CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
47


__ADS_3

Keyla yang melihat itu sedikit bingung, dan dia langsung ikut menangis saat kakaknya menangis keras.


"Huaaa.... Kakak!" Tangis Keyla pecah, membuat Ken dan Jingga tersentak kaget.


"Sayang, kamu harus kuat, kamu gak boleh nangis lagi ya! Lihatlah, Keyla jadi ikut menangis," ucap Ken lembut sambil mengusap air mata istrinya yang terus saja mengalir. Kemudian Ken langsung mendekati Keyla dan segera membawa Keyla ke dalam gendongannya.


"Huaaa...." Keyla terus saja menangis.


"Sayang, kamu kenapa menangis?" tanya Ken sambil mengusap air mata di pipi gembul Keyla.


"Ka--kak, huhu na--ngis," jawab Keyla sesegukan.


"Enggak sayang, Kak Jingga enggak nangis. Dia cuma kelilipan debu, makanya seperti itu. Sstt, kamu jangan nangis lagi ya sayang!" ucap Ken sambil menepuk-nepuk punggung Keyla yang ada didalam pelukannya.


Keyla yang mendengar itu hanya menganggukan kepalanya yang ada di leher Ken. Bahkan mendusel hidungnya, sehingga air mata dan juga ingus Keyla menempel di lehernya Ken.


Dengan langkah sedikit sempoyongan, karena badan Jingga masih lemas, dia masuk ke dalam ruangan tempat ayahnya di rawat. Jika beberapa waktu lalu, ayah dan juga ibu tirinya masih terbaring lemah dengan beberapa peralatan medis yang masih menempel di tubuh mereka, kini yang Jingga lihat adalah tubuh ayah dan ibu tirinya yang sudah terbujur kaku.


Jingga tak bisa menahan tangisnya yang sedari tadi dia tahan, saat melihat ayahnya, Jingga kembali menangis histeris sebelum dia kehilangan kesadarannya.


Ken yang melihat istrinya pingsan langsung kaget, dan segera menitipkan Keyla pada salah satu perawat yang ada disana. Dengan cepat Ken membawa tubuh Jingga ke salah satu ruangan yang tidak jauh dari sana.


Perlahan Ken membaringkan tubuh istrinya pada salah satu ranjang, dengan dibantu oleh seorang perawat. Ken benar-benar panik, membuat dia sedikit kebingungan untuk berbuat apa. Pikirannya bercabang, di satu sisi dia harus mengurus ayah mertuanya yang sudah meninggal, tapi saat itu istrinya masih belum sadarkan diri, sedangkan Keyla yang masih dititipkan pada perawat juga membutuhkan perhatian.


"Sus, saya mau minta tolong. Jaga sebentar istri saya, karena saya harus mengurus administrasi ayah saya dulu," ucap Ken setelah berpikir. Dia akan mengurus masalah administrasi ayah mertuanya dulu, sambil menunggu Jingga sadar.


"Baik Pak, saya akan menjaga istri Bapak sampai dia sadar," balas perawat itu, yang diangguki oleh Ken.


Dengan langkah cepat, Ken bergegas pergi ke tempat administrasi rumah sakit itu. Setelah dia mengurus semua administrasinya, Ken langsung mengurus ayah dan ibu mertuanya.

__ADS_1


Dia juga sesekali melihat Keyla yang masih menangis dengan seorang perawat. Setelah semuanya selesai, Ken langsung menggendong Keyla dan segera menemui istrinya.


Beruntung saat Ken masuk ke salah satu ruangan itu, Jingga sudah sadar dan saat itu Jingga hanya terduduk dengan pandangan kosong, membuat Ken sangat tak tega.


"Sayang... " ucap Ken pelan sambil duduk dipinggiran ranjang itu. Namun Jingga hanya bergeming, tak membalas ucapan suaminya.


"Kamu harus menerima semuanya dengan ikhlas. Semua sudah takdir Tuhan. Mas yakin, Tuhan lebih sayang sama ayah," ucap Ken lagi sambil mengusap pipi Jingga.


"Huaaa... Kakak," ucap Keyla terus memanggil kakaknya di sela tangisannya itu.


"Lihat sayang! Keyla menangis terus saat melihat kamu terus sedih. Saat ini, Keyla sangat butuh kamu, Mas mohon kamu ikhlaskan semuanya, terima dengan lapang dada, dan kita harus mendoakan ayah dan ibu supaya mendapat tempat terbaik di sisi-Nya," ucap Ken lembut dan Jingga perlahan menatap dia dan Keyla yang ada di gendongannya.


"Iya Mas," ucap Jingga sambil mengusap air mata di pipinya.


"Ya udah, sekarang kita siap-siap bawa mereka pulang. Aku udah mengurus semuanya, dan aku juga udah ngasih kabar sama papa dan mama. Kemungkinan papa yang akan ke sini, karena mama harus jaga Resti," ucap Ken menjelaskan.


"Baiklah. Sini sayang, sama Kakak!" ucap Jingga sambil menggendong Keyla yang langsung tenang di pelukan kakaknya.


"Iya sayang, nanti kita akan melihat ayah dan bunda setelah di rumah," balas Jingga sambil menahan air matanya.


"Iya Kakak," ucap Keyla semangat sambil memeluk leher kakaknya.


Ken hanya melihat keduanya dengan tatapan sendunya, dia juga tak tega melihat Keyla yang harus kehilangan orang tuanya disaat usianya masih sangat kecil, yang masih membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya. Namun dalam hati dia berjanji akan selalu menjaga istri dan adiknya.


"Baiklah, sekarang ayo bergegas!" ucap Ken sambil merangkul istrinya.


*****


Sore hari itu matahari masih menunjukan cahayanya, tapi keluarga Jingga tengah diselimuti kesedihan. Setelah sampai dirumahnya dan telah melewati beberapa proses, sampai yang terakhir proses pemakaman ayah dan ibu tirinya Jingga. Kini Jingga, suami dan juga ayah mertuanya yang juga datang setelah mendapat kabar itu, kini tengah duduk di dalam rumah Jingga.

__ADS_1


Keyla yang belum mengerti tentang keadaan itu hanya bisa menangis, lantaran melihat kakaknya menangis. Dia sedikit bingung kenapa banyak orang dirumahnya, dan kenapa saat dirumahnya, ayah dan juga bundanya belum menemuinya.


"Kak, mana ayah sama bunda?" tanya Keyla dengan mata sembabnya.


Ken dan Jingga saling berpandangan sebelum Jingga menjawab pertanyaan adiknya itu.


"Ayah sama bunda, sedang pergi sayang. Kamu sama Kakak dulu ya," bujuk Jingga sambil mengusap lembut pipi gembul sang adik.


"Perginya lama Kak?" tanya Keyla lagi.


"Ehm, itu... " Jingga tidak bisa melanjutkan ucapannya, dia hanya menatap indah bola mata adiknya.


"Sayang, nanti ikut sama Kakak ke Bandung mau?" tanya Ken sambil berusaha mengalihkan pembicaraan itu.


"Sama Kak Jingga juga?" tanya Keyla dengan nada lucu.


"Iya sayang. Nanti sama Kakak dan juga Kak Jingga," jawab Ken lagi.


"Iya Kak, Key mau," ucap Keyla sambil mengangguk semangat. Karena dia ingat saat itu, dia begitu menyukai tempat kakaknya.


Ken tersenyum mendengar itu. Untuk saat itu biarlah Keyla mendapat ketenangan dan rasa nyaman dulu. Biarlah dia mengetahui keadaan yang sebenarnya dengan beriringnya waktu.


Roy hanya mendengarkan dan mengamati saja, sambil sesekali berpikir untuk kedepannya. Apalagi saat ini Resti sudah melahirkan anaknya Ken, jadi dia harus mempersiapkan kedepannya akan seperti apa, pikir Roy dalam hati.


"Jingga, kamu siap pulangnya kapan? Kalo mau nginap disini dulu gak papa, nanti Papa juga akan menginap disini, biar kita pulangnya sama-sama," ucap Roy yang tahu betul perasaan Jingga saat itu.


"Kalo besok aja gimana Pa? Malam ini Jingga pengen tidur disini," ucap Jingga yang membuat Roy mengangguk. Bagaimanapun dia sangat menyayangi Jingga sama seperti menyayangi Ken.


"Baiklah, sekarang kalian istirahat. Ken, ajak istrimu istirahat ke kamar! Papa mau mencari angin di luar," ucap Roy pada putranya.

__ADS_1


"Baik Pa. Ayo sayang!" ucap Ken sambil merangkul istri dan juga adiknya ke dalam kamar. Sedangkan Roy melangkah ke luar untuk menghirup udara segar di depan rumahnya Jingga.


Semua kesedihan menjadi satu dalam hati dan pikiran mereka. Namun mereka berusaha ikhlas dengan semua yang terjadi.


__ADS_2