
"Kalian gak ada rencana pergi keluar?" tanya Jingga yang langsung membuat Citra dan Dafa menoleh kearahnya.
"Ngapain aku pergi sama dia," ucap Citra langsung.
"Ya barangkali kalian juga mau jalan-jalan," ucap Jingga santai walau Citra sudah menatapnya kesal.
"Enggak Ga, aku cuma mau disini aja, lebih adem," jawab Dafa sebelum Citra bertambah kesal.
"Oh iya Ga, kamu gak pengen sesuatu gitu?" tanya Citra.
"Maksudnya?" tanya Jingga tak mengerti.
"Ya kamu kan lagi hamil, biasanya ibu hamil itu kan suka ngidam," ucap Citra sambil menatap sahabatnya.
"Sebenarnya sih dari pagi aku ingin sekali makan rujak buah, tapi aku belum punya tenaga untuk pergi keluar," ucap Jingga.
"Kamu gak perlu keluar Ga, karena disini ada yang siap buat beli apapun keinginan kamu," ucap Citra tersenyum jahil.
"Siapa?"
"Nih orangnya, dia siap siaga membeli apapun yang kamu inginkan," ucap Citra sambil menunjuk Dafa yang ada disampingnya.
"Eh? Loh kok aku," ucap Dafa sedikit kaget, dia sangka Citra sendiri yang siap membeli rujak buah untuk Jingga.
"Ya iya, memangnya siapa lagi? Aku kan harus menjaga Jingga. Atau kamu gak mau ya, membantu Jingga," tebak Citra.
"Bukan begitu, hanya saja aku tidak tah---" ucap Dafa menjelaskan.
"Ok kamu baik deh, udah mau beliin Jingga rujak buah. Makasih Dafa... " ucap Citra langsung memotong laju bantahan Dafa. Dia juga tersenyum manis, membuat Dafa mau tak mau harus menuruti keinginannya.
"Baiklah, aku belikan sekarang," ucap Dafa yang langsung ingin berdiri, namun Jingga segera mencegahnya.
"Daf, gak papa. Kamu gak usah membelikan aku rujak buah. Nanti aku yang beli sendiri," ucap Jingga yang merasa tak enak jika harus merepotkan orang lain.
"Kamu di rumah aja Ga. Biar aku yang beli, lagi pula keadaan kamu belum sepenuhnya pulih, jadi biar aku yang beli ya," ucap Dafa.
"Tapi aku gak enak kalo harus merepotkan kamu," ucap Jingga lagi.
"Sama sekali gak repot, kamu tenang aja. Udah ya aku pergi dulu," ucap Dafa lagi langsung melangkah, namun baru beberapa langkah dia langsung berhenti karena mendengar bel berbunyi.
"Cit, kayanya ada tamu tuh," ucap Dafa membalikan badan.
"Iya aku juga tau," balas Citra yang memang mendengar bel pintu rumahnya berbunyi.
Citra segera berjalan ke arah pintu untuk mengetahui siapa yang datang. Dibelakang, Dafa mengikuti langkah Citra, karena dia juga penasaran siapa yang bertamu ke rumah Citra.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap seorang wanita setelah Citra membukakan pintu rumahnya.
"Waalaikumsalam," jawab Citra, sambil menatap bergantian dua orang didepannya. Setelah diperhatikan lagi, baru Citra ingat bahwa mereka adalah orang tuanya Ken.
"Nak Citra, benarkah Jingga ada disini? Kami mau bertemu dengannya," ucap Bella.
"Oh iya tante Jingga ada didalam. Silahkan masuk!" ucap Citra segera mempersilahkan Bella dan Roy untuk masuk.
Bella dan Roy segera mengikuti langkah kaki Citra, dan tak lama dapat mereka lihat, Jingga tengah duduk sambil menonton tv.
"Sayang!" ucap Bella langsung setelah dia berada didekat Jingga. Bella begitu merindukan menantunya itu.
"Mama, Papa!" ucap Jingga kaget dengan kedatangan mertuanya.
"Bagaimana kabarmu sayang?" tanya Bella sambil memeluk Jingga. Jingga membalas pelukan Bella dan sedikit melirik Roy yang tersenyum padanya.
"Alhamdulillah, kabar Jingga baik Ma. Bagaimana kabar Mama dan Papa?" tanya Jingga pada Bella dan Roy.
"Kabar kami juga baik sayang," jawab Roy. Dia begitu senang bisa menemui Jingga.
Sedangkan Citra dan Dafa hanya melihat saja pertemuan mereka. Setelah itu Citra segera pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk tamunya.
"Silahkan diminum Om, Tante!" ucap Citra sambil meletakan dua minuman ke atas meja.
"Terima kasih Nak," ucap Bella.
"Oh tidak apa-apa Nak Citra. Maaf kedatangan kami mengganggu waktunya," ucap Bella sungkan, bagaimana pun sebelumnya mereka tidak dekat, dan sekarang tiba-tiba saja Bella berkunjung ke rumahnya.
"Enggak ko Tante. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Citra lagi.
"Memangnya kamu mau pergi kemana Cit?" tanya Jingga penasaran.
"Aku akan membeli sesuatu Ga. Aku pergi ya, Om, Tante, saya permisi dulu," ucap Citra sekali lagi pamit dan segera berjalan ke luar sambil menarik Dafa yang hanya diam memperhatikan.
"Sayang, maaf Mama baru menemui kamu sekarang," ucap Bella sambil memegang tangan Jingga.
"Iya Ma, gak papa. Tapi dari mana Mama tahu aku disini?" tanya Jingga.
"Ken yang memberitahu kami," jawab Bella.
"Maafkan Papa yang tidak bisa mencegah Ken melakukan ini," ucap Roy yang merasa bersalah, karena tidak bisa membujuk Ken untuk membatalkan perceraiannya.
"Papa jangan minta maaf, karena ini bukan kesalahan Papa. Semua ini kesalahan aku yang tidak bisa menjaga rumah tangga kami dengan baik, juga yang belum bisa memberikan anak untuk mas Ken," ucap Jingga.
"Itu bukan kesalahan kamu sayang. Ken saja yang tidak pernah bersabar dengan keadaaan, dia hanya mengikuti egonya saja," ucap Roy lagi.
__ADS_1
"Benar apa yang dikatakan Papa sayang. Kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ken seharusnya tak mengambil keputusan itu, dan sekarang Mama dan Papa begitu mengkhawatirkan keadaan kamu," ucap Bella menambahkan.
"Mama jangan khawatir karena aku baik-baik saja," ucap Jingga.
"Tapi karena perbuatan anak Papa, kamu pasti menderita, dan Papa sangat menyesal tentang itu," ucap Roy sambil menatap sendu Jingga.
"Semua ini sudah terjadi Pa, Ma. Saat ini aku hanya menerimanya dengan ikhlas," ucap Jingga sambil berusaha tersenyum, walau hati sebaliknya.
"Sayang, kamu tinggal sama Mama dan Papa ya," ucap Bella.
"Maaf Ma, bukan aku menolak, tapi sepertinya aku dan Keyla akan pulang ke Malang,"
"Loh memangnya kenapa sampai harus pulang? Apa karena Ken?" tanya Bella kaget.
"Bukan Ma. Aku dan adik aku tak mungkin meninggalkan rumah itu, apalagi saat ini tidak ada yang menempatinya. Jadi aku yang akan mengurus rumah peninggalan orang tua kami," jawab Jingga.
"Tapi sayang, Mama ingin kamu tetap disini," ucap Bella sedih.
"Mama gak usah khawatir, nanti Jingga akan sering berkunjung ke sini," tambah Jingga.
"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan kamu. Tapi Papa minta kamu harus terus menghubungi kami. Bila kamu butuh sesuatu, kamu langsung bilang sama Papa ataupun Mama," ucap Roy yang sebenarnya tak rela, namun dia tidak bisa memaksa agar Jingga tinggal dirumahnya.
"Iya sayang, kamu harus janji untuk terus mengabari kami ya!" ucap Bella yang langsung memeluk Jingga lagi. Dia tak bisa menahan air matanya lagi.
"Tentu Ma, Pa. Aku akan terus kasih kabar. Mama jangan sedih lagi!" ucap Jingga sambil menghapus air mata di pipi wanita yang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri.
Bella yang mendengar permintaan Jingga hanya mengangguk.
"Jingga, dimana adik kamu?" tanya Roy yang sama sekali tidak melihat kehadiran gadis kecil, yang sudah dianggap seperti cucunya sendiri.
"Oh Keyla lagi pergi jalan-jalan keluar Pa," jawab Jingga.
"Jalan-jalan? Sama siapa?" tanya Roy lagi.
"Itu sama e--temannya Citra Pa," jawab Jingga sedikit bingung harus menjawab seperti apa.
"Padahal Papa ingin sekali bertemu dengannya. Jingga, Papa boleh minta sama kamu, sebelum kamu pulang, Papa ingin mengajak Keyla ke rumah Papa dulu, boleh?" tanya Roy yang sangat ingin mengajak Keyla kerumahnya.
"Tentu Pa, nanti aku kabarin sehari sebelum aku pulang ke Malang," jawab Jingga.
"Sayang, nanti Mama bakalan kangen sama kamu," ucap Bella membuat Jingga tersenyum. Betapa beruntungnya Jingga begitu disayangi oleh Bella dan Roy.
"Mama jangan khawatir, Jingga akan terus menghubungi Mama. Jika sempat, Mama datanglah ke rumah Jingga, Mama kan belum pernah ke sana," ucap Jingga.
"Baiklah sayang, nanti Mama akan ke sana. Iya kan Pa," ucap Bella melirik suaminya.
__ADS_1
"Iya Ma, kita akan sering-sering ke rumah Jingga," balas Roy.
Jingga yang mendengar itu begitu bahagia. Bagaimana dia tidak bahagia, saat Bella dan Roy masih menganggapnya sebagai anak, walaupun saat ini Jingga dan Ken sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi, tetapi mereka tidak mempermasalahkan status itu. Jingga begitu bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang sangat menyayanginya.