CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
26


__ADS_3

"Hai cantik," ucap Jingga tersenyum sambil menggendong adik kecilnya.


"Key kangen cama Kakak," ucap Keyla yang memeluk leher kakaknya.


"Kakak juga kangen banget, sama kamu sayang," balas Jingga yang langsung mencium gemas pipi tembem Keyla. Lalu setelah itu dia duduk disofa sambil mendudukan Keyla ke atas pangkuannya.


"Kabar kamu gimana Jingga?" Kini giliran Syeli yang bertanya. Dia baru saja keluar dari kamar dan langsung kaget melihat kedatangan Jingga.


"Saya baik," jawab Jingga yang masih merasa canggung.


"Hm sayang, kamu datang kesini sendiri?" tanya Dimas penasaran.


"Iya Yah. Aku kesini sendiri karena mas Ken lagi sibuk. Dia gak bisa ninggalin pekerjaannya. Sebenarnya dia terus maksa agar bisa nemenin aku kesini," jawab Jingga sambil sesekali mencubit gemas pipi adiknya.


Dia merasa sangat senang melihat adik kecilnya itu. Serasa beban yang ada dipundaknya hilang, hanya dengan melihat tingkah polos dan tingkah lucu Keyla.


"Oh gitu sayang. Tapi keadaan kalian baik-baik aja kan?" tanya Dimas memastikan. Dia takut dengan kedatangan Jingga kerumahnya itu, karena mereka bertengkar. Namun jawaban Jingga membuatnya bernafas lega.


"Kami baik-baik aja Yah. Ayah jangan khawatir, karena mas Ken sudah membahagiakan aku," jawab Jingga yang tak sepenuhnya jujur. Karena dia tak mau membuat ayahnya khawatir jika mendengar tentang keadaan rumah tangganya saat ini.


"Syukurlah, Ayah kira kamu datang kesini karena kamu lagi berantem sama Ken," ucap Dimas lagi.


"Mas, aku udah masak banyak. Gimana kalo sekarang kita makan bareng. Kasian kan Jingga, habis perjalanan jauh, takutnya dia sudah lapar," ucap Syeli sambil melirik kearah suaminya.


"Iya, pasti kamu sudah lapar kan sayang?" tanya Dimas pada Jingga yang sedang asyik bercanda dengan Keyla.


"Iya Yah," balas Jingga yang memang merasa perutnya sudah lapar.

__ADS_1


"Ya udah, ayo Mas ajak Jingga. Kamu yang gendong Keyla, biar dia bisa makan tanpa diganggu oleh Keyla," ucap Syeli setelah dia memperhatikan Keyla yang terus menempel pada kakaknya itu.


"Bunda... Key, gak ganggu Kakak kok," ucap Keyla dengan nada lucu khas anak kecil dan itu membuat Jingga dan Dimas tertawa senang, melihat bagaimana lucunya ekspresi Keyla.


"Ya sudah, tapi kamu harus janji,gak boleh ganggu Kak Jingga saat makan. Oke sayang!" ucap Syeli yang dibalas Keyla dengan mengangkat tangannya membentuk huruf o, tanda dia setuju dengan permintaan bundanya.


Mereka pun menuju ke meja makan yang berdampingan dengan dapur. Walaupun semuanya terlihat sederhana, namun hanya inilah satu-satunya tempat yang menyimpan berjuta kenangan Jingga, ayah dan bundanya.


Hidangan makanan juga terlihat sederhana, khas di kampung. Namun aroma yang menguar dari makanan itu, sangatlah membuat orang tak tahan untuk segera mencicipinya.


"Ayo Jingga, silahkan duduk! Hm, maaf makanannya sederhana, karena kami gak tahu kamu akan kesini," ucap Syeli yang merasa sungkan.


"Oh tidak apa-apa. Dirumah juga saya sering masak makanan yang sama seperti ini, karena Mas Ken sangat menyukainya," balas Jingga sambil tersenyum.


"Oh syukurlah. Ya sudah, mari makan!" ucap Syeli lagi. Dia langsung menaruh nasi dan beberapa lauk pauk ke atas piring suaminya. Setelah itu baru ke atas piring dia dan Keyla.


Jingga juga melakukan hal yang sama. Sejujurnya, dia begitu merindukan masakan bundanya. Apalagi setelah makan beberapa sendok masakan Syeli, dia langsung teringat dengan momen dulu saat masih kecil bersama bundanya. Namun dia segera menepis perasaan bergejolak itu lagi, karena dia tak mau terlihat sedih didepan ayah juga adiknya.


"Aku cuma 2 hari Yah, kasian mas Ken kalo harus lama ditinggal sendiri," jawab Jingga yang sudah menyelesaikan makannya, padahal ayah dan adiknya masih belum selesai. Mungkin karena Jingga hanya makan sedikit, jadi dia lebih cepat.


"Kenapa makannya cuma sedikit? Gak enak ya makanannya?" tanya Syeli saat dia melihat piring Jingga yang sudah kosong.


"Oh enggak. Masakannya enak, cuma saya sudah kenyang," jawab Jingga sedikit sungkan.


Keyla hanya melihat kearah Jingga yang sedang bicara dengan bundanya, kemudian saat dia melihat kakaknya sudah selesai makan, tiba-tiba dia ingin disuapi oleh kakaknya.


Perlahan dia turun dari kursi, dan berjalan kearah tempat duduk kakaknya, sambil membawa makanannya yang masih banyak.

__ADS_1


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Dimas yang melihat putri kecilnya berusaha membawa piring yang ukurannya cukup besar bagi Keyla.


"Aku mau duduk cama Kakak," jawab Keyla yang dibalas senyuman manis oleh Jingga.


"Sini! Sama bunda aja," ucap Syeli pada Keyla yang sudah duduk didekat kakaknya.


"Gak mau. Key cuma mau cama kakak. Kak, cuapin aku dong!" ucap Keyla manja, dan itu membuat Jingga gemas melihat pipi Keyla yang begitu bulat, apalagi melihat matanya yang begitu indah.


"Boleh. Kakak suapin ya," balas Jingga sambil mengelus lembut pucuk kepala adiknya.


Kemudian Jingga memberikan satu sendok makanan pada Keyla, yang disambut binar bahagia oleh keyla.


Syeli yang melihat itu sangat senang, ternyata Jingga begitu menyayangi anaknya, walaupun dulu, dia pernah menyakiti Jingga.


Sejujurnya saat dia datang ke Bandung waktu lalu, dia sempat merasa takut kalau Jingga akan membenci Keyla, karena dia tahu, bahwa Jingga tak pernah menerimanya. Tapi saat melihat Jingga begitu senang dengan kehadiran Keyla, dia sangat senang, setidaknya dia tak membenci anaknya, setelah apa yang sudah diperbuatnya dulu.


...----------------...


Dafa hari ini hanya tiduran di kamar, dia malas untuk keluar, karena seharian kemarin, neneknya itu membuat dia begitu lelah. Dafa diajak berkeliling ke seluruh kampung neneknya, bahkan mengenalkan dia pada tetangga dan teman-teman neneknya, dan itu membuat Dafa setengah kesal.


Dafa kan inginnya bertemu dengan gadis-gadis cantik disana, bukan untuk bertemu dengan orang-orang seusia neneknya. Apalagi tetangga neneknya itu, tak jarang ada yang mencubit gemas pipinya, karena dinilai terlalu imut untuk ukuran laki-laki. Tapi yang paling membuat Dafa kesal adalah teman-teman neneknya itu yang berniat menjodohkan dia dengan cucu-cucu mereka.


"Loh, kamu kenapa masih tidur?" tanya Lastri yang masuk kedalam kamar Dafa, dan melihat cucunya itu masih tertidur, padahal sudah begitu siang.


"Dafa, ayo bangun! Sudah siang," ucap Lastri lagi setelah Dafa tak meresponnya sama sekali. Kemudian dia duduk dipinggiran ranjang dan menepuk-nepuk pelan pipi cucunya.


"Hmm, apa Nek?" tanya Dafa sedikit membuka matanya setelah dia merasakan tepukan dipipinya.

__ADS_1


"Ayo bangun! Kenapa masih tidur? Bukannya kamu mau jalan-jalan?" tanya Lastri yang langsung membuat Dafa bangun sampai terduduk.


"Ah itu, Dafa rasa nanti aja jalan-jalannya Nek," jawab Dafa yang tak mau seperti kemarin lagi.


__ADS_2