yang sudah merentangkan tangannya.


"Anak cantik," ucap Ray sambil mencium pipi gembul Keyla, yang membuat Keyla kegirangan.


"Baiklah, semuanya sudah berkumpul. Jadi sudah ada yang bisa menjelaskan, kenapa kalian semua ingin berkumpul dan tak ada yang mengajakku kesini?" tanya Dafa menatap mereka secara bergantian.


"Ck! Walaupun kamu gak ada yang ngajak, toh kamu juga udah ada disini kan," ucap Citra melirik sinis pada Dafa.


Sedangkan Jingga sudah tertawa geli ditempatnya. Ternyata kakak dan adik itu sangat jauh perbedaannya, pembawaan Dafa tak seperti kakaknya yang lebih kalem dan tegas, pikir Jingga dalam hati.


"Sudahlah Cit, tidak perlu menghiraukan ucapannya," ucap Ray langsung membuat wajah Dafa berubah jadi kesal.


"Kak, kapan kita jalan-jalannya?" tanya Keyla setelah selesai melihat perdebatan yang dia tak mengerti.


"Oh iya sayang, Kakak lupa. Ya udah, kita berangkat sekarang aja ya!" ucap Ray tersenyum.


Keyla langsung mengangguk semangat, saat mendengar ucapan dari Ray. Langsung saja Keyla menarik tangan Ray.


"Baiklah, ayo kita berangkat. Sepertinya anak cantik ini sudah tidak sabar. Hm, Ga, Cit, aku pamit dulu ya," ucap Ray cepat karena tangannya sudah ditarik-tarik oleh Keyla yang begitu antusias.


"Jaga adik aku baik-baik ya Ray!" ucap Jingga yang dibalas anggukan oleh Ray.


"Lihatlah! Apakah dia benar kakakku? Masa dia hanya pamit pada kalian aja, sedangkan sama aku enggak," protes Dafa yang mendapat cibiran dari Citra.


"Sudahlah, kamu udah segede ini. Jangan bertingkah seperti anak kecil yang tidak mendapat permen," ucap Citra tak suka.

__ADS_1


"Cih! Bilang saja iri," balas Dafa melirik sinis pada Citra.


"Hm, haruskah aku pamit dari sini," ucap Jingga yang langsung membuat Citra dan Dafa menoleh padanya.


"Memangnya kenapa Ga?" tanya Citra.


"Ya habis kalian ribut terus," jawab Jingga.


"Baiklah, baik. Aku tidak akan berdebat lagi dengannya," Kini giliran Dafa yang berbicara.


"Eh ngomong-ngomong, kenapa kamu gak ikut menemani Keyla pergi Ga?" tanya Citra melihat ke arah Jingga, sedangkan Dafa mendengarkannya seksama.


"Mana mungkin aku ikut Cit, nanti jadi fitnah lagi," jawab Jingga sambil menyandarkan tubuhnya pada sofa.


"Ya kan ada Keyla, jadi kamu bukan hanya berdua aja sama kak Ray," ucap Citra lagi.


"Enggak deh Cit, aku gak mau mengambil resiko," ucap Jingga lagi.


Citra hanya menghembuskan nafas kasarnya, saat mendengar ucapan sahabatnya itu. Padahal dalam hati Citra, dia menginginkan kebahagiaan sahabatnya, terlepas dari keadaannya saat ini. Citra begitu menyayangkan apa yang sudah Jingga korbankan untuk rumah tangganya, tapi kini, hanya rasa sakit yang Jingga dapatkan.


"Ya udah terserah kamu aja. Ga, sekarang kita masak yu, buat makan siang kak Ray sama Keyla saat mereka pulang nanti. Kebetulan, kemarin aku habis belanja, jadi bahan-bahan buat kita masak masih lengkap," ucap Citra memberi ide.


"Baiklah, ayo!" jawab Jingga setuju, dia kemudian berdiri dan segera berjalan ke arah dapur.


"Hei! Kalian tak mengajak aku? Tega sekali meninggalkan orang setampan ini!" ucap Dafa setengah berteriak karena Citra dan Jingga langsung pergi ke dapur, sedangkan Dafa yang tak tahu harus apa seorang diri, dia lalu mengikuti Jingga dan Citra ke dapur.


"Ngapain ikut kita ke dapur?" tanya Citra setelah dia sampai di dapur, tapi kemudian Dafa mengikutinya.


"Memangnya gak boleh? Lagian aku ke sini karena tak tahu harus ngapain, jadi lebih baik aku liat dua bidadari cantik ini yang akan memasak," jawab Dafa sambil tersenyum lebar.


"Sudah, mending kamu nonton TV aja, dari pada ganggu kita masak," ucap Citra ketus.


"Kenapa sih kamu selalu menggunakan nada tak enak begitu, saat bicara denganku?" tanya Dafa sedikit heran.


"Karena kamu, laki-laki menyebalkan," jawab Citra santai membuat Dafa memasang wajah kesalnya.


Jingga yang melihat itu hanya tersenyum masam, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kalau Citra dan Dafa sudah bertemu seperti ini, perdebatan mereka tak akan pernah selesai, pikir Jingga sedikit heran dengan kelakuan mereka yang seperti anak kecil.

__ADS_1


__ADS_2